Pasar Tradisional yang Terancam Mati

 

Judul buku: Selamatkan Pasar Tradisional

Penulis: Herman Malano

Terbit: 2011

Hal: xvii, 307

Oleh : Fikriyah Rasyidi, Penulis adalah peneliti di Islamic College (IC) Jakarta

Sudah sejak lama pasar tradisional memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi rakyat di negeri ini. Selain sebagai muara dari produk-produk rakyat, pasar tradisional juga berfungsi sebagai tempat mencari kerja yang sangat berarti bagi masyarakat. Sejak zaman penjajahan, kegiatan pasar beserta para pedagangnya berkembang secara lamiah.

Dalam era reformasi, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi otonomi daerah dengan semua keputusan mengenai perizinan hampir 100% merupakan otoritas pimpinan daerah. Perhatian terhadap perkembangan pasar serta pedagang tradisional mulai terabaikan sehingga banyak pasar tradisional berubah fungsi menjadi mal dan akhirnya pedagang lama tersingkir.

Ada lebih dari 13.450 unit pasar tradisional di seluruh Indonesia yang mampu menampung lebih dari 12.625.000 pedagang. Jika dikelola degan baik, pasar-pasar tradisional tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi negara. Sayangnya, hanya sepuluh persen pasar tradisional yang dikelola secara profesional, selebihnya pasar tradisional terkesan jorok, becek, bau, dan sumpek.

Di tengah pembangunan bangsa Indonesia, peran pasar tradisional yang semestinya bisa menjadi pilar pembangunan ekonomi kerakyatan, justru terabaikan dan tidak jarang manajemennya salah urus. Banyak pasar tradisional yang setelah direnovasi justru menjadi sepi dan ditinggalkan pembeli. Selain itu, penerapan sistem ekonomi neo-liberal yang sudah berlangsung sejak tahun 1997 menjadi tantangan tersendiri bagi aktivitas ekonomi rakyat kecil seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di pasar tradisional.

Pasar memang bukan suatu tempat yang asing bagi masyarakat kita. Akan tetapi, persoalan yang ada di pasar sesungguhnya ibarat benang kusut yang sukar untuk diurai. Sayangnya, pihak-pihak yang terkait dengan urusan pasar tidak berusaha menyelesaikannya, mereka justru mencari keuntungan, baik keuntungan finansial maupun keuntungan politis.

Kondisi pasar tradisional yang terpuruk membuat banyak masyarakat di Indonesia belakangan ini memilih berbelanja di pasar modern, seperti: mal, minimarket, supermarket, hypermarket, dan sebagainya. Masyarakat dengan gaya hidup modern kini lebih menyukai pasar-pasar dengan sistem pengelolaan yang tertata, bersih, nyaman, dan strategis. Di pasar modern, para pengunjung tidak perlu “ngotot” tawar-menawar harga dengan pedagang, tidak perlu cemas adanya manipulasi timbangan, dan tak perlu khawatir akan kualitas barang.

Pertumbuhan pasar modern saat ini memang sangat pesat. Bukan hanya di kota, tetapi sudah menjalar hingga ke pelosok-pelosok desa. Kita banyak melihat adanya minimarket yang buka 24 jam atau minimarket yang saling bersisian maupun berseberangan. Lantas jika begitu banyak masyarakat yang menggandrungi pasar modern, bagaimana dengan nasib pasar tradisional? Dan bagaimana nasib jutaan rakyat Indonesia yang mencari nafkah di sana, jika pasar tradisional benar-benar kehilangan pembeli?

Selama ini pemerintah di berbagai kota selalu gencar menggusur PKL yang dicap sebagai penyebab utama rusaknya tata kota, biang keladi tidak mampu meraih penghargaan adipura, dan penyebab kumuhnya suatu pasar tradisional. Aparat pemerintah melalui Polisi Pamong Praja (Pol PP) menghancurkan lapak-lapak pedagang dan memaksa mereka membubarkan diri.

Namun, sayangnya, selalu tidak ada solusi ke mana pedagang mikro itu harus melanjutkan usahanya. Walaupun ada solusi, biasanya para pedagang mikro itu “dipaksa” menempati kios suatu pasar di lantai bagian atas. Kondisi PKL yang pas-pasan diwajibkan membayar sewa kios yang mahal. Nyatanya,  setelah ditempati, kios di lantai atas sangat sepi pengunjung sehingga pedagang pun merugi. Kios-kios itu akhirnya ditinggalkan dan mereka kembali menjadi PKL.

Di sisi lain, renovasi yang dilakukan di pasar-pasar, khususnya pasar yang dibangun dan dikelola oleh swasta, dilakukan berdasarkan kepentingan “pemilik pasar”. Renovasi dilakukan untuk menambah jumlah kios, baik dengan cara membangun lantai atas maupun membangun di atas lahan parkir untuk mendapat keuntungan berlipat. Bahkan tak jarang renovasi dilakukan dengan merubuhkan pasar lama lalu membangunnya kembali. Sudah bisa diterka harga kios yang baru dibangun kembali akan disewakan dengan harga berlipat-lipat dari sebelumnya sehingga banyak kasus pedagang lama (existing) harus terusir dari tempat yang lama, dan menjadi PKL di sekitar pasar.

Pengelola pasar biasanya tidak peduli dengan nasib buruk para pedagang tersebut. Bagi mereka, siapa saja boleh berdagang asal mampu membayar uang sewa, jadilah pedagang-pedagang besar yang menggantikan posisi mereka. Sementara itu, meskipun harga sewanya lebih murah dibanding dengan lantai dasar, lantai atas biasanya selalu sepi pembeli karena tidak adanya sistem zonasi produk yang dijual.

Lama-kelamaan, meski sudah membayar sewa, pedagang di lantai atas pun akan turun menjadi PKL. Itulah sebabnya mengapa kita sering menyaksikan sebuah pasar yang sangat megah, jalan raya di depannya macet dipenuhi oleh pengunjung dan PKL yang menghampar dagangannya di tepi jalan. Bukan karena pasar itu memiliki begitu banyak pedagang sehingga meluber ke tepi jalan, tetapi karena mereka memilih mendekati calon pembeli daripada dagangannya di lantai atas tidak laku. Sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan, di bagian depan pasar pengujung dan pedagang membludak, tetapi pasar itu sendiri nyaris mati karena ditinggalkan penghuninya.

Persoalan modal juga menjadi permasalahan besar bagi pedagang. Mereka tidak mampu menyewa kios, memperbesar oplah dagangan, dan meningkatkan kualitas produk karena keterbatasan modal. Kondisi ini terjadi karena perbankan enggan berurusan pedagang kecil dan mikro. Bagi perbankan lebih baik berurusan dengan satu atau dua pengusaha besar, ketimbang berurusan dengan ratusan pengusaha kecil. Berurusan dengan pedagang kecil diganggap merepotkan karena transaksinya kecil sementara prosedurnya sama dengan mengurus satu atau dua pengusaha besar yang tentunya lebih menguntungkan perbankan. Akhirnya, para pedagang tradisional menjadi sulit berkembang. Mereka lebih cenderung berutang pada rentenir yang banyak menjemput nasabahnya ke pasar-pasar.

Kondisi pedagang pasar, khusunya pedagang kecil dan mikro, memang sangat memprihatinkan. Perlu ada upaya penyelamatan agar mereka tidak semakin terpuruk dan hanya menjadi lahan bisnis pihak lain. Pedagang di pasar tradsional adalah bagian dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang selama ini merupakan katub perekonomian nasional. Saat ini, jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 55 juta. Dari angka itu, sebanyak 45 persen  atau 22 juta di antaranya, bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Bisa dibayangkan betapa banyak rakyat Indonesia yang mengais kehidupan dari tempat yang becek dan kumuh yang perlahan mulai ditinggalkan pembeli itu.

Buku ini merupakan gambaran keresahan para pedagang kecil yang mengais hidup di pasar-pasar tradisional. Penulis merupakan seorang yang puluhan tahun bergelut sebagai pedagang kaki lima dan selalu bersentuhan dengan pasar tradisional, sehingga membuat buku ini memiliki semangat dan ruh yang kuat. Tidak hanya sebatas konsep, penulis juga mengaplikasikannya dalam bentuk karya nyata, seperti yang diceritakan dalam bab terakhir terkait upaya membangun pasar Bambu Kuning Square (BKS) di Bandar Lampung. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa buku ini layak untuk menjadi salah satu rujukan bagi pendidikan kewirausahaan di Indonesia.

Pemaparan yang lengkap berdasarkan pengalaman panjang penulisnya sebagai praktisi pedagang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memperkuat posisi para pedagang pasar tradisional di era persaingan bebas saat ini. Buku ini juga bisa menjadi masukan bagi para pemerintah daerah, kabupaten, kota, pemerintah pusat, atau pihak-pihak lain yang terkait dengan pasar, betapa banyaknya persoalan yang dihadapi pedagang pasar, khususya pedagang kecil dan mikro.

Selama ini banyak kebijakan dan peraturan yang dibuat, hanya indah di atas kertas, sementara realisasinya bagi para pedagang sangat jauh dari target dan harapan, karena banyaknya pihak yang mencari keunungan pribadi. Selain itu, buku ini juga bisa menjadi bacaan bagi masyarakat umum, kalangan-kalangan kampus, atau siapa saja yang berminat mengetahui seluk-beluk dunia pasar tradisional.

About these ads

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: