Membangun Bangsa melalui Pendidikan Karakter

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Aswandi

Dosen FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak

BUNG Karno pernah mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”, demikian Soemarno Soedarsono (2009) dalam bukunya “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”.

Mahatma Gandhi mengatakan hal yang sama, “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan hal senada bahwa “Pembangunan watak (character building) adalah amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik juga ditandai dengan semangat, tekat dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi”.

Ratna Megawangi juga mengatakan hal yang sama, “Segala sesuatunya karena karakter”. Dan membangun karakter (character building) telah menjadi keinginan semua orang, terutama para pendiri bangsa ini. Karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, keberanian, usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup”, dikutip dari Maxwell (2001) dalam bukunya ”The 21 Indispensable Qualities of A Leader”.

Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutannya pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional  2010 menegaskan kembali hal yang sama, yakni pentingnya pembangunan karakter dan pendidikan karakter untuk membangun peradaban bangsa ini karena diyakini pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, melainkan juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna, baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya.

Pendapat di atas menjelaskan bahwa keharusan membangun karakter bangsa, tidak semata karena alasan keterpurukan peradaban bangsa saat ini sebagaimana telah digambarkan oleh Mochtar Lubis, bahwa karakteristik bangsa ini, antara lain; “(1) hipokrit atau munafik; lain di mulut dan lain di hati; (2) enggan bertanggung jawab; (3) bermental menerabas, ingin kaya tanpa berusaha dan ingin pintar tanpa belajar; (4) feodalistik; (5) masih percaya tahyul; (6) artistik/menjaga penampilan/bergaya; (7) berwatak lemah sehingga dengan mudah dirubah keyakinannya demi kelangsungan hidup; (8) senang bernostalgia/efouria masa lalu; (9) cepat marah; dan (10) tukang lego untuk ditukar dengan yang lain asal dapat uang tunai, melainkan juga pentingnya pendidikan karakter ini karena diyakini bahwa segalanya karena karakter.

Thomas Lickona, salah seorang developemental psychologist mengemukakan dimensi karakter; “The dimensions of character are knowing, loving, and doing the good”. Ia kemukakan pilar karakter meliputi; (1) trustworthiness; (2) respect; (3) responsibility; (4) fairness; (5) caring; and (6) citizenship.

Para pakar pendidikan karakter lain mengelompokkan karakter ke dalam 9 pilar, yakni; (1) cinta Tuhan dan ciptaannya; (2) kemandirian dan tanggungjawab; (3) kejujuran, amanah, dan bijaksana; (4) hormat dan santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong royong; (6) percaya diri, kreatif, dan pekerja keras; (7) kepemimpinan dan keadilan; (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi, kedamaian dan kesatuan.

Usaha membentuk karakter yang baik bukan pekerjaan mudah,  memerlukan pendekatan komprehensif yang dilakukan secara  sistematis dan berkesinambungan, mulai dari sejak kecil di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Membangun Karakter Melalui Pikiran

Sebuah motto; ”Perhatikan pikiran anda karena ia akan menjadi kata-kata anda. Perhatikan kata-kata anda karena ia akan menjadi perbuatan anda. Perhatikan perbuatan anda karena ia akan menjadi kebiasaan anda. Perhatikan kebiasaan anda karena ia akan menjadi karakter anda. Dan perhatikan karakter anda karena ia akan menjadi takdir anda”.

Kelakuan dan pikiran manusia menjadi tema kajian menarik sejak dulu hingga saat ini. Tempo hari dua konsep tersebut hanya dipelajari oleh kalangan terbatas, tetapi sekarang dipelajari oleh banyak orang dari berbagai disiplin ilmu.

Selain itu sebuah fakta menunjukkan bahwa banyak orang mengerutkan mukanya ketika melihat orang lain melamun, dan orang yang kelihatan sering melamun dianggap malas dan tidak punya ambisi. Isaac Newton pernah ditanya bagaimana dia menemukan hukum gravitasi. Ia menyawab; “dengan melamunkannya”. Emerson sependapat bahwa “kita semua ini hampir selamanya menjadi apa yang kita lamunkan”.

Ternyata melamun memikirkan keadaan yang ingin dicapai sangat konstruktif, demikian kata Hooper (2000) dalam bukunya berjudul; “You Are What You Think”.

Kegagalan hidup ini lebih disebabkan oleh “Kesalahan Berfikir atau Ketidakcerdasan Melamun” dan kealpaan kita memahami dan menggunakan kekuatan pikiran alam bawah sadar, kata Joseph Murphy (1997) dalam bukunya “The Power of Your Subconsious Mind”. Peter F. Drucker mengatakan, “kegagalan menyelesaikan persoalan bukanlah karena kompeksitas persoalan tersebut, melainkan karena kesalahan berfikir kita, dimana kita menggunakan cara berpikir kemarin untuk menyelesaikan masalah sekarang”.

Para pakar mengkaji secara lebih mendalam tentang cara berpikir manusia melalui berbagai metode, pendekatan, dan analisis, seperti melalui “Meta Analysis”. Mereka menemukan bahwa cara berpikir manusia ternyata bersumber dari “sistem keyakinan” (belief system) dan “genetik tuhan” yang ada dalam pikirannya, demikian kata Zohar & Marshall (2001) dalam “Spritual Quotion; Dean Hamer (2006) dalam “The God Gene”; James J. Mapes (2003) dalam “Quantum Leap Thinking” dan Bill Gould (2006) dalam “Transformational Thinking”.

Perjalanan intelektual manusia tersebut telah menggeser aksioma paradigma ilmu pengetahuan dari rasional ke sakral/spritual, dan dari positivisme ke naturalisme. Dan bahkan ranah yang selama ini diyakini sangat sakral seperti agama juga mengalami berbagai pergeseran paradigmatik dan menjadi kajian menarik pada saat ini sebagaimana terdapat pada berbagai karya tulis Fritjof Capra misalnya.

Zig Ziglar (2001) dalam bukunya “Something Else to Smile About” mengatakan bahwa “apa yang masuk ke pikiran kita dan dengan siapa kita bergaul mempengaruhi pikiran kita. Pemikiran kita mempengaruhi tindakan-tindakan kita. Tindakan-tindakan kita mempengaruhi prestasi kita dan prestasi kita sangat berperan dalam seberapa sukses serta bahagia masa depan kita nantinya”.

Brian Tracy (2006) dalam bukunya; “Change Your Thinking Change Your Life” mengatakan; ”seseorang akan menjadi seperti apa tergantung seperti apa yang paling sering diimpikan selama ini. Pikiran-pikiran yang lahir dari otak mengendalikan dan menentukan hampir semua yang terjadi pada diri seseorang. Pikiran dapat membuat seseorang menjadi mampu melakukan apapun atau membuat seseorang merasa tidak berdaya, menjadi seorang pecundang atau pemenang, menjadi seorang pahlawan atau pengecut”.

William James mengatakan hal senada, yakni “terdapat sebuah hukum dalam ilmu psikologi yang menyatakan bahwa jika seseorang membuat bayangan dalam benak dan pikirannya tentang ingin jadi apa ia kelak, dan mempertahankan bayangan tersebut dalam benak/pikirannya dalam waktu cukup lama dengan segera seseorang menjadi seperti dalam bayangan dan pikirannya itu”. Dengan mengubah aspek dalam fikirannya, manusia bisa mengubah aspek luar kehidupan mereka.

Teori mengatakan bahwa setiap orang akan mengembangkan berbagai keyakinan tentang dirinya sendiri (self consept), dimulai sejak dia lahir, kemudian akan menjadi program master yang menggerakkan computer bawah sadar, menentukan apa saja yang dipikirkan, dikatakan, dirasakan, dan dilakukannya. Oleh karena itulah, semua perubahan yang terjadi pada kehidupan lahiriah seseorang selalu dimulai dari perubahan pada konsep dirinya atau bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya.

Maxwell Maltz (2004) seorang ahli pedah plastik yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar psikologi sibernetik dalam bukunya; “The New Psycho-Cybernetics” mengemukakan hasil penelitiannya terhadap ribuan pasien yang melakukan operasi bedah plastik guna meningkatkan performansinya. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan (hanya sebagian kecil, yakni 3%) bedah plastik terhadap peningkatan performansi seseorang. Kemudian dilakukan penelitian lanjutan kepada sebagian kecil dari pasien tersebut dan disimpulkan bahwa peningkatan performansi pada mereka bukanlah karena telah terjadi perubahan fisiknya dimana mereka semakiin cantik/ganteng dan sebagainya, melainkan adanya perubahan keyakinan dan pikiran positif akan dirinya sendiri. Tidak terdapat perubahan perilaku nyata yang bisa berlangsung tanpa ada perubahan cara berfikir tentang diri. Dan siapa saja bisa merintis citra diri serta kehidupan baru yang serba lebih baik dengan merubah cara berfikir tentang citra dirinya yang terdiri dari self ideal, yakni harapan, impian, dan idaman, self image atau cermin diri (inner mirror), di sini kita sering-seringlah mentertawakan diri sendiri, dan self esteem atau seberapa besar seseorang menyukai dirinya sendiri.  

Tingkat atau kualitas self esteem seseorang ditentukan oleh seberapa cocok self image dan self ideal-nya. Sayang, citra diri seseorang telah dirusak oleh sebuah proses pembelajaran yang salah, sejak usia dini di rumah oleh orang tua yang seharusnya melaksanakan proses pendidikan berkualitas, kemudian diperburuk lagi oleh proses pendidikan di sekolah dan masyarakat.

Mengakhiri opini ini, penulis sampaikan bahwa perilaku manusia merupakan pengejawantahan dari pikirannya, dan kualitas kehidupan seseorang karena ia sendiri menciptakannya. Oleh karena itu berhati-hatilah memasukkan pesan ke dalam pikiran karena hal itu akan mempengaruhi kelakuan yang kemudian akan mempengaruhi masa depan, misalnya usirlah pikiran-pikiran negatif dengan memasukkan pikiran-pikiran positif, jadikan kritik sebagai pelajaran dan pujian sebagai peringatan.

Ingatlah, kebahagian tidak tergantung pada siapa anda atau apa yang anda miliki, melainkan hanya tergantung pada apa yang anda pikirkan, demikian kata Dale Carnegie.

Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat tiga hal penting yang mesti diperhatikan ketika ingin membangun bangsa melalui pendidikan berbasis karakter ini, yakni melalui; (1) pembiasaan; dan (2) contoh atau tauladan; dan (3) pendidikan/pembelajaran secara terintegrasi.

Pembiasaan,  kebiasaan memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, ia mengambil porsi yang cukup besar dalam usaha manusia. Islam menggunakan kebiasaan sebagai salah satu sarana pendidikan”, dikutip dari Ibrahim Hamd Al-Qu’ayyid (2005) dalam bukunya “10 Kebiasaan Manusia Sukses Tanpa Batas”.

Zig Ziglar (2001) dalam bukunya “Something Else to Smile” mengingatkan “Perhatikan kebiasaanmu, karena ia akan menjadi karaktermu”.

Ibn Miskawaih (1998) salah seorang pakar moral dan Etika dalam bukunya “Tahdzib Al-Akhlaq” menegaskan bahwa “Karakter manusia terletak pada fikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”.

Joyce Divinyi (2003) dalam bukunya “Discipline Your Kids” mengatakan hal yang sama, bahwa “Otak membutuhkan pengulangan untuk membuat tingkah laku tertentu menjadi kebiasaan”.

Dr. Nuwer menjelaskan bahwa proses belajar berlangsung di wilayah sadar (cerebral cortex) di bagian luar, kemudian lama kelamaan dilakukan pengulangan akan menjadi sebuah pola pikiran atau perilaku yang baru, kegiatan tersebut berpindah ke wilayah otak bawah sadar (basal ganglia) yang bersifat otomatis. Semakin sering diulang, maka semakin otomatis dan tidak disadari tindakan itu, kebiasaan tersebut segera berubah dan lama kelamaan diperkuat. Melakukan dan memikirkan sesuatu secara berulang-ulang otak menyesuaikan diri dengan penciptaan jalur-jalur syaraf yang lebih rapat dan lebih efisien atau menjadi sebuah jalur neurologis bebas hambatan di otak. Para pakar neurofisiologi menyimpulkan temuan mereka, yakni otak mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk menerima pikiran atau perilaku yang berulang-ulang dan menyambungkannya ke pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan di bawah sadar. Semakin sering mengulangi pikiran dan tindakan yang konstruktif, pikiran atau tindakan itu akan menjadi semakin dalam, semakin cepat, dan semakin otomatis”, demikian dikutip dari Paul G. Stoltz (2000) Adversity Quotient”. Stephen Covey mengatakan, “Karakter kita pada dasarnya disusun dari kebiasaan-kebiasaan kita. Karena bersifat konsisten, sering berpola yang tidak disadari, kebiasaan itu secara konstan, setiap hari, mengungkapkan karakter kita”, dikutip dari Paul G. Stoltz (2003) dalam bukunya “Adversity Quotient @ Work”.

Satu perilaku yang dilakukan secara konsisten/istiqamah, maka akan mampu membawa perubahan pada banyak perilaku.

Keteladanan, Abdullah Nashih Ulwan (1999) dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad fil Islam” mengatakan “keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil atau membekas dalam mempersiapkan dan membentuk karakter, moral, spritual dan etos sosial anak”. Sesungguhnya sangat mudah mengajar anak tentang berbagai materi pembelajaran, tetapi akan menjadi teramat sulit bagi anak untuk menerima dan melaksanakan pembelajaran tersebut ketika ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya tidak mengamalkannya. Anak belajar dari apa yang dilihat dan didengar dari lingkungannya. Anak melihat orang tuanya berdusta, ia tak mungkin belajar jujur. Melihat orang tuanya berkhianat, ia tak mungkin belajar amanah. Melihat orang tuanya selalu memperturutkan hawa nafsu, ia tak mungkin belajar keutamaan. Mendengar orang tuanya berkata kufur, caci-maki, dan celaan, ia tak mungkin belajar bertutur santun dan manis. Melihat kedua orang tuanya marah dan bertegang urat syaraf, ia tak mungkin belajar sabar, dan melihat kedua orang tuanya bersikap keras dan bengis, ia tak mungkin belajar kasih sayang”. Al-Maghribi (2004) mengutip ungkapan penyair Arab, “Kamu jelaskan obat kepada yang sakit agar ia sehat sementara anda sendiri sakit…”. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya QS 2:44; “ “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri atas kewajibanmu, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berfikir?”

Riset Empati menyimpulkan; (1) terdapat korelasi positif antara empati dengan nilai akademik, (2) sekolah yang melibatkan siswa dalam latihan empati kepada masyarakat mempunyai nilai yang lebih tinggi dalam reading comprehension, (3) empati berdampak pada meningkatnya pemikiran kritis dan pemikiran kreatif; (4) kecerdasan emosi mengurangi kekerasan dan meningkatkan perilaku prososial; (5) prilaku prososial yang ditunjukkan siswa di kelas adalah prediktor dalam prestasi akademik.

Menurut penelitian, perilaku yang mengembangkan empati, antara lain; menunjukkan dan menyontohkan perilaku empatik, responsif, nonotoriter, Sebaliknya, perilaku yang merusak; ancaman dan hukuman fisik, inkonsisten, lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang saling tidak menghargai dan menghormati.

Pendidikan dan pembelajaran  terintegrasi, Pendidikan dan pembelajaran berbasis karakter, berbasis nilai, berbasis moral dan sejenisnya dirancang secara terintegrasi dengan pendidikan dan pembelajaran lainnya. Ia tidak dapat berdiri sendiri sebagai mata pelajaran.

Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran berbasis karakter lebih ditentukan oleh strategi pembelajaran, disamping ditentukan oleh subject matter dan komponen lain pembelajaran, dalam arti bagaimana peserta didik mengkonstruksi informasi ka-karakter-an ke dalam otak dan pikirannya,  selain subject matter ke-karakter-an tersebut. 

Informasi, baik berupa nilai, keyakinan dan pengalaman yang masuk ke alam sadar dan alam bawah sadar membentuk mindset yang kemudian sangat mempengaruhi pikiran seseorang, selanjutnya akan  mempengaruhi perilaku. Jadi perilaku kita adalah kelakuan kita.

About these ads

Tentang Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 10 Agustus 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Ass wr wb
    siapa anda tergantung apa yang anda baca dan dengan siapa anda bergaul. terima kasih banyak pencerahannya.

  2. Karakter yg sedang kami perjuangkan agar hidup dalam masyarakat adalah karakter manusia sebagai makhluk sosial yaitu senang bersatu dan cinta pada komunitasnya , salah satu prakteknya akan mendukung semangat wirausaha yaitu membuat rumah makan tanpa modal uang , terimakasih kalau mau beri komen

  3. assalamualaikum pak saya boleh minta file ini pak?
    terimakasih pak sebelumnya

  4. Ass wr wb
    Salam kenal dari saya
    saya senang dapt membaca tulisan bapak, dan saya mendapat tambahan ilmu pengetahuan dari tulisan ini.
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: