WACANA PENERAPAN MATA UANG TUNGGAL ASEAN: SEBUAH KOMENTAR

Oleh: Arief Ramayandi dan Ari Tjahjawandita

Ekonom Universitas Padjajaran

Wacana mata uang tunggal ASEAN tidak dapat dipisahkan dari rencana integrasi ekonomi yang dicanangkan dalam visi ASEAN 2020. Walaupun bukan merupakan tujuan utama dari visi tersebut, wacana ini kerap muncul kepermukaan. Hal ini terjadi setidaknya didorong oleh dua hal: (i) Kecenderungan untuk mengacu pada penerapan konsep integrasi ekonomi yang dilakukan oleh Uni-Eropa yang menerapkan mata uang tunggal; dan (ii) penyatuan mata uang merupakan puncak dari konsep integrasi ekonomi.

Integrasi ekonomi di sebuah kawasan pada dasarnya tidak perlu selalu berujung pada penerapan mata uang tunggal di kawasan yang bersangkutan. Harmonisasi kebijakan perdagangan dan koordinasi kebijakan perekonomian dalam sebuah kawasan dapat dilakukan tanpa hadirnya mata uang tunggal. Secara ideal, penerapan mata uang tunggal hanya akan menjadi relevan jika kawasan yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang digariskan oleh teori kawasan mata uang tunggal optimum (optimum currency area/OCA); yang meliputi kecukupan prakondisi politik dan standard kriteria ekonomi tertentu, yang akan dibahas kemudian dalam tulisan ini.

Keuntungan apa yang biasa dinikmati oleh negara-negara anggota sebuah kawasan yang mengadopsi mata uang tunggal? Penetapan mata uang tunggal berpotensi untuk meningkatkan efisiensi kinerja perekonomian anggotanya. Peningkatan efisiensi tersebut muncul lewat beberapa hal, antara lain:

(i) berkurangnya biaya transaksi perdagangan antar negara anggota melalui hilangnya ongkos transaksi mata uang dan resiko nilai tukar yang biasanya mengikuti proses pembayaran dalam transaksi perdagangan antar negara,

 (ii) meningkatnya transparansi harga dari sebuah produk yang dihasilkan oleh Negara-negara berbeda yang ada di kawasan mata uang tunggal yang bersangkutan. Pada kasus Negara-negara uni-Eropa, penurunan ongkos transaksi yang terjadi mencapai 0,25-0,5% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara anggota Uni-Eropa. Di sisi lain, karena harga-harga produk dinyatakan dalam mata uang yang sama, maka konsumen di kawasan tersebut dapat dengan mudah melakukan perbandingan harga barang sejenis. Oleh karenanya, kemungkinan produsen untuk mengambil keuntungan yang berlebihan menjadi lebih sulit sehingga pada akhirnya konsumen akan diuntungkan. Kedua hal tersebut secara bersamaan akan memiliki efek peningkatan aktivitas perekonomian di negara-negara anggota kawasan mata uang tunggal, yang pada gilirannya akan memiliki efek peningkatan kesejahteraan ekonomi negara-negara tersebut.

Keuntungan lain yang juga mengikuti penerapan sistem mata uang tunggal adalah berkurangnya ongkos pengelolaan kebijakan moneter dari negara-negara kawasan mata uang tunggal tersebut. Hal ini disebabkan oleh terpusatnya pengelolaan kebijakan moneter untuk setiap negara anggota kawasan mata uang tunggal pada sebuah otoritas kebijakan moneter bersama yang diberi mandat oleh seluruh anggota kawasan. Di samping itu, penerapan mata uang tunggal juga memberikan kredibilitas dan disiplin pengelolaan kebijakan ekonomi makro bagi negara-negara anggotanya. Dalam kasus Uni-Eropa, pengelolaan kebijakan moneter ini dilakukan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang diberi mandat oleh seluruh negara anggota Uni-Eropa. Dengan demikian, tugas pengelolaan kebijakan moneter di setiap negara anggota menjadi hilang berikut dengan biaya-biaya yang terkait didalamnya. Bank sentral di setiap negara anggota hanya berfungsi layaknya kantor cabang dari bank sentral pusat yang melaksanakan fungsi sebagai otoritas moneter untuk seluruh kawasan mata uang tunggal tersebut.

Keuntungan terakhir di atas, pada saat yang sama juga merupakan ongkos utama dari penerapan sistem mata uang tunggal. Hilangnya fungsi pengelolaan kebijakan moneter di setiap negara anggota kawasan memiliki implikasi berkurangnya alat/instrumen kebijakan untuk melakukan intervensi dalam pengelolaan ekonomi domestik negara yang bersangkutan. Kemampuan negara tersebut untuk menggunakan kebijakan moneter sebagai alat untuk menstimulasi atau melakukan kontraksi perekonomiannya secara individual menjadi hilang. Posisi kebijakan moneter hanya akan dapat dirubah oleh Bank Sentral kawasan yang memiliki implikasi sama untuk semua negara anggotanya. Dengan demikian, kemampuan masing-masing negara anggota untuk bertindak dalam mengatasi permasalahan ekonomi domestiknya menjadi terbatas pada sisa instrumen pengelolaan kebijakan ekonomi makro yang tinggal padanya saja. Lebih jauh lagi, penerapan kebijakan moneter secara kolektif ini juga menyebabkan restriksi bagi kebebasan pengelolaan kebijakan fiskal oleh masing-masing negara anggota. Keputusan ekspansi atau kontraksi kebijakan fiskal hanya bisa diambil selama hal tersebut tidak mengganggu kestabilan moneter dari negara yang bersangkutan, sehingga tidak memberikan tekanan gangguan bagi kondisi perekonomian negara-negara anggota lainnya.

Diskusi tentang keuntungan dan kerugian dari penerapan kawasan mata uang tunggal di atas membawa kita pada kriteria dari kawasan mata uang tunggal. Kriteria ekonomi yang perlu dipenuhi oleh kawasan optimal bagi penerapan mata uang tunggal setidaknya meliputi aspek aspek sebagai berikut: (i) tingginya intensitas perdagangan antar negara-negara yang terlibat dalam kawasan, (ii) tingginya tingkat kemiripan dari pola siklus ekonomi dan gangguan struktural negara-negara anggota kawasan, baik dari sisi penawaran/produksi, maupun dari sisi permintaan, dan (iii) cenderung konvergennya pola pembangunan ekonomi dari negara-negara yang tergabung dalam kawasan. Konvergensi pola pembangunan ekonomi di sini memiliki arti konvergensi pertumbuhan pendapatan perkapita (PDB perkapita) negara-negara ASEAN, dimana pertumbuhan pendapatan perkapita negara yang relatif sudah maju cenderung tumbuh lebih lambat dari negara yang relatif masih membangun.

Kriteria pertama mutlak diperlukan agar negara-negara anggota kawasan dapat menerima benefit maksimum dari penerapan kawasan mata uang tunggal. Kriteria kedua dibutuhkan untuk meminimumkan terjadinya tekanan pada masing-masing negara anggota untuk melakukan respon kebijakan stabilisasi ekonomi secara individual. Sementara, divergensi tingkat pembangunan ekonomi akan juga cenderung menyebabkan masing-masing anggota untuk melakukan pola kebijakan pengelolaan ekonomi yang cenderung berbeda. Oleh karenanya, untuk menjamin keberlangsungan sebuah kawasan mata uang tunggal, ketiga sarat ekonomi  tersebut haruslah terpenuhi.

Pada kasus negara-negara ASEAN, khususnya untuk kasus Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina; setidaknya dua dari tiga kriteria di atas memberikan indikasi yang cukup baik. Intensitas perdagangan antar negara ASEAN terus menunjukkan kecenderungan yang makin meningkat hingga saat ini. Hal ini didorong oleh komitmen negara-negara ASEAN untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area - AFTA) dan pengalaman buruk pada saat krisis ekonomi Asia di tahun 1997-98. Disamping itu, kecenderungan perkembangan jaringan produksi yang pesat di kawasan ASEAN juga membantu mendorong meningkatnya intensitas perdagangan antar negara-negara anggota ASEAN secara pesat. Kecenderungan pola perdagangan yang terus meningkat dalam hal intensitas ini memberikan peluang besar bagi negara-negara anggota kawasan untuk dapat menerima keuntungan yang relatif tinggi dari proses penyatuan mata uang melalui penurunan biaya transaksi perdagangan dan peningkatan transparansi harga produk yang dihasilkan.

Pola siklus ekonomi dan gangguan struktural terhadap perekonomian di ASEAN juga menunjukkan kecenderungan yang makin hari makin sinkron satu dengan lainnya. Siklus kelesuan dan percepatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara ASEAN cenderung berkorelasi tinggi dan terjadi pada saat yang cenderung bersamaan. Hal ini juga ditopang oleh signifikannya korelasi positif dari gangguan struktural terhadap ekonomi negara-negara Asia, khususnya setelah periode krisis keuangan Asia di tahun 1997-98. Miripnya pola gangguan struktural yang terjadi di negara-negara anggota ASEAN tersebut menyebabkan reaksi kebijakan yang akan diambil untuk mengatasi gangguan struktural terhadap masing-masing ekonomi tersebut juga menjadi cenderung serupa. Oleh karenanya, negara-negara ASEAN cenderung berpotensi untuk meraup keuntungan dari penerapan mata uang tunggal melalui peningkatan efisiensi yang dihasilkan oleh harmonisasi kebijakan moneter di kawasan tersebut.

Dari sisi kriteria ekonomi, hambatan utama bagi diterapkannya mata uang tunggal di ASEAN muncul dari tingkat pembangunan ekonomi negara-negara ASEAN yang masih cenderung tidak seragam (tidak menunjukkan konvergensi). Walaupun kesenjangan tingkat pembangunan ekonomi ke-5 negara ASEAN tersebut di atas akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan yang makin mengecil, hal ini tetap akan menyebabkan insentif untuk mengejar tingkat pertumbuhan tinggi dengan menstimulasi perekonomian melalui kebijakan moneter ataupun fiskal tetap relatif tinggi. Aspek ini akan menyebabkan sulitnya menjaga komitmen yang solid untuk mempertahankan kesepakatan mata uang tunggal bagi negara-negara anggota. Dengan demikian, jika penetapan mata uang tunggal tetap dipaksakan untuk dilaksanakan tanpa diikuti desain dan komitmen yang mapan, hambatan ekonomi ini akan dapat mengancam keberlangsungan kesepakatan mata uang tunggal tersebut. Sebagai ilustrasi, krisis anggaran yang terjadi di negara-negara Uni-Eropa mengikuti krisis keuangan global yang baru saja terjadi sempat memunculkan wacana yang cukup sengit tentang keberlangsungan kawasan mata uang tunggal di Eropa.

Hambatan yang lebih besar muncul dari sudut pra-kondisi politik untuk mendukung terbentuknya kawasan mata uang tunggal di ASEAN. Pra-kondisi politik ini berkaitan dengan kesiapan negara-negara anggota ASEAN untuk membentuk sebuah institusi trans-nasional yang memiliki kredibilitas cukup untuk mendukung komitmen negara-negara anggota dalam mempertahankan keberadaan mata uang tunggal. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan tersumbatnya jalur pra-kondisi politik ini untuk mendukung penerapan kawasan mata uang tunggal di ASEAN.

Pertama, penentuan negara atau mata uang jangkar yang dapat secara bersama diterima sebagai acuan bagi penetapan kebijakan moneter komunal bagi seluruh negara anggota. Berbeda dengan kondisi negara-negara Uni-Eropa yang memiliki Jerman, yang dianggap relatif sukses dalam menstabilkan inflasi pada tingkat yang relatif rendah untuk jangka waktu yang panjang, sebagai negara jangkar bagi penetapan kebijakan moneter komunal negara-negara anggotanya pada saat mata uang tunggal Eropa diberlakukan; ASEAN tidak memiliki figur serupa dalam kawasannya. Hal ini akan menyebabkan alotnya proses negosiasi yang akan terjadi jika negara-negara ASEAN berniat untuk mewujudkan kawasan mata uang tunggal dalam waktu dekat. Lebih jauh lagi, proses negosiasi yang alot dan panjang tersebut sangat mungkin berakhir pada ketidaksepakatan negara-negara anggota untuk memberikan dukungan penuh atas penetapan kawasan mata uang tunggal tersebut.

Kedua, upaya untuk membentuk kawasan mata uang tunggal di ASEAN juga perlu didukung oleh persyaratan-persyaratan yang mengikat bagi anggotanya untuk bekerja sama secara transparan dalam pertukaran informasi tentang perkembangan ekonominya masing-masing. Hal ini dapat terjadi secara natural apabila masing-masing negara anggota memang melihat benefit bersih positif yang cukup besar bagi mereka untuk melakukan hal tersebut. Bila kondisi ini tidak terpenuhi, maka perlu dibuat sebuah sistem insentif tertentu yang mengikat setiap anggota untuk melakukan hal tersebut. Masalah-masalah di atas bertambah rumit bila memperhitungkan 5 (lima) negara anggota ASEAN lainnya: Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam; atau memperluasnya lebih jauh menjadi ASEAN+3 berikut: Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Tidak terpenuhinya kondisi ini dapat memberikan komplikasi bagi upaya-upaya pembentukan desain struktur insentif yang bersifat mengikat dalam menunjang proses pembentukan infrastruktur bagi kawasan mata uang tunggal.

Berdasarkan perkembangan di atas, nampaknya masih terlalu dini bagi negara-negara ASEAN untuk secara serius melangkah pada implementasi dari wacana pembantukan kawasan mata uang tunggal. Walaupun sebagian pra-kondisi ekonomi untuk pembentukan kawasan mata uang tunggal telah secara berlanjut makin terpenuhi, disparitas tingkat pembangunan ekonomi negara-negara anggota ASEAN sendiri nampaknya masih akan tetap muncul sebagai hambatan. Lebih jauh lagi, pra-kondisi politik dari proses ini juga nampaknya masih merupakan hambatan besar bagi munculnya capaian konkrit ke arah ini dalam waktu dekat. Oleh karenanya, wacana pembentukan kawasan mata uang tunggal di ASEAN masih cenderung merupakan sebuah target jangka panjang yang belum perlu digarap secara terburu-buru. Bila melihat pengalaman negara-negara Uni-Eropa, mereka memulai integrasi ekonomi berdasarkan Perjanjian Roma tahun 1957, dan mulai menggunakan mata uang Euro secara giral tahun 1999 dan kemudian diikuti secara kartal pada tahun 2002. Artinya, Uni-Eropa membutuhkan waktu paling tidak 1945 tahun sampai pada tahap benar-benar menggunakan sistem mata uang tunggal.

Menimbang hambatan-hambatan penerapan sistem mata uang tunggal ASEAN di atas, mengapa wacana pembentukan kawasan mata uang tunggal di ASEAN masih tetap relevan sebagai sebuah target jangka panjang? Perkembangan terakhir dari kecenderungan pola interaksi perekonomian yang terjadi di ASEAN cenderung menunjukkan bahwa wacana ini, pada saatnya nanti, secara alamiah akan dapat memberikan keuntungan bersih bagi setiap negara anggota ASEAN. Lantas apakah yang dapat dilakukan negara-negara ASEAN sekarang jika tidak perlu terburu-buru melangkah ke arah penetapan mata uang tunggal di kawasan? Langkah utama yang perlu dilakukan adalah peningkatan harmonisasi kebijakan ekonomi makro dan moneter di kawasan ASEAN. Hal ini dapat membantu negara-negara anggota ASEAN untuk meningkatkan manfaat yang bisa diterima dari pola perkembangan ekonomi kawasan yang makin lama makin terintegrasi. Proses integrasi moneter dan keuangan yang didasarkan pada inisiatif Chiang Mai perlu digarap lebih serius secara bersama-sama. Hal ini telah mendapatkan dukungan lebih jauh dari negara-negara anggota ASEAN dalam pertemuannya di Vietnam April lalu. Kesepakatan untuk membentuk embrio dari badan keuangan ASEAN yang tercapai dalam pertemuan tersebut merupakan indikasi kuat atas makin sadarnya para pemimpin negara di kawasan tentang pentingnya harmonisasi kebijakan dalam rangka pengelolaan ekonomi makro.

Sebagai penutup, negara-negara ASEAN perlu meningkatkan intensitas kerjasama dalam hal harmonisasi sektor moneter dan keuangan. Hal ini amat dibutuhkan guna menunjang proses integrasi ekonomi negara-negara tersebut sendiri. Harmonisasi sektor moneter dan keuangan antar negara-negara ASEAN akan dapat membantu meningkatkan benefit bersih dari proses integrasi ekonomi yang tengah berlangsung. Jalan menuju penetapan mata uang tunggal masih panjang. Saat ini, lebih produktif untuk negara-negara ASEAN untuk meningkatkan proses koordinasi kebijakan moneter dan keuangannya, dengan menyimpan kawasan mata uang tunggal sebagai tujuan jangka panjang.

About these ads

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 30 Agustus 2010, in Opini. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Dari kelima negara ASEAN (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina), yang jadi motor penggerak secara struktural dalam pembangunan ekonomi di ASEAN yang mana pak?

    *Peningkatan harmonisasi kebijakan ekonomi makro dan moneter di kawasan ASEAN*
    hmm,,mungkin susahnya kembali kepada permasalahan politik dalam negri dari negara yang politiknya kurang stabil (baca:Indonesia :P)

  2. Yth. Redaksi Inspirasi, bolehkah saya memperoleh edisi cetak dimana artikel ini dimuat?

    Terima kasih.

    • Yth. Bapak Ari Tjahja

      Kami sudah mengirimkan artikel tersebut ke alamat instansi Bapak
      yaitu Universitas Padjajaran – Bandung..,
      Mohon ditunggu.

      Tks atas partisipasi bapak

      Salam Inspirasi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: