Merusak Negeri dengan NGO dan Uang

 

BOBOLNYA ATM  nasabah banyak bank, kini  menjadi berita heboh. Meskipun ia sesungguhnya  bukanlah suatu yang mengagetkan.  Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) mengharuskan setiap enam bulan sekali adanya audit terhadap keamanan teknologi informasi perbankan, namun minim dari mereka yang melakukan.

Urusan di negeri ini  sesungguhnya sederhana saja: perkara visi menempatkan uang. Bank mau untung gede, emoh investasi, korbankan nasabah. ATM skimmer, alat menduplikat data di kartu, memonitor pemencet PIN melalui kamera cilik, bukanlah barang baru, sudah sejak 1992 perbankan diingatkan akan hal itu. 

Video tentang teknis skiming juga sudah ada di youtube sejak 10 tahun lalu. Tak pernah diperhatikan perbankan dengan seksama. Yang ada di benak mereka untung setinggi-tingginya, maka 2009 perbankan Indonesia mencatat profit marjin tertinggi di dunia.

Di ranah kekuasaan juga sama, jika ingin menjadi pejabat, butuh sponsor, maka demi kekuasaaan, korbankan rakyat. Sehingga laku perbankan dan kekuasaan bak pinang dibelah dua, dapat menjadi rujukan, betapa mudah sesungguhnya mengambil manfaat keuntungan sebesar-besar dari negeri ini.

Tidak dipungkiri kenyataan itu  menjadi peluang bagi bangsa lain. Mereka  menancapkan kukunya melalui beragam cara. Dr.Ing. Fahmi Amhar, Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina, pernah menuliskan, bahwa kepentingan asing mendominasi ekonomi Indonesia. Saya dengan tegas menolak jika Bank Swasta besar masih menuliskan kata Bank Swasta Nasional. Umumnya mereka sudah milik asing.  Melalui perbankan salah satu cara menguasai ekonomi.

Mengutip Fahmi Amhar, ia melihat intervensi asing, melalui: Pertama: Intervensi G2G (Government to Government), pemerintah asing secara langsung menekan pemerintah suatu negara agar memasukkan suatu klausul atau agenda dalam perundangannya. Model G2G ini tampak kasar,  mudah diserang oleh hujan kritik, namun faktanya toh sering terjadi. Contoh: pernyataan bahwa Indonesia sarang teroris, baik yang dilontarkan AS, Australia maupun Singapura bertujuan untuk mendesak agar Indonesia menerapkan UU anti teroris yang lebih ketat.

Kedua: Intervensi W2G (World to Government), lembaga internasional (seperti PBB, WTO, IMF) yang mengambil peran penekan. W2G ini sedikit lebih “elegan” karena seakan-akan agenda yang ingin dipaksakan adalah kesepakatan-kesepakatan internasional. Orang yang tidak tahu lobi-lobi di balik kesepakatan internasional itu akan menganggap rekomendasi lembaga internasional itu sebagai sesuatu yang ideal karena memenuhi standar dan norma internasional. Mereka yang tidak mengikuti-nya bisa terkucilkan atau tidak lagi pantas untuk menerima Contoh: agenda UU yang terkait globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan (UU Perbankan, UU Migas, UU Tenaga Listrik, UU Sumber Daya Air.

Ketiga: Intervensi B2G (Bussiness to Government),  dunia bisnis, baik bisnis yang memiliki jaringan internasional maupun bisnis yang hanya bergerak di lingkup domestik. Para pengusaha dan investor ini dapat menekan pemerintah agar memuluskan berbagai kepentingan mereka dalam undang-undang.

Keempat: Intervensi N2G (Non Government Organization [NGO/LSM] to Government). Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, termasuk ormas-ormas, dapat menjadi kelompok penekan (pressure group) yang efektif pada pemerintah, badan legislatif, maupun badan yudikatif (seperti Mahkamah Konstitusi).

NGO ini dapat berupa NGO asing dengan orang-orang asing, NGO asing dengan orang-orang lokal, maupun NGO lokal murni namun disponsori asing. Mereka dapat mendatangi para penyusun UU (teror mental) hingga demonstrasi besar-besaran yang cukup merepotkan pemerintah jika pemerintah tidak menuruti keinginan mereka.

Kelima: Intervensi I2G (Intelectual to Government). Kaum intelektual, para ilmuwan, lembaga konsultan, bahkan tokoh-tokoh agama dapat dipakai untuk menekan pemerintah agar meloloskan suatu agenda dalam perundangannya. Para birokrat dan perancang UU juga kadang-kadang diundang oleh pihak di luar negeri untuk melanjutkan sekolah atau sekadar studi banding dan bertemu dengan para pakar di luar negeri. Dalam pendidikan atau pertemuan itulah dapat terjadi intervensi secara sangat halus. Pola I2G ini adalah jenis intervensi asing yang paling rapi dan paling sulit dideteksi, karena yang akan muncul adalah keyakinan dari anak bangsa sendiri. Namun, pola I2G hanya dapat digunakan untuk intervensi jangka panjang, karena proses membentuk agen intelektual perlu waktu. Contoh: agenda UU Otonomi Daerah.

Dari kelima hal di atas saya melihat  peranan NGO, yang seakan tampil elegan, menjadi koridor utama dan ampuh masuknya berbagai kepentingan. Apalagi di saat kini urusan kejujuran, integritas, seakan tak diperlukan di ranah kehidupan, di mana uang segalanya, maka membobol negeri ini melalui kalangan NGO  – – termasuk mencemplungkan intelijen asing – – menjadi pilihan utama

 Indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia makin menurun. Menurut Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Pelayanan kesehatan pun makin rendah. Hanya 68,4 persen ibu-ibu yang melahirkan mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih. Angka kematian ibu juga telah mencapai 307 setiap 1.000 kelahiran.

Di bidang ekonomi, Indonesia masih tergantung, baik melalui penanaman modal asing (PMA), utang luar negeri, dolar sebagai standar mata uang maupun perdagangan bebas melalui WTO. Dengan PMA, perusahaan makanan, minuman, otomotif, elektronik, pertambangan, semen, perikanan, kelautan dan lainnya dikuasai asing.

Jika kenyataan pahit ini, justeru terjadi karena andil  tangan-tangan manusia yang ada di NGO, sudah sepentasnya publik mengkritisi NGO. Sulit untuk menunjuk hidung langsung, karena banyak di antara mereka bertameng kepada kegiatan yang mencerahkan publik. Namun pada prakteknya mereka membawa misi kepentingan asing.***

Iwan Piliang, Citizen Reporter.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 11 Februari 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: