Partai Kartel dalam Negara Kartel

Alo Liliweri

Guru Besar Ilmu Komunikasi Budaya Universitas Nusa Cendana

 Dari Kartel Ekonomi ke Kartel Politik

Diskusi tentang “kartelisasi” negara dan politik kini semakin meruak. Negara, pemerintah, dan partai politik seolah mempertontonkan “kerjasama yang komplementer”  dan “simetris” untuk tidak dikatakan “kolusi” antara partai-partai politik dan para wakil mereka di DPR, antara partai-partai politik yang membentuk koalisi dan oposisi dengan dan terhadap pemerintah. Perilaku ini yang dalam budaya komunikasi politik disebut “kartelisasi” di mana kita sedang menghadapi “era baru” negara demokrasi dan system kepartaian yang ditengarai oleh  peranan aparatur negara dan peranan partai-partai politik yang bekerja sama membentuk “negara kartel” dengan dukungan “partai kartel”.

Jika kita berdiskusi tentang “kartel” maka kita tidak sedang diskusi tentang suatu istilah tetapi suatu konsep yang bermula berasal dari ilmu ekonomi. Kartel dapat dipahami sebagai sebuah konsorsium yang dibentuk oleh beberapa perusahaan yang secara bebas dan saling percaya bekerjasama membatasi persaingan sesama perusahaan untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain. Kerjama sama ini antara lain diwujudkan dalam bentuk pengendalian quota produksi dan distribusi (pemasaran) produk barang dan jasa yang mereka hasilkan, termasuk mengontrol harga produk mulai dari rantai produksi sampai ke tangan konsumen. Kini, semua perusahaan pada level local, regional, nasional sampai internasional, jika ingin survive dalam era globalisasi maka satu-satunya jalan adalah membangun jaringan dan kerjasama dalam ekonomi dan bisnis kartel.

John Atkinson Hobson, seorang ekonom Inggris liberal-kiri pernah memperkenalkan konsep kartel-ekonomi modern sebagai tanggapan terhadap situasi ekonomi antara tahun 1902–1938, di saat mana terjadi antagonisme impreliasme. Kata dia, belajar dari pengalaman negara-negara imperialis yang bertahan hidup dan menjadi kuat dan besar karena mereka membantun kerjasama antara sesame negara imperialis dengan objek imperialis mereka, terutama kerjasama ketika menghadapi masa krisis. Selain Atkinson ada pula Karl Kautsky, teoretisi terkemuka demokrasi sosial yang sejak tahun 1912 berpendapat bahwa negara-negara besar  seperti Inggris dan Jerman pernah membentuk kerjasama sebagai “negara kartel” yang tidak saja menyediakan fasilitas bagi Perang Dunia tetapi sampai pada tingkat melakukan rekonsiliasi dalam suatu semangat ultra-imperialisme. Dapat disimpulkan bahwa kartelisasi negara dan pemerintah dapat dibentuk berdasarkan aliansi kepentingan untuk melindungi kapasitas internal dalam menghadapi kepentingan eksternal.

Metodologi Dasar Teori Negara Kartel

Istilah kartel dalam “teori negara kartel” secara sederhana dikenal sebagai aliansi antara para pesaing (alliance of rivals) untuk menghadapi pesaing-pesaing besar dalam Perang Dunia. Makna negara kartel ini semakin dikenal lantaran menggabungkan fungsi politik dan fungsi pemerintahan dalam sebuah “kartel” yang didukung oleh kerjasama (baca : kolusi)  antara negara dengan partai-partai politik dalam suatu negara.

Dalam ranah ilmu politik, teori negara kartel dianggap sebagai “desain teori hibrida”  karena teori-teori kartel merupakan hasil rakitan antara beberapa teori dan pendekatan keilmuan mulai dari pendekatan realisme, neo fungsionalisme dan teori imperialisme ala Marxis, juga eori-teori kartel klasik dalam ilmu ekonomi dll. Hasil akhir pelbagai pendekatan teori kartel negara sangat mirip dengan teori kartel klasik dalam ilmu ekonomi yang kelak diadopsi untuk ke dalam politik kartel dan partai kartel. Jadi, dengan cara dan metodologi apapun teori negara kartel dan partai politik kartel sangat ditentukan oleh faktor-faktor sosial-ekonomi baik sebagai dasar utama dari awal pendekatan teoritis – yang sudah tentu saja tidak sekedar mencegah pengaruh ideologis semata-mata – melainkan dengan cara tersembunyi berhubungan dengan kepentingan kekuatan yang lebih besar yang bakal dihadapi bersama.

Konsep “partai kartel” untuk pertama kali diperkenalkan pada tahun 1992 oleh Peter Mair  dan Richard S. Katz dalam beberapa karya mereka antara lain, dalam “Changing Models of Party Organization and Party Democracy: The Emergence of the Cartel Party”  dan “Party System Change’ Description Party System Change: Approaches and Interpretations. Kata mereka, konsep partai kartel merujuk pada kehadiran partai politik sebagai sarana kerjasama – untuk tidak dikatakan “kolusi” antara pelbagai pihak yang “mengemas” kompetisi dalam bentuk kerjasama. Perdefinisi, partai kartel berawal dari partai-partai yang memiliki politisi maju dan demokratis yang dicirikan oleh penetrasi peran partai ke dalam negara dalam sebuah pola kolusi antara partai dengan penyelenggara negara (pemerintah). Dalam perkembangannya partai kartel semacam ini membuat tujuan politik menjadi self-referensial, profesional dan teknokratik, dan persaingan antara partai menjadi lebih kecil sehingga mendorong partai kartel tetap fokus pada manajemen yang efisien dan efektif untuk bekerjasama atau sebaliknya menjadi oposisi pemerintah.

Katz & Mair (1995)  menjelaskan bahwa sejak tahun 1960-an telah terjadi konseptualisasi tiga jenis kartel sebagai perubahan dalam ranah politik, yaitu; (1) perubahan peran politik, fungsi perwakilan versus fungsi pemerintah; (2) perubahan kompetisi partai, kartelisasi versus eksklusi; dan (3) perubahan struktur organisasi, parlamentarisasi versus stratarchy (strata dan hirarki) Pertama, perubahan peran politik, fungsi perwakilan versus fungsi pemerintah. Partai kartel umumnya dibentuk sebagai tanggapan partai politik terhadap posisi mereka yang terletak antara lingkungan masyarakat dan negara. Model ini mendalilkan bahwa partai-partai semakin kehilangan kapasitas dan keinginan mereka untuk memenuhi fungsi-fungsi legilasi seperti fungsi (artikulasi, agregasi, perumusan tujuan dan mobilisasi politik).

Situasi ini mendorong orang-orang partai di legislatif tampil sebagai “pahlawan” yang sangat menentukan setiap kebijakan dan keputusan pemerintah. Akibatnya adalah para anggota partai semakin peduli terhadap tuntutan pemerintah di legislatif (yang kelak membuat mereka menjadi makin professional) namun sebaliknya makin berkurang kemampuannya untuk menafsirkan kebijakan-kebijakan partai mereka sendiri. Dominasi eksklusif yang semakin dekat antara legislatif dan pemerintah memungkinkan partai dengan mudah mendapatkan sumber daya baru dari pemerintah bagi pembiayaan organisasi partai. Dampak dari partai kartel semacam ini antara lain melemahnya keterlibatan anggota partai dengan partainya sendiri serta pelbagai kelompok kepentingan yang terkait dalam kegiatan partai.

Kedua, perubahan kompetisi partai, kartelisasi versus eksklusi. Politik kartel & partai kartel ini terbentuk di antara partai-partai politik yang bersaing untuk saling berbagi kebutuhan terhadap aliran sumber daya negara yang sudah tentu pada gilirannya akan mengubah hubungan antara partai politik dengan lawan-lawan politik. Pembentukan partai kartel ini dimungkinkan oleh interaksi profesional  di antara para politisi partai yang terjadi setiap hari di lembaga legislatif. Para aktor partai menyadari bahwa persaingan antara partai menjadi tidak bermanfaat karena ada kepentingan umum di antara kelas “politik”  sehingga mereka harus meletakkan dasar kerjasama bagi tindakan kolektif (von Beyme 1996; Borchert 2001). Proses pembentukan partai kartel ini memiliki dua sisi, di mana kartelisasi ini bertujuan untuk mengurangi konsekuensi dari persaingan Pemilu dan di pihak lain dapat mendirikan oposisi untuk mengontrol pemerintah.

Ketiga, perubahan struktur organisasi, parlamentarisasi versus stratarchy (strata dan hirarki). Partai partel tipe ini mengubah dimensi organisasi demi perimbangan kekuasaan dalam partai misalnya dalam hal mekanisme pengambilan keputusan internal partai yang sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu; (1) struktur dan hirarki; dan (2) material sumber daya negara. Partai-partai kartel ini umumnya berupaya untuk memperkuat partai sebagai “kantor publik”  yang berperan sebagai kantor yang mempunyai akses langsung terhadap keputusan politik di legislatif maupun pemerintah serta akses ke media massa sebagai wacana yang menghubungkan partai dengan ruang public. Dalam kerja ini, partai-partai mencoba membentuk strata dan hirarki partai berdasarkan kepentingan antara legislatif dan pemerintah sesuai dengan tingkatan wilayah pemerintahan. Para anggota legislatif nasional yang juga adalah elit partai mencoba untuk membebaskan diri dari tuntutan pemimpin partai regional dan lokal sejauh politik dan pertanyaan strategis pada tingkat nasional yang bersangkutan.

 Perubahan yang Sedang Kita Alami

Bertambahnya jumlah partai dari beberapa Pemilu di “Orde Reformasi” ini menarik perhatian. Ibarat pepatah “patah tumbuh hilang berganti” maka partai-partai pememang Pemilu legislatif yang memenuhi electoral threshold  (ET) melaju ke Pemilu berikut sedangkan yang tidak memenuhi ET sudah pasti tidak mengikuti Pemilu berikutnya.

Ada beberapa gejala perilaku partai politik yang menggambarkan kartelisasi partai politik; pertama, terbentuknya struktur legislatif yang dikuasai oleh, (1) partai mayoritas, (2) koalisi antara partai-partai minoritas dengan mayoritas, (3) koalisi antara partai-partai minoritas; yang keluarannya dalam bentuk koalisi partai pendukung pemerintah dan koalisi partai oposisi pemerintah. Kedua, partai-partai pemenang yang melebihi ET mempertahankan status quo tetap berdalih mempertahankan ET yang ada atau menaikkan ET. Hal ini bertujuan untuk membatasi jumlah partai baru yang akan masuk pada Pemilu berikut.

Ketiga, para politisi dari “partai-partai yang keguguran” dalam Pemilu sebelumnya mendirikan partai-partai baru; sekurang-kurangnya melalui modus; (1) ketika faksi-faksi dari suatu partai politik mengalami kekalahan merebut kursi ketua partai pada kongres, muktamar, musyawarah atau apapun namanya di fora nasional, (2) mendirikan partai-partai dengan nama baru sama sekali atau menambah “embel-embel” lain di belakang nama dari partai “induk” sebelumnya, dan (3) mendirikan partai baru dengan menggabungkan beberapa partai non sheet atau yang rendah ET pada Pemilu sebelumnya. Keempat, “politik kartel” juga menerabas memasuki ranah peran pemerintah di mana pada tingkat pusat partai atau koalisi partai yang mendukung Pilpres akan “menitipkan” kader partainya untuk menduduki jabatan menteri, dan pada tingkat daerah menitipkan “kader PNS” nya dalam lembaga pemerintahan di daerah.

Perilaku politik yang dibentuk oleh politik kartel yang bersumber dari partai kartel semacam ini cepat atau lambat sangat mempengaruhi budaya politik kita di masa depan. Di satu pihak dari segi demokrasi dapat menjadikan lembaga legislatif sebagai “competitor” pemerintah melalui memperkuat posisi tawar legislatif terhadap pemerintah namun di sini pula membuat kinerja pemerintah semakin melemah dan bahkan tak berdaya karena semua kebijakan yang diambil demi kepentingan rakyat “disetir” oleh pelbagai kepentingan politik dalam koalisi kartel tersebut.

Situasi ini dikuatkan oleh teorisasi kartel negara bahwa dengan cara dan metodologi apapun teori negara kartel dan partai politik kartel, kini dan masa depan, sangat ditentukan oleh faktor-faktor sosial-ekonomi baik sebagai dasar utama dari bangunan kerjasama di antara partai politik maupun antara partai politik dengan pemerintah. Pelbagai kasus yang telah kita hadapi dan yang telah dibuka ruang public cukup dijadikan sebagai bukti untuk menunjukkan betapa politik kartel telah mempengaruhi dan bahkan secara bertahap membentuk negara kartel. Tengoklah kasus Bank Century dan terbentuknya Setgab koalisi di satu pihak dan perjuangan untuk mendapatkan “dana aspirasi”, dan yang terakhir ini tidak saja terjadi tingkat pusat tetapi juga kini marak di pelbagai daerah.

Copy-paste yang sama dari politik kartel dari partai kartel merebak pula melalui perilaku partai politik dan polisiti di daerah ketika menghadapi Pilkada. Bukan rahasia umum jika dalam kesempatan ini partai-partai yang mempunyai kursi di lembaga legislatif atau bahkan yang tidak mempunyai kursi melakukan “tender” terhadap para bakal calon kepala daerah untuk mendapatkan quota 15% sebagai kelayakan terhadap keikutsertaan dalam Pemilu Pilkada. Di sini, perilaku partai politik dan para politisi tidak lagi etika dan norma politik karena telah “mengubah” partai politik menjadi “perusahaan politik” yang mendapatkan pemasokan sumber daya bagi partai maupun bagi pribadi dalam jangka waktu periode suatu Pilkada. Karena di pelbagai daerah, para bakal calon tidak pernah menganggap remeh partai-partai yang memiliki jumlah kursi di bawah 15% di lembaga legislatif, bahkan harus mempertingkan pula partai-partai yang non sheet.  Diketahui bahwa peranan mereka dalam politik kartel sangat ditentukan di saat-saat injuri time ketika KPUD akan menutup pendaftaran calon kepala daerah.

Karena itu di masa depan, sekurang-kurangnya ada beberapa hal yang harus ditinjau kembali untuk mengendalikan merebaknya politik kartel dan partai kartel. Perlu ada perumusan kembali dan kesepahaman bersama tentang UU Pemilu, dan jika dibutuhkan pemisahan antara UU Pemilu Pilpres dan UU Pemilu Kada. Karena yang pertama erat kaitannya dengan UU Pemerintah Pusat dan kedua erat kaitannya dengan UU Pemerintah Daerah. Perumusan kembali dan kesepahaman bersama ini berkaitan dengan pengaturan seperti angka ET bagi persyaratan kepesertaan dalam Pemilu, membatasi jumlah partai politik yang tidak boleh tidak diserahkan kepada seleksi alamiah, prosedur penghitungan suara dalam Pemilu, tata cara penggabungan suara (stembuss accord), bagaimana cara membentuk koalisi pendukung dan koalisi oposisi pra dan pasca Pemilu, sekaligus bagaimana mencegah konflik dan perpecahan dalam warga masyarakat paska Pilkada.

Memang masih banyak hal yang perlu kita diskusikan untuk merumuskan semua upaya demi mencegah merebaknya politik kartel yang makin kuat menyumbang terbentuknya negara kartel, namun semuanya sangat tergantung dari jawaban terhadap hipotesis ini; jika kita pandang bahwa semua produk hukum dan perundang-undangan yang ada sudah cukup mencegah terjadinya politik kartel dan partai kartel maka semuanya berpulang pada etika para pelaku politik untuk menjalankannya. Tetapi jika semua produk hukum dan perundang-undangan yang ada tidak cukup memadai untuk mencegah gejolak yang terjadi maka kita perlu perubahan ke masa depan yang lebih baik melalui perubahan hukum yang lebih konstruktif.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 Juli 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: