Menyikapi Perubahan Persaingan Global

oleh : Edy Putra Irawady

Deputi Menko Perekonomian bidang Industri dan Perdagangan

Pertumbuhan perekonomian AS pada triwulan keempat 2009 sebesar 5,7% dibandingkan kuartal yang sama tahun 2008. Ini merupakan angka pertumbuhan tercepat dalam lebih dari enam tahun terakhir, dan jauh di atas perkiraan pasar yang memprediksi pertumbuhannya sebesar 4,7%. Kenyataan ini menjadi indikasi bahwa perekonomi AS benar-benar sedang mengalami pemulihan, dan akan berdampak pada kebangkitan ekonomi global karena AS masih merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi dunia.  Banyak yang memperkirakan perbaikan pertumbuhan ekonomi global akan menjadi lebih cepat pula karena hampir semua negara berkepentingan terhadap pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan pada tahun 2010 akan melampaui 2,5% dari kontraksi sekitar 1,4%. Pemuihan ekonomi global ini dipicu oleh keberhasilan program stimulus yang dilakukan berbagai negara, efektifnya pelaksanaan kesepakatan G20 untuk menjaga disiplin sektor keuangan dan menahan proteksi pasar serta peran kebijakan trade financing multilateral yang dimotori WTO.

 

Kebangkitan ekonomi global akan membuat tahun 2010 mulai terjadinya perebutan pasar komoditi karena meningkatnya aggregat demand karena kembalinya konsumerisme masyarakat millenium ini dan menggeliatnya kebutuhan produksi. Jadi cukup ironis kalau negara lain tanding strategi untuk ekspansi ekspor, tapi kita masih meributkan bagaimana bertahan dari serbuan barang china di pasar lokal karena kekhawatiran penurunan tarip 1.597 produk dari 5% menjadi 0% pada 1 Januari 2010 sehingga saat ini sudah 7.309 produk yang tidak lagi memiliki hambatan tarip impor ke Indonesia dalam rangka ASEAN China Free Trade Agreement (ACFTA) yang dimulai sejak tahun 2004. Trauma krisis moneter di kawasan pada tahun 1997/1998 yang membuat terjadi pengangguran besar-besaran di Indonesia dan luka ekspor dan investasi sebagai dampak krisis keuangan global mulai pertengahan 2008 membuat pemerintah sangat responsif mengamankan industri dan suplai domestik dari pelaksanaan ACFTA, padahal produk china yang tingkat daya saingnya 30% diatas kita dengan kekuatan dukungan perbankannya yang kuat visa masuk ke Indonesia dari negara manapun. Selain itu perjanjian perdagangan bebas yang melibatkan kita tidak hanya ACFTA, tetapi ada ASEAN Korea, ada ASEAN India, ASEAN Australia New Zealand, bahkan CEPT AFTA dan Indonesia Japan Economic Partnership juga bisa menyingkirkan industri dan suplai domestiki jika masalah-masalah domestik dan entreupreunersihp tidak cepat-cepat dibenahi dan liberalisasi perdagangan jasa-jasa tidak diwaspadai, yang selanjutnya akan memacu pelaku usaha berubah profesi dari produsen atau industriawan menjadi pedagang barang-barang impor.

Dalam menghadapi persaingan global yang ketat dan dinamis, maka FTA merupakan salah satu strategi untuk memperluas pasar ekspor dan mempercepat pengembangan invetasi. FTA juga harus dipandang sebagai upaya membuka isolasi ekonomi dan pengembangan potensi daerah yang merupakan mozaik-mozaik dari kekuatan ekonomi nasional. Kita menganut keterbukaan ekonomi dan kerjasama pertukaran barang dan jasa untuk mengoptimalkan maanfaat ekonomi yang kita miliki untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kita tidak menganut perdagangan bebas dalam arti keterbukaan tanpa kendali. Tidak ada satupun produk yang dapat diperdagangkan lintas border secara bebas. WTO mendorong “open and fair trade” yang dengan berbagai disiplinnya bertugas untuk menertibkan pertukaran barang dan jasa antar negara.

Dalam pergaulan bisnis selalu ada “game” dan taktis yang dimainkan setiap negara dan pelaku usaha. Pengalaman menghadapi 3 kali krisis ekonomi global dan sekian turbulensi cukup memberikan pelajaran bahwa banyak perilaku yang meminta proteksi atau liberalisasi perdagangan karena kepentingan negara ataupun korporasi lintas negara yang ingin mengambil manfaat ekonomi sebesar-besarnya dari potensi kekayaan sumber daya Indonesia. Kita perlu terus waspada. Yang penting keterbukaan ekonomi bertujuan untuk menyediakan peluang kerja yang luas, ekonomi berkembang, dan rakyat sejahtera.

Fenomena dan fakta memang menujukan kelemahan daya saing industri dan suplai domestik kita. Rentannya kinerja industri terhadap perubahan faktor eksternal menunjukkan lemahnya daya tahan dan daya saing industri domestik. Merosotnya utilisasi kapasitas industri sebagai dampak krisis moneter 1997/1998 karena tidak mampu mengadakan bahan baku yang mahal karena selangitnya depresiasi Rupiah, ini sekaligus menunjukan tingginnya tingkat kandungan impor dalam struktur industri domestik. Permintaan bea masuk dan pajak impor ditanggung pemerintah dalam masa krisis ekonomi global yang lalu juga menunjukkan ada masalah dalam seleksi investasi, seperti imigran yang datang ke Indonesia dengan membawa segala keperluannya dan semua kebutuhan sehari-hari terus dikirim dari negaranya. Fakta lain yang menunjukkan lambatnya pengembangan industri kita baik secara populasi, kekuatan struktur, dan inovasi teknologi, antara lain adalah porsi impor produk manufaktur rata-rata sekitar 90% lebih tinggi dari porsi produk manufaktur dalam nilai ekspor non migas yang rata-rata sekitar 80%, komoditi ekspor manufaktur tidak menunjukan banyak produk baru, laju pertumbuhan industri sejak 2006 berada di bawah pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekspor non migas tidak lagi paralel dengan pertumbuhan industri, meksipun utiliasi kapasitas masih rata-rata 64% tetapi peningkatan demand karena pertumbuhan konsumen nampaknya disuplai oleh produk impor yang variatif.

Sebagai pain killer atau trade adjustment assistance menghadapi pelaksanaan FTA, pemerintah melakukan permintaan pembicaraan ulang pemberlakukan FTA bagi produk yang nyata-nyata mengalami pelemahan daya saing dan membentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Masalah Industri dan Perdagangan yang bertugas mengkoordinasikan kebijakan pengamanan dampak FTA serta meningkatkan daya tahan dan daya saing global industri dan suplai domestik dengan strategi: Pengamanan Pasar Domestik; Penyelesaian Isu-isu Domestik untuk meningkatkan daya saing industri dan suplai domestik; dan Penguatan Ekspor.

Langkah-Langkah yang di tempuh untuk Pengamanan Pasar Domestik, antara lain adalah: Pengawasan Border (pre-clearance) dengan mengawasi surat keterangan asal barang yang diterbitkan negara mitra FTA, melakukan early warning system terhadap pelonjakan impor, pengawasan kepatuhan peredaran barang di pasar lokal terhadap ketentuan kadaluarsa, label berbahasa Indonesia, perlindungan hak atas kekayaan intelektual, standar mutu, dan peningkatan promosi penggunaan produk dalam negeri..

Langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan isu-isu domestik, antara lain adalah: pembenahan  tata ruang dan pemanfaatan lahan, pembenahan  infrastruktur dan energi, pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya), memperkuat FTZ dan membangun  kawasan  ekonomi khusus, perluasan akses pembiayaan (KUR, Kredit  Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan   syariah, anjak piutang, optimalisasi pemanfaatan debt financial swapt, rediskonto wesel ekspor, dan trade financing lainnya, pembenahan sistem logistik; perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb), penyederhanaan peraturan, dan Pengembangan industri prioritas dan kompetensi inti daerah.

Langkah-langkah untuk penguatan ekspor, antara lain adalah penguatan Perwakilan  Indonesia di luar negeri, promosi Pariwisata, Perdagangan dan Investasi/TTI, penanggulangan masalah ekspor, pengembangan trading house, dan peningkatan peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dalam menyediakan pembiayan ekspor.

Kebijakan pengembangan enam klaster industri prioritas yang berbasis sumber daya dalam negeri dan menyerap banyak tenga kerja dan industri berbasis potensi daerag perlu segera diimplementasikan untuk mendorong penguatan struktur dan daya saing industri. Ke dapan perlu ditata pemanfaatan sumber daya alam agar nilai tambahnya terus ditingkatkan. Produk China tentu saat ini sangat kuat karena disamping China memeliki infrastruktur yang lengkap, pembiayaan yang kuat, dan sumber daya masnuia yang sangat produktif, juga kita tambah dengan bahan baku dan barang primer yang murah serta gas dan batu bara yang tinggal menimba di negeri ini. Satu hal lagi yang sangat perlu dilakukan adalah mendaulatkan nilai Rupiah dalam transaksi di dalam negeri.


 

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 19 Maret 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: