CBM SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF

oleh :Christopher Harsamto (Mahasiswa ITB)

Energi adalah kekal, tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, namun energi dapat berubah bentuk. Itulah konsep energi yang terus dipegang hingga saat ini. Energi sudah ada dan menjadi kebutuhan dari zaman manusia belum mengenal teknologi. Manusia jaman purba membutuhkan energi panas untuk memasak dengan cara membakar kayu. Dan di jaman modern saat ini, energi menjadi tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan hidup manusia dan bahkan memainkan peranan yang sangat penting bagi sebuah negara.

Saat ini energi listrik dan energi panas dari pembakaran bahan bakar minyak (BBM) menjadi tumpuan hidup suatu negara karena keduanya ini memungkinkan terjadinya aktivitas ekonomi dan bisnis. Saat ini kegiatan ekonomi dan bisnis tak bisa terlepas dari bantuan komputer, baik untuk kebutuhan komputasi, dokumentasi, bertukar informasi, dll. Sedangkan energi panas dari pembakaran BBM digunakan untuk kendaraan bermotor yang fungsinya sebagai alat transportasi. Seperti kita ketahui transportasi merupakan bagian dari kegiatan ekonomi dan bisnis.

Setelah melihat betapa pentingnya energi, kita juga tak bisa menutup mata bahwa kebutuhan akan energi meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah manusia. Maka dari itu negara berlomba-lomba untuk membangun pembangkit listrik dan kilang minyak utuk memenuhi kebutuhan energi negaranya. Untuk saat ini batubara menjadi pilihan favorit untuk mensuplai pembangkit listrik. Hal ini karena batubara murah dan cadangannya banyak. Sama seperti BBM, batubara merupakan bahan bakar fosil yang mana untuk mengubahnya menjadi energi panas agar bisa dimanfaatkan menghasilkan gas karbon yang berperan dalam terjadinya pemanasan global saat ini. Meningkatnya kesadaran manusia akan bahaya pemanasan global mendorong pencarian sumber energi alternatif yang tentunya ramah lingkungan.

Coalbed Methane, atau sering disingkat sebagai CBM telah menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir ini. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, China, India, Kanada, Rusia, dan beberapa negara di Eropa Timur telah melakukan studi dan pengembangan akan pemanfaat CBM ini. CBM berupa gas metan yang terdapat di dalam lapisan batubara. Gas ini berasal dari proses pembetukan batubara yang berlangsung selama jutaan tahun. Gas ini tersimpan di dalam rekahan-rekahan yang ada di sepanjang lapisan batubara. Gas metan merupakan gas karbon yang bisa terbakar dan menghasilkan energi panas dan terbuang sia-sia ke udara saat batubara ini ditambang dengan metode tambang terbuka.

Maka sebelum batubara ini akan ditambang, gas metan yang dikandungnya diambil terlebih dahulu dengan metode yang hampir serupa dengan kegiatan pengambilan gas bumi. Pipa besi dimasukkan ke dalam tanah menuju lapisan batubara berasda dengan metode pengeboran. Kemudian pipa ini nantinya berfungsi untuk ‘menyedot’ gas metan yang ada ke permukaan untuk kemudian disimpan di tangki penyimpanan.

Sebagai sumber energi alternatif, CBM bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan dari untuk bahan bakar pembangkit listrik hingga kebutuhan rumah tangga sebagai gas untuk memasak. Bahkan di China CBM sudah mulai digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Hal serupa juga sedang dikembangkan di India. Selain multifungsi, CBM juga lebih ramah lingkungan karena memiliki kandungan hidrokarbon yang rendah yang terdiri dari propana atau butana. Nilai lebih lain yang dimiliki dari CBM adalah CBM lebih murah daripada minyak bumi. Hal ini karena biaya operasi untuk mengeksploitasi  CBM lebih murah daripada mengeksploitasi minyak bumi. Cadangan minyak bumi letaknya jauh di dalam bumi dan bisa mencapai lebih dari 1km.

Sedangkan lokasi lapisan endapan batubara umumnya berada pada kedalaman yang jauh lebih dangkal. Walaupun nantinya produksi CBM akan memerlukan lebih banyak infrastruktur sumur daripada sektor migas. Di tengah gencarnya isu akan pemanasan global dan harga minyak bumi yang terus melambung naik, CBM muncul sebagai energi alternatif yang perlu diperhitungkan dan ditindak lanjuti secara serius. Terlebih lagi Indonesia memiliki cadangan batubara yang melimpah.

Sumber http://www.mcdan.com

 

Garis start dimulainya pengembangan CBM di Indonesia adalah dengan ditetapkannya Roadmap Coalbed Methane 2009.  Pada tanggal 5 Mei 2009 telah ditandatangani 3 kontrak WK CBM bersamaan dengan pelaksanaan konferensi Indonesia Petroleum Association. Walaupun rencana awalnya ada 6 kontrak yang akan ditandatangani. Penandatanganan ke tiga kontrak ini melengkapi 7 kontrak WK yang sudah ditandatangani pada tahun sebelumnya. Blok Sekayu merupakan blok yang pertama kali ditandatangani pada tanggal 27 Mei 2008.

Pada tahun ini, pemerintah menargetkan akan ada penandatanganan 14 kontark baru dan tahun 2011 akan terjadi produksi CBM pertama.  Pemerintah juga telah memberikan stimulus bagi para investor yang ingin berinvestasi di bidang CBM seperti pemberian tawaran bagi hasil yang cukup menarik yakni 55% pemerintah dan 45% kontraktor. Dapat dibandingkan dengan sektor migas yang bisa mencapai 75% pemerintah dan 25% kontraktor.

Indonesia memang merupakan negara dengan cadangan CBM yang cukup besar. Berdasarkan data yang ada , potensi CBM di Indonesia  saat ini berkisar 450 triliun cubic feet (TCF).  Sedangkan untuk pembagiannya, Indonesia memiliki 3 katagori sumbervdaya CBM yakni high prospective, moderate prospective, dan low prospective. Cadangan ini tersebar di seluruh penjuru nusantara pada 11 cekungan batuabara. Hasil survey geologi ini meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia memiliki potensi CBM yang besar. Dan suatu kebanggaan besar bahwa konferensi CBM dunia yang kedua yang akan berlangsung pada bulan Maret akan berlangsung di Jakarta dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

CBM yang bersumber dari lapisan batubara yang pada umumnya di tambang secara tambang terbuka di Indonesia memunculkan kekhawatiran akan adanya resiko kebijakan yang akan saling bertabrakan (penambangan batubara diatur dalam PKP2B). Sesuai dengan Peraturan Mentri ESDM No. 33 Tahun 2006 dan revisinya No. 36 Tahun 2008, wilayah pengembangan CBM meliputi wilayah terbuka, wilayah PKP2B, dan KP Batubara serta WK Migas. Maka permasalahan mungkin timbul bagi penambangan batubara yang sudah ada. Ataupun nantinya untuk cadangan baru, mana yang akan didahulukan, CBM atau penambangan batubara. Maka perlu ada solusi yang bisa menengahkan CBM dan penambangan terbuka. Akan lebih baik jika CBM dan penambangan batubara bisa berjalan bersamaan.

Prospektif CBM yang sangat baik bukan berarti tanpa resiko yang membuat investor menjadi ragu menanamkan modalnya pada sektor ini. Besarnya cadangan batubara yang ada di dalam tanah tidak menjamin kualitas maupun kadar gas metan yang terkandung di dalamnnya. Perlu ada investigasi lebih detail untuk mendapatkan informasi ini. Masalah lainnya timbul dalam pembebasan tanah. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, CBM memerlukan sumur yang tersebar di seluruh lapisan batubara. Sama seperti sektor penambangan dan migas, resiko lain yang juga harus diperhitungkan adalah permasalahan yang mungkin timbul dengan pihak kehutanan. Fakta di lapangan menyatakan bahwa hampir semua cadangan batubara di Indonesia berada di wliayah hutan. Perlu diingat oleh para investor bahwa produksi CBM memiliki umur yang lebih pendek daripada industri gas bumi yang bisa mencapai 40 tahun. Umur produksi CBM tidak lebih dari 20 tahun.

Semoga untuk ke depan, pengembangan CBM di Indonesia semakin gencar dilakukan dan mulai digunakan dalam kehidupan masyarakat. Tak lupa dengan dukungan dari pemerintah.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 April 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: