China Menggempur Kita lewat ACFTA?

Redaksi

GUNDAH. Rasa ini yang tampaknya tergambar  pada kebanyakan pelaku bisnis kita saat kebijakan ASEAN-China Free Trade Argreement (ACFTA), diberlakukan  per 1 Januari 2010 lalu. Boleh jadi kegundahan ini cermin dari ketidaksiapan kita bersaing, berhadap-hadapan dengan raksasa “dagang” yang bernama China. Tapi, mau bilang apa, zaman sudah bergerak dan berjalan di atas rel persaingan. Yang jelas, ACFTA ini, sudah bak arena akbar. Yang hebat akan digdaya, sementara yang tak sanggup ya…  nelangsa.

Pertanyaannya tentu, potret apa membuat kegundahan ini merebak? Sumber kegundahan sebenarnya terletak pada siapnya China dan sebaliknya, kita tidak. Maka bisa dibayangkan bagaimana berbedanya suasana kita dengan mereka selepas 1 Januari 2010. Kita gundah, sementara mereka bak pasukan tempur di film-film legendaris China, yang dengan kuda pacunya, bersemangat menyerbu dengan 7000-an produknya. Amboi.  Lalu bagaimana nasib produk lokal di negerinya sendiri?

Prediksi tentang persaingan bebas, sebenarnya sudah lama menjadi wacana. Dikembangkan oleh  Friedrich von Hayek, seorang neoliberalis, yang berpikir agar perdagangan bebas itu diatur secara terorganisir dalam wadah-wadah perdagangan global. Jadilah kira-kira semacam free trade in regulated. Warisan pemikirannya melahirkan WTO (World Trade Organization). Lalu mengerucut dalam wujud hubungan perdagangan bilateral, regional, dan kawasan. ACFTA merupakan salah satu bentuknya. Pun demikian dengan CEPT AFTA atau Indonesia-Japan Economic Partnership, dan lain-lain. 

Dan realitas menunjukkan bahwa kita tidak bisa luput dari keniscayaan untuk mengarungi era itu tadi. Bagaimana pun dunia hari ini sudah terlanjur tanpa batas (borderless), dan kadung ditingkah oleh beragam bentuk persaingan. Di dunia yang serba terlanjur ini pula, hukumnya sudah bak dunia koboi, yang hanya memberi tempat buat yang menang saja. Walhasil, siapa yang  memiliki competitive advantage, maka dialah yang unggul. Buat mereka yang kreatif dan siap bekerja keras serta memiliki produk unggulan, di sinilah sesungguhnya letak nilai pacunya. Setiap negara dikaruniai potensi yang bisa dijadikan andalan.

Potensi di negeri ini, sesungguhnya tidak kering-kering amat. Banyak yang bisa diadu dan dipersaingkan di ajang global. Sudah banyak ekonom yang  mengkalkulasi bahwa negeri ini pantas masuk ke dalam kelompok BRIIC (Brazilia, Rusia, India, Indonesia dan China). Basis tumpuan analisisnya adalah kekayaan sumberdaya yang dimiliki bangsa dan negeri ini. Tapi sekali lagi potensi kan bukan sesuatu yang taken for granted. Harus dikemas dan dirawat dengan kerja keras. Dan ini ada alkisahnya di China.

China, syahdan bisa menjadi hebat dan tangguh perekonomiannya, salah satunya dengan mengubah apa yang sebelumnya dipotret sebagai momok menjadi kekuatan, yakni soal jumlah penduduk. China ternyata bisa menjadi kelebihan jumlah penduduknya menjadi potensi yang bisa dikerahkan untuk  menghasilkan produk-produk massal berskala murah. Hampir semua produk China, kualitasnya tak berdaya. Tapi bersamaan dengan itu, hampir tak ada yang sanggup menyaingi produk mereka dari sisi harga. Perspektif ini memperlihatkan bahwa produk China akan menjadi begitu mudah masuk ke pasar menengah bawah, sebuah pasar yang begitu terhampar.

Ini adalah sebuah cara baca luar biasa yang dilakukan China dalam memenangkan persaingan. Bagaimana dengan kita? Kita pun sebenarnya tak kurang potensi dan tak kurang daya kreatifnya. Cuma untuk bersaing potensi-poyensi tadi harus digerakkan secara sinergik. Di sinilah kelihatannya perlu kesadaran bersama, untuk melihat persaingan bangsa ini ke depan secara lebih bijak. Sebab, apapun ceritanya, harga adalah komponen persaingan yang penting. Dan pemerintah di sini harus dengan sangat serius memperhatikan ancaman harga dari adanya biaya ekonomi tinggi.

Di negara kita, penyakit high cost economic ini sudah lama terjadi tetapi belum juga pupus. Buktinya “biaya birokrasi” industri kita masih membumbung.  Tarif boleh jadi nol persen. Sistem pelayanan sudah satu satu atap (one roof services), pengelolaan data secara elektronik sudah pula cepat, tapi selama uang siluman di ranah itu masih gentayangan, sulit kita masuk ke ranah kompetisi. Dan sekali kalah di ranah ini, dampaknya akan memilukan. Tidak saja akan menjadikan kita  konsumtif, tapi juga nelangsa. Naudzubillah

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 25 Februari 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: