MEDIA TELEVISI DAN PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA

  

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si

Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara Medan

Pendahuluan

Televisi adalah media yang potensial sekali tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membangun dan membentuk karakter serta perilaku seseorang, baik ke arah positif maupun negatif, disengaja ataupun tidak. Efek yang ditimbulkan media televisi, sudah tentu diharapkan memberikan nilai heuristik dalam kehidupan manusia. Meskipun kita menyadari, tidak bisa menghilangkan efek negatif atau buruk sebagai konsekuensi ketaksaan (ambiguitas) peran dari TV. Akhir-akhir ini, yang menjadi sorotan adalah efek negatif dari televisi. Secara fakta ini dikarenakan sebagian besar pelaku industri televisi cenderung menerapkan jalan pintas untuk mengeruk keuntungan.  Sedangkan efek positif masih jauh dari harapan dan perlu kerja keras serta kesadaran berpartisipasi kita selaku manusia baik secara individual ataupun sosial (masyarakat) untuk merealisasikannya.

Sebuah bangsa adalah kumpulan dari tata nilai (values). Sendi-sendi yang menopang sebuah bangsa umumnya adalah berupa karakter dan kepribadian rakyatnya yang menjadi pondasi yang kukuh dari tata nilai bangsa tersebut. Keruntuhan sebuah bangsa umumnya ditandai dengan semakin lunturnya nilai-nilai bangsa tersebut, walaupun secara fisik bangsa tersebut sebenarnya masih eksis.

Banyak para ahli berpendapat bahwa fenomena globalisasi adalah dinamika yang paling strategis dan membawa pengaruh dalam perubahan tata nilai dari berbagai bangsa termasuk bangsa Indonesia. Pada konteks ini, media TV banyak memainkan peran. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai ancaman yang berpotensi untuk menggulung tata nilai dan tradisi bangsa kita dan menggantinya dengan tata nilai pragmatisme dan populerisme asing (popular or instant culture). Di pihak lain, globalisasi (melalui TV) adalah juga sebuah fenomena alami, sebuah fragmen dari perkembangan proses peradaban yang harus kita lalui bersama, tanpa bisa menolaknya. Suka ataupun tidak suka.

Tulisan ini memaparkan peran media televisi dalam pembangunan karakter bangsa secara umum, dengan merujuk secara khusus di Indonesia. Pemaparan dilakukan dengan mengkomparasikan efek negatif dan positif dari peran TV yang pada akhirnya membawa kita kepada suatu kesimpulan pikir dan tindakan untuk memperoleh kemanfaatan yang sebesarnya. dari penggunaan media televisi. Amin.

 Efek Negatif Media TV Dalam Pembangunan Karakter Bangsa

Televisi yang saat ini sudah tayang 24 jam dari sejumlah stasiun penyiaran (siaran swasta, berlangganan, publik dan komunitas) dengan program acara meliputi hampir seluruh aspek kehidupan kita, telah begitu menarik dan sangat banyak menyita perhatian manusia dari segala jenis status, usia dan jenis kelamin. Televisi telah menjadi “agama baru” karena dalam kenyataannya, terlalu sering peran dan fungsi agama diambil alih oleh televisi. TV telah bertindak sebagi imam dalam banyak aktivitas kehidupan manusia. Padahal, dalam keimanannya, manusia meyakini dan mengakui bahwa peran agama dalam kehidupan dipandang sebagai hal yang sangat dipentingkan dan menjadi pedoman dalam menjalani segala aspek kehidupan.

Setidaknya, selama ini agama berfungsi sebagai pelipur lara di kala duka, menjadi pedoman dan cermin dalam bertingkah laku, di mana ritme dan jadwal kehidupan kita senantiasa harus disesuaikan dengan agenda ritual keagamaan. Akan tetapi, jika kita mencoba merenungkan dengan apa yang telah dan sedang terjadi di sekitar kita saat ini, khususnya tentang daya tarik dan kekuatan peran televisi dalam pembangunan manusia, maka boleh jadi kita tidak bisa menyangkali, bahwa peran dan fungsi keagamaan tersebut, sebagian besar telah diambil alih oleh televisi.

Di antara dominasi peran televisi dalam pembangunan karakter bangsa manusia Indonesia yang berefek negatif terlihat secara nyata dalam kehidupan keluarga (sebagai unit terkecil tetapi terpenting dalam pembangunan manusia), dapat terlihat pada saat dan bagaimana segenap anggota keluarga memperlakukan isi layar kaca tersebut, dalam hal :

  1. Sebagai hal yang dipentingkan dan diutamakan. Sebuah rumah tangga tanpa kehadiran televisi akan terasa dan dianggap belum sempurna. Televisi tidak lagi semata berfungsi aksesoris ataupun kelengkapan desain interior untuk entertainment rumah tangga, akan tetapi telah menjadi prestise dan takaran prestasi material pencapaian keberhasilan sebuah keluarga.
  2. Sebagai patokan jadwal aktivitas keluarga. Dalam hal ini, kita pernah mengalami masa di mana pada umumnya kaum ibu penggemar telenovela, banyak di antaranya yang keranjingan sehingga jangan harap ada acara keluarga lainnya, manakala pas bertepatan dengan jadwal menonton acara favorit sang ibu rumah tangga tersebut. Lebih konkretnya lagi, simaklah betapa acara siaran bola piala dunia berpengaruh kuat terhadap seseorang, sehingga siap begadang sampai pagi, dan lalai sholat subuh serta pada gilirannya menurunkan produktivitas kerjanya.
  3. Sebagai contoh dan panduan dalam hal bertingkah laku. Jika selama ini ajaran agama yang menjadi pedoman dalam hal bagaimana seharusnya bertingkah laku, maka saat ini, hal itu dapat dengan mudah kita temukan dalam segenap program acara di TV. Simak saja mode pakaian dan model tingkah laku serta cara bertutur anak-anak dan remaja di sekitar kita. Dapat dipastikan, bahwa kesemuanya itu berawal dan bersumber dari hasil tayangan TV.

Singkatnya, peran media televisi yang berefek negatif, membuat manusia menjadi  consumerism and materialism  serta Living with social pressure (televisi mengajarkan kita untuk living the way society wants it, not the way we want (need) it).

Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati tentang dampak buruk media tv bagi anak-anak dan keluarga Indonesia menemukan bahwa pengaruh media tv terhadap anak makin besar. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi dan mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.

Akibat menonton TV berlebihan secara tidak selektif tersebut, sebagaimana dirilis oleh sejumlah penelitian, maka anak-anak akan sulit berkonsentrasi dalam belajar, daya ingat/hafalan melemah, temperamental, cenderung tidak patuh pada orangtua, dan bisa bersikap anti sosial.

 Efek Positif Media TV Dalam Pembangunan Karakter Bangsa

Tidak dapat dipungkiri peran televisi saat ini semakin besar saja. Peranannya sebagai media komunikasi audio-visual sangat luar biasa dibandingkan media-massa yang lain. Perkembangan teknologi komunikasi massa, khususnya TV,  tidak dapat diingkari telah banyak membantu manusia manusia untuk mengatasi pelbagai hambatan dalam berkomunikasi. Khalayak dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia jauh lebih cepat, bahkan sering kali khalayak lebih dahulu mengetahui apa yang terjadi jauh di luar negeri daripada di dalam negeri. Daya tarik televisi yang begitu kuat dapat dilihat dari orang-orang yang sanggup berjam-jam duduk di depan televisi.

Kalau diperhatikan, tampaknya tidak ada yang salah dengan unsur acara televisi. Hanya saja, jika diuraikan akan terlihat betapa banyaknya tayangan yang kurang memperhitungkan daya tangkap dan daya seleksi pemirsa. Adakalanya juga unsur edukatif televisi kurang dirasakan. Misalnya, dalam tayangan yang menyodorkan adegan-adegan kekerasan, erotis, kelicikan, kemunafikan, dan tipu daya manusia terhadap sesamanya.

Efek positif media TV dalam pembangunan manusia secara sederhana, terjadi pada tataran individu dan tataran masyarakat (sosial) melalui fungsi-fungsi yang diperankan TV.  Pada tataran individu, efek positif yang diberikan TV melalui fungsinya adalah meliputi :

(1) Fungsi Informasi , (2) Fungsi Pendidikan, (3) Fungsi Menghibur, (4) Fungsi Mempengaruhi, (5) Fungsi Proses Pengembangan Mental, (6) Fungsi Adaptasi Lingkungan, (7) Fungsi Manipulasi Lingkungan, (8) Fungsi Meyakinkan, (9) Fungsi Menganugrahkan Status, (10) Fungsi Membius, (11) Fungsi Menciptakan Rasa Kebersatuan, (12) Fungsi Privatisasi, (13) Fungsi kontrol sosial.

Sedangkan pada tataran masyarakat (sosial), efek positif yang diberikan TV melalui fungsinya antara lain meliputi: (1) Relationship (berhubungan), dimana media massa TV dapat bertindak sebagai jembatan silaturahmi diantara individu dan lingkungan, (2) Socialization (pewarisan nilai-nilai), dari satu generasi manusia ke generasi manusia berikutnya. Contoh : musawarah mufakat atau gotong royong, (3) Surveillance (pengawasan), yang terbagi atas  warning before surveillance (pengawasan peringatan), contoh : flu burung dan instrumental surveillance (pengawasan instrumental) contoh : resep masakan, (4) To Development (untuk pembangunan). Contoh : ajakan partisipasi peningkatan program keluarga berencana nasional, (5) Interpretation (penafsiran). Contoh : tajuk rencana, (6) Linkage (pertalian), dimana media massa TV dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage minat yang sama. Contoh : solidaritas untuk Palestina, (7) Transmission of values (penyebaran nilai-nilai). Contoh : sarana dakwah, (8) To learn (sarana pembelajaran), contoh : Belajar bahasa, (9) Entertainment (hiburan), yang tentunya selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Solusi : Mengembalikan Fungsi Sosial Televisi

Ahli komunikasi massa Harold D Lasswell dan Charles Wright,  menyatakan terdapat  empat fungsi sosial media massa, yaitu :

Pertama, sebagai social surveilance. Pada fungsi ini, media massa termasuk media televisi, akan senantiasa merujuk pada upaya penyebaran informasi dan interpretasi seobjektif mungkin mengenai peristiwa yang terjadi, dengan maksud agar dapat dilakukan kontrol sosial sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan masyarakat bersangkutan.

Kedua, sebagai social correlation. Dengan fungsi korelasi sosial tersebut, akan terjadi upaya penyebaran informasi yang dapat menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Begitupun antara pandangan-pandangan yang berbeda, agar tercapai konsensus sosial.

Ketiga, fungsi socialization. Pada fungsi ini, media massa selalu merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Keempat, fungsi entertainment. Agar tidak membosankan, sudah tentu media massa perlu juga menyajikan hiburan kepada khalayaknya. Hanya saja, fungsi hiburan ini sudah terlalu dominan mewarnai siaran televisi kita, sehingga ketiga fungsi lainnya, seolah telah terlupakan.Untuk itu, fungsi hiburan haruslah ditata agar seimbang dengan 3 (tiga) fungsi lainnya.

Sejatinya, keempat fungsi media massa tersebut bersinergi dan sinkron dalam rangka menyajikan tontonan yang sehat. Sebab, hanya dengan tontonan yang sehat sajalah yang nantinya dapat melahirkan generasi yang sehat. Generasi yang memiliki karakter bangsa. Dalam hal inilah, kesadaran masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia secara khusus perlu bertekad dan berkomitmen untuk mengupayakan agar ke depan jangan lagi mau membiarkan diri dan keluarganya didikte oleh siaran TV yang tidak mendidik dan bahkan merusak pembangunan karakter bangsa bagi masyarakat (warga negara) dalam pembangunan bangsa ke depan.

Masyarakat sering mengeluh bahwa jaman sekarang kepentingan-kepentingan asing begitu agresif menjajah bangsa ini. Salah besar. Menurut saya, justru penjajahan dilakukan oleh masyarakat kita sendiri yang sama sekali tak peduli dengan masa depan bangsanya. Secara realitas kita bisa ajukan pertanyaan apakah masyarakat memiliki kesadaran untuk menata secara aktif dan kritis di dalam menyaring tayangan-tayangan televisi bagi anak-anaknya. Padahal sebagai orang dewasa, orang tua diberikan akal budi dan kemampuan sehingga dapat memilihkan tayangan-tayangan mana yang layak untuk ditonton oleh dirinya sendiri dan anak-anaknya (keluarganya).

Beberapa hal penting lainnya yang harus juga disadari oleh masyarakat (orang tua) untuk dapat memperoleh efek positif dari media TV di dalam pembangunan karakter bangsa adalah :

  1. Hendaknya orang tua memberikan pengarahan kepada anak mengenai acara dan film yang sesuai untuknya, terutama bagi pertumbuhan iman dan kepribadiannya yang positif.
  2. Dampingi anak saat menonton televisi dan beri penjelasan mengenai acara atau film yang sedang ditayangkan, khususnya yang berlatar belakang berbeda dari iman dan nilai-nilai budaya bangsa kita.
  3. Berikan teladan pada anak dalam hal penggunaan waktu yang tepat untuk menonton dan penyeleksian yang ketat terhadap program- program yang ditayangkan di televisi.

 Penutup.

                Upaya pembangunan karakter bangsa bagi manusia Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan melalui peran media massa TV tentunya berada pada paradoksisasi, positif atau negatif. Kesadaran kita untuk menata penggunaan media massa TV yang  memberi manfaat dalam kehidupan kita adalah solusi terbaik. Untuk itu kesadaran menata hidup dalam kaitannya dengan pemanfaatan media massa TV bagi pembangunan karakter bangsa bagi manusia Indonesia haruslah merujuk dan berdasar pada nilai-nilai luhur bangsa yang telah dikristalisasikan dan diwujudkan dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Peran media massa TV dalam pembangunan karakter bangsa, haruslah berlandas pada perspektif budaya Indonesia yang meletakkan landasannya dalam kerangka negara kesatuan, dengan keanekaragaman budaya yang memiliki nilai-nilai luhur, kebijaksanaan dan pengetahuan lokal yang arif dan bijaksana (local wishdom and local knowledge). Media TV di Indonesia harus mampu menggali dan menjadikannya sebagai norma acuan atau tolok ukur di dalam melakukan penyiarannya.

                Kebebasan yang dimiliki media massa TV tidaklah kebebasan tanpa batas melainkan dibatasi dengan rambu-rambu etika dan moral serta harus bisa dipertanggungjawabkan. Bebas pada satu sisi dan tanggungjawab pada sisi lain, yang tidak bisa dipisahkan bagaikan dua sisi mata uang. TV bebas dalam menyiarkan sesuatu tetapi harus bertanggungjawab terhadap apa yang disiarkan. Media massa TV harus menjamin kebenaran dalam setiap pemberitaan yang disampaikan kepada khalayak. Media TV juga dituntut untuk dapat mengawal nilai-nilai luhur budaya bangsa dan mensosialisasikannya kepada masyarakat dengan fungsi-fungsi media massa yang melandasinya, diantaranya adalah memberikan pendidikan untuk membangun karakter bangsa demi terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang berkarakter.

About these ads

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 15 Juni 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. muhammad bahrom shaleh

    terima kasih bapa atas bantuannya

  2. Untuk kasus negara berkembang termasuk Indonesia, media padat modal seperti tv-tv swasta nasional semuanya milik perusahaan besar (baca: konglomerat). Maka tujuan untuk mencari untung, meskipun seolah pro rakyat. Maka masyarakat janganlah berharap banyak.
    TV yang mengklaim sebagai tv publik seperti TVRI dan RRI juga faktanya tidak memihak publik dan masih didikte pemerintah atau takut pemerintah atau tidak memiliki perspektif dan kebijakan jelas untuk publik. Padahal begitu banyak masalah bisa dibahas kritis dan membangkitkan semangat membangun untuk kepentingan publik.

    Penumpulan ini tepatnya dimulai ketika awal-awal masa pemerintahan Suharto. Masa pemerintahan Soekarno, radio itu masih pro publik total. Saat itu pemilik radio di kota dan di desa masih dikenai iuran/pajak bulanan, sementara pemilik sepeda masih dikenai peneng. Berbeda dengan tv/radio pemerintah di negara-negara maju seperti BBC (Inggris), ABC (Australia), VOA (Amerika, KBS (Korsel), NHK (Jepang), RF1 (Perancis), CCTV/CRI (Tiongkok/RRC), DWTV (Jerman) dan lain-lain, yang realtif benar-benar pro publik, karena memiliki dana besar yang didapat dari subsidi dana negara dan iuran wajib bulanan yang wajib dibayar oleh setiap keluarga di seluruh negara masing-masing, sebagian mereka juga masih menerima banyak sponsor/iklan perushaan/organisasi besar yang beroperasi di negara itu masing-masing, meski demikian siaran mereka tetap independen dan sangat memihak publik.

    Tv dan radio pemerintah/negara dari negara-negara tersebut biasanya satu atap satu menejemen dan biasanya juga satu gedung luas dan besar. Mereka tidak terpisah seperti TVR dan RRI. Mereka kira-kira mirip BUMN profesional dan juga mengambil sejumlah tenaga asing profesional selain memiliki tenaga-tenaga profesional lulusan universitas-universitas negeri terkenal mereka yang diseleksi sangat ketat tanpa KKN. Itu lah cara mereka membangun bangsa dan negara mereka, untuk publik untuk masyarakat.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: