Wawancara Deddy T. Tikson, Ph.D

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saya tidak melihat parpol punya ideologi…”

 Maraknya partai politik (parpol) yang mengikuti Pemilu sejak masa reformasi memang menjadi fenomena menarik. Di satu sisi, ini merupakan buah pembangunan demokrasi Indonesia sekaligus menunjukkan meningkatnya partisipasi publik dalam kehidupan politik. Namun di sisi lain, banyaknya jumlah parpol juga cukup membingungkan masyarakat pemilih dan menghasilkan kompleksitas baru dalam sistem politik Indonesia. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah masalah ketidakjelasan atau kesenjangan ideologi parpol dengan program dan perilaku politik mereka. Untuk mengulas hal tersebut, Redaksi Tabloid INSPIRASI melakukan wawancara dengan Deddy T. Tikson, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin, Makassar. Berikut petikannya:

 Apa sebenarnya urgensi ideologi dalam parpol?

 Ideologi dalam parpol menjadi penting ketika ideologi parpol dipahami sebagai sekumpulan pemikiran, ide, konsep, gagasan dan visi tentang proses pencapaian tujuan-tujuan negara sebagaimana tersurat dalam UUD 1945. Ideologi ini dapat digunakan sebagai dasar pemikiran yang berbeda di antara seluruh partai ketika masuk ke dalam arena pertarungan perebutan kekuasaan politik, seperti pimpinan eksekutif dan anggota legislatif, baik di pusat maupuan di daerah.  Sejak awal kemerdekaan, di Indonesia terdapat tiga ideologi partai yang dominan, yaitu  Nasionalisme, Islam, dan Sosialisme/Komunisme. Setelah Komunisme dilarang dan PKI dibubarkan pada masa Orde Baru, maka ideologi yang masih ada pada awalnya adalah Nasionalisme dan Islam.

 Bagaimana dengan ketentuan UU yang mengharuskan parpol berasas Pancasila?

 Apabila nasionalisme dipahami sebagai paham yang mengajarkan tentang kepentingan nasional (bangsa dan Negara) adalah di atas segala kepentingan lainnya, maka ideologi ini hendaknya menjadi ideologi dasar untuk semua parpol. Artinya, mereka semua hanya berjuang untuk kepentingan bangsa dan Negara. Dengan demikian, semua partai harus menganut ideologi nasionalisme dengan kuat dan konsisten, sehingga semua partai menjadi nasionalis. Nasionalisme harus mejadi fondasi berfikir dan bertindak semua warga negara, baik yang berada di dalam maupun luar parpol. Di dalam nasionalisme itulah terkandung nilai-nilai Pancasila yang tidak bisa ditolak oleh seluruh partai politik dan unsur bangsa ini, karena telah diakui keberadaaannya dalam pembukaan UUD 1945. Dalam konteks ini, ideologi partai menjadi sangat penting dan semua parpol harus menjadi nasonalis karena harus memperjuangkan dan mencapai cita cita perjuangan bangsa sesuai UUD 1945.

 Lalu, bagaimana membedakan ideologi antar parpol jika semua memiliki basis ideologi yang sama?

 Parpol perlu menganut salah satu ideologi kerja atau pendukung yang dapat digunakan untuk  mengarahkan dan merumuskan visi, kebijakan dan program-program parpol dalam pencapaian tujuan nasional di atas. Dengan kata lain, ideologi ini merupakan prinsip-prinsip tentang cara-cara pencapaan tujuan nasional, dimana setiap parpol bisa berbeda. Dalam berideologi, parpol bisa mengadopsi salah satu ideologi dari luar misalnya kapitalisme liberal seperti Amerika, sosialisme demokrat seperti Swedia, atau kapitalisme Cina. Ideologi lain yang juga bisa dipilih adalah agama (baik Islam maupun non-Islam). Kesekian ideologi ini perlu dianut oleh parpol agar mereka memiliki arah dan visi yang jelas tentang kebijakan-kebijakan nasional untuk mencapai tujuan-tujuan negara yang akan dirumuskan oleh mereka.     

 Jika sangat penting, mengapa saat ini masih banyak parpol yang tidak tegas dalam menetapkan ideologinya? Apakah hal ini karena terlalu banyak parpol yang ikut Pemilu?

 Menurut pendapat saya, parpol sekarang bukan tidak tegas memilh ideologi mereka, tetapi mereka tidak tahu ideologi politik yang bisa mereka pilih, atau pada mazhab ideologi mana mereka berada. Ini terjadi mungkin sebagai akibat dari ketidakmampuan mereka merumuskan kebijakan-kebijakan publik yang cocok untuk mencapai cita-cita pembangunan nasional (kalau masih ada). Misalnya, mereka banyak membicarakan tentang neo-liberlisme menjelang dan pada saat kampanye pemilihan presiden yang lalu. Namun, tampaknya mereka belum memahami secara tepat arti dan makna konsep itu pada tataran operasional kebijakan publik. Partai-partai yang diidentifikasi menganut ideologi Islam juga tidak mampu menggali prinsip-prinsip keIslaman dalam perumusan kebijakan-kebijakan publik. Dengan demikian, semua parpol tidak bisa dibedakan menurut ideologi yang mereka anut, paling mereka semua bisa masuk dalam kategori pragmatisme-materialisme. Banyaknya partai sebetulnya tidak perlu mengaburkan identitas ideologi parpol, karena ideologi hanya digunakan sebagai prinsip dasar cara berfikir dalam perumusan kebijkan publik dan program-program pembangunan nasional. Parpol Islam, misalnya, bisa mengajukan konsep kebijakan ekonomi untuk mengurangi angka kemiskinan dengan berbagai cara; apakah dengan melalui komunalisme atau kapitalisme. Banyak hal bisa dibicarakan dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan ini.

 Bisakah Bapak memberi contoh bagaimana idealnya sebuah ideologi akan menjadi basis perjuangan parpol, termasuk misalnya ketika menyusun program dan berkoalisi?

 Jawaban untuk pertanyaan ini sudah saya sampaikan tadi di awal. Pada dasarnya kebijakan publik yang dirumuskan oleh setiap partai harus menganut ideologi yang jelas. Misalnya, UUD 1945 merumuskan sistem ekonomi dimana kekayaan alam yang terkandung dalam bumi Indonesia dikuasai oleh Negara dan dimanfaatkan sebesar-sebesarnya untuk kesejahteraan rakyat. Rumusan ini mirip dengan bentuk ekonomi sosialis-etatisme dimana peranan negara dalam kesejahteraan rakyat sangat besar. Perjuangan parpol adalah diawali dengan merumuskan kebijakan dan program ekonomi yang sesuai dengan amanat UUD 1945 ini. Kalau koalisi menjadi penting dan menjadi kebiasaan dalam perpolitikan di Indonesia, maka yang berkoalisi itu seharusnya parpol yang berada dalam ideologi yang sama.

 Seringkali ideologi parpol hanya jadi “jualan” saat kampanye tetapi setelah berkuasa banyak yang tidak sejalan dengan ideologinya. Apa tanggapan Bapak?

 Ya itulah.. seperti yang saya sampaikan tadi, saya tidak melihat parpol punya ideologi, meskipun dalam kampanye mereka. Bahkan ideologi nasionalisme pun kelihatan sangat tipis. Setelah mereka berkuasapun tetap tidak punya ideologi.

 Setelah Pemilu 1999, terlihat kecenderungan semakin banyak parpol yang mengarahkan ideologinya ke “tengah”. Hal ini didorong oleh kekalahan partai-partai yang tegas-tegas berideologi “kanan” atau “kiri” (partai-partai berbasis agama dan sosialis) dalam Pemilu 1999. Benarkah memang terjadi demikian?

 Menurut saya, kekalahan partai-partai itu tidak ada atau kecil hubungannya dengan arah kiri atau kanan. Mereka tidak platform politik yang jelas. Mereka tidak mampu menawarkan konsep-konsep kebijakan yang akurat dan dipahami rakyat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Sekali lagi, parpol berbasis agama atau sosialis tidak mampu mengoperasionalkan ideologi mereka dalam bentuk kebijakan publik. Mungkin mereka tidak memahami apa sesungguhnya implikasi kebijakan dari kedua ideologi tersebut.

  Apakah hal itu menunjukkan bahwa masyarakat pemilih—dalam konteks politik Indonesia—masih trauma terhadap jargon-jargon politik yang ideologis?

 Kalau boleh dan benar ada trauma, hanyalah terhadap Partai Komunis Indonesia. Sedangkan terhadap parpol lainnya saya pikir tidak ada. Kekalahan Golkar dalam pemilu masa reformasi bukan karena ideologinya, tetapi karena citranya dianggap sebagai bagian dari alat kekuasaan Presiden Suharto.

 Nasionalisme adalah ideologi yang banyak diusung parpol. Apakah nasionalisme ini populer karena dianggap sebagai ideologi “tengah”?

 Seperti yang telah saya sampaikan tadi, ideologi nasionalisme adalah wajib dianut oleh semua parpol. Dia menjadi popular karena tidak lelah/capek mempelajarinya kalau hanya sekedar kulit-kulitnya saja. Apakah dengan demikian mereka menjadi nasionalis sejati? Sebagai contoh, Partai Komunis Cina sangat nasionalis, Partai Demokrat dan Republik di Amerika Serikat juga sangat nasioalis.

 Apakah maraknya pragmatisme dan kartelisasi politik di Indonesia seperti sekarang ini terkait dengan pudarnya warna ideologis dalam tubuh parpol?

 Mungkin istilah memudar tidak terlalu tepat juga. Warna  dikatakan memudar apabila warna itu pernah kita dengan jelas, apakah merah, putih, hijau dan sebagainya. Tetapi dalam konteks politik Indonesia, warna parpol itu tidak tampak dengan jelas. Pragmatisme justru merupakan warna asli mereka.

 Mengapa masyarakat cenderung lebih melihat figur daripada ideologi dalam memilih parpol? Atau, kalau pertanyaannya dibalik, mengapa parpol lebih cenderung “menjual” figur daripada ideologi?

 Yang lebih enak dijawab pertanyaan yang kedua. Lebih cenderung menjual figur karena lebih gampang mencarinya, baik fugur politik sendiri, tokoh masyarakat, bahkan artis atau aktor. Sedangkan ideologi, boro-boro mereka bisa jual, punya pun tidak!! Mempelajari dan merumuskan ideologi parpol jauh lebih sulit dari mencari figur. Mungkin kapasitas orang parpol belum sampai untuk bisa mempelajari dan memahami ideologi yang bisa diadopsi oleh parpol. 

 Mengapa masyarakat jarang melihat ideologi parpol sebagai dasar pilihan mereka dalam Pemilu? Apakah ini terkait dengan tingkat pendidikan dan pemahaman politik masyarakat yang masih rendah?

 Pertama, mungkin ideologi itu tidak telihat oleh masyarakat. Kedua, kalaupun dia terlihat, apakah akan dipahami oleh masyarakat pemilih? Perlu dipahami bahwa yang dijual selama kampanye itu adalah kebijakan dan program partai untuk memecahkan masalah bangsa, bukan ideologi. Operasionalisasi ideologilah yang disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk kebijakan dan program. Seperti yang saya sudah singgung di atas, kalau menganut ideologi sosialisme maka peranan negara dalam pengendalian ekonomi menjadi besar, sebaliknya dalam kapitalisme liberal peranan negara menjadi kecil.

 Bukankah dengan tidak jelasnya ideologi parpol akan merugikan masyarakat, dan sebaliknya, malah lebih menguntungkan elit parpol? Sebab, para elit politik akan lebih leluasa melakukan “manuver” politik untuk kepentingan jangka pendek mereka?

 Ketika ideologi tidak jelas, maka kebijakan dan program pun menjadi kabur. Tentu rakyat dirugikan karena tidak ada visi, kebijakan, dan program jang jelas. Rakyat tidak bisa melihat Negara dan bangsa ini mau dibawa ke mana oleh parpol. Situasi ini menguntungkan dan memudahkan elit parpol, sebab tidak perlu berpikir dan bekerja terlalu keras untuk memperoleh hasil jangka pendek. Pragmatisme telah mendominasi kehidupan parpol.

 Langkah apa yang perlu dilakukan agar masyarakat dan elit politik memahami pentingnya ideologi parpol sebagai panduan dalam kebijakan yang akan diambil untuk menyejahterakan rakyat?

 Pertanyaan ini sulit saya jawab, karena harus ada kehendak politik yang kuat dari para elit agar situasi sekarang bisa berubah. Perubahan harus melalui keputusan politik yang ditetapkan oleh badan legislative dimana elit politik di dalamnya tidak memiliki kapasitas untuk memahami pentingnya ideologi parpol sebagai panduan kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Mereka memiliki kapasitas yang besar untuk mesejahterakan diri masing-masing dan kelompoknya. 

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 16 Juli 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: