PERAN ORGANISASI MAHASISWA DALAM PARTAI POLITIK DI INDONESIA

Oleh : Rendra Falentino

(Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia)

Sejarah mencatat bahwa pergerakan kebangsaan menuju Indonesia merdeka tidak dapat dilepaskan dari peran partai politik. Tidak dapat pula dipungkiri bahwa masyarakat, khususnya mahasiswa dan pemuda, memiliki peran yang sangat dominan dalam mendirikan partai politik yang revolusioner guna merebut kemerdekaan Indonesia.

Pendirian partai politik di Indonesia pra kemerdekaan, memiliki sejarah yang berbeda dengan pendirian partai politik di Eropa Barat pada abad ke-18. Perbedaan sejarah inilah yang membuat partai politik di Indonesia, memiliki karakter yang berbeda dengan partai politik di Eropa Barat. Karakter kebangsaan yang kuat didukung dengan pergerakan revolusioner kelompok muda, merupakan ciri tersendiri dari partai politik di Indonesia pada saat itu.

 

Sejarah Pendirian Partai Politik

Pada mulanya partai politik di Eropa Barat didirikan oleh kelompok-kelompok politik didalam parlemen dalam rangka memperjuangkan kepentingannya. Namun seiring dengan perkembangan sistem politik pada saat itu, dimana hak pilih diberikan kepada masyarakat, maka pada abad ke-19 kelompok-kelompok politik didalam parlemen mendirikan partai politik diluar parlemen, dengan tujuan mengumpulkan suara masyarakat yang menjadi pendukungnya. Partai-partai ini tidak memiliki ideologi, tidak memiliki program politik yang jelas, dan hanya bekerja secara aktif menjelang pemilihan umum dengan target memperoleh suara sebanyak-banyaknya. Partai politik dengan karakter demikian dikenal sebagai ‘partai massa’.

Namun pada perkembangan berikutnya, muncul partai politik yang didirikan oleh masyarakat dengan karakter yang berbeda. Partai-partai ini memiliki ideologi, doktrin, program politik yang jelas, selektif dalam rekruitmen, dan melakukan pendidikan kader. Partai politik dengan karakter demikian dikenal sebagai ‘partai kader’.

Sementara di Indonesia, George Mc Turnan Kahin dalam bukunya yang berjudul “Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia” menyatakan bahwa partai politik pertama kali didirikan pada tahun 1912. Partai yang diberi nama Nationale Indische Partij (NIP) tersebut beranggotakan pribumi dan orang Indonesia keturunan. Pemimpin NIP adalah tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan, seperti Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara dan seorang Indonesia keturunan bernama Douwes Dekker. Karena dianggap membahayakan pemertintah Hindia Belanda, akhirnya tokoh-tokoh tersebut dipenjarakan dan NIP dibubarkan.

Partai politik berikutnya yang didirikan adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), pada tahun 1920. Partai ini didirikan oleh tokoh-tokoh Sarekat Islam (SI) yang terinfiltrasi oleh Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), organisasi beraliran marxisme yang didirikan oleh kaum sosialis Belanda. Seperti NIP, PKI juga dipimpin oleh tokoh-tokoh pergerakan yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, diantaranya adalah Semaoen dan Tan Malaka. Partai ini kemudian berupaya melakukan revolusi terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1926. Namun upaya PKI tersebut gagal. Kegagalan pemberontakan ini membuat para pemimpin PKI kemudian ditahan dan dibuang dari Indonesia.

Selanjutnya, yang penting dalam sejarah pergerakan kebangsaan untuk merebut kemerdekaan Indonesia adalah didirikannya Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai politik ini didirikan oleh pemuda-pemuda Indonesia yang baru menyelesaikan studinya. Mereka adalah anggota-anggota dari Algemene Studie Club (ASC) dan Perhimpunan  Indonesia (PI). ASC merupakan sebuah kelompok studi mahasiswa di Bandung, sementara PI merupakan sebuah organisasi yang didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di negara Belanda. PNI menjadi partai politik nasionalis terkuat di Indonesia dan secara terang-terangan menyatakan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Salah satu tokoh PNI yang sangat gigih dalam melakukan perlawanan dan akirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia adalah Ir. Soekarno.

 

Perbedaan Karakter

Melihat fakta-fakta sejarah tersebut, jelas ada perbedaan karakter antara partai politik yang didirikan di Eropa Barat dengan partai politik yang didirikan di Indonesia pra kemerdekaan.

Partai politik di Eropa Barat merupakan ‘partai massa’ yang didirikan oleh penguasa dan hanya dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Masyarakat dijadikan sebagai anggota pasif yang hanya dibutuhkan suaranya pada saat pemilihan umum, bukan sebagai kader yang terlibat aktif dalam perjuangan partai.

Sedangkan di Indonesia pada era pra kemerdekaan, partai politik merupakan ‘partai kader’ yang didirikan oleh anggota-anggota organisasi masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa. Partai dijadikan sebagai alat perjuangan untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, dengan cita-cita merebut kemerdekaan. Sementara masyarakat dilibatkan secara aktif sebagai kader partai yang turut serta dalam perjuangan partai.

 

Peran Organisasi Mahasiswa

Sebagai partai yang didirikan oleh elemen masyarakat, maka peran organisasi masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa, dalam pendirian partai politik di Indonesia pada era pra kemerdekaan sangatlah besar. Tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan yang menjadi pendiri dari partai-partai tersebut, adalah orang-orang muda yang sebelumnya merupakan anggota dari organisasi masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa. Sulit rasanya membayangkan akan terbentuk  partai-partai kader yang revolusioner, seperti PNI dan PKI, tanpa adanya organisasi seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, maupun Algemene Studie Club sebelumnya.

Organisasi Mahasiswa merupakan wadah berkumpul, mengembangkan diri, dan berjuang bagi mahasiswa. Seperti namanya, organisasi mahasiswa, maka organisasi ini bersifat eksklusif, karena membatasi keanggotaan hanya untuk mahasiswa, namun wilayah perjuangan organisasi ini bersifat inklusif. Di dalam organisasi ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai organisasi beserta ideologi dan doktrinnya, tetapi juga berjuang untuk mewujudkan cita-cita ideologi organisasi. Anggota organisasi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi, sebagian diantaranya memilih untuk melanjutkan perjuangannya bersama masyarakat dalam organisasi yang lebih besar seperti partai politik, untuk mengkonsolidasikan kekuatan yang lebih besar lagi dalam rangka mewujudkan cita-cita perjuangannya.

Tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan, seperti Soekarno dan yang lainnya merupakan anggota organisasi mahasiswa yang memiliki cita-cita Indonesia merdeka, dan setelah menyelesaikan studinya memilih untuk mendirikan partai politik sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Ternyata tokoh-tokoh tersebut berhasil mendirikan partai-partai kader yang revolusioner, dan berhasil merebut kemerdekaan Indonesia.

 

Partai Politik Sekarang

Seiring perjalanan waktu, karakter partai politik di Indonesia mengalami pergeseran. Karakter partai politik sekarang, telah jauh berbeda dengan partai politik yang didirikan pada era pra kemerdekaan. Dengan sistem politik yang sangat liberal, Partai politik sekarang justru cenderung memiliki karakter yang sama dengan partai politik pada mula didirikan di Eropa Barat.

Hampir semua partai di Indonesia sekarang telah berubah bentuk dari ‘partai kader’ yang revolusioner menjadi ‘partai massa’. Partai didirikan oleh penguasa dan hanya dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan, bahkan meraih kekuasaan yang lebih besar lagi dengan melakukan penindasan terhadap bangsa sendiri. Ideologi partai hanya menjadi jargon semata, tidak memiliki doktrin dan tidak memiliki program politik yang jelas. Masyarakat bukan sebagai kader yang turut aktif dalam perjuangan politik partai, melainkan hanya dibutuhkan suaranya pada saat pemilihan umum.

Namun kondisi tersebut tidak sepatutnya dipertahankan. Jika karakter partai politik di Indonesia tidak dikembalikan seperti pada era pra kemerdekaan, maka kehancuran bangsa hanya tinggal menunggu waktu saja. Untuk merubah kondisi ini, organisasi mahasiswa dituntut lebih memperbesar lagi perannya. Anggota-anggota organisasi mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya dan melanjutkan perjuangannya melalui partai politik semestinya dapat berperan lebih baik lagi, agar partai politik dapat terus melanjutkan revolusi Indonesia untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 Juli 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: