Arsip Kategori: Resensi

Bisnis yang Memecahkan Masalah Sosial

Judul buku: BISNIS SOSIAL: Sistem Kapitalisme Baru yang Memihak Kaum Miskin

Penulis: Muhammad Yunus

Terbit: 2011

Hal: xxxi, 233

 

Peresensi: Fikriyah Rasyidi, Penulis adalah peneliti di Islamic College (IC) Jakarta dan Ketua LSIK (Lingkar Studi Islam dan Kebudayaan)

Alamat Tinggal: Gg. Solo No. 16B RT. 04/04 Kampung Utan-Ciputat 15412.

 

 

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia dilengkapi dengan dua dimensi. Selain memiliki keinginan untuk mengurus diri sendiri, sebagai mahluk sosial, manusia juga memiliki keinginan untuk memberikan sumbangan kepada kesejahteraan dunia.

Kelemahan paling besar dalam teori kapitalisme terletak dalam penjabarannya yang menyesatkan soal ciri dasar manusia. Dalam penafsiran saat ini terhadap kapitalisme, manusia yang terjun ke dunia usaha digambarkan sebagai mahluk satu dimensi yang memiliki tujuan tunggal memaksimalkan keuntungan untuk pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri.

Pandangan tentang ciri dasar manusia yang terdistorsi itu merupakan kekurangan fatal yang membuat pemikiran ekonomi kita tidak lengkap dan tidak akurat. Dari waktu ke waktu, pandangan terdistorsi tersebut telah membantu menciptakan sejumlah krisis yang kita hadapi dewasa ini. Regulasi pemerintah, sistem pendidikan, struktur sosial, semua didasarkan pada asumsi bahwa hanya motivasi-motivasi egois yang dianggap “nyata” dan pantas diberi perhatian, akibatnya kita mengandaikan bahwa bisnis-bisnis berorientasi laba adalah sumber utama kreativitas manusia dan kemudian tujuan-tujuan keuntungan pribadi dianggap sebagai pendorong kemajuan.

Begitu kita menyadari dan mengakui kekurangan itu dalam struktur teoritis kita, solusinya akan menjadi jelas. Kita harus menggantikan pribadi satu dimensi dalam teori ekonomi dengan pribadi multidimensi—pribadi yang secara bersamaan memiliki kecenderungan untuk egois dan kecenderungan untuk peduli kepada orang lain. Ketika kita melakukan ini, gambaran kita tentang dunia bisnis langsung berubah. Kita melihat kebutuhan untuk dua macam kegiatan usaha; yaitu untuk keuntungan pribadi, dan untuk membantu orang lain. Jenis kegiatan usaha yang dibangun di atas ciri dasar manusia yang tidak egois disebut “bisnis sosial”. Inilah yang kurang dalam teori ekonomi kita.

Bisnis sosial berbeda sekali dengan bisnis yang memaksimalkan laba yang ditampilkan praktis oleh semua perusahaan swasta di dunia saat ini, maupun oleh organisasi nirlaba yang mengandalkan sumbangan atau dana amal dari para dermawan. Bisnis sosial berada di luar dunia peraihan laba. Sasarannya adalah memecahkan masalah social dengan menggunakan metode bisnis.

Bisnis sosial terdiri atas dua macam. Pertama adalah perusahaan tanpa rugi, tanpa deviden yang diabdikan untuk memecahkan masalah sosial dan dimiliki oleh investor-investor yang menginvestasikan kembali semua keuntungan untuk mengembangkan bisnis. Yang kedua adalah perusahaan pencari laba yang dimiliki oleh penduduk miskin dimana laba yang mengalir bertujuan mengentaskan kemiskinan, Grameen Bank adalah sebuah contoh bisnis sosial ini.

Muhammad Yunus adalah seorang tokoh pembaharu dalam bidang ekonomi yang sangat fokus terhadap permasalahan kemiskinan. Menurutnya, Kapitalisme menyimpan banyak kekurangan—kapitalisme selalu berpihak pada kelompok atau orang yang memiliki capital atau modal, kapitalisme tidak pernah berpihak kepada penduduk miskin. Berawal dari gagasan itulah Yunus berusaha membangun sebuah lembaga keuangan yang berpihak pada kaum miskin. Dia telah mendirikan sebuah bank bernama Grameen Bank yang artinya ‘Bank Pedesaan’. Grameen Bank yang didirikan oleh Yunus telah menunjukkan bahwa meminjamkan uang kepada masyarakat miskin tidak hanya memungkinkan tetapi juga menguntungkan.

Grameen Bank berdiri pada awal era tahun tujuh puluhan, yaitu ketika Negara Bangladesh berada dalam keadaan yang menyedihkan. Kehancuran telah melanda karena serangan angaktan bersenjata Pakistan—diperparah dengan banjir, kekeringan, dan angin ribut. Bencana kelaparan dan wabah penyakit pun menyusul. Dalam upaya menolong rakyat Bangladesh ketika itu, Yunus memulai usahanya dengan menawarkan diri menjadi penjamin untuk pinjaman-pinjaman bagi masyarakat miskin, yang kemudian pada akhirnya dia mendirikan bank sendiri untuk kaum miskin dengan bantuan menteri keuangan Bangladesh. Kini, Grameen Bank menjadi sebuah bank berskala nasional yang melayani masyarakat di setiap desa Bangladesh.

Di antara delapan juta peminjam di Grameen Bank, 97 persennya adalah perempuan. Pada mulanya itu merupakan sebuah bentuk protes terhadap bank konvensional yang menolak meminjamkan uang kepada perempuan, bahkan jika mereka termasuk dalam kelompok berpendapatan tinggi. Yunus melihat bahwa perempuan memiliki dorongan lebih kuat untuk mengatasi kemiskinan. Dia menyadari bahwa meminjamkan uang kepada perempuan di pedesaan miskin Bangladesh adalah cara yang lebih berdaya guna dalam memerangi kemiskinan di masyarakat secara keseluruhan.

Grameen Bank meminjamkan lebih dari 100 juta dolar per bulan dalam bentuk pinjaman tanpa agunan rata-rata sekitar 200 dolar. Tingkat pembayaran kembali pinjaman-pinjaman itu tetap sangat tinggi, sekitar 98%. Grameen Bank bahkan meminjamkan uang kepada kaum pengemis, mereka menggunakan pinjaman itu untuk berjualan kecil-kecilan. Selama empat tahun sejak program tersebut diluncurkan, lebih dari 18.000 orang telah berhenti mengemis. Grameen Bank juga mendorong anak-anak peminjamnya bersekolah, menawarkan pinjaman terjangkau kepada mereka untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.

Buku ini menguraikan tentang bagaimana menciptakan sebuah gagasan baru kapitalisme dan sebuah bentuk badan usaha yang didasarkan pada kepedulian terhadap sesama. Buku ini menunjukkan bagaimana bisnis sosial telah menjadi praktik yang inspiratif, diadopsi oleh perusahan-perusahaan terkemuka di dunia termasuk BASF, Intel, Danone, Veolia, dan Adidas, dan juga para entrepreneur dan aktifis sosial di Asia, Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.

Dalam buku ini Yunus memperlihatkan bagaimana bisnis sosial bisa mengubah kehidupan. Dia juga menawarkan panduan praktis untuk mereka yang ingin menciptakan bisnis sosial; menerangkan bagaimana kebijakan publik dan perusahaan harus memberi ruang bagi model bisnis sosial dan menunjukkan bagaimana bisnis sosial memiliki potensi untuk mengisi celah yang gagal dipenuhi oeleh perusahan pasar bebas.

Penulis merupakan seorang genius yang telah mempelopori kredit mikro dan berhasil memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2006 bersama Grameen Bank yang didirikannya. Buku ini tidak hanya inspiratif, namun juga sangat informatif karena didalamnya juga dijelaskan studi kasus yang bagus tentang bagaimana mengelola bisnis dengan cara yang benar. Oleh karena itu, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para pengusaha, aktifis sosial, aparat pemerintah, pemerhati bisnis, pelajar, atau siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Bung Karno: Masalah Pertahanan dan Keamanan

Oleh : Ardinanda

editor majalah Pena Padjadjaran, Universitas Padjadjaran

Saat ini menjabat Ketua Cabang GMNI Kab. Sumedang 2009-2011

Bulan Juni 2011 kemarin adalah peringatan hari lahir yang ke-110 Bung Karno. Terkait hal itu, banyak acara dan kegiatan yang mencoba menggali kembali pemikiran Bung Karno, terutama mengenai visi kenegaraan dan kebangsaannya. Salah satunya adalah buku Bung Karno: Masalah Pertahanan-Keamanan.

Lewat buku yang dikumpulkan dari himpunan pilihan amanat kepada TNI/POLRI (dulu disebut ABRI) pada saat Soekarno berkuasa tersebut, pembaca diajak memahami konsep mendasar yang dibangun oleh presiden pertama republik ini bagaimana meletakkan dasar-dasar pertahanan dan keamanan yang sesuai dengan geopolitik dan culture rakyat Indonesia.

Buku tersebut memfokuskan pada himpunan sejumlah pidato amanat Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Panglima Besar Revolusi, yang disampaikan pada momen atau forum angkatan perang dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Juga amanat langsung kepada rakyat, misalnya ketika menyampaikan Tri Komando Rakyat (Trikora). Selain itu, buku tersebut disusun berdasarkan momen, forum, dan secara kronologis.

Dengan alur demikian dapat dicermati alur pemikiran Bung Karno  sebagai pemimpin negara, mencakup hampir seluruh masa jabatanya  (1950-1967), terutama tentang tempat dan peran tentara. Sebagaimana diungkapkan; tentara sebagai alat negara, negara sebagai alat revolusi, revolusi sebagai alat pelaksanaan amanat penderitaan rakyat (Ampera).

Memahami pemikiran Bung Karno, terutama masalah pertahanan dan keamanan, tidak bisa dilepaskan dari konsep revolusinya secara menyeluruh. Buku tersebut menjelaskan secara mendasar bagaimana visi Bung Karno membangun pertahanan dan keamanan Indonesia. Visi beliau tidak terlepas dari cita-citanya tentang masa depan sebuah bangsa yang jauh dari l’exploitation de I’homme par I’homme, membangun negara yang berdaulat dari Sabang sampai Merauke, membangun masyarakat adil dan makmur tanpa l’exploitation de I’homme par I’homme hingga menjalin persahabatan dengan seluruh bangsa-bangsa untuk membangun tatanan dunia baru yang damai,adil, dan sejahtera tanpa l’exploitation de nation par nation.

Visi inilah kemudian menurunkan berbagai konsepsi pemikirannya yang salah satunya lewat pertahanan dan keamanan, yakni bagaimana membangun konsep pertahanan-keamanan Indonesia yang tangguh agar bisa membangun dunia tanpa eksploitasi manusia atas manusia ataupun eksploitasi suatu  negara atas negara lain.

Dalam membangun visi pertahanan-keamanan, Bung Karno meletakkan dasar bahwa angkatan perang kita tidak bisa dipisahkan kedudukanya dari rakyat Indonesia, terutama asal angkatan perang (pengakuan rakyat), kedudukan angkatan perang (sebagian dari rakyat Indonesia), dan tujuan (menjamin keamanan rakyat) angkatan perang (Amanat Hari Angkatan Perang, 5 Oktober 1950).

Tiga hal di atas yang kemudian menjadi dasar penilaian keberhasilan angkatan perang dalam melaksanakan tugasnya dalam pemikiran Bung Karno. Jadi, tatkala rakyat merasa keamanannya belum terjaga, tidak dihormati kedaulatanya sebagai negara berdaulat maka ini berarti angkatan perang kita masih harus bekerja untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai yakni keamanan rakyat.

Selanjutnya, Bung Karno menekankan pentingnya konsep pertahanan-keamanan Indonesia bersumber pada budaya dan karakteristik geografis Indonesia itu sendiri. Dalam pemikiranya, mempertahankan  Indonesia berbeda dengan mempertahankan Tiongkok, India, Jepang ataupun Amerika sehingga konsepnya harus bersendi kepada kondisi Indonesia sendiri yang disebut dengan geopolitik.

Pemikiran ini disampaikan Bung Karno dalam amanatya pada peresmian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), 20 Mei 1965. Lewat amanat ini, selain menyampaikan pemikirannya tentang pentingnya mengenal geopolitik Indonesia, disampaikan juga bahwa pentingya  Lembaga Ketahanan Nasional  dalam kurikulumnya kelak menggali lebih dalam sejarah-sejarah perjuangan bangsa sendiri agar dapat menyusun pertahanan Indonesia yang punya cara pertahanan sendiri.

Perwujudan pemikiran Bung Karno dalam pengenalan tentang geopolitik Indonesia dapat dilihat dalam pengembangan konsep wawasan nusantara yang kemudian ditegaskan lewat Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957. Pembentukan kopartemen maritim dengan ada departemen perhubungan laut,departemen perikanan dan pengolahan laut,departemen perindustrian maritim adalah salah satu perwujudan gagasan pemerintahanya dalam bagaimana membangun nation building bahari.

Tak luput juga dalam konsepsinya pengutaan Angkatan Laut sebagai military power yang tangguh sebagai landasan dan konsep pertahanan-keamaman yang bersendi pada konsep negara kepulauan. Itulah pemikirannya agar Angkatan Laut betul-betul menjadi fighting power sesungguhnya dalam menjaga kedaulatan hingga penjagaan kekayaan laut Indonesia. Konsep inilah yang menjadi perbedaan konsepsi pertahanan-keamanan di pemerintahan Bung Karno dengan sesudahnya terutama era-pemerintahan Soeharto ketika penguatan militer Indonesia lebih ke penguatan Angkatan Darat.

Dalam konteks kekinian, buku tersebut dapat dijadikan refrensi tentang pertahanan keamanan, terutama pentingnya pembangunan pertahanan keamanan berbasiskan kemaritiman. Selain itu, buku tersebut dapat menjadi otokritik terhadap kondisi dan timpangnya kondisi pertahanan keamanan terutama di bidang kelautan kita saat ini.

Banyaknya terjadi pencurian ikan di perairan Indonesia, pelanggaran kedaulatan oleh negara lain—seperti yang diberitakan media belakangan ini—menunjukan bangsa ini masih lemah dalam visi pembangunan berbasiskan maritim. Padahal secara potensi ekonomi sangat besar. Buku tersebut dapat juga menjadi pedoman mendasar bagi pemangku kebijakan terutama militer untuk lebih fokus membangun pertahanan keamanan berbasiskan maritim.

Namun buku tersebut tidak banyak membahas konsep secara lebih mendetail terutama persoalan teknis. Buku ini hanya membahas konsepsi mendasar bagaimana meletakkan dasar pertahanan keamanan Indonesia secara cukup komprensif, terutama penggalian akan sejarah perjuangan dan geopolitik Indonesia sendiri.

Greenhouse Solusi untuk Menghadapi Perubahan Iklim dalam Budidaya Pertanian

Oleh : Unang Ridwan

Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB

Judul Buku       : Teknologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika Basah, Pemodelan dan Pengedalian Lingkungan

Penulis             : Prof. Dr. Ir. Hery Suhardiyanto, M.Sc

Penerbit          : IPB Press

Tahun Terbit   : 2009

Kota Terbit      : Bogor

ISBN                 : 978-979-493-1684

Perubahan iklim yang terjadi saat ini telah membuat para petani banyak mengalami kerugian. Keadaan cuaca yang tidak menentu menyebabkan musim tanam dan panen tak menentu pula.Petani sulit untuk melalukan prediksi cuaca dalam masa tanam. Teknologi greenhouse atau rumah tanaman merupakan sebuah alternatif solusi untuk mengendalikan kondisi iklim mikro pada tanaman. Dalam buku ini Herry Suhardiyanto membahas bagaimana penerapan teknologi greenhouse di daerah iklim tropik seperti Indonesia sebagai upaya pengendalian lingkungan mikro tanaman.

Penggunaan greenhouse dalam budidaya tanaman merupakan salah satu cara untuk memberikan lingkungan yang lebih mendekati kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Green house dikembangkan pertama kali dan umum digunakan di kawasan yang beriklim subtropika. Penggunaan greenhouse terutama ditujukan untuk melindungi tanaman dari suhu udara yang terlalu rendah pada musim dingin.

Pada mulanya greenhouse yang dibangun di kawasan subtropika menggunakan kaca sebagai bahan penutup sehingga identik dengan glasshouse atau rumah kaca. Di Indonesia pembangunan greenhouse juga sering menggunakan kaca sebagai penutup. Saat ini penggunaan kaca sebagai penutup sudah banyak ditinggalkan, selain biayanya mahal fungsinya juga sudah tidak relefan lagi. Herry Suhardiyanto, guru besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB yang juga Rektor IPB merancang dan memperkenalkan greenhouse untuk kawasan iklim tropik dan menyebutnya dengan istilah “rumah tanaman” sebagai terjemahan dari greenhouse.

Cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman dapat masuk ke dalam greenhouse sedangkan tanaman terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan,yaitu suhu udara yang terlalu rendah, curah hujan yang terlalu tinggi, dan tiupan angin yang terlalu kencang. Di dalam greenhouse,parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap tumbuhan yaitu cahaya matahari, suhu udara, kelembaban udara, pasokan nutrisi, kecepatan angin, dan konsentrasi karbondiokasida dapat dikendalikan dengan lebih mudah. Penggunaan greenhouse memungkinkan dilakukannya modifikasi lingkungan yang tidak sesuai bagi pertumbuhan tanaman menjadi lebih mendekati kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Struktur greenhouse berinteraksi dengan parameter iklim di sekitar greenhouse dan menciptakan iklim mikro di dalamnya yang berbeda dengan parameter iklim di sekitar greenhouse.

Pembangunan greenhouse di Indonesia yang beriklim tropik seringkali meniru tipe greenhouse dibangun di daerah subtropika. Peniruan ini menyebabkan fungsi greenhouse yang ada di Indonesia tidak berjalan dengan baik. Adaptasi tipe greenhouse untuk wilayah Indonesia sangat diperlukan untuk penyesuaian dengan kondisi iklim di Indonesia.

Di kawasan tropika basah seperti Indonesia greenhouse berfungsi sebagai bangunan perlindungan tanaman. Konsep greenhouse dengan umbrella effect sangat sesuai dengan untuk kondisi iklim di Indonesia. Salah satu adaptasi yang greenhouse yang di bangun di wilayah iklim tropic yaitu dengan adanya bukaan ventilasi baik alamiah maupun buatan. Ventilasi ini berfungsi sebagai penurun suhu di dalam greenhouse. Malaysian Agricultural Research and Development Institute mengembangkan greenhouse tipe Naturally Ventilated Tropical Greenhouse Structure (NVTGS). Strtuktur NTVGS tergolong sederhana, dengan bukaan ventilasi pada hubungan dan dinding. Dinding greenhouse tegak, sedangkan atapnya berbentuk curve.

Herry Suhardiyanto mengembangkan  greenhouse tipe modified standard peak greenhouse (MSPG) untuk wilayah Indonesia. Greenhouse ini merupakan modifikasi dari span roof atau standard peak greenhouse.

 

Modified standard peak greenhouse banyak digunakan di Indonesia karena sesuai dengan kondisi iklim Indonesia yang memiliki intensitas radiasi matahari dan curah hujan yang tinggi. Bentuk atap berundak dengan kemiringan tertentu mempercepat aliran air hujan ke arah ujung bawah atap. Bentuk atap standar peak dengan kemiringan sudut atap 250 – 300 tergolong optimal dalam mentranmisikan radiasi matahari.

Ventilasi merupakan bagian terpenting dalam rancangan greenhouse untuk wilayah iklim tropik. Ventilasi adalah proses pertukaran udara dari dalam ke luar greenhouse dan sebaliknya untuk memidahkan panas akibat radiasi matahari, menambah konsentrasi karbondioksida di udara, dan mencegah kelembaban udara agar tidak terlalu tinggi. Terdapa dua jenis ventilasi, yaitu ventilasi alamiah dan ventilasi mekanik. Ventilasi alamiah terjadi karena adanya perbedaan tekanan di dalam dan di luar tanaman akibat faktor angin dan termal. Ventalasi mekanik terjadi karena bantuan kipas angin. Luas ventilasi yang direkomendasikan adalah 60% dari luasan lantai.

Ventilasi alamiah memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan ventilasi mekanik. Ventalsi alamiah tidak membutuhkan energi listrik, tidak membutuhkan pemeliharaan, dan tidak mengeluarkan suara berisik dari putaran kipas. Pengendalian laju ventilasi alamiah dapat dilakukan dengan pembukaan dan penutupan lubang ventilasi. Pengaturan ventilasi alamiah agar tetap kontinu lebih sulit dilakukan karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sulit dikendalikan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah perbedaan suhu udara di dalam dan di luar greenhouse serta arah dan kecepatan angin. Parameter rancangan greenhouse yang mempunyai pengaruh besar terhadap laju ventilasi alamiah antara lain adalah luas dan posisi bukaan ventilasi dinding dan atap serta panjang, lebar, dan tinggi greenhouse.

Bahan penutup untuk greenhouse tropis tidak lagi menggunakan kaca tetapi menggunakan screen. Screen bisa digunakan untuk menutup bagian ventali saja atau menutup seluruh struktur bangunan greenhouse. Screen yang digunakan untuk menutup seluruh bagian greenhouse memiliki ukuran mesh yang lebih kecil dibanding dengn screen ventilasi. Greenhouse yang menggunakan screen sebagai penutup disebut juga dengan screenhouse.

Ketika suhu udara di dalam greenhouse sangat tinggi, penurunan suhu udara dengan hanya menggunakan ventilasi saja tidak efektif. Sebagai metode tambahan digunakan yaitu zone cooling. Zone cooling sudah dikembangkan oleh Herry Suhardiyanto sejak tahun 1990-an sebagai alternatif pengendalian suhu udara dan kelembaban udara tinggi. Dalam zone cooling, penurunan suhu dilakukan secara terbatas dengan mengalirkan udara dingin ke sekitar tanaman atau mengalirkan larutan nutrisi yang didinginkan ke daerah perakaran. Meskipun suhu udara di dalam greenhouse tinggi, tetapi apabila suhu di daerah perakaran dapat dipertahankan cukup rendah, maka pertumbuhan tanaman akan cukup baik.

Dari segi fungsional teknologi greenhouse ini bisa menjadi solusi petani dalam menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu karena dalam greenhouse lingkungan bisa dikendalikan bagaimana pun kondisi lingkungan di luar greenhouse. Namun, dari segi keekonomisannya greenhouse belum bisa diterapkan dengan maksimal. Investasi yang dikeluarkan untuk membangun greenhouse cukup tinggi. Selama ini tanaman yang dibudidayakan di dalam greenhouse hanyalah tanaman yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi seperti paprika, tomat, dan bunga-bungaan.  Herry Suhardiyanto dalam buku ini tidak menyebutkan nilai kebutuhan investasi real dan efisiensi ekonomi penggunaan greenhouse dalam agribisnis.

Pasar Tradisional yang Terancam Mati

 

Judul buku: Selamatkan Pasar Tradisional

Penulis: Herman Malano

Terbit: 2011

Hal: xvii, 307

Oleh : Fikriyah Rasyidi, Penulis adalah peneliti di Islamic College (IC) Jakarta

Sudah sejak lama pasar tradisional memegang peran penting dalam menggerakkan ekonomi rakyat di negeri ini. Selain sebagai muara dari produk-produk rakyat, pasar tradisional juga berfungsi sebagai tempat mencari kerja yang sangat berarti bagi masyarakat. Sejak zaman penjajahan, kegiatan pasar beserta para pedagangnya berkembang secara lamiah.

Dalam era reformasi, terjadi perubahan sistem pemerintahan menjadi otonomi daerah dengan semua keputusan mengenai perizinan hampir 100% merupakan otoritas pimpinan daerah. Perhatian terhadap perkembangan pasar serta pedagang tradisional mulai terabaikan sehingga banyak pasar tradisional berubah fungsi menjadi mal dan akhirnya pedagang lama tersingkir.

Ada lebih dari 13.450 unit pasar tradisional di seluruh Indonesia yang mampu menampung lebih dari 12.625.000 pedagang. Jika dikelola degan baik, pasar-pasar tradisional tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi negara. Sayangnya, hanya sepuluh persen pasar tradisional yang dikelola secara profesional, selebihnya pasar tradisional terkesan jorok, becek, bau, dan sumpek.

Di tengah pembangunan bangsa Indonesia, peran pasar tradisional yang semestinya bisa menjadi pilar pembangunan ekonomi kerakyatan, justru terabaikan dan tidak jarang manajemennya salah urus. Banyak pasar tradisional yang setelah direnovasi justru menjadi sepi dan ditinggalkan pembeli. Selain itu, penerapan sistem ekonomi neo-liberal yang sudah berlangsung sejak tahun 1997 menjadi tantangan tersendiri bagi aktivitas ekonomi rakyat kecil seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di pasar tradisional.

Pasar memang bukan suatu tempat yang asing bagi masyarakat kita. Akan tetapi, persoalan yang ada di pasar sesungguhnya ibarat benang kusut yang sukar untuk diurai. Sayangnya, pihak-pihak yang terkait dengan urusan pasar tidak berusaha menyelesaikannya, mereka justru mencari keuntungan, baik keuntungan finansial maupun keuntungan politis.

Kondisi pasar tradisional yang terpuruk membuat banyak masyarakat di Indonesia belakangan ini memilih berbelanja di pasar modern, seperti: mal, minimarket, supermarket, hypermarket, dan sebagainya. Masyarakat dengan gaya hidup modern kini lebih menyukai pasar-pasar dengan sistem pengelolaan yang tertata, bersih, nyaman, dan strategis. Di pasar modern, para pengunjung tidak perlu “ngotot” tawar-menawar harga dengan pedagang, tidak perlu cemas adanya manipulasi timbangan, dan tak perlu khawatir akan kualitas barang.

Pertumbuhan pasar modern saat ini memang sangat pesat. Bukan hanya di kota, tetapi sudah menjalar hingga ke pelosok-pelosok desa. Kita banyak melihat adanya minimarket yang buka 24 jam atau minimarket yang saling bersisian maupun berseberangan. Lantas jika begitu banyak masyarakat yang menggandrungi pasar modern, bagaimana dengan nasib pasar tradisional? Dan bagaimana nasib jutaan rakyat Indonesia yang mencari nafkah di sana, jika pasar tradisional benar-benar kehilangan pembeli?

Selama ini pemerintah di berbagai kota selalu gencar menggusur PKL yang dicap sebagai penyebab utama rusaknya tata kota, biang keladi tidak mampu meraih penghargaan adipura, dan penyebab kumuhnya suatu pasar tradisional. Aparat pemerintah melalui Polisi Pamong Praja (Pol PP) menghancurkan lapak-lapak pedagang dan memaksa mereka membubarkan diri.

Namun, sayangnya, selalu tidak ada solusi ke mana pedagang mikro itu harus melanjutkan usahanya. Walaupun ada solusi, biasanya para pedagang mikro itu “dipaksa” menempati kios suatu pasar di lantai bagian atas. Kondisi PKL yang pas-pasan diwajibkan membayar sewa kios yang mahal. Nyatanya,  setelah ditempati, kios di lantai atas sangat sepi pengunjung sehingga pedagang pun merugi. Kios-kios itu akhirnya ditinggalkan dan mereka kembali menjadi PKL.

Di sisi lain, renovasi yang dilakukan di pasar-pasar, khususnya pasar yang dibangun dan dikelola oleh swasta, dilakukan berdasarkan kepentingan “pemilik pasar”. Renovasi dilakukan untuk menambah jumlah kios, baik dengan cara membangun lantai atas maupun membangun di atas lahan parkir untuk mendapat keuntungan berlipat. Bahkan tak jarang renovasi dilakukan dengan merubuhkan pasar lama lalu membangunnya kembali. Sudah bisa diterka harga kios yang baru dibangun kembali akan disewakan dengan harga berlipat-lipat dari sebelumnya sehingga banyak kasus pedagang lama (existing) harus terusir dari tempat yang lama, dan menjadi PKL di sekitar pasar.

Pengelola pasar biasanya tidak peduli dengan nasib buruk para pedagang tersebut. Bagi mereka, siapa saja boleh berdagang asal mampu membayar uang sewa, jadilah pedagang-pedagang besar yang menggantikan posisi mereka. Sementara itu, meskipun harga sewanya lebih murah dibanding dengan lantai dasar, lantai atas biasanya selalu sepi pembeli karena tidak adanya sistem zonasi produk yang dijual.

Lama-kelamaan, meski sudah membayar sewa, pedagang di lantai atas pun akan turun menjadi PKL. Itulah sebabnya mengapa kita sering menyaksikan sebuah pasar yang sangat megah, jalan raya di depannya macet dipenuhi oleh pengunjung dan PKL yang menghampar dagangannya di tepi jalan. Bukan karena pasar itu memiliki begitu banyak pedagang sehingga meluber ke tepi jalan, tetapi karena mereka memilih mendekati calon pembeli daripada dagangannya di lantai atas tidak laku. Sebuah keadaan yang sangat memprihatinkan, di bagian depan pasar pengujung dan pedagang membludak, tetapi pasar itu sendiri nyaris mati karena ditinggalkan penghuninya.

Persoalan modal juga menjadi permasalahan besar bagi pedagang. Mereka tidak mampu menyewa kios, memperbesar oplah dagangan, dan meningkatkan kualitas produk karena keterbatasan modal. Kondisi ini terjadi karena perbankan enggan berurusan pedagang kecil dan mikro. Bagi perbankan lebih baik berurusan dengan satu atau dua pengusaha besar, ketimbang berurusan dengan ratusan pengusaha kecil. Berurusan dengan pedagang kecil diganggap merepotkan karena transaksinya kecil sementara prosedurnya sama dengan mengurus satu atau dua pengusaha besar yang tentunya lebih menguntungkan perbankan. Akhirnya, para pedagang tradisional menjadi sulit berkembang. Mereka lebih cenderung berutang pada rentenir yang banyak menjemput nasabahnya ke pasar-pasar.

Kondisi pedagang pasar, khusunya pedagang kecil dan mikro, memang sangat memprihatinkan. Perlu ada upaya penyelamatan agar mereka tidak semakin terpuruk dan hanya menjadi lahan bisnis pihak lain. Pedagang di pasar tradsional adalah bagian dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang selama ini merupakan katub perekonomian nasional. Saat ini, jumlah UMKM di Indonesia sebanyak 55 juta. Dari angka itu, sebanyak 45 persen  atau 22 juta di antaranya, bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Bisa dibayangkan betapa banyak rakyat Indonesia yang mengais kehidupan dari tempat yang becek dan kumuh yang perlahan mulai ditinggalkan pembeli itu.

Buku ini merupakan gambaran keresahan para pedagang kecil yang mengais hidup di pasar-pasar tradisional. Penulis merupakan seorang yang puluhan tahun bergelut sebagai pedagang kaki lima dan selalu bersentuhan dengan pasar tradisional, sehingga membuat buku ini memiliki semangat dan ruh yang kuat. Tidak hanya sebatas konsep, penulis juga mengaplikasikannya dalam bentuk karya nyata, seperti yang diceritakan dalam bab terakhir terkait upaya membangun pasar Bambu Kuning Square (BKS) di Bandar Lampung. Oleh karena itu, saya sangat yakin bahwa buku ini layak untuk menjadi salah satu rujukan bagi pendidikan kewirausahaan di Indonesia.

Pemaparan yang lengkap berdasarkan pengalaman panjang penulisnya sebagai praktisi pedagang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk memperkuat posisi para pedagang pasar tradisional di era persaingan bebas saat ini. Buku ini juga bisa menjadi masukan bagi para pemerintah daerah, kabupaten, kota, pemerintah pusat, atau pihak-pihak lain yang terkait dengan pasar, betapa banyaknya persoalan yang dihadapi pedagang pasar, khususya pedagang kecil dan mikro.

Selama ini banyak kebijakan dan peraturan yang dibuat, hanya indah di atas kertas, sementara realisasinya bagi para pedagang sangat jauh dari target dan harapan, karena banyaknya pihak yang mencari keunungan pribadi. Selain itu, buku ini juga bisa menjadi bacaan bagi masyarakat umum, kalangan-kalangan kampus, atau siapa saja yang berminat mengetahui seluk-beluk dunia pasar tradisional.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.