APAKAH INDONESIA MEMBUTUHKAN NUKLIR?

oleh: Tjipta Suhaemi (BATAN)

Pendahuluan

Pada tahun-tahun terakhir ini krisis pasokan listrik di Indonesia sudah sangat sering terjadi. Jika tidak segera diatasi, krisis energi ini akan semakin parah dan bisa berimbas kepada sektor-sektor pembangunan dan ekonomi lainnya. Kita semuanya terlebih-lebih rakyat kecil  mulai merasakan akibat dari krisis energi ini. Hidup kita semakin susah, karena tidak bisa melakukan  aktivitas sehari-hari dengan lancar. Skenario yang paling buruk akibat dampak dari krisis energi adalah melambatnya pembangunan, proses produksi bahkan terhenti sama sekali.

Sebenarnya krisis listrik ini tidak akan terjadi jika negeri ini menaati jadwal yang telah dibuat sendiri yaitu tahun 2004 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama dalam jaringan Jawa-Madura-Bali sudah harus dibangun. Apakah benar Indonesia membutuhkan nuklir?  Sebanarnya nuklir merupakan salah satu solusi alternatif dan realistis yang dapat diandalkan untuk mencukupi pasokan listrik di negeri ini. Bagi siapa saja yang ingin menjadi negara maju dan ingin sejahtera pasti memiliki pembangkit listrik bertenaga nuklir. Seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Rusia, Israel, Korea Selatan, India, China, bahkan negara Jepang yang pernah menjadi korban bom nuklir dan rawan gempa menggunakan program energi nuklir untuk mencukupi kebutuhan energinya.

Akibat semakin menipisnya sumber energi fosil membuat negara di dunia gusar terhadap masa depannya. Oleh karenanya negara maju berupaya sungguh-sungguh untuk menggeser ketergantungannya dari sumber energi minyak kepada sumber-sumber yang lebih menjanjikan. Memang dewasa ini sebagian besar kebutuhan energi dunia masih dipasok oleh bahan bakar minyak, batubara dan gas alam. Pembangkit konvensional yang notabene berasal dari panas bumi, matahari, angin, biomassa, dan air belum mampu menghasilkan listrik dalam skala besar. Sementara pembangkit fosil seperti minyak dan batubara menimbulkan masalah lingkungan dan pemanasan global.

Pemerintah telah menyadari permasalahan energi ini di negeri kita. Untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan, telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, tentang Kebijaksanaan Energi Nasional (KEN) sebagai pedoman dalam pengelolaan energi nasional. KEN sebagai acuan upaya mewujujdkan keamanan pasokan energi dalam negeri dengan menetapkan bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025, dan kontribusi energi baru dan terbarukan lainnya lebih besar dari 17%. Khusus untuk energi biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin sebagai bagian dari EBT menjadi lebih besar dari 5%. Dalam hal pemanfaatan energi nuklir, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN mengamanatkan bahwa pada RPJM ke-3 (2015-2019) energi nuklir mulai dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan mempertimbangkan faktor keselamatan secara ketat. Namun hal itu baru di atas kertas, belum diimplementasikan.

Lagi-lagi masalah nuklir ini telah menjadi isu politik, sampai-sampai para kiai di Jawa Tengah menfatwakan PLTN menjadi barang haram. Saat ini energi nuklir belum sepenuhnya dapat diterima oleh masyarakat, termasuk di dalamnya para akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Perbedaan pendapat semacam ini merupakan hal yang wajar di dalam dunia demokrasi. Berbagai pendapat yang kontra masih sering muncul dan demonstrasi yang bersifat massal masih sering digelar untuk mencegah agar PLTN tidak dibangun. Kondisi tersebut kemungkinan didorong oleh kurangnya pemahaman tentang besarnya cadangan sumber energi yang kita miliki, pengaruh kenaikan harga minyak terhadap harga listrik terus bertumpu pada bahan  fosil. Selain itu, pemanfaatan bahan bakar fosil rentan terhadap fluktuasi harga secara internasional.

Selain itu, keandalan teknologi keselamatan PLTN yang dicapai saat ini masih belum tersosialisasikan secara optimal sehingga masyarakat dapat merasa yakin bahwa kasus-kasus kecelakaan seperti Chernobyl tidak akan terjadi lagi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan. Terdapat pula faktor lain yang membuat sebagian masyarakat masih belum dapat menerima rencana pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik adalah adanya ketidakpercayaan terhadap bangsa sendiri, terkait budaya kedisiplinan, korupsi dan kemampuan penguasaan teknologi yang masih rendah. 

Pertimbangan bagi Indonesia

Dari tinjauan kondisi saat ini, Indonesia ke depan akan memerlukan ketersediaan energi yang cukup tinggi. Dengan kondisi ketersediaan energi sekarang tidak mungkin kebutuhan tersebut dapat tercapai. Pilihan sumber energi yang ada di depan kita tidaklah banyak. Pilihan  yang sudah dan sedang kita gunakan secara dominan adalah enegi fosil. Pilihan berikutnya adalah energi air dan energi nuklir. Pilihan beberapa jenis energi baru dan terbarukan (renewable) sebenarnya menjadi alternatif paling baik untuk masa depan kita. Akan tetapi kapasitasnya masih sangat kecil dan harganya mahal.

Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi yang mantap yang dapat digunakan sebagai acuan dalam lingkungan IPTEK yang mampu mendukung ketersediaan energi berkelanjutan. Dengan memperhatikan jumlah dan angka pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, meningkatnya standar hidup, dan issu lingkungan, maka perencanaan energi jangka panjang harus dilakukan secara arif dan bijksana. Dengan keterbatasan sumber energi tak terbarukan, maka untuk memenuhi kebutuhan energi di tahun mendatang, harus diterapkan konsep bauran energi (energy mix) serta harus lebih mengarah kepada energi berbasis teknologi (technology base), dibanding dengan energi berbasis sumber daya (resource base) yang bersifat tidak terbarukan.

Resiko jika memilih batubara maka pencemaran lingkungan akan terjadi dalam jumlah yang semakin banyak. Dalam masalah pengangkutan tiap hari harus diproduksi dan diangkut bahan bakar yang jumlahnya melampaui setengah juta ton tiap harinya ke instalasi listrik. Produksi batu bara sebanyak ini tidak akan merupakan pekerjaan yang mudah, dilihat dari segi teknis, transportasi, pembiayaan lingkungan. Dalam masalah lingkungan terlihat gas-gas rumah kaca bakal menyelimuti permukaan bumi. Dampaknya sudah barang tentu semakin parah. Saat ini kita saja sudah bisa merasakan akibat kekacauan iklim yang  tidak menentu. Bencana alam, longsor, kekeringan, banjir, serta sengatan udara panas-dingin bakal akan sering terjadi.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar nuklir (uranium) untuk membangkitkan energi. Sistem PLTN tergolong teknologi tinggi dan prospektif ke masa depan. PLTN mempunyak karakteristik  sumbernya berkelimpahan di alam, bisa dibangkitkan dalam skala besar, ekonomis dalam skala massal, dan ramah lingkungan.

Desain PLTN

Bagaimana sistem pembangkitan listrik yang menggunakan bahan bakar nuklir? Adakah perbedaannya dengan pembangkit konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil? Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sebenarnya hampir sama dengan pembangkit listrik konvensional seperti PLTU (pembangkit listrik tenaga uap), yaitu menggunakan tenaga uap untuk menggerakkan turbin dan generator. Yang membedakan adalah panas yang digunakan untuk membangkitkan uap tidak dihasilkan dari pembakaran bahan fosil, tetapi sebagai hasil dari pembelahan inti atom U-235 yang ditembak dengan neutron. Panas yang dihasilkan dari reaksi pembelahan diangkut keluar dari teras reaktor oleh fluida pendingin, yang secara terus menerus dipompakan ke dalam reaktor melalui saluran pendingin reaktor.

PLTN terdiri dari dua bagian, yaitu sistem pemasok uap nuklir (nuclear steam supply system) yang merupakan tempat bagi reaktor nuklir dan pembangkit uap, dan Instalasi Pendukung (balance of plant)  yang merupakan tempat bagi turbin uap dan generator listrik.

Komponen utama PLTN adalah bahan bakar, moderator dan pendingin, sistem pembangkit uap, sistem keselamatan. Kombinasi dari komponen-komponen tersebut melahirkan variasi dari desain PLTN. Saat ini PLTN diklasifikasikan berdasarkan  jenis pendingin, siklus uap, moderator, energi neutron dan bahan bakar. Dewasa ini ada beberapa jenis PLTN komersial antara lain adalah PWR (Pressurized Water Reactor), BWR (Boiling Water Reactor), dan PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor), GCR (Gas Cooled Reactor), HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor). Jenis PLTN ini mempunyai keunggulan/kelebihan masing-masing, namun unsur-unsur kunci dan desain keseluruhan dari berbagai jenis PLTN itu pada umumnya adalah sama, misalnya bangunan turbin, generator, fasilitas perawatan, fasilitas administrasi, rumah pompa, dan struktur pengungkung reaktor.

Energi nuklir bukan bom

Banyak anggota masyarakat awam yang membayangkan bahwa reaktor nuklir adalah bom nuklir, yang sewaktu-waktu dapat meledak.  Pendapat ini tidak benar, walaupun tidak dapat dipersalahkan kepada siapapun juga mengingat introduksi nuklir kepada umat manusia melalui jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 dalam usaha mengakhiri perang dunia kedua. Memang benar baik bom atom maupun reaktor nuklir sama-sama bekerja berdasarkan reaksi nuklir berantai. Perbedaan yang nyata antara keduanya terletak pada laju kecepatan reaksi berantai, pada bom atom sekurang-kurangnya seribu kali lebih cepat dibandingkan reaktor nuklir.

Perbedaan lainnya adalah diperlukannya sejumlah massa kritis dari uranium-235 murni atau plutonium-239 murni. Pada reaktor nuklir bahan bakar nuklir hanya mengandung 3 sampai 5 persen uranium 235, selebihnya adalah uranium-238 yang tidak mengalami pembelahan.

Selain itu, hal lain yang membuat reaktor nuklir bukan bom adalah bahwa reaktor nuklir sudh dilengkapi dengan peralatan yang dapat digunakan untuk mengendalikan tingkat daya dan energi yang dibangkitkan di dalam reaktor nuklir.

Keuntungam  nuklir

Salah satu pertimbangan banyak negara memilih energi nuklir adalah kandungan energi yang demikian besar. Setiap pembakaran 1 gram uranium akan menghasilkan energi setara dengan 1 ton batubara. Banyak keuntungan yang diperoleh, sebab dengan volume yang kecil itu bahan bakar nuklir memiliki kemudahan dalam transportasi dan penyimpanan dibandingkan dengan batubara. PLTU Suralaya beberapa waktu yang lalu pernah kekuarangan pasokan batubara akibat cuaca yang berakibat tersendatnya pengangkutan batubara melalui laut dari Kalimantan. Selain itu tempat penimbunan batubara memerlukan lahan yang luas dan membutuhkan gerbong pengangkut yang sangat banyak. Tentunya hal ini bisa  memberikan dampak kestabilan pasokan bahan bakar secara kontinu. 

Tentang polusi dari PLTN jauh lebih kecil. Batubara menghasilkan polusi berupa abu yang beterbangan memenuhi udara, dan sisa pembakarannya juga memiliki volume yang besar. Sedangkan nuklir dengan volume yang kecil bisa membangkitkan energi listrik yang besar. Ketersediaan cadangan bahan bakar untuk jangka waktu yang aman bisa dilakukan dengan baik. Transportasi lebih efisien dan lebih ekonomis, serta volume penambangan lebih kecil.

Memang ada hal yang perlu diperhatikan sungguh-sungguh adalah kecermatan dalam penanganan keselamatan. Namun hal ini tak perlu dicemaskan karena teknologi keselamatan PLTN sudah berkembang demikian rupa, sehingga dari hampir 450 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia, sangat kecil sekali persentase terjadinya kecelakaan.

Keselamatan nuklir dan keserasian dengan  lingkungan

Masih kerasnya penolakan akan PLTN selain dipicu oleh faktor pelestarian lingkungan dan sosiopolitik, juga disebabkan oleh katanya berlimpahnya sumber energi yang tersedia, ancaman bencana, dan disiplin dalam operasi dan pemeliharaan. Banyak anggota masyarakat yang meragukan keamanan dan keselamatan dalam memanfaatkan energi nuklir. Keraguan itu antara lain : Pertama, apakah reaktor nuklir benar-benar dapat dioperasikan dengan aman dan seberapa besar peluang terjadinya ledakan nuklir. Kedua, adalah tentang limbah, bagaimana pengelolaan limbah radioaktif sebagai akibat penggunaan PLTN untuk pembangkitan listrik. Ketiga, tentang ketakutan senjata nuklir dan bom nuklir.

Industri nuklir adalah satu-satunya industri yang melaksanakan pengamanan dan menangani keselamatan mulai dari hulu sampai ke ujung hilir. Semuanya dilakukan nyaris tanpa emisi gas buang ataupun limbah cair yang radioaktif ataupun berbahaya. Praktis tidak ada pembuangan ke lingkungan sekitar dari operasi pembangkitan listrik nuklir. Kalaupun ada yang lepas dari operasi normal, waktu parohnya pendek dan cepat hilang. Limbah nuklir yang berpotensi membahayakan, seluruhnya masih di dalam bahan bakar bekas dan diamankan/disimpan, atau, apabila diproses-ulang guna memanfaatkan sisa bahan fisil, limbahnya dimampatkan dalam gelas (vitrifikasi) dan diamankan/disimpan.

Masalah lingkungan utama yang dihadapi umat manusia dewasa ini adalah pemanasan global yang diakibatkan oleh perkembangan industri. Sinar matahari yang dipantulkan oleh bumi semakin lama semakin sedikit yang dapat lolos ke angkasa luar, berkat efek rumah kaca. Energi nuklir yang ramah lingkungan sebenarnya adalah bagian dari solusi masalah pemanasan global. Menurut penelitian energi nuklir menghasilkan emisi sebanding dengan tenaga angin.

                Alasan klasik bagi para penentang PLTN sudah tentu kasus Three Miles Island dan Chernobyl. Tetapi apakah itu sekadar alasan teknis ilmiah, bahwa PLTN tidak memenuhi  standar keselamatan? Beberapa dekade yang lalu alasan itu memang benar, tetapi sekarang nampaknya berlebihan berhubung desain PLTN generasi ketiga dan atau keempat yang dibangun sekarang ini telah diperbaiki dengan metode deterministik maupun probabilistik sehingga mencapai standar keselamatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan standar keselamatan PLTN Three Miles Islannd ataupun Chernobyl. Sekarang dengan standar itu tidak ada alasan teknis untuk mempercayai PLTN akan berubah menjadi semacam bom atom.

Kesimpulan

Dengan adanya keterbatasan maupun kendala dalam sumber energi konvensional, maka Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) layak dipertimbangkan sebagai salah satu opsi alternatif dalam menyediakan energi listrik. Masyarakat Indonesia hendaknya harus berpikir rasional dan proporsional dalam hal pembangunan PLTN. Setiap pengambilan keputusan memang sebaiknya mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya. Kita harus berpikir dingin dan tidak emosional. Memang sekarang waktunya Indonesia untuk meiliki PLTN, karena kondisi dan situasi sudah sangat mendesak dan membahayakan pembangunan bangsa secara berkelanjutan.

Indonesia sudah selayaknya belajar dari pengalaman negara-negara di Asia yang telah lebih dahulu membangun PLTN. Untuk Asia saja telah beroperasi 109 buah PLTN di 5 negara, yaitu Jepang, Korea Selatan, China, India, dan Pakistan. Sebanyak 18 buah sedang dalam konstruksi, dan dalam perencanaan sebanyak 110 buah. Tahun 2010 diproyeksikan kapasitas PLTN di Asia mencapai 38 GWe per tahun, dan dari 2010 ke 2020 mencapai 58 GWe per tahun yang merupakan 36% dari kapasitas dunia.

Dalam penggunaan PLTN untuk pembangkit listrik ini, sebenarnya Indonesia sudah ketinggalan jauh dari negeri lain. Korea Selatan yang pada tahun 1960-an dalam hal penguasaan iptek nuklir sejajar dengan Indonesia, sekarang telah memiliki 20 buah PLTN dengan kapasitas  17.716 MWe. India sekarang memiliki 15 buah PLTN dengan kapasitas 3.040 MWe atau 2,8% dari total listrik dan  direncanakan tahun 2050 sebanyak 25% listriknya berasal dari PLTN. China pada tahun 1993 baru mempunyai 1 buah PLTN (288 MWe), pada akhir tahun 2005 telah mempunyai 9 buah PLTN dengan kapasitas 6.572 MWe, dan diperkirakan  mencapai sekitar 40 GWe pada tahun 2020.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 April 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: