PARADIGMA INOVASI DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

  

  

  

 

 

 

 

 

Socia Prihawantoro

Peneliti BPPT, Dosen Tamu Universitas Buya HAMKA (UHAMKA) Jakarta

Pembangunan daerah tertinggal di Indonesia secara politis dan administratif difokuskan pada pembangunan tingkat kabupaten. Secara politis tugas untuk menangani pembangunan daerah tertinggal diserahkan kepada Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT). KPDT sendiri menggunakan satuan kabupaten untuk menentukan target keberhasilan pembangunan daerah tertinggal. Target KPDT sebagai bagian dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah  (RPJM) 2010—2014 adalah mengentaskan 50 kabupaten tertinggal. Bersamaan dengan itu terdapat beberapa target lainnya, yaitu: a) meningkatnya rata-rata pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal dari 6,6 % pada tahun 2010 menjadi 7,1 % pada tahun 2014; b) berkurangnya persentase penduduk miskin di daerah tertinggal dari 18,8% pada tahun 2010 menjadi 14,2% pada tahun 2014; dan c) meningkatnya kualitas sumberdaya manusia (yang ditunjukkan oleh Indeks Pembangunan Manusia/IPM)  dari 67,7 pada tahun 2010 menjadi 72,2 pada tahun 2014.

Target pengentasan 50 kabupaten tertinggal rupanya diilhami oleh keberhasilan pengentasan kabupaten tertinggal pada RPJM periode 2005—2009 yang lalu. Selama kurun 2005—2009 telah dicapai pengentasan 50 kabupaten tertinggal, sementara itu muncul 34 kabupaten tertinggal baru akibat pemekaran wilayah. Sehingga jumlah kabupaten tertinggal  yang tadinya sebanyak 199 turun menjadi 183 kabupaten. Dengan target KPDT untuk mengentaskan lagi 50 kabupaten tertinggal selama RPJM 2010—2014, maka pada akhir 2014 jumlah kabupaten tertinggal akan turun lagi menjadi 133 kabupaten. Dengan asumsi tidak terjadi tambahan kabupaten tertinggal baru, maka setelah tahun 2014 diperlukan 3 kali RPJM lagi agar Indonesia terbebas dari kabupaten tertinggal. Artinya pada tahun 2030  di Indonesia  tidak ada lagi kabupaten tertinggal.

Sehubungan dengan hal itu, terdapat tiga pertanyaan yang perlu mendapat perhatian. Pertama, betulkah kita mampu mencapai Indonesia tanpa kabupaten tertinggal pada tahun 2030? Kedua, seandainya pada tahun 2030 dapat dicapai, apakah jangka waktu pencapaian Indonesia tanpa kabupaten tertinggal tersebut tidak terlalu lama? Ketiga, seandainya pada tahun 2030 tidak ada lagi kabupaten tertinggal, apakah itu berarti tidak ada lagi daerah tertinggal di Indonesia, misalnya dengan mengubah satuan daerah tertinggal menjadi ‘desa’ bukan lagi kabupaten?

Untuk pertanyaan pertama dan kedua kiranya semua sepakat bahwa pengentasan kabupaten tertinggal harus dicapai secepatnya. Sedangkan pertanyaan ketiga dapat memberikan arahan tentang perlunya kecermatan dalam menangani daerah tertinggal. Dengan menggunakan kabupaten  sebagai  satuan kebijakan, maka angka 183 kabupaten tertinggal menunjukkan bahwa jumlah daerah tertinggal sekitar 40% dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Sementara itu, dalam satuan desa, data dari  KPDT menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat 45,86% desa tertinggal.

Bahwa persentase desa tertinggal lebih tinggi dari pada persentase kabupaten tertinggal menunjukkan bahwa tidak semua daerah tertinggal berada dalam kabupaten tertinggal, melainkan ada juga daerah tertinggal yang berada di kabupaten/kota yang maju. Ada desa tertinggal di kabupaten/kota yang maju. Ini berarti bahwa suatu indikator yang menunjukkan bahwa sebuah kabupaten/kota adalah kabupaten/kota yang maju, belum tentu semua desa di dalamnya mempunyai indikator sebagai desa maju juga. Sebaliknya sangat dimungkinkan di dalam kabupaten tertinggal, ada desa yang memiliki indikator sebagai desa yang maju; atau ada desa maju di dalam kabupaten tertinggal.

Kriteria dan Sebaran Daerah Tertinggal

Gagasan  pembangunan daerah tertinggal yang cepat dan cermat, tidak terlepas dari  indikator dan sebaran daerah tertinggal. Dalam Strategi Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal (Stranas PDT) tahun 2005 disebutkan bahwa penetapan daerah tertinggal didasarkan pada kriteria perekonomian masyarakat, sumberdaya manusia, prasarana (infrastruktur), kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas dan karakteristik daerah. Tidak jauh berbeda, penetapan daerah tertinggal pada tahun 2010 menurut Menteri Negara PDT adalah menurut tingkat kemiskinan penduduknya, sumber daya alam dan manusianya, keuangan daerah, akuntabilitas, dan kesehatan.

Dengan menggunakan kriteria tersebut, maka sebaran daerah tertinggal secara geografis dapat digolongkan (Stranas PDT tahun 2005): (1) Daerah yang terletak di wilayah pedalaman, tepi hutan, dan pegunungan yang pada umumnya tidak atau belum memiliki akses ke daerah lain yang relatif lebih maju; (2) Daerah yang terletak di pulau-pulau kecil, gugusan pulau yang berpenduduk dan memiliki kesulitan akses ke daerah lain yang lebih maju; (3) Daerah yang secara administratif sebagian atau seluruhnya terletak di perbatasan antarnegara baik batas darat maupun laut; (4) Daerah yang terletak di wilayah rawan bencana alam baik gempa, longsor, gunung api, maupun banjir. (5) Daerah yang sebagian besar wilayahnya berupa pesisir.

Sebaran di atas menunjukkan bahwa sebenarnya daerah tertinggal merupakan daerah yang kurang disinggahi kegiatan ekonomi. Daerah pedalaman, tepi hutan, pegunungan, pulau kecil, perbatasan antarnegara, rawan bencana dan pesisir adalah daerah yang jarang disinggahi kegiatan ekonomi. Dengan kecilnya volume kegiatan ekonomi di daerah tersebut, maka akan kecil pula penghasilan masyarakat. Maka tidaklah mengherankan kalau masyarakatnya miskin. Dengan kondisi masyarakat yang miskin, maka kualitas SDM rendah, tingkat pendidikan dan kesehatan rendah, produktivitas juga rendah. Hal ini akan berpengaruh pada rendahnya komponen pendapatan asli daerah (PAD) dalam APBD kabupaten setempat, karena minimnya sumber-sumber PAD. 

Perbedaan keberhasilan pembangunan antara daerah tertinggal dengan daerah maju menunjukkan adanya ketimpangan pembagunan antardaerah. Salah satu metode untuk menghitung besarnya ketimpangan antardaerah adalah menggunakan indeks Williamson. Indeks Williamson sama dengan satu artinya tidak ada ketimpangan, sedangkan indeks sama dengan nol artinya terjadi ketimpangan yang sempurna. Hasil studi Hendra Esmara (1975) dan Uppal, J.S. bersama Budiono Sri Handoko (1986) menunjukkan bahwa ketimpangan antardaerah di Indonesia termasuk tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, demikian disebutkan dalam  Sjafrizal (2008). Hasil studi Sjafrizal menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan ketimpangan antardaerah di Indonesia dalam kurun  1993—2003. Indeks Williamson Indonesia tahun 1993 sebesar 0,56 menjadi 0,64 pada tahun 2003.

Sementara itu tingkat ketimpangan antardaerah di Indonesia berbeda antara satu provinsi dengan provinsi yang lain. Dengan menggunakan indeks theil, Alisyahbana (2002) menemukan beberapa hasil yang menarik. Ketimpangan antardaerah pada tahun 1998 yang tinggi terjadi di provinsi (jauh melebihi provinsi lain) Riau, Sumatera Barat, semua provinsi di Jawa selain DI Yogyakarta, Kalimantan Barat dan Papua.

 Siklus Ekonomi dan Ketertinggalan Daerah

Telah disebutkan bahwa daerah tertinggal kurang disinggahi kegiatan ekonomi dibandingkan daerah maju. Siklus kegiatan ekonomi merupakan perluasan dari siklus produksi. Secara sederhana siklus produksi adalah meliputi proses pengolahan input menjadi output. Output suatu kegiatan produksi dapat menjadi input dari kegiatan produksi yang lain, demikian seterusnya. Output  kegiatan produksi juga dikonsumsi oleh masyarakat dan pemerintah, baik dari dalam maupun luar daerah. Bagian output yang menjadi input dari kegiatan produksi yang lain disebut dengan permintaan antara. Sedangkan bagian output yang dikonsumsi masyarakat dan pemerintah disebut permintaan akhir.

Dalam proses produksi, produsen juga membayar upah kepada tenaga kerja, membayar pajak kepada pemerintah, selain memperoleh keuntungan untuk kegiatan produksinya. Penjumlahan upah, pajak dan keuntungan produsen inilah yang kemudian dikenal sebagai nilai tambah kegiatan produksi. Total dari nilai tambah semua kegiatan produksi yang ada di suatu daerah merupakan produk domestik bruto (PDRB) daerah tersebut.

Melalui upah yang diterimanya, masyarakat meningkat daya belinya. Mereka akan melakukan permintaan terhadap barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun kebutuhan sosial mereka. Sedangkan Pemerintah, dengan pajak yang diterimanya akan melakukan belanja untuk membayar pegawainya, keperluan penyelenggaraan pemerintahan, serta pelayanan kepada masyarakat melalui penyediaan barang maupun jasa publik. Untuk memenuhi peningkatan kebutuhan masyarakat dan pemerintah tersebut, produsen melalui keuntungan (surplus) usahanya memperbesar skala usahanya.

Dengan skala usaha yang semakin besar, produsen memerlukan tenaga kerja lebih banyak lagi dan karenanya akan membayar upah lebih besar lagi kepada masyarakat, serta membayar pajak lebih besar lagi kepeda pemerinah. Daya beli masyarakat dan pemerintah dengan demikian akan meningkat lagi dan ini akan direspon oleh produsen dengan memperluas skala produksinya. Proses tersebut akan berulang terus dan membentuk suatu siklus ekonomi yang semakin lama semakin meningkatkan nilai tambah produksi, dan ini berarti terjadi pertumbuhan produk domestik yang juga dikenal dengan pertumbuhan ekonomi.

Secara spasial siklus ekonomi membentuk rantai keterkaitan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Adalah suatu hal yang biasa bahwa kegiatan produksi di suatu daerah memerlukan bahan baku dari daerah lain. Juga hal biasa kalau kegiatan produksi memasarkan sebagian hasilnya atau produknya ke daerah lain, sementara sebagian lagi dipasarkan di daerahnya sendiri.

Suatu daerah bisa mewadahi sekian banyak kegiatan ekonomi, mulai dari yang siklusnya berskala lokal, regional, nasional sampai internasional. Daerah seperti ini merupakan karakteristik dari daerah maju. Sebaliknya, di daerah tertinggal pada umumnya hanya terdapat kegiatan ekonomi yang siklusnya berskala lokal, itupun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Kurangnya kegiatan ekonomi di daerah tertinggal menunjukkan rendahnya daya saing. Daya saing suatu daerah dapat diartikan sebagai kemampuan daerah tersebut menarik para aktor ekonomi untuk berkreasi dan menciptakan sebanyak mungkin nilai tambah di daerahnya. Tentu saja daya saing ini dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi daerah dalam menerima kegiatan ekonomi yang akan dikreasikan oleh para aktor ekonomi tersebut. Kemampuan tersebut meliputi kondisi alam dan buatan, kemampuan masyarakat, serta terdapatnya industri terkait.

Michael E. Porter (1990) dalam model berlian daya saing internasional, memberikan gambaran bahwa terdapat empat faktor daya saing daerah, yaitu (1) sumberdaya alam, (2) strategi dan struktur persaingan perusahaan yang ada, (3) kondisi dan tuntutan permintaan domestik akan mutu produksi dan (4) eksistensi industri terkait dan pendukung. Untuk mewujudkan keempat faktor daya saing tersebut diperlukan dua faktor pendorong, yakni adanya pemerintah serta akses dan kesempatan  yang baik.,

Dong-Sung Cho (1997) memperluas model berlian Porter tersebut. Selain empat faktor daya saing seperti digambarkan Porter, terdapat lima faktor pendorong, yaitu pemertintah (politisi dan birokrasi), akses dan kesempatan, kualitas tenaga kerja, kualitas tenaga ahli (teknisi, perancang, manajer) dan kualitas kewirausahaan (entrepreneurship) masyarakat.

Inovasi dan Kebijakan Spasial Sebagai Kunci

Kembali pada gagasan pembangunan daerah tertinggal dengan cepat dan cermat. Kecepatan pembangunan (pengentasan) daerah tertinggal tergantung pada kecepatan melipatgandakan jumlah kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah di daerah tertinggal. Sedangkan kecermatan pembangunan daerah tertinggal tergantung pada luasnya cakupan daerah yang behasil dientaskan. Kunci untuk melipatgandakan kegiatan ekonomi adalah inovasi. Sedangkan untuk menciptakan dampak yang luas dari pembangunan daerah tertinggal diperlukan kebijakan spasial.

Kebijakan spasial untuk pembangunan daerah tertinggal dimaksudkan sebagai sarana untuk meningkatkan keterlibatan kabupaten tertinggal berikut desa-desanya dalam siklus ekonomi regional maupun nasional. Dengan kebijakan ini diharapkan volume produksi kabupaten tertinggal berikut desa-desanya meningkat dengan pesat, baik karena meningkatnya permintaan masyarakat setempat maupun karena adanya keterkaitan dengan kegiatan produksi di daerah lain.

Peningkatan produksi dilakukan dengan mendorong terjadinya peningkatan skala ekonomi dan juga peningkatan cakupan (scope) kegiatan ekonomi. Peningkatan skala ekonomi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan omzet produksi suatu unit usaha. Sedangkan peningkatan cakupan kegiatan ekonomi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan jenis-jenis usaha. Kedua terminologi  tersebut bermuara pada peningkatan volume produksi daerah.

Langkah yang perlu dilakukan dalam kebijakan spasial ini adalah mendorong terjadinya aglomerasi ekonomi sekaligus keterkaitan kegiatan ekonomi antardaerah. Aglomerasi didorong dengan kebijakan pengembangan sektor tertentu yang dominan di suatu daerah tertinggal, atau membangun sebuah kawasan industri. Sektor atau industri lain yang terkait akan ikut berkembang. Sektor atau industri inti akan berkembang bersamaan dengan sektor atau industri yang terkait, membentuk sebuah klaster ekonomi yang kuat dan menjadi ciri khas baru daerah yang sudah maju (tadinya daerah tertinggal).

Aglomerasi tersebut biasanya terjadi pada suatu kawasan saja, misal beberapa desa di sebuah kabupaten. Bisa jadi kabupaten tertinggal berubah menjadi kabupaten maju dengan adanya kawasan yang sudah maju, namun di dalamnya masih terdapat beberapa desa yang masih tertinggal. Untuk menanggulangi hal ini, maka model aglomerasi perlu dibarengi dengan model keterkaitan antardaerah. Dengan model keterkaitan, maka semua desa di kabupaten dikaitkan sebagai pemasok faktor produksi bagi kawasan yang maju. Dengan begitu maka ketika kabupaten tertinggal berubah menjadi kabupaten maju, semua desa di dalamnya juga ikut menjadi desa maju. Model keterkaitan antardaerah juga bisa dilakukan untuk mengaitkan kabupaten tertinggal dengan kabupaten maju, untuk mengangkat kabupaten yang tertinggal. Dengan model keterkaitan antardaerah, bukan hanya daerah maju yang dihasilkan, melainkan juka pemerataan antardaerah.

Peningkatan skala ekonomi maupun cakupan (scope) kegiatan ekonomi tentunya harus dicapai dengan efisien. Katakanlah skala ekonomi dinaikkan dua kali lipat, maka omzet produksi harus meningkat lebih dari dua kali lipat. Inilah yang disebut economies of scale; atau dalam  konteks cakupan kegiatan ekonomi disebut   economies of scope, dan dalam konteks aglomerasi disebut   economies of agglomeration. Untuk mencapai efisiensi inilah diperlukan inovasi. Semakin baik inovasi diterapkan, semakin efisien dan cepat daerah tertinggal berkembang menjadi daerah maju yang memiliki daya saing tinggi.

Inovasi, sebagai bentuk penerapan metode baru untuk memberikan hasil yang lebih bernilai, dapat dilakukan pada semua lini produksi:  inovasi dalam pengunaan bahan baku, inovasi dalam proses produksi, inovasi dalam rancangan produk, sampai inovasi dalam pemasaran produk. Inovasi juga bisa diarahkan untuk menunjang lini produksi, misalnya inovasi dalam infrastruktur daerah  dan investasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan dalam perkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap sebagai inti dari inovasi. Ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan inti dari perubahan kegiatan produksi dalam semua lini, dari sejak penggunaan bahan baku sampai pemasaran.

About these ads

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 Juli 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. saya baca tulisan Bapak, sangat menginspirasi saya menjadi pelaku penggiat inovasi daerah, semoga kita dapat bersilaturahmi. terima kasih Soviyan Munawar. Mahasiswa S2 Studi Pembangunan ITB

  2. nice info pak….salam kenal
    check it out.. klik ini

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: