“Pancasila hanya sebagai lip service”

 

 

 

 

 

 

 

 

wawancara

Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., MA

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNPAD

Sekitar awal Juni ini, terkait peringatan Pidato Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 yang melontarkan Pancasila sebagai ideologi bangsa, persoalan ideologi bangsa kembali menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih lagi dengan berkembangnya kekhawatiran terhadap kian rapuhnya nilai-nila Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terkait dengan hal tersebut, Redaksi Tabloid INSPIRASI melakukan wawancara terhadap Dr. Samugyo Ibnu Redjo, Drs., M.A. (Dosen FISIP UNPAD) yang pernah melakukan kajian dan menulis buku tentang Pancasila. Berikut petikannya:

 Sampai hari ini masih terjadi perdebatan mengenai kapan hari lahir Pancasila. Ada yang mengatakan 1 Juni, ada yang menyatakan 18 Agustus.  Sebenarnya, adakah urgensi dan implikasi dari perdebatan tersebut? Apakah ini sebuah kemajuan atau kemunduran?

 Hal itu merupakan suatu kemunduran karena tidak ada urgensi tentang penetapan tanggal dan perilaku. Justru yang diharapkan adalah bagaimana kita berperilaku sebagai seorang pancasilais, yaitu orang yang bisa berempati terhadap orang lain dan bersikap sebagai orang yang memiliki hati nurani dan bisa berbeda pendapat tanpa menimbulkan pertikaian. Pemahaman Pancasila ini harus didasarkan pada penegakan demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kalau kemudian ada elit yang malu ataupun takut dikaitkan dengan pancasila, maka kita perlu mempertanyakan semangat dia dalam berkehidupan berbangsa dan  bernegara yang menjunjung tinggi asas permusyawaratan perwakilan dan menjunjung tinggi asas keadilan sosial serta asas ketuhanan Yang Maha Esa dan kebijakan nasional yang mementingkan kehidupan rakyat banyak daripada segelintir ideologi lain.

Penelitian Litbang Kompas 2008 di atas menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tidak hafal dengan isi Pancasila. Apakah hal itu menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran pemahaman nilai-nilai Pancasila pasca-Reformasi?

 Ya. Karena ideologi Pancasila selama Reformasi ini tidak mengatur kehidupan bernegara yang harus dicontohkan elit bangsa ini; elit bangsa ini cenderung sangat mementingkan ideologi mereka daripada ideologi Pancasila. Di samping itu ada juga sekelompok orang yang berpandangan picik terhadap ideologi Pancasila yang menganggap bahwa ideologi Pancasila itu tidak jelas dan tidak mampu membendung serangan-serangan kapitalisme dan liberalisme. Di sisi lain, harus diakui bahwa serangan kapitalisme dan liberalisme yang menina-bobokan serta sikap hidup hedonisme (menjunjung tinggi asas keduniaan/materi) menyerang dari segala arah. Sementara di ekstrim lain, ada sekelompok orang yang memandang bahwa ideologi lain ataupun agama bisa lebih menghambat penularan ideologi daripada ideologi Pancasila. Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab kenapa muncul terorisme yang mengkedepankan anarkisme dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Sementara diketahui bahwa Pancasila mengedepankan tindakan-tindakan yang santun, berempati, tanpa konflik dalam menyelesaikan masalah.

Di masa lalu, Pancasila sering diejawantahkan dengan nilai-nilai yang bernuansa kultural, seperti: tepo sliro (tenggang rasa), mikul dhuwur-mendem jero (menghormasti sesepuh), jer basuki mowo beo (untuk mulia harus berkorban), dsb. Apa yang bisa Bapak catat dari pengalaman tersebut?

 Nilai-nilai itu merupakan masa lalu sementara saat ini tindakan-tindakan tersebut sudah mulai dilupakan orang, sementara nilai-nilai baru belum lahir, hal ini menyebabkan budaya anomik (tanpa nilai) ada dalam kehidupan bangsa saat ini. Kehidupan demokrasi saat ini diartikan bahwa itu adalah nilai-nilai westernisasi padahal persepsi demikian salah, demokrasi bukanlah westernisasi.

Untuk membangun sistem demokrasi yang baik, tentu dibutuhkan adanya pijakan ideologi yang kuat. Banyak yang menilai, proses reformasi dan demokratisasi yang tengah berjalan lebih dibangun atas dasar kepentingan sesaat (pragmatis), bukan pada pemikiran yang bersifat ideologis. Bagaimana menurut Bapak?

 Ya. Yang kita butuhkan adalah pemetaan masalah bangsa ke depan. Karena, mau tidak mau, Pancasila telah dengan jelas mengatur persoalan-persoalan bangsa yang berkaitan dengan ideologi, dengan demikian diharapkan kita tidak lagi bertikai tentang ideologi negara. Yang penting saat ini adalah bersikap dan bertingkah laku sebagai anak bangsa yang menjunjung tinggi kebhinekaan serta memiliki kebijakan yang mementingkan kehidupan rakyat daripada ideologi lain.

Dengan situasi semacam itu (proses yang kurang ideologis), bagaimana menyelamatkan proses reformasi dan demokratisasi  yang sedang dijalankan sekarang?

 Reformasi kita butuhkan tapi yang diharapkan adalah reformasi itu jelas tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu pelaksanaan reformasi harus didasari oleh sikap yang mengedepankan ideologi negara dengan tidak mengesampingkan adanya ideologi-ideologi lain. Kita tidak akan pernah mampu mempersatukan ideologi-ideologi yang berkembang ke dalam ideologi Pancasila, sehingga untuk itu justru yang diharapkan adalah sikap kita, tingkah laku elit dan kebijakan-kebijakan politik yang sesuai dengan hati nurani rakyat, tanpa itu orang akan lari ke ideologi lain yang lebih bisa mengapresiasi kehendak masyarakat tersebut. Sesungguhnya semangat Pancasila bisa mengapresiasi kehendak-kehendak masyarakat tersebut, tinggal sikap politik elit yang mengedapankan tingkah laku Pancasila. Karena Pancasila bukan untuk diomong-omongkan tetapi untuk diamalkan.

Bagaimana melakukan penguatan ideologi bangsa di tengah pragmatisme yang banyak menghinggapi proses reformasi dan demokratisasi di negara kita? Banyak yang mengatakan bahwa kesadaran ideologis di masyarakat manapun cenderung naik-turun, mengapa demikian?

 Di Eropa dan di negara-negara lain yang tidak berideologi Pancasila, justru mereka yang lebih Pancasilais daripada Indonesia yang berideologi Pancasila. Hal itu disebabkan antara lain oleh sikap hidup masyarakat bangsa tersebut dan perilaku individu yang menghormati individu ataupun kelompok lainnya. Hal itu juga diakibatkan negara yang mementingkan masyarakat banyak. Dari pengalaman tersebut yang perlu dilakukan adalah sikap-sikap hidup berketuhanan Yang Maha Esa dengan kebijakan-kebijakan politik negara yang tidak mementingkan salah satu keyakinan. Negara mengakui dan lebih mementingkan sikap-sikap untuk menghormati kehidupan bangsa ini melalui penerbitan undang-undang ataupun peraturan-peraturan yang tidak membeda-bedakan (tidak tebang pilih), adanya perencanaan yang menyeluruh dari pusat ke daerah dan bersifat mengikat serta kapasitas perwakilan rakyat yang mementingkan kehidupan masyarakat banyak daripada kehidupan pribadi dan kelompok mereka.

Apa saja yang Bapak  pandang menjadi faktor penting yang membuat jalannya kesadaran ideologis (khususnya Pancasila) di Indonesia berjalan fluktuatif?

 Pertama adalah konteks keadilan, pemahaman keadilan itu seharusnya satu tapi pada hal ini pemahaman keadilan itu banyak, terutama pemahaman keadilan bagi elit dan pemahaman keadilan bagi rakyat (orang yang korupsi milyaran cuma dihukum dua tahun sementara maling ayam ataupun maling buah dihukum dua tahun, jadi ada persepsi keadilan yang berbeda antara elit dan rakyat) perbedaan persepsi ini mengakibatkan masyarakat frustasi. Kemudian kalau dilihat kasus seorang jendral polisi, terlepas salah ataupun tidak seyogyanya orang yang dilaporkan terlebih dahulu menjadi tersangka daripada orang yang melaporkan, sementara saat ini orang yang melaporkan tersebut menjadi tersangka dan orang-orang yang dilaporkan tidak diapa-apakan, jangan salahkan kalau kemudian masyarakat bertindak anarkis. Hal itu diakibatkan karena ruang-ruang keadilan telah ditutup. Begitu juga tindakan-tindakan  korupsi yang tidak pernah bisa terselesaikan dengan adil,  hal ini menyebabkan masyarakat frustasi dengan keadaan ini. Yang kedua konteks politik, saat ini yang diamati seakan-akan muncul kartel-kartel politik yang merupakan hasil kongkalikong  antara penguasa dan pengusaha. Diyakini bahwa hal itu akan menguntungkan penguasa melalui kepentingan-kepentingan politiknya dan keuntungan pengusaha melalui kebijakan-kebijakan ekonominya. Untuk ideologi Pancasila bisa berjalan benar, seharusnya para elit bersikap jujur dan transparan serta lebih mementingkan kehendak masyarakat banyak.

Benarkah selama ini kita tergolong bangsa yang lalai menempatkan nilai-nilai  Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa bernegara? Mengapa hal itu terjadi? Apakah  iklim politik yang membuatnya jadi begini?

 Yang saya nilai, iklim politik saat ini yang mengakibatkan kemunduran pengamalan nilai-nilai pancasila. Salah satu hal penting adalah menyelesaikan suatu masalah harus didasarkan pada semangat kapitalisme, segala sesuatunya ditentukan oleh uang. Hal itu tidak didapatkan pada Pancasila karena Pancasila tidak mengajarkan kapitalisme. Pilkada, pemilu ataupun pemilihan presiden didasarkan pada semangat ini, hal inilah yang kemudian menenggelamkan ideologi Pancasila. Berarti konteks politik diselesaikan dengan uang, jauh dari semangat Pancasila yang lebih mengedepankan semangat kerakyatan.

Apakah lunturnya perhatian kita terhadap ideologi ini karena kita menjalankan model demokrasi yang tergolong “liberal” seperti sekarang ini?

 Ideologi Pancasila itu didasarkan selain oleh semangat kerakyatan juga didasarkan oleh semangat liberalisme, tapi liberalisme yang dimaksud bukanlah kebebasan yang sebebas-bebasnya akan tetapi kebebasan yang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Justru yang hilang adalah semangat kebebasan yang dibatasi tersebut dan sikap tidak bisa menerima perbedaan serta semangat hedonisme yang melanda bangsa ini, sementara nasionalisme semakin luntur di kehidupan bernegara. Hal ini menyebabkan elit-elit politik tidak lagi bersandar pada ideologi Pancasila dan Pancasila hanya sebagai lip service, tidak untuk diamalkan melainkan semangat kapitalisme itu yang dijunjung tinggi. Jadi sistem yang ada pada saat ini tidak berhubungan dengan ideologi Pancasila.

Bagaimana solusinya agar ke depan kita menjadi bangsa yang memiliki berkarakter dengan fondasi ideologi Pancasila yang kuat?

 Yang harus dilakukan adalah pembenahan sistem ketatanegaraan kita karena tidak jelas, apakah sistem presidensial ataukah sistem perlementer. Karena pada sistem presidensial berarti presiden tidak perlu mengangkat orang-orang partai untuk menjadi menteri-menterinya sementara kalau dia sistem parlementer dia perlu mengangkat orang-orang partai untuk mengamankan kebijakannya di parlemen. Padahal pengangkatan orang-orang partai ini tidak berakibat banyak pada presiden. Yang kedua, pembenahan sistem hukum nasional, yang maksudnya adalah menjelaskan bahwa persepsi hukum itu satu dan netral. Dengan demikian negara harus memiliki kemampuan menegakkan peraturan-peraturan tanpa pandang bulu. Yang ketiga, adalah melakukan pembenahan sosiologis, administrasi negara dan partai-partai politik, maksudnya adalah persoalan-persoalan korupsi baik yang dipajak maupun korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara dan pejabat-pejabat politik dihukum setinggi-tingginya. Hal ini perlu dilakukan untuk membuat jera para penegak hukum, pejabat-pejabat politik dan pemerintahan.

Secara konkret, nilai-nilai karakter bangsa yang seperti apa yang penting untuk segera dibangun dalam kepribadian bangsa kita? Nilai-nilai kontemporer (global) seperti apa yang dapat kita jadikan sebagai bagian dari kepribadian bangsa Indonesia?

 Yang perlu dibangun adalah semangat empati yaitu semangat untuk mendudukan diri kita pada diri orang lain ataupun semangat mendudukan posisi orang lain pada posisi kita. Dengan demikian kita bisa menghargai dan menghormati orang lain.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 15 Juni 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: