Menegakkan Nilai Pancasila

Oleh : Mohammad Noor Syam

(Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Malang)

 Budaya dan peradaban umat manusia berawal dan berpuncak dengan nilai-nilai filsafat yang dikembangkan dan ditegakkan sebagai sistem ideologi. Nilai filsafat diakui sebagai nilai kebenaran hakiki, karenanya dijadikan filsafat hidup, (Weltanschauung); sekaligus sebagai perwujudan jiwa bangsa (Volksgeist), jatidiri bangsa  dan martabat nasional!.

Integritas sistem filsafat Pancasila sebagai sistem ideologi nasional (ideologi negara) ditegakkan dalam Sistem Kenegaraan Pancasila dengan visi-misi sebagai diamanatkan dalam UUD Proklamasi 45. Karenanya, NKRI dapat dinamakan sebagai Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45.

Menegakkan nilai Pancasila mendasar dan integral menegakkan Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45. Tantangan nasional era reformasi, apakah integritas Sistem Kenegaraan Pancasila melalui amandemen (Perubahan UUD 45 tahap 1-4, sebagai UUD 2002) masih valid dalam integritas sebagai warisan UUD Proklamasi 45.

 Keunggulan Indonesia Raya dan Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45

Bangsa Indonesia bersyukur dan bangga mewarisi keunggulan yang sempurna, baik natural (Sumber Daya Alam/SDA), potensi Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk Sistem Budaya dan Sistem Kenegaraan, terutama:

1.   Negara kesatuan, negara bangsa (nation state, wawasan nasional dan wawasan nusantara: sila III), ditegakkan sebagai NKRI.

2.   Negara berkedaulatan rakyat (= negara demokrasi: asas normatif sila IV).

3.   Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila I-II) sebagai asas moral kebangsaan dan kenegaraan RI; ditegakkan sebagai budaya dan moral (manusia warga negara) dan politik Indonesia.

4.   Negara berdasarkan atas hukum (Rechtsstaat): asas supremasi hukum demi keadilan dan keadilan sosial: oleh semua untuk semua dijiwai (sila I-II-IV-V); sebagai negara hukum Pancasila.

5.   Negara berdasarkan asas kekeluargaan (sila III-IV-V) dijiwai dan dilandasi sila I-II; ditegakkan dalam sistem ekonomi Pancasila (sebagai demokrasi ekonomi dan pemberdayaan rakyat) SDM subyek penegak integritas NKRI.

Keunggulan demikian adalah anugerah Allah Yang Maha Kuasa (Pembukaan UUD 45, alinea 3); yang wajib bangsa dan seluruh rakyat Indonesia syukuri dan tegakkan, sekaligus wariskan seutuhnya demi martabat generasi penerus!

Anugerah (sekaligus amanat) secara filosofis-ideologis dan konstitusional adalah imperatif (mengikat dan memaksa) semua warganegara; lebih-lebih pemimpin dan pemerintah untuk menegakkan dan membudayakannya; tersurat sebagai berikut:

“4.              Pokok pikiran yang keempat yang terkandung dalam “pembukaan” ialah negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.

III.               Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan dalam pasal-pasalnya

Pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan dari Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Pokok-pokok pikiran ini mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum yang tertulis (Undang-Undang Dasar) maupun hukum yang tidak tertulis.

    Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran ini dalam pasal-pasalnya.”

            Marilah kita mawas diri, bagaimana kewajiban menunaikan amanat dimaksud—sedikitnya secara bertahap, meningkat—bukan mengalami degradasi sebagaimana kita saksikan satu dasawarsa terakhir!

Tantangan Nasional: Dinamika Globalisasi-Liberalisasi dan Postmodernisme

            Semua keunggulan nasional adalah potensi dan modal dasar bangsa untuk berkembang sebagai bangsa negara jaya dan bermartabat. Namun, fenomena budaya dan politik, serta ekonomi rakyat—dalam era Reformasi—menimbulkan keprihatinan nasional, mulai budaya demokrasi liberal, ekonomi liberal; sampai degradasi wawasan nasional bahkan juga degradasi mental (dan moral) sebagian pejabat dan komponen bangsa… yang bermuara disintegrasi nasional! Kondisi demikian kita anggap sebagai dampak dari dinamika globalisasi-liberalisasi dan postmodernisme, sebagai politik supremasi ideologi dari ideologi liberalisme-kapitalisme. Analisis demikian bukanlah prasangka politik; melainkan sebagai bukti gerakan neo-imperialisme yang mereka kerahkan sejak 1947 — berakhirnya Perang Dunia II, sebagai pemenang Sekutu kehilangan semua negara jajahannya!

            Amerika Serikat bersama Sekutunya sebagai negara adidaya dengan teknologi supercanggih tampil sebagai pembela demokrasi dan HAM; termasuk pelopor meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi bangsa-bangsa. Mulai bantuan dana melalui IMF dan Bank Dunia; sampai PMA dan multi-national corporation dirasakan sebagai bantuan yang menguntungkan. Sadarkah kita, mengapa BUMN (Pertamina) hanya menguasai SDA migas sekitar 8%; bagaimana pula Freeport di Jayapura dan berbagai badan usaha PMA mengendalikan berbagai SDA nasional NKRI. Sadarkah kita bahwa kita tenggelam dalam cengkeraman neo-imperialisme abad XXI—yang jauh lebih dahsyat daripada kolonialisme-imperialisme abad XVI-XX!

            Mereka mempropagandakan dinamika abad XXI, Dinamika Globalisasi-Liberalisasi dan Postmodernisme yang menggoda dan melanda bangsa-negara berkembang dalam rangka supremasi ideologi dan neo-imperialisme! Propaganda Sekutu yang dipelopori Amerika Serikat sebagai kampiun pengembang demokrasi dan pembela HAM, berbagai komponen bangsa Indonesia tergoda dan terlanda. Kita lupa untuk menyaksikan, bagaimana bukti bahwa Sekutu pelopor menjajah Afghanistan dan Irak; mengancam Korea Utara dan Iran (sebagai polisi dunia); termasuk tragedi kebiadaban negara zionis Israel 31 Mei 2010 terhadap relawan 31 negara yang membawa misi kemanusiaan untuk rakyat Palestina, di Gaza! Dunia beradab menyaksikan apakah Sekutu penegak demokrasi dan HAM; ataukah sekedar propaganda HAMPA!

            Dalam era reformasi kita dipuji sebagai negara demokrasi terbesar (3), setelah India dan AS. Sadarkah kita budaya demokrasi kita sesungguhnya sekedar prosedural; hakekatnya adalah oligarchy, plutocrachy yang bermuara anarchisme. Pelaksanaan demokrasi supermahal, disertai social-cost yang amat mahal dan mengancam integritas nasional. Demikian pula bidang ekonomi nasional yang menjadi ekonomi neo-lib (hayati apa isi PerPres No. 76 & 77 / 2007 tentang PMDN dan PMA yang tertutup dan terbuka, sungguh amat memprihatinkan masa depan ekonomi nasional!).

            Tantangan mendasar elite reformasi bersama Pemerintah Indonesia, termasuk intelektual dan generasi muda terutama untuk menghayati apakah kita semua setia dan bangga dengan Sistem Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 45 dan berbagai keunggulannya. Modal dasar demikian wajib kita laksanakan (tegakkan dan budayakan) untuk diwariskan bagi generasi penerus.

            Hanya dengan demikian kita menunaikan amanat konstitusional dalam Pembukaan UUD 45 seutuhnya, istimewa alinea 3 yang akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan generasi penerus! Tanpa kesadaran demikian, kita telah menerima takdir (nasib) untuk tergoda dan terlanda politik supremasi ideologi dan neo-imperialisme!

            Kita menyaksikan praktek dan budaya demokrasi liberal yang supermahal disertai konflik horizontal; bahkan bermuara anarkhisme dan disintegrasi. Bagaimana sesungguhnya budaya demokrasi dan negara hukum yang diamanatkan UUD Proklamasi 45—yang kita anggap ketinggalan zaman—. Quo Vadis elite reformasi dan elite Pemeritahan NKRI mengemban amanat nilai alinea 3 Pembukaan UUD 45?

            Semoga bangsa Indonesia Raya diberkati dengan hidayah dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa untuk mampu menghadapi tantangan demikian; Amin.

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 15 Juni 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: