ENERGI ADALAH KEKUATAN POLITIK DAN EKONOMI NEGARA

Mirzan T.Razzak

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Sains dan Teknologi.

Energi merupakan salah satu program pokok pemerintah di samping  program pangan. Kebutuhan energi secara normatif akan meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, membaiknya taraf hidup dan berkembangnya industri.  Sebagai negara yang sedang bertumbuh/berkembang, Indonesia juga mengikuti norma tersebut. Sejak reformasi 1998, manajemen tata negara mengalami perubahan-perubahan  yang  mendasar. Perubahan tersebut berdampak amat besar pada kebijakan di hampir semua sektor kehidupan bernegara dan berbangsa.

Namun, di sektor energi khususnya, kita masih berpegang teguh  bahwa  minyak bumi (BBM), gas dan batu bara merupakan komoditi-komoditi  andalan sebagai sumber devisa. Padahal seharusnya  kita juga harus menata ulang kebijakan sektor energi  agar  secara  strategis  dapat menyesuaikan gerak pembangunan nasional dengan  keseimbangan  baru  dalam perubahan global. Peta  energi  nasional menunjukkan  bahwa Indonesia tidak lagi sebagai negara pengekspor minyak seperti dulu.  Gas alam dan batu bara Indonesia sudah terikat kontrak  luar negeri (Jepang, Korea, China). Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajak kita semua melakukan evaluasi  agar sumber-sumber energi yang kita miliki tidak hanya menjadi sumber devisa tetapi juga menjadi kekuatan politik dan posisi tawar diplomasi Indonesia.

Ukuran kemajuan dan kemakmuran suatu negara  dapat dilihat berapa besar penggunaan energi listrik perkapita suatu negara. Bertambah besar energi yang dikonsumsi suatu negara berarti bertambah maju atau bertambah makmur negeri tersebut. Hal ini tidak lain karena “listrik” merupakan lambang kemajuan ekonomi atau lambang kemajuan teknologi. Bayangkan saja kalau listrik sudah merata masuk ke desa, ke pelosok manapun, sudah barang tentu rakyatnya menggunakan produk-produk industri, kulkas, mesin cuci, kipas angin, kompor listrik, air conditioner (AC), penerangan (lampu), mesin pompa air, dan lain sebagainya. Ditambah lagi kecenderungan dunia untuk memanfaatkan listrik secara maksimal  karena listrik merupakan bentuk energi yang paling bersih, praktis dan efisien. Bahkan tidak hanya untuk keperluan rumah tangga, tetapi  listrik juga menjadi andalan dalam proses industri modern seperti: dalam industri tekstil, industri komputer, industri  elektronika, industri robotic dan industri transportasi sekalipun, ke depan ini digerakkan dengan listrik seperti: kereta api, mobil listrik dan sebagainya. Oleh karena itu, negara maju berlomba untuk men-supply listrik dengan biaya pembangkitan yang  murah, efisien, dan ramah terhadap lingkungan.

Sampai sekarang, tercatat hanya 5 (lima) sumber energi utama (primer) yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik  yaitu: minyak bumi, batubara, gas alam, nuklir, dan air. Pembangit  listrik yang menggunakan bahan bakar minyak bumi, batu bara, dan gas alam disebut  “thermal power plant”, sedangkan pembangkit listrik yang menggunkan bahan bakar nuklir (Uranium-35) disebut  “nuclear power plant” atau Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan  pembangkit listrik dari air terjun disebut  hidro-electricity power plant atau pembangkit listrik tenaga air. Kecuali PLTN, keempat jenis pembangkit listrik primer tersebut, sudah beroperasi di Indonesia. Sejak krisis minyak bumi, termasuk meningkatnya harga minyak, beberapa pembangkit yang mulanya menggunakan bahan bakar minyak bumi sudah dimodifikasi/diubah menggunakan bahan bakar gas alam, meskipun efisiensinya tidak maksimal dibandingkan dengan pembangkit listrik yang memang awalnya dirancang menggunakan  bahan bakar gas alam. Mesin generator listrik (genset) yang selama ini beroperasi di daerah di luar pulau jawa banyak atau hampir semua  tidak lagi beroperasi  karena tidak lagi ekonomis. Untuk mengganti supply listrik yang selama ini dari genset, pemerintah mencanangkan pembangunan pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara. Diperkirakan program 10.000 MW pertama akan rampung dalam dua tahun ke depan.

Pada hakekatnya, prinsip pembangkit listrik thermal  (PLTU) dengan bahan bakar fossil (minyak bumi, batubara, gas alam) adalah sama dengan PLTN yaitu menghasilkan uap air panas yang mampu menggerakkan turbin untuk selanjutnya memutar generator(dynamo)  sehingga menghasilkan listrik. Hanya saja, pada pembangkit thermal, uap air (steam) dihasilkan akibat pendidihan air dengan nyala api dari pembakaran bahan bakar fossil pada suatu “boiler”. Sedangkan pada PLTN, uap air (steam) dihasilkan akibat panas dari reaksi nuklir yang mendidihkan air  dalam suatu reaktor nuklir.  Pada Gambar 1, ditunjukkan  prinsip pembangkitan listrik secara  thermal  dengan bahan bakar fossil (PLTU) dan pembangkit listrik dari reaktor nuklir (PLTN).

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Gambar 1. Perbandingan Prinsip Pembangkit Listrik Tenaga Thermal (PLTU) dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Seperti diketahui, sistem kelistrikan nasional dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu:

  1. Sistem interkoneksi yang termasuk dalam wilayah Jawa, Madura, Bali, dan Sumatra.
  2. Sistem terpisah atau isolated yang termasuk dalam wilayah di luar sistem interkoneksi.

Kebutuhan listrik masyarakat dan industri mencapai 76,6% berada di dalam sistem interkoneksi (Jawa, Madura, Bali, dan Sumatra). Sedangkan 23,4% berada di luar sistem interkoneksi. Komposisi pemakaian energi  primer untuk pembangkit tenaga listrik adalah BBM (23,7%), batubara (46,2%), gas alam (14,3%), dan tenaga air (9,6%). Selain itu, terdapat kontribusi pembangkit listrik 5,3% dari panas bumi dan 0,9% dari biofuel.

Naiknya harga BBM sudah barang tentu akan meningkatkan biaya operasi untuk BBM. Pada saat ini, biaya BBM PLN mencapai 56 trilyun rupiah atau sama dengan 42% dari total biaya operasi keseluruhan pembangkit listrik PLN. Bila pertumbuhan ekonomi diasumsikan sebesar 6,27% per tahun, maka diperlukan tambahan kapasitas pembangkit yang baru sekitar 23.000 MW dengan bahan bakar batubara sampai tahun 2020. Resikonya adalah meningkatnya pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh gas buang CO2, SO2, NOx, dan abu yang mengandung logam berat beracun seperti: As, Cd, Hg, dan Pb.

Untuk mencegah resiko pencemaran lingkungan tersebut, menurut Patrick Moore, salah seorang pendiri Greenpeace dan sekarang sebagai Kepala Ilmuan Greensprit  Strategies: “Energi nuklir hanya satu-satunya sumber energi yang tidak melepaskan emisi gas rumah kaca dan dapat secara efektif menggantikan bahan bakar fosil untuk lingkungan hidup yang sehat”. Pernyataan James Lovelock seorang penulis teori Gaia menyimpulkan pembangkit listrik tenaga nuklir merupakan satu-satunya solusi hijau (nuclear power is only green solution). Dari kedua pernyataan ahli lingkungan tersebut, seharusnya kita harus segera mempertimbangkan kehadiran PLTN di Indonesia, bila kita konsekuen menghendaki lingkungan hidup yang ideal.

Mungkin kita terpengaruh bahwa kawasan ASEAN adalah kawasan bebas nuklir. Arti kawasan bebas nuklir di sini adalah bebas dari senjata nuklir. Tetapi kawasan ASEAN dapat menggunakan energi nuklir untuk maksud damai (peacefull uses of nuclear energy). Hal ini termasuk penggunaan energi nuklir dalam bidang pertanian, kesehatan, industri, dan pembangkit listrik.

Pada saat ini, telah beroperasi 439 PLTN  di dunia, diantaranya ada 111 PLTN di Asia. Menurut sumber IAEA tahun 2007, Vietnam dan Thailand masing-masing mengusulkan/mempersiapkan diri untuk pembangunan dua PLTN. Pada Tabel 1 ditunjukan lokasi PLTN di Asia yang beroperasi, sedang dibangun, direncanakan, dan diusulkan. Seperti ditunjukkan pada Tabel 1, Indonesia mengusulkan untuk pembangunan 4 PLTN dengan total kapasitas listrik sebesar 4.000 MW.

Meskipun diusulkan hanya  4 PLTN dengan kapasitas total 4.000 MW adalah relatif kecil dibandingkan dengan tambahan kebutuhan listrik nasional sebesar 23.000 MW. Namun, hal ini akan memberi dampak yang amat luas bagi pertumbuhan ekonomi dan keamanan energi (energy security) nasional. Pertama, pembangunan PLTN akan memicu pertumbuhan industri terkait yang berkualitas (nuclear quality industry), diantaranya adalah industri baja, industri logam nonferro, industri mesin, industri galangan kapal, industri listrik, industri elektronika sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Industri yang Terkait dengan Pembangunan PLTN.

Tidak mengherankan bila negara yang  ingin memacu industrinya berlomba-lomba untuk membangun PLTN seperti yang dijalankan oleh Korea Selatan, Iran, India, dan China. Perlu dicatat bahwa untuk mengakomodasi 2,5 sampai 3 juta pekerja baru setiap tahun, diperlukan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekurangnya  7% per tahun. Bila kurang dari 7%, maka pertumbuhan ekonomi akan lambat atau kecil dan tidak dapat menyerap penganguran. Sudah barang tentu hal ini akan berdampak kepada kestabilan politik dalam negeri.

Sebagai negara yang berpenduduk relatif besar, yaitu 230 juta pada tahun 2008, maka bila diasumsikan laju pertumbuhan 2% per tahun akan menghasilkan jumlah penduduk sebesar 280,6 juta pada tahun 2020. Jumlah penduduk yang sangat besar tersebut merupakan sasaran empuk sebagai pasar bagi negara-negara industri maju. Misalnya China dan India yang merupakan pemain global baru yang dapat merubah geopolitik di Asia. Dalam abad ke-21 ini, negara-negara berkembang khususnya di Asia harus cepat bertindak meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperkuat kemampuan militer, dan meningkatkan promosi teknologi tinggi. Bila tidak demikian, maka negara berkembang termasuk Indomesia akan digilas oleh negara-negara super power baru, seperti China dan India.

Pada Gambar 3 ditunjukkan diversifikasi energi yang sekaligus memperlihatkan kebijakan energy security dari beberapa negara maju.

Gambar 3. Diversifikasi Energi Beberapa Negara Maju.

Di antara negara-negara tersebut, Jepang, USA, UK, dan Korea menunjukkan diversifikasi energi yang relatif ideal. Namun, data tahun 1999 ini terus bergeser, dimana pembangunan PLTN terus berkembang menggantikan PLTU batubara. Kebijakan energi Amerika terbaru menunjukkan bahwa pembangunan PLTN terus dikembangkan untuk mencapai 393 GWE menjelang tahun 2020. Strategi energi Eropa dalam waktu dekat melakukan efisisensi energi dan dalam jangka panjang mengembangkan ekonomi berbasis hidrogen. Baik USA, Eropa, maupun Jepang bersama-sama mempersiapkan era ekonomi berbasis hidrogen (Hydrogen Economic).

Seperti diketahui, sampai sekarang dunia masih menganut paham ekonomi berbasis hidrokarbon (Hydrocarbon Economic). Bila saatnya tiba, penggunaan hidrokarbon seperti batubara, BBM, dan gas alam akan digantikan oleh sistem energi hidrogen yang dapat menghasilkan listrik tanpa pencemaran gas buang (flue gas). Dalam sistem energi hidrogen, berlangsung reaksi hidrogen-oksigen yang menghasilkan H2O dan energi. Ke depan, hidrogen berperan sebagai energi carrier dalam sel bahan bakar (fuel cell) untuk menghasilkan listrik. Dalam hal ini, hanya diperlukan energi untuk memisahkan hidrogen dan oksigen dari bahan asal air. Ketika itu, air merupakan sumber energi utama untuk menghasilkan energi listrik secara lebih murah. Untuk produksi hidrogen dan oksigen yang paling murah adalah dengan menggunakan panas dari energi nuklir.

Dapat disimpulkan bahwa penguasaan teknologi nuklir khususnya pemahaman PLTN merupakan batu loncatan untuk menguasai energi masa depan yang sekarang sedang dirintis oleh negara-negara maju untuk masuk ke dalam era ekonomi hidrogen. USA mengumumkan program inisiatif bahan bakar hidrogen nasional (National Hydrogen Fuel Initiative). Diperkirakan bahwa 1 pound bahan bakar nuklir (U-235) dapat menghasilkan energi yang mampu memproduksi hidrogen yang setara dengan 250 ribu galon BBM tanpa menimbulkan emisi karbon. Jepang menargetkan 5 juta mobil dengan bahan bakar hidrogen (fuel cell) pada tahun 2020.

Tanpa keraguan pembangunan PLTN di Indonesia merupakan pintu gerbang menuju Indonesia yang maju, makmur, dan berdaulat. Dengan PLTN, Indonesia lengkap memiliki energi primer yang merupakan kekuatan ekonomi dan politik di masa depan. Beberapa kajian akademis menunjukkan bahwa gerakan anti nuklir di Indonesia selalu membawa distorsi informasi.  Gerakan Greenpeace dunia sudah beralih pandangan dan menyatakan bahwa PLTN adalah solusi satu-satunya saat ini untuk pembangkit listrik tanpa emisi karbon dan bahan pencemar lingkungan lainnya.

Kemampuan bangsa Indonesia untuk mengoperasikan PLTN tidak perlu diragukan lagi. Sistem penanganan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh PLTN sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga aman dengan teknik penyimpanan geologi (Geological Disposal) sebagaimana dilakukan USA, Canada, dan Swedia. Teknik daur ulang terlebih dahulu diikuti dengan penyimpanan geologi sebagaimana dilakukan oleh Jepang dan Perancis, atau melakukan penyimpanan sementara di lokasi PLTN. Sampai sekarang PLTN tertua yang beroperasi di dunia sudah berumur 50 tahun dan PLTN tipe Chernobyl sudah dihentikan operasinya dan digantikan dengan tipe PWR dan BWR yang mempunyai standard keamanan reaktor internasional.

Sumber energi fosil yang masih dimiliki Indonesia sebaiknya digunakan sebagai bahan strategis untuk konsumsi dalam negeri maupun sebagai sumber devisa. Semoga kiranya lebih banyak bangsa Indonesia berpikiran maju membangun Republik Indonesia yang dicita-citakan oleh para Pendiri Republik (Founding Fathers).

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 April 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. lukman hakim

    Dari dulu saya pernah berpikir untuk membuat pembangkit listrik tetapi dengan tenaga yang dapat diperbaharui dan dapat bisa menjadi sumber energi masa depan, saya menganmati sepeda yang disisi kanannya terdapat sebuah dinamo, saya tertarik dan ingin mengembangkanya. sampai saat ini saya baru bisa membuat teori yaitu semakin besar arus yang digunakan untuk memutar dinamo listrik, maka semakin cepat putaran rpm dan semakin besar pula daya tariknya (kekuatan) oleh karena itu saya berpendapat bahwa apabila kita menggunakan dinamo listrik untuk memutar generator itu, munkin akan menimbulkan listrik, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah listrik yang dihasilkan lebih besar daripada yang digunakan?. pernah saya melihat di youtube diluar negeri ada yang membuat pembangkit listrik seperti yang saya pikirkan,dan hasilnya lumayan bagus. tetapi menurut saya yang menjadi masalah saat ini adalah berapa lamakah dinamo listrik dapat berputar dengan stabil? maka saya berpendapat untuk mensiasati situasi itu, agar dinamo listrik dapat berputar secara bergantian tanpa menghentikan laju generator yaitu dengan cara mengadu dengan dua ban dengan karet diluarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: