Waralaba: Model Kemitraan Usaha Besar dengan Usaha Kecil Menengah (UKM)

Oleh: Thomas Ola Langoday

PENDAHULUAN

Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini tidak lebih dari 20 persen usaha besar di Indonesia mampu memberikan kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestek Bruto lebih dari 80 persen. Sementara pada sisi lain, tidak kurang dari 80 persen usaha kecil menengah di Indonesia hanya mampu memberikan kontribusi tidak lebih dari 20 persen.  Bila sudut pandang kita diarahkan kepada penyerapan tenaga kerja, maka situasi sebaliknya yang terjadi. Usaha besar dengan jumlah yang relatif sedikit lebih padat modal dan menampung tenaga kerja dalam jumlah yang relatif sedikit dengan produktivitas yang tinggi. Bandingkan dengan usaha kecil menengah yang jumlahnya relatif banyak, lebih padat karya dan menampung tenaga kerja yang relatif banyak dengan produktivitas yang rendah.

Permasalahan usaha kecil menengah senantiasa monoton dari dahulu sampai sekarang. Permasalahan utama tidak pernah keluar dari kualitas manajemen sumber daya manusia yang rendah, baik sebagai pemilik maupun sebagai pekerja. Permasalahan ini secara perlahan tetapi pasti mulai diatasi dengan tindakan perbaikan yang tidak kenal henti peningkatan mutu pendidikan formal dan pendidikan nonformal pada kalangan pemilik usaha maupun tenaga kerja.

Masalah klasik kedua yang sampai saat ini menjadi keluhan sebahagian besar pemilik usaha kecil menengah adalah masalah permodalan. Penelitian Langoday (2008) tentang peranan sektor informal dalam penyerapan tenaga kerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur, menemukan bahwa 80 persen pemilik usaha sector informal di NTT  ingin memperluas usahanya, tetapi kendala utama adalah kelangkaan teknologi dan kekurangan modal usaha.

Persoalan kekuarangan modal usaha mulai dapat teratasi dengan berbagai jenis kemitraan yang dibangun belakangan ini, baik antara usaha kecil menengah dengan pemerintah, maupun antara usaha kecil menengah dengan usaha besar. Usaha besar memiliki sumber daya modal yang besar dan tentu berkeinginan untuk memanfaatkan sumber dananya untuk kegiatan yang lebih produktif, baik pengembangan usaha tidak sejenis maupun perluasan usaha sejenis dan yang sudah ada. Salah satu bentuk kemitraan yang dibahas dalam tulisan ini adalah: Kemitraan Usaha Besar dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui Kemitraan Waralaba.

KEMITRAAN WARALABA

Waralaba atau franchise/franchising berasal dari bahasa Prancis yaitu franchir yang artinya kejujuran atau kebebasan. Kejujuran dalam pengertian ini sama dengan credere atau kredit (kepercayaan). Seseorang atau suatu pihak diberikan kepercayaan karena antara lain kejujurannya dalam mengelola usaha yang dipercayakan kepadanya. Dengan demikian kemitraan waralaba melibatkan paling sedikit dua orang atau dua perusahaan atau dua kelompok. Secara umum, yang dimaksud dengan waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, di mana pemilik barang/jasa (sering disebut franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan (sering disebut franchisee) untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu pada area tertentu.

Dengan demikian, istilah waralaba (franchising) mengharuskan suatu perusahaan untuk menyediakan strategi penjualan atau penyediaan jasa tertentu, memberikan bantuan, dan mungkin juga menyediakan investasi awal waralaba dengan imbalan berkala. Beberapa contoh waralaba yang tidak asing lagi bagi kita, misalnya: McDonald’s, Pizza Hut, Subway Sandwiches, Blockbuster Video, dan Dairy Queen, yang memiliki waralaba yang dikelola oleh pemilik lokal di berbagai negara dan atau daerah. Saat ini, waralaba memungkinkan perusahaan untuk menembus pasar asing tanpa memerlukan investasi besar.

Menurut Kembaren (2009), ada tiga jenis waralaba yang sering dipraktekkan dalam kaitan dengan kemitraan usaha besar dengan usaha kecil menengah, yaitu:

  1. Waralaba produk atau merek dagang. Jenis waralaba ini terjadi bilamana pihak pabrikasi memberikan lisensi kepada pihak lain untuk menjual produknya. Contoh waralaba produk adalah penjualan mobil via dealer.
  2. Waralaba format bisnis. Jenis waralaba ini terjadi bilamana manajer atau pemilik bisnis memberi ijin kepada seseorang untuk memasarkan produk atau jasa dengan menggunakan nama atau merek dagang dengan format bisnis yang dirancang franchisor. Contoh: Bioskop 21 yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.
  3. Waralaba konversi. Jenis waralaba ini merupakan waralaba format bisnis yang diadaptasi untuk mengangkat nama pendiri bisnis.

Apapun jenis kemitraan waralaba yang dijalankan harus didasarkan pada beberapa aspek diantaranya adalah :

  1. Kesamaan kepentingan (common interest). Dalam banyak hal, dunia bisnis baik besar maupun kecil, mempunyai kepentingan yang sama, motif yang sama yaitu mendapatkan keuntungan, memperoleh pendapatan, terpenuhinya kebutuhan, baik primer, sekunder maupun tersier. Yang terpenting dalam kesamaan kepentingan dalam kemitraan waralaba adalah kesamaan kepentingan dalam input, teknologi, proses produksi, output dan kepentingan memperoleh keuntungan atau profit.
  2. Saling mempercayai dan saling menghormati. Aspek kemitraan dalam waralaba adalah saling percaya, jujur satu terhadap yang lain, saling menghormati kelebihan dan kekurangan. Jika aspek ini dijaga maka kemitraan waralaba dapat berlanjut dalam jangka panjang.
  3. Tujuan yang jelas dan terukur. Baik franchisor maupun franchisee, masing-masing mempunyai tujuan yang jelas dan terukur. Franchisor dapat mempunyai tujuan pengembangan bisnis sejenis dengan target anak perusahaan tertentu atau output tertentu, demikian pula franchisee mempunyai tujuan mempunyai bisnis yang lebih mapan, sampai dapat mengembangkannya secara mandiri dan berkelanjutan.
  4. Kesediaan untuk berkorban. Pengorbanan waktu, tenaga dan sumber daya yang lain sering kali tidak terukur, tetapi dapat menjaga energi sosial yang merekatkan kemitraan waralaba dalam jangka panjang.

 

Aspek-aspek kemitraan waralaba ini dituangkan lebih lanjut dalam prinsip-prinsip sebagai dasar membangun dan mempertahankan kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil, diantaranya adalah:

  1. Prinsip persamaan atau equality. Prinsip ini mensyaratkan bahwa antara franchisor dan franchisee keduanya mengembangkan bisnis sejenis yang sama, kesamaan input, kesamaan teknologi, kesamaan proses dan kesamaan produk dan bahkan mungkin citarasanya.
  2. Keterbukaan atau transparency. Prinsip keterbukaan atau transparency mensyaratkan bahwa seluruh proses produksi (input, proses dan output) dilakukan secara terbuka, baik input dan harganya, teknologi, produk dan pasarnya serta keuntungan dan bahkan mungkin kerugian bila ada.
  3. Saling menguntungkan atau mutual benefit. Prinsip bisnis adalah untung. Dengan mendapatkan keuntungan maka bisnis dapat dipertahankan, bahkan dalam jangka panjang. Bahkan, mungkin bisnis tersebut dapat diperluas ke area lain yang mungkin lebih menguntungkan. Prinsip saling menguntungkan setidaknya sesuai kesepakatan atau perjanjian kedua belah pihak secara tertulis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

KEMANDIRIAN UKM

Kemandirian usaha kecil menengah adalah tujuan kemitraan waralaba antara usaha besar sebagai franchisor dengan usaha kecil menengah sebagai franchisee. Kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil menengah menjadi pilihan belakangan ini karena melalui bisnis waralaba, usaha kecil menengah sebagai franchisee mendapatkan beberapa nilai positif dari usaha besar sebagai franchisor antara lain:

  1. Transfer manajemen. Agar bisnis waralaba benar-benar menguntungkan franchisor (usaha besar) dengan franchisee (usaha kecil menengah) maka pihak franchisor mau tidak mau harus mentransfer manajemen, baik perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi baik input, proses maupun output. Dengan transfer manajemen ini, diharapkan pada waktunya franchisor menjadi mandiri dalam pengelolaan bisnisnya.
  2. Kepastian pasar. Jika bukan pasar lokal yang menampung produk yang dihasilkan franchisee, tentu saja pasar yang jelas telah disiapkan oleh franchisor. Pasar atau permintaan yang berdaya beli yang mendorong franchisor mempercayakan bisnisnya kepada franchisee pada area tertentu.
  3. Promosi. Pihak franchisee tidak perlu mengeluarkan biaya promosi yang merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam memperkenalkan produk, karena promosi telah dilakukan oleh franchisor.
  4. Pasokan bahan baku. Pihak franchisee tidak repot dengan mencari atau mendatangkan bahan baku karena itu merupakan salah satu bagian sentral dalam kemitraan waralaba.
  5. Pengawasan mutu. Di manapun bisnis waralaba tersebut dijalankan, pengawasan mutu adalah salah satu bahagian penting dari seluruh proses. Pada prinsipnya mutu produk yang sama yang dihasilkan franchisor tidak jauh berbeda bahkan sama dengan mutu yang dihasilkan franchisee. Mutu yang terjamin dengan tidak mengenal tempat dan waktu adalah kunci sukses keberlangsungan hidup bisnis waralaba.
  6. Pengenalan dan pengetahuan tentang lokasi bisnis. Dengan kemitraan waralaba, franchisee dapat mengidentifikasi dan sekaligus mengetahui mana lokasi bisnis yang baik dan benar, tentunya lokasi bisnis yang paling menuntungkan jika tidak dalam jangka pendek maka dalam jangka menengah dan panjang.
  7. Pengembangan kemampuan sumber daya manusia. Rata-rata kemampuan sumber daya manusia pengelola usaha kecil dan menengah masih tergolong rendah. Tetapi dengan kemitraan waralaba, mereka dapat diikutsertakan dalam berbagai pelatihan pengembangan sumber daya manusia sehingga derajat keterampilan dan keahlian mereka dapat diakui.
  8. Resiko dalam bisnis waralaba sangat kecil. Jika dijalankan dengan benar dan penuh kejujuran maka sangat minim atau bahkan hampir tidak ada resiko yang menimpah franchisee. Resiko terbesar berada pada pihak usaha besar yang adalah franchisor.

Dari semua nilai lebih atau keunggulan dalam kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil, salah satu keunggulan yang membuat waralaba tetap bertahan adalah bahwa bisnis waralaba tidak saja menjual produk, tetapi juga menjual Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Dengan HAKI ini membuat bisnis waralaba tetap bertahan karena tidak mudah ditiru oleh pebisnis lain.

Apapun bisnis yang dilakukan, apapun bentuk kemitraannya, tidak akan terlepas dari cacat celah. Dengan memperhatikan nilai lebih kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil menengah, tidak berarti di sana tidak ada masalah. Kemitraan waralaba dapat menimbulkan beberapa nilai kurang misalnya:

  1. Franchisee diharuskan untuk membayar royalty fee kepada franchisor untuk penggunaan sistem waralaba. Royalty fee, seyogianya dipandang sebagai balas jasa kepada franchisor dan  sebaiknya dilakukan dengan senang hati sesuai ketentuan yang disepakati.
  2. Adanya kemungkinan ketidakkonsistenan franchisor dalam dukungan kerjasama dan kualitas sesuai kontrak. Jika franchisor dan franchisee secara jujur menjalankan kemitraan waralaba maka kemungkinan tersebut dapat dihindari.
  3. Ketergantungan yang tinggi kepada franchisor sehingga menjadi kurang mandiri. Segala sesuatu di kolong langit ini mesti ada masanya; oleh karena itu perlu disepakati batas waktu yang jelas sehingga franchisee dapat menjadi UKM yang mandiri pada masanya.
  4. Reputasi dan citra bisnis yang diwaralabakan menurun di luarkcontrol franchisor dan franchisee. Di dalam dunia bisnis, ada invisible hand. Tangan yang tidak kelihatan dapat bekerja untuk hal yang positif tetapi mungkin juga negatif. Hal-hal yang terjadi di luar kontrol adalah hukum alam. Business circle mengamanatkan ada ekspansi, ada puncak, ada krisis, ada resesi, ada depresi, tetapi ada pemulihan, recovery. Lingkaran ini adakan berjalan sepanjang bisnis masih tetap berjalan.

MODEL PEMBENTUKAN ENTREPRENEUR

Saat ini Indonesia memiliki banyak usaha kecil dan menengah, tetapi tidak semua pelakunya adalah entrepreneur. Banyak diantara usaha tersebut adalah peninggalan orang tua atau leluhur yang tidak pernah berkembang dan hanya bertahan hidup sebagai usaha subsisten. Dengan demikian tidak heran jika sampai saat ini, berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah entrepreneur Indonesia tidak mencapai dua persen dari jumlah penduduk sesuai teori McCleland untuk memungkinkan perekonomian berkembang dengan baik. Indonesia baru menciptakan 0,87 persen entrepreneur, dan butuh 1,13 persen entrepreneur baru untuk dapat menjamin perkembangan perekonomian Indonesia seperti yang dicita-citakan. Indonesia mesti berjuang untuk dapat menciptakan 2,7 juta entrepreneur baru dalam beberapa tahun ke depan untuk mencapai perkembangan perekonomian yang diharapkan.

Dengan memperhatikan nilai lebih dari bentuk kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil dan menengah maka diperlukan suatu komitmen bersama, suatu gerakan bersama untuk memanfaatkan model kemitraan usaha besar dengan usaha kecil dan menengah ini sebagai suatu model penciptaan entrepreneur baru di Indonesia. Komitmen atau gerakan bersama ini mesti dipelopori oleh usaha besar dan difasilitasi oleh pemerintah. Kendati peraturan perundang-undangan yang mengatur kemitraan waralaba ini telah ada, tetapi masih dijalankan setengah hati oleh berbagai pihak. Hal ini dikarenakan belum adanya komitmen bersama, gerakan bersama, menjadikan kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil menengah sebagai model penciptaan entrepreneur di Indonesia.

Jika gagasan ini terlaksana dengan menciptakan kemitraan waralaba setiap tahun pada setiap kabupaten/kota  cukup hanya dengan minimal satu entrepreneur baru, maka dalam setahun telah tercipta tidak kurang dari 500 entrepreneur baru. Dalam 10 tahun ke depan, jika komitmen ini benar-benar terlaksana maka di Indonesia sudah dapat menciptakan 5.000 entrepreneur baru dari bentuk kemitraan waralaba. Ini baru satu bentuk kemitraan. Jika hampir semua bentuk kemitraan dapat berperan secara positif dalam menciptakan entrepreneur baru, maka dalam kurun waktu 20-30 tahun ke depan Indonesia sudah dapat menciptakan lebih dari 2 persen entrepreneur sebagai syarat minimal jaminan perkembangan perekonomian secara layak. Tidak ada yang mustahil. Jika semua komponen bangsa mempunyai komitmen yang kuat untuk membangun perkeonomian bangsa ini terutama dengan menciptakan model kemitraan waralaba antara usaha besar dengan usaha kecil dan menengah maka pada saatnya Indonesia menjadi raksasa ekonomi yang disegani di mata dunia internasional. Semoga.

About these ads

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: