Wawancara Prof. Dr. La Pona, M.Si

“Pedesaan Harus Lebih Diperhatikan Pemerintah” 

  1. Apa yang menjadi ukuran (kriteria), suatu wilayah dikategorikan sebagai “desa” atau “kota”?

 Kriteria “desa” (disebut “kampung” di Papua)  adalah suatu daerah yang merupakan tempat kediaman penduduk yang bersifat agraris yang sebagian atau sepenuhnya terisolir dari kota. Pola kediaman penduduk di desa mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, dalam hal ini topografi, iklim dan tanah.  Keluarga di desa-desa merupakan  suatu unit sosial dan kerja, struktur ekonominya dominan agraris, masyarakat desa merupakan suatu paguyuban dan hidup berdasar ikatan kekeluargaan,  proses sosial berjalan lambat, kontrol sosial ditentukan oleh moral dan hukum2 yang informil,  perumahan masyarakat hampir semua rumah tradisional kecuali kantor dan rumah dinas pegawai negeri, masih ada masyarakat hidup dari meramu dan merambah hasil hutan,  masyarakat desa di Papua misalnya masih banyak hidup pada jaman batu,  umumnya masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan struktural dan absolut. Sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, dan  pengembangan ekonomi rakyat masih terbatas. Walaupun demikian banyak dari anak-anak yang lahir dari keluarga sederhana ini sejak dulu sampai sekarang malah telah banyak yang menjadi orang penting di negara ini. 

  

Dalam pendekatan geografis “kota” adalah perujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politis, dan kultural yang terdapat insitu. Dalam pemahaman yang luas kota merupakan suatu perujudan geografis yang ditimbulkan unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politis dan kulturil yang terdapat insitu dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain. Mata pencaharian penduduk dominan non pertanian.  Kehidupan Masyarakat kota umumnya bersifat individualistik di mana nilai-nilai dan norma kehidupan berbeda dengan masyarakat desa yang bersifat sosial. Nilai-nilai tradisonal umumnya mulai menghilang diganti dengan nilai-nilai budaya baru yang dinilai “baik”. Orientasi ekonomi dalam kehidupan masyarakat sangat dominan. Sistem kehidupan masyarakat lebih kompleks dan beragam dibanding kehidupan masyarakat desa. 

   

  1. Mengapa persoalan pembangunan di pedesaan perlu mendapat perhatian?

  

Karena disanalah sebagian besar penduduk bangsa ini berada. Di desalah sesungguhnya berada kebodohan anak bangsa dan kemiskinan struktural dan absolut masyarakat Indonesia. Keberhasilan pembangunan nasional tidak dapat diukur melalui pertumbuhan ekonomi saja sebagaimana selama ini menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Keberhasilan pembangunan hanya dinikmati sedikit saja penduduk Indonesia. Keberhasilan pembangunan sesungguhnya hanya dapat diukur dengan semakin baiknya pendidikan, ketrampilan, kesehatan, perbaikan ekonomi, membaiknya sara dan prasarana fisik, dan kesejahteraan masyarakat desa. Orientasi pembangunan nasional dan daerah yang terlalu terpusat di perkotaan menjadikan desa hingga kini terbengkalai.  Pembangunan selama ini cenderung lebih terpusat di kota,  pembangunan kampung cenderung diabaikan dalam waktu yang lama, padahal penduduk paling banyak dan tertinggal adalah  di desa. Kondisi ini tidak boleh terus berlangsung.  Kebijakan dan program perbaikan kesejahteraan masyarakat desa perlu mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan nasional dan daerah. 

   

  1. Apakah terdapat perbedaan karakter / pendekatan antara konsep pembangunan masyarakat di pedesaan dengan di perkotaan?

  

Pendekatan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan pedesaan dan perkotaan memang selayaknya berbeda. Pembangunan di perkotaan pantas lebih diorientasikan pada pengembangan sektor jasa, perdagangan, industri atas, dan teknologi modern, sedangkan pedesaan lebih ditekankan pada pengembangan ekonomi rakyat bidang pertanian, perikanan, perkebunan,  perdagangan dan  industri kecil dan menengah. Dalam kenyataannya pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan formal pada tenaga kerja masyarakat kota, mengakibatkan semakin banyaknya berkembang sektor informal di perkotaan di Indonesia. Dan banyak dari pekerja sektor informal ini adalah para migran asal pedesaan yang tidak punya pendidikan dan ketrampilan. Tetapi hingga kini kelihatannya belum ada kebijakan keberpihakan dari pemerintah terhadap sektor informal ini, kecuali mungkin kebijakan  tidak digusur saja.   Padahal pemerintah harus berterima kasih pada sektor informal ini karena dengan upaya sendiri mereka menciptakan lapangan kerja sendiri. Di Papua (kasus Kota Jayapura) misalnya, sudah mulai nampak munculnya berbagai sektor informal di perkotaan, dan mulai ada fenomena sektor informal  yang belum pernah ada pada tahun-tahun sebelumnya, seperti pemulung. 

  

  1. Sektor-sektor apa saja yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan pembangunan masyarakat di pedesaan?

  

Sektor pembangunan yang perlu mendapat perhatian dalam pembangunan masyarakat desa adalah sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan infrastuktur dasar. Hanya dengan perbaikan sektor-sektor  pembangunan ini maka masyarakat desa bisa melepaskan diri dari kemiskinan dan ketidakberdayaan terhadap perkembangan pembangunan kini dan kedepan. Kenyataannya sektor-sektor pembangunan tersebut bisa dib ilang masih menyedihkan. Perhatikan saja bagaimana sarana dan prasarana sekolah serta kualitas layanan kesehatan di pedesaan dekat perkotaan, apalagi desa yang jauh dan terpencil. 

  

  1. Apa saja yang menjadi hambatan dalam mempercepat pembangunan di pedesaan?

  

Hambatan utama adalah belum adanya political will dari pemerintah untuk membangun desa secara sungguh-sungguh. Visi, misi, pendekatan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan nasional dan daerah masih berorientasi ke kota saja. Perhatikan saja struktur anggaran nasional dan daerah. Perhatikan saja berapa alokasi dana pembangunan untuk pedesaan. Belum ada perubahan dan/atau perkembangan signifikan kebijakan  pembangunan desa. Mungkin ini juga implikasi dari kita menganut paham neo liberal sehingga program pembangunan  tidak terlalu memikirkan masyarakat desa. Kalau saja kita menganut paham kerakyatan maka kebijakan pembangunan kita dipastikan akan berbeda. Negara akan lebih memperhatikan pembangunan pedesaan. Atau mungkin orang desa dianggap tidak terlalu penting diperhitungkan dalam proses pembangunan ini, kecuali cukup bisa memenuhi makan dan minum serta punya rumah sederhana yang bisa dipakai untuk berteduh saja. 

Hambatan lain adalah masalah geografis, aksesibilitas, keterisolasian,  infrastruktur dasar, sumberdaya aparatur, kinerja aparatur pemerintah desa, rendahnya sumberdaya masyarakat kampung, terbatasnya pendanaan, rendahnya kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya inovasi, minimnya sumber-sumber inovasi pertanian, terhambatnya difusi inovasi budidaya pertanian, dan sulitnya adopsi inovasi budidaya pertanian dalam kehidupan masyarakat desa, dan masih banyak lagi hambatan pembangunan desa. 

  

  1. Untuk konteks Indonesia sekarang, nilai-nilai apa yang harus menjadi acuan dalam melakukan pembangunan masyarakat di desa?

  

Perlu, penting dan mendesak ditanamkan nilai-nilai baru (inovasi) dalam kehidupan  masyarakat desa. Masyarakat desa tidak akan bisa maju dengan baik kalau masih mempertahankan nilai-nilai lama (tradisional) yang cukup banyak menghambat perkembangan hidup masyarakat.  Nilai-nilai budaya lama seperti banyak anak banyak rejeki, anak merupakan pengganti tenaga kerja orang tua, anak laki-laki lebih baik dari anak perempuan, atau anak laki-laki pewaris keturunan keluarga sudah harus ditinggalkan. Nilai-nilai lama itu telah membatasi cara pandang hidup dan membuat masyarakat menjadi tetap miskin, walaupun memang tidak semua nilai lama itu harus ditinggalkan. Nilai-nilai tentang pentingnya mengutamakan investasi biaya pendidikan anak dibanding biaya membuat acara-acara sosial keluarga (mis. pesta, sunatan, syukuran, ulang tahun, gunting rambut, resepsi, dll) yang berlebihan karena alasan pristise atau untuk membangun image positif keluarga yang banyak menghabiskan uang keluarga bahkan harus mengutang atau kredit di bank, sudah perlu dikurangi atau ditinggalkan.  Perlu ditanamkan budaya menabung dan berinvestasi dalam kehidupan keluarga. Nilai-nilai budaya “pamer”  yang biasa ada dalam masyarakat desa (dan kota) perlu diganti budaya investasi. Budaya konsumtif yang berkembang dalam kehidupan masyarakat desa sangat tidak menguntungkan da sudah harus diminimalisasi atau bahkan dihilangkan, karena merupakan salah satu sebab tidak bisa majunya kehidupan masyarakat.  

  

  1. Apa catatan Bapak terhadap program-program yang dimaksudkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan di pedesaan, seperti: BLT, PNPM, transmigrasi, dan sebagainya?

  

Program BLT dan PNPM sesungguhnya mempunyai tujuan baik apabila pelaksanaannya dilakukan sesuai ketentuan dan betul-betul ditujukan pada masyarakat sasaran. Dalam kenyataannya jenis program-program banyak yang telah berhasil. Tetapi banyak pula yang mengecewakan, karena dalam pelaksanannya biasanya hanya dikelola oleh aparat desa dengan manajemen kepala desa. Masyarakat desa belum banyak yang tahu dan/atau tidak dilibatkan secara baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,  dan pertanggungjawabannya. Program-program ini pula biasanya berorientasi fisik (proyek), masih kurang ditujukan pada program pengembangan sumber daya manusia seperti ketrampilan dan/atau inovasi-inovasi  baru yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat desa. Program ini juga diindikasikan memunculkan dan/atau memindahkan perilaku korupsi dari kota ke desa. Pemerintah perlu menyiapkan sistem pelaksanaannya secara lebih baik. Masyarakatanya perlu disiapkan secara baik pula untuk menerima program-program ini. Pemerintah perlu secara baik mensosialisasikan jenis program ini kepada masyarakat sebelum dana-dana tersebut diturunkan. Banyak ceritera bahwa dana-dana itu hanya diketahui dan dikelola kepala desa atau sekelompok orang di desa. Desa-desa yang jauh terpencil terkadang dana BLT dan PNPM hanya sampai di kabupaten dan kecamatan (distrik).  Berdasarkan sumber-sumber terpercaya beberapa kepala kampung bahkan menggunakannya untuk berlibur atau lihat-lihat ibu kota. Di Papua program-program ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan masyarakat desa (kampung). Apabila dilaksanakan secara baik sesuai dengan tujuannya maka akan sangat bermanfaat bagi masyarakat desa. 

  

Program transmigrasi sesungguhnya penting, apalagi seperti di tanah Papua, hanya dalam pelaksanannya cukup banyak menghadapi kendala dan memunculkan persoalan sosial-budaya dalam masyarakat. Di Papua program nasional ini sudah dihentikan sejak tahun 1999/2000 karena penolakan sebagian masyarakat asli Papua. Di Papua dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta (2010) dan luas wilayah 3 kali Pulau Jawa sebenarnya masih sangat membutuhkan program ini. Kini eks lokasi transmigrasi telah menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru (growth center), pusat-pusat pengembangan daerah otonomi baru (kabupaten), lumbung makan bagi masyarakat kota, meningkatnya pemanfaatan sumberdaya alam,   pusat-pusat  penyebaran inovasi baru budidaya pertanian ke masyarakat asli,  sebagai “sabuk pengaman” daerah perbatasan, penguatan pertahanan keamanan negara, dan keuntungan lainnya. Tetapi bagi sebagian kelompok masyarakat menyatakan bahwa program ini tidak ada gunanya, menyengsarakan, memiskinkan, memarginalkan, dan membuat orang asli menjadi semakin   susah hidup. Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) Papua tentang pembangunan kependudukan (transmigrasi) sudah tidak memungkinkan lagi pengembangan transmigrasi di tanah Papua selama otonomi khusus, kecuali ada perubahan Perdasi tersebut.  

  

  1. Bagaimana pendapat Bapak mengenai urbanisasi? Dari kacamata kependudukan, mengapa terjadi urbanisasi?

  

Kalau urbanisasi diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota maka faktor penyebab urbanisasi beragam dan kompleks. Proses migrasi desa-kota dipengaruhi;  1) faktor-faktor di desa (mis. kemiskinan, kekeringan, lahan sempit), 2) faktor-faktor di kota (mis. kesempatan kerja, pendapatan, fasilitas sosial, kemegahan), 3) faktor-faktor penghalang (mis. biaya, jarak), dan 4)  faktor-faktor  pribadi (mis. penakut, berani, tertekan). Faktor-faktor di desa dan kota bersifat positif, negatif, dan netral. Faktor positif di desa akan menghambat orang ke kota, dan faktor negatif akan mendorong orang melakukan migrasi ke kota. Faktor positif (mis. keluarga, lahan subur, kenyamanan) di desa akan menahan seseorang bermigrasi. Faktor penghalang (mis. biaya, transportasi, aksesibilitas, kepribadian) tergantung pada kesukaran-kesukaran yang merintangi migran, walaupun demikian masih banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan migrasi atau tidak, tetapi dari dulu hingga sekarang motif ekonomi (pekerjaan dan pendapatan) merupakan dorongan utama orang bermigrasi.   

  

  1. Selain faktor ekonomi, adakah faktor lain yang mendorong masyarakat desa untuk merantau ke kota? Bisa Bapak jelaskan lebih jauh?

  

Banyak faktor non-ekonomi penyebab orang desa merantau ke kota, seperti;   membaiknya sarana dan prasarana transportasi,  perkembangan industri dan perdagangan, kondisi desa yang tidak nyaman,  ada suasana intimidasi,  lahan pertanian yang semakin sempit dan tidak subur,  adat istiadat yang mengekang, adanya migran potensial, saluran migrasi, informasi positif terhadap keadaan di kota, mekanisme di daerah perkotaan, proses pembangunan berbagai bidang  (teknologi, transportasi, komunikasi, pendidikan, dan lain sebagainya) telah menciptakan terobosan  terhadap isolasi, membawa daerah pedesaan terbuka dengan daerah perkotaan, berkurangnya sub-sistem pengawasan di desa, serta mempertajam kesadaran dan hasrat orang desa akan barang dan jasa yang ada di daerah perkotaan. Untuk mencapainya, penduduk desa harus meningkatkan hasil pertaniannya dan masuk kedalam jaringan pertukaran dengan penduduk kota. Jika tidak demikian mereka dapat bergerak ke kota untuk menjual tenaganya guna memperoleh upah yang akan dipakai membeli barang dan jasa. Inilah yang dinamakan lingkungan dimana sistem migrasi desa-kota berlangsung. Lingkungan ini merangsang orang desa untuk menginginkan perubahan di tempat asli (desa), serta merupakan alasan bagi kegiatan ekonominya, dan konsekwensinya adalah menentukan volume, karakteristik, dan urgensi migrasi desa-kota. Sebenarnya urbanisasi itu juga ada gunanya misalnya akan merubah cara pikir, berkembangnya cita-cita, proses remittance (dikirimnya uang, barang, informasi) dari kota ke desa, mengatasi pengangguran di desa, dan lainnya.  

  

10.  Ada sementara pihak berpendapat bahwa budaya gotong royong dan kekeluargaan yang masih kuat di desa mengakibatkan sektor jasa dan usaha informal tidak bisa berkembang di desa. Apakah Bapak sependapat bahwa kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab urbanisasi? Mengapa? 

  

Dalam pemahaman saya gotong royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi (mis.  bercocok tanam di sawah di Jawa). Untuk keperluan itu seorang petani atau kepala keluarga meminta, dengan adat sopan santun  yang sudah tetap, beberapa orang lain sedesanya untuk membantunya (mis. memperbaiki jembatan, jalan, saluran air, mencangkul, membajak, membangun rumah, kedukaan). Sipeminta bantuan hanya menyediakan makan dan minum. Budaya gotong royong dan kekeluargaan ini bisa ditemukan pada hampir setiap daerah di Indonesia, bahkan di beberapa negara lainpun ada.  Tetapi ketika nilai uang masuk dalam sistem kehidupan masyarakat desa maka nilai budaya ini mulai memudar. Jenis gotongroyong berdasarkan fungsinya dapat dibedakan; (1) gotong royong yang bersifat jaminan sosial yaitu dalam bentuk tolong menolong, dan (2) gotong royong yang bersifat umum yaitu ditujukan untuk kepentingan umum, misalnya perbaikan jembatan, saluran air, dan lain-lain. Dalam pemahaman demikian maka budaya ini bisa secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi sektor jasa dan usaha informal di desa. Tetapi ada sejumlah nilai positif lain yang perlu diperhitungkan.  Para leluhur kita membuat filosofi hidup bahwa; manusia tidak hidup sendiri di dunia ini,  manusia itu tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya, manusia harus berusaha menjaga hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa, serta manusia selalu berusaha untuk sedapat mungkin  bersifat conform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komuniti, terdorong oleh jiwa sama-tinggi sama-rendah. 

Dalam kondisi masyarakat desa Indonesia seperti sekarang maka budaya ini dibutuhkan. Gotong royong mengandung filosofi hidup yang hebat tetapi mulai redup seiring masuknya nilai budaya baru yang dinilai lebih bagus  generasi kini.  Penelitian mengetahui  sejauhmana pengaruh gotong royong terhadap proses migrasi dewsa-kota belum pernah saya lakukan dan baca, masih perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara budaya gotong royong di desa dengan proses migrasi penduduk desa ke kota.     

  

11.  Jika demikian, apa yang harus dilakukan untuk mengurangi arus urbanisasi? 

  

Pembangunan pedesaan harus lebih diperhatikan pemerintah. Minimalisasi kesenjangan antara desa dan kota. Alokasikan dana pembangunan pedesaan yang lebih besar.  Selama masih terjadi kesenjangan ekonomi yang besar antara desa dan kota maka proses migrasi desa ke kota akan terus berlangsung bahkan meningkat. Perhatikan saja bagaimana Jakarta diserbu oleh orang-orang  desa sejak dulu hingga sekarang, demikian pula yang terjadi pada kota-kota di Papua. Bangun fasilitas pendidikan yang layak bagi kebanyakan anak desa bangsa ini.  Bangun layanan kesehatan yang layak bagi masyarakat pedesaan. Kembangkan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Perbaiki infrastruktur dasar pedesaan. Bangun usaha-usaha ekonomi kecil dan menengah berbasis potensi sumberdaya alam masing-masing desa. Gali dan kembangkan berbagai program pendidikan dan ketrampilan berbasis pemanfaatan sumberdaya lokal. Berikan rakyat desa inovasi-inovasi sesuai dengan potensi yang ada di desanya. Jadikan desa sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi sumber daya alamnya.  Kembangkan sumber-sumber informasi dan inovasi bagi masyarakat desa. Minimalisasi hambatan berlangsungnya difusi inovasi budi daya pertanian, perikanan, perdagangan, dan industri kecil-menengah dalam kehidupan masyarakat. Berikan modal bagi orang kampung yang memiliki potensi mengembangkan berbagai usaha ekonomi. Sebarkan para penyuluh lapangan dalam berbagai bidang usaha agar masyarakat desa memiliki tambahan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengembangkan usaha keluarga. Sebarkan benin-benih unggul kepada masyarakat. Hanya dengan itu pemerintah dapat menahan atau mengurangi penduduk desa tidak bermigrasi ke kota. 

  

12.  Nilai strategis apa yang dapat didayagunakan pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan di pedesaan, terkait dengan penerapan otonomi daerah? 

  

Otonomi daerah memberikan kekuasaan dan peluang kepada daerah untuk menentukan tujuan dan sasaran pembangunan di daerahnya. Pembangunan perlu dimulai dari desa ke kota, karena selama ini sudah dari kota ke desa. Di Papua, beberapa kabupaten sudah mencanangkan pembangunan dari kampung. Pemerintah Provinsi Papua  misalnya kini mencanangkan pembangunan RESPEK, dimana setiap kampung diberikan 100 juta setiap tahun, belum dana-dana lainnya, ada kampung penduduknya hanya 25 kepala keluarga. Pembangunan harusnya dimulai dari kampung karena disanalah ¾ penduduk Indonesia berada dan hidup dalam keadaan miskin. Bila tidak maka orang desa akan selamanya hanya menjadi penonton, serta jangan heran kalau proses migrasi desa ke kota di Indonesia akan terus berlangsung bahkan meningkat. Gali dan manfaatkan potensi pedesaan sebagai dasar pembangunan masyarakat pedesaan.  

  

13.  Khusus untuk pembangunan pedesaan di Papua, apa catatan dan masukan dari Bapak? 

  

Pembangunan pedesaan di Papua harusnya sedikit berbeda dengan desa (disebut kampung di Papua) Indonesia lainnya. Taraf budaya masyarakat kampung masih banyak berada pada periode “jaman batu”. Diperlukan pendekatan pembangunan yang lebih mengutamakan program pembangunan yang bertujuan memberikan pengenalan diri dalam konteks pembangunan nasional. Keterisolasian, keterpencilan, dan ketertinggalan budaya masyarakat kampung yang hampir semuanya orang asli Papua dari dunia (budaya) luar merupakan hambatan pembangunan yang tidak mudah ditangani. Dalam kondisi demikian program pembangunan perlu lebih memperhatikan atau ditujukan pada generasi muda dan anak-anaknya, terutama program pendidikan dan kesehatan. Era otsus sesungguhnya telah mencanangkan 4 (empat) program prioritas pembangunan yaitu pendidikian, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan infrastuktur dasar. Kalau saja program-progran utama ini dilaksanakan secara baik maka akan terjadi perbaikan kehidupan masyarakat kampung yang lebih cepat. Persoalannya dalam pelaksanaanya tidak sesuai dengan amanah pasal-pasal dalam UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, misalnya Otsus mengamahkan dana pendidikan 20 % dari dana Otsus tetapi pelaksanannya tidak demikian, dan lainnya. Pelaksanaan Otsus selama lebih dari 8 tahun dengan dana tiga puluh triliun lebih (Provinsi Papua dan Papua Barat) setiap tahun untuk penduduk hanya ± 2,7 juta jiwa (2010) belum menunjukkan perubahan/perbaikan kehidupan masyarakat kampung secara signifikan. Dewan Adat Papua secara politik sudah mengembalikan Otsus ke pemerintah pusat karena dinilai telah gagal. Pemerintah daerah kini sedang melaksanakan program RESPEK dengan memberikan dana 100 juta setiap desa (kampung), belum termasuk dana-dana lainnya. Walaupun hasilnya mulai nampak tetapi  kadang mengalami hambatan dari sisi kinerja lembaga pemerintah daerah, sangat lemahnya aparatur kampung, sikap, dan perilaku korupsi, lemahnya pengawasan, dan aspek pertanggungjawaban. Pemerintah pusat perlu mendorong pemerintah daerah ini supaya melaksanakan program pembangunan di Papua sebagaimana diamanahkan undang-undang Otsus.   

1.      Apa yang menjadi ukuran (kriteria), suatu wilayah dikategorikan sebagai “desa” atau “kota”? 

  

Kriteria “desa” (disebut “kampung” di Papua)  adalah suatu daerah yang merupakan tempat kediaman penduduk yang bersifat agraris yang sebagian atau sepenuhnya terisolir dari kota. Pola kediaman penduduk di desa mencerminkan tingkat penyesuaian penduduk terhadap lingkungan alam, dalam hal ini topografi, iklim dan tanah.  Keluarga di desa-desa merupakan  suatu unit sosial dan kerja, struktur ekonominya dominan agraris, masyarakat desa merupakan suatu paguyuban dan hidup berdasar ikatan kekeluargaan,  proses sosial berjalan lambat, kontrol sosial ditentukan oleh moral dan hukum2 yang informil,  perumahan masyarakat hampir semua rumah tradisional kecuali kantor dan rumah dinas pegawai negeri, masih ada masyarakat hidup dari meramu dan merambah hasil hutan,  masyarakat desa di Papua misalnya masih banyak hidup pada jaman batu,  umumnya masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan struktural dan absolut. Sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, dan  pengembangan ekonomi rakyat masih terbatas. Walaupun demikian banyak dari anak-anak yang lahir dari keluarga sederhana ini sejak dulu sampai sekarang malah telah banyak yang menjadi orang penting di negara ini. 

  

Dalam pendekatan geografis “kota” adalah perujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politis, dan kultural yang terdapat insitu. Dalam pemahaman yang luas kota merupakan suatu perujudan geografis yang ditimbulkan unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politis dan kulturil yang terdapat insitu dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain. Mata pencaharian penduduk dominan non pertanian.  Kehidupan Masyarakat kota umumnya bersifat individualistik di mana nilai-nilai dan norma kehidupan berbeda dengan masyarakat desa yang bersifat sosial. Nilai-nilai tradisonal umumnya mulai menghilang diganti dengan nilai-nilai budaya baru yang dinilai “baik”. Orientasi ekonomi dalam kehidupan masyarakat sangat dominan. Sistem kehidupan masyarakat lebih kompleks dan beragam dibanding kehidupan masyarakat desa. 

    

2.      Mengapa persoalan pembangunan di pedesaan perlu mendapat perhatian? 

  

Karena disanalah sebagian besar penduduk bangsa ini berada. Di desalah sesungguhnya berada kebodohan anak bangsa dan kemiskinan struktural dan absolut masyarakat Indonesia. Keberhasilan pembangunan nasional tidak dapat diukur melalui pertumbuhan ekonomi saja sebagaimana selama ini menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Keberhasilan pembangunan hanya dinikmati sedikit saja penduduk Indonesia. Keberhasilan pembangunan sesungguhnya hanya dapat diukur dengan semakin baiknya pendidikan, ketrampilan, kesehatan, perbaikan ekonomi, membaiknya sara dan prasarana fisik, dan kesejahteraan masyarakat desa. Orientasi pembangunan nasional dan daerah yang terlalu terpusat di perkotaan menjadikan desa hingga kini terbengkalai.  Pembangunan selama ini cenderung lebih terpusat di kota,  pembangunan kampung cenderung diabaikan dalam waktu yang lama, padahal penduduk paling banyak dan tertinggal adalah  di desa. Kondisi ini tidak boleh terus berlangsung.  Kebijakan dan program perbaikan kesejahteraan masyarakat desa perlu mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan nasional dan daerah. 

    

3.      Apakah terdapat perbedaan karakter / pendekatan antara konsep pembangunan masyarakat di pedesaan dengan di perkotaan? 

  

Pendekatan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan pedesaan dan perkotaan memang selayaknya berbeda. Pembangunan di perkotaan pantas lebih diorientasikan pada pengembangan sektor jasa, perdagangan, industri atas, dan teknologi modern, sedangkan pedesaan lebih ditekankan pada pengembangan ekonomi rakyat bidang pertanian, perikanan, perkebunan,  perdagangan dan  industri kecil dan menengah. Dalam kenyataannya pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan formal pada tenaga kerja masyarakat kota, mengakibatkan semakin banyaknya berkembang sektor informal di perkotaan di Indonesia. Dan banyak dari pekerja sektor informal ini adalah para migran asal pedesaan yang tidak punya pendidikan dan ketrampilan. Tetapi hingga kini kelihatannya belum ada kebijakan keberpihakan dari pemerintah terhadap sektor informal ini, kecuali mungkin kebijakan  tidak digusur saja.   Padahal pemerintah harus berterima kasih pada sektor informal ini karena dengan upaya sendiri mereka menciptakan lapangan kerja sendiri. Di Papua (kasus Kota Jayapura) misalnya, sudah mulai nampak munculnya berbagai sektor informal di perkotaan, dan mulai ada fenomena sektor informal  yang belum pernah ada pada tahun-tahun sebelumnya, seperti pemulung.  

  

4.      Sektor-sektor apa saja yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan pembangunan masyarakat di pedesaan? 

  

Sektor pembangunan yang perlu mendapat perhatian dalam pembangunan masyarakat desa adalah sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan infrastuktur dasar. Hanya dengan perbaikan sektor-sektor  pembangunan ini maka masyarakat desa bisa melepaskan diri dari kemiskinan dan ketidakberdayaan terhadap perkembangan pembangunan kini dan kedepan. Kenyataannya sektor-sektor pembangunan tersebut bisa dib ilang masih menyedihkan. Perhatikan saja bagaimana sarana dan prasarana sekolah serta kualitas layanan kesehatan di pedesaan dekat perkotaan, apalagi desa yang jauh dan terpencil. 

  

5.      Apa saja yang menjadi hambatan dalam mempercepat pembangunan di pedesaan? 

  

Hambatan utama adalah belum adanya political will dari pemerintah untuk membangun desa secara sungguh-sungguh. Visi, misi, pendekatan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan nasional dan daerah masih berorientasi ke kota saja. Perhatikan saja struktur anggaran nasional dan daerah. Perhatikan saja berapa alokasi dana pembangunan untuk pedesaan. Belum ada perubahan dan/atau perkembangan signifikan kebijakan  pembangunan desa. Mungkin ini juga implikasi dari kita menganut paham neo liberal sehingga program pembangunan  tidak terlalu memikirkan masyarakat desa. Kalau saja kita menganut paham kerakyatan maka kebijakan pembangunan kita dipastikan akan berbeda. Negara akan lebih memperhatikan pembangunan pedesaan. Atau mungkin orang desa dianggap tidak terlalu penting diperhitungkan dalam proses pembangunan ini, kecuali cukup bisa memenuhi makan dan minum serta punya rumah sederhana yang bisa dipakai untuk berteduh saja.  

Hambatan lain adalah masalah geografis, aksesibilitas, keterisolasian,  infrastruktur dasar, sumberdaya aparatur, kinerja aparatur pemerintah desa, rendahnya sumberdaya masyarakat kampung, terbatasnya pendanaan, rendahnya kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya inovasi, minimnya sumber-sumber inovasi pertanian, terhambatnya difusi inovasi budidaya pertanian, dan sulitnya adopsi inovasi budidaya pertanian dalam kehidupan masyarakat desa, dan masih banyak lagi hambatan pembangunan desa.  

  

6.      Untuk konteks Indonesia sekarang, nilai-nilai apa yang harus menjadi acuan dalam melakukan pembangunan masyarakat di desa? 

  

Perlu, penting dan mendesak ditanamkan nilai-nilai baru (inovasi) dalam kehidupan  masyarakat desa. Masyarakat desa tidak akan bisa maju dengan baik kalau masih mempertahankan nilai-nilai lama (tradisional) yang cukup banyak menghambat perkembangan hidup masyarakat.  Nilai-nilai budaya lama seperti banyak anak banyak rejeki, anak merupakan pengganti tenaga kerja orang tua, anak laki-laki lebih baik dari anak perempuan, atau anak laki-laki pewaris keturunan keluarga sudah harus ditinggalkan. Nilai-nilai lama itu telah membatasi cara pandang hidup dan membuat masyarakat menjadi tetap miskin, walaupun memang tidak semua nilai lama itu harus ditinggalkan. Nilai-nilai tentang pentingnya mengutamakan investasi biaya pendidikan anak dibanding biaya membuat acara-acara sosial keluarga (mis. pesta, sunatan, syukuran, ulang tahun, gunting rambut, resepsi, dll) yang berlebihan karena alasan pristise atau untuk membangun image positif keluarga yang banyak menghabiskan uang keluarga bahkan harus mengutang atau kredit di bank, sudah perlu dikurangi atau ditinggalkan.  Perlu ditanamkan budaya menabung dan berinvestasi dalam kehidupan keluarga. Nilai-nilai budaya “pamer”  yang biasa ada dalam masyarakat desa (dan kota) perlu diganti budaya investasi. Budaya konsumtif yang berkembang dalam kehidupan masyarakat desa sangat tidak menguntungkan da sudah harus diminimalisasi atau bahkan dihilangkan, karena merupakan salah satu sebab tidak bisa majunya kehidupan masyarakat.   

  

7.      Apa catatan Bapak terhadap program-program yang dimaksudkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan di pedesaan, seperti: BLT, PNPM, transmigrasi, dan sebagainya?  

  

Program BLT dan PNPM sesungguhnya mempunyai tujuan baik apabila pelaksanaannya dilakukan sesuai ketentuan dan betul-betul ditujukan pada masyarakat sasaran. Dalam kenyataannya jenis program-program banyak yang telah berhasil. Tetapi banyak pula yang mengecewakan, karena dalam pelaksanannya biasanya hanya dikelola oleh aparat desa dengan manajemen kepala desa. Masyarakat desa belum banyak yang tahu dan/atau tidak dilibatkan secara baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,  dan pertanggungjawabannya. Program-program ini pula biasanya berorientasi fisik (proyek), masih kurang ditujukan pada program pengembangan sumber daya manusia seperti ketrampilan dan/atau inovasi-inovasi  baru yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat desa. Program ini juga diindikasikan memunculkan dan/atau memindahkan perilaku korupsi dari kota ke desa. Pemerintah perlu menyiapkan sistem pelaksanaannya secara lebih baik. Masyarakatanya perlu disiapkan secara baik pula untuk menerima program-program ini. Pemerintah perlu secara baik mensosialisasikan jenis program ini kepada masyarakat sebelum dana-dana tersebut diturunkan. Banyak ceritera bahwa dana-dana itu hanya diketahui dan dikelola kepala desa atau sekelompok orang di desa. Desa-desa yang jauh terpencil terkadang dana BLT dan PNPM hanya sampai di kabupaten dan kecamatan (distrik).  Berdasarkan sumber-sumber terpercaya beberapa kepala kampung bahkan menggunakannya untuk berlibur atau lihat-lihat ibu kota. Di Papua program-program ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan masyarakat desa (kampung). Apabila dilaksanakan secara baik sesuai dengan tujuannya maka akan sangat bermanfaat bagi masyarakat desa.  

  

Program transmigrasi sesungguhnya penting, apalagi seperti di tanah Papua, hanya dalam pelaksanannya cukup banyak menghadapi kendala dan memunculkan persoalan sosial-budaya dalam masyarakat. Di Papua program nasional ini sudah dihentikan sejak tahun 1999/2000 karena penolakan sebagian masyarakat asli Papua. Di Papua dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta (2010) dan luas wilayah 3 kali Pulau Jawa sebenarnya masih sangat membutuhkan program ini. Kini eks lokasi transmigrasi telah menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru (growth center), pusat-pusat pengembangan daerah otonomi baru (kabupaten), lumbung makan bagi masyarakat kota, meningkatnya pemanfaatan sumberdaya alam,   pusat-pusat  penyebaran inovasi baru budidaya pertanian ke masyarakat asli,  sebagai “sabuk pengaman” daerah perbatasan, penguatan pertahanan keamanan negara, dan keuntungan lainnya. Tetapi bagi sebagian kelompok masyarakat menyatakan bahwa program ini tidak ada gunanya, menyengsarakan, memiskinkan, memarginalkan, dan membuat orang asli menjadi semakin   susah hidup. Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) Papua tentang pembangunan kependudukan (transmigrasi) sudah tidak memungkinkan lagi pengembangan transmigrasi di tanah Papua selama otonomi khusus, kecuali ada perubahan Perdasi tersebut.   

  

8.      Bagaimana pendapat Bapak mengenai urbanisasi? Dari kacamata kependudukan, mengapa terjadi urbanisasi? 

  

Kalau urbanisasi diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota maka faktor penyebab urbanisasi beragam dan kompleks. Proses migrasi desa-kota dipengaruhi;  1) faktor-faktor di desa (mis. kemiskinan, kekeringan, lahan sempit), 2) faktor-faktor di kota (mis. kesempatan kerja, pendapatan, fasilitas sosial, kemegahan), 3) faktor-faktor penghalang (mis. biaya, jarak), dan 4)  faktor-faktor  pribadi (mis. penakut, berani, tertekan). Faktor-faktor di desa dan kota bersifat positif, negatif, dan netral. Faktor positif di desa akan menghambat orang ke kota, dan faktor negatif akan mendorong orang melakukan migrasi ke kota. Faktor positif (mis. keluarga, lahan subur, kenyamanan) di desa akan menahan seseorang bermigrasi. Faktor penghalang (mis. biaya, transportasi, aksesibilitas, kepribadian) tergantung pada kesukaran-kesukaran yang merintangi migran, walaupun demikian masih banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan migrasi atau tidak, tetapi dari dulu hingga sekarang motif ekonomi (pekerjaan dan pendapatan) merupakan dorongan utama orang bermigrasi.    

  

9.      Selain faktor ekonomi, adakah faktor lain yang mendorong masyarakat desa untuk merantau ke kota? Bisa Bapak jelaskan lebih jauh? 

  

Banyak faktor non-ekonomi penyebab orang desa merantau ke kota, seperti;   membaiknya sarana dan prasarana transportasi,  perkembangan industri dan perdagangan, kondisi desa yang tidak nyaman,  ada suasana intimidasi,  lahan pertanian yang semakin sempit dan tidak subur,  adat istiadat yang mengekang, adanya migran potensial, saluran migrasi, informasi positif terhadap keadaan di kota, mekanisme di daerah perkotaan, proses pembangunan berbagai bidang  (teknologi, transportasi, komunikasi, pendidikan, dan lain sebagainya) telah menciptakan terobosan  terhadap isolasi, membawa daerah pedesaan terbuka dengan daerah perkotaan, berkurangnya sub-sistem pengawasan di desa, serta mempertajam kesadaran dan hasrat orang desa akan barang dan jasa yang ada di daerah perkotaan. Untuk mencapainya, penduduk desa harus meningkatkan hasil pertaniannya dan masuk kedalam jaringan pertukaran dengan penduduk kota. Jika tidak demikian mereka dapat bergerak ke kota untuk menjual tenaganya guna memperoleh upah yang akan dipakai membeli barang dan jasa. Inilah yang dinamakan lingkungan dimana sistem migrasi desa-kota berlangsung. Lingkungan ini merangsang orang desa untuk menginginkan perubahan di tempat asli (desa), serta merupakan alasan bagi kegiatan ekonominya, dan konsekwensinya adalah menentukan volume, karakteristik, dan urgensi migrasi desa-kota. Sebenarnya urbanisasi itu juga ada gunanya misalnya akan merubah cara pikir, berkembangnya cita-cita, proses remittance (dikirimnya uang, barang, informasi) dari kota ke desa, mengatasi pengangguran di desa, dan lainnya.   

  

10.  Ada sementara pihak berpendapat bahwa budaya gotong royong dan kekeluargaan yang masih kuat di desa mengakibatkan sektor jasa dan usaha informal tidak bisa berkembang di desa. Apakah Bapak sependapat bahwa kondisi tersebut merupakan salah satu penyebab urbanisasi? Mengapa? 

  

Dalam pemahaman saya gotong royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi (mis.  bercocok tanam di sawah di Jawa). Untuk keperluan itu seorang petani atau kepala keluarga meminta, dengan adat sopan santun  yang sudah tetap, beberapa orang lain sedesanya untuk membantunya (mis. memperbaiki jembatan, jalan, saluran air, mencangkul, membajak, membangun rumah, kedukaan). Sipeminta bantuan hanya menyediakan makan dan minum. Budaya gotong royong dan kekeluargaan ini bisa ditemukan pada hampir setiap daerah di Indonesia, bahkan di beberapa negara lainpun ada.  Tetapi ketika nilai uang masuk dalam sistem kehidupan masyarakat desa maka nilai budaya ini mulai memudar. Jenis gotongroyong berdasarkan fungsinya dapat dibedakan; (1) gotong royong yang bersifat jaminan sosial yaitu dalam bentuk tolong menolong, dan (2) gotong royong yang bersifat umum yaitu ditujukan untuk kepentingan umum, misalnya perbaikan jembatan, saluran air, dan lain-lain. Dalam pemahaman demikian maka budaya ini bisa secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi sektor jasa dan usaha informal di desa. Tetapi ada sejumlah nilai positif lain yang perlu diperhitungkan.  Para leluhur kita membuat filosofi hidup bahwa; manusia tidak hidup sendiri di dunia ini,  manusia itu tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya, manusia harus berusaha menjaga hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa, serta manusia selalu berusaha untuk sedapat mungkin  bersifat conform, berbuat sama dan bersama dengan sesamanya dalam komuniti, terdorong oleh jiwa sama-tinggi sama-rendah.  

Dalam kondisi masyarakat desa Indonesia seperti sekarang maka budaya ini dibutuhkan. Gotong royong mengandung filosofi hidup yang hebat tetapi mulai redup seiring masuknya nilai budaya baru yang dinilai lebih bagus  generasi kini.  Penelitian mengetahui  sejauhmana pengaruh gotong royong terhadap proses migrasi dewsa-kota belum pernah saya lakukan dan baca, masih perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara budaya gotong royong di desa dengan proses migrasi penduduk desa ke kota.      

  

11.  Jika demikian, apa yang harus dilakukan untuk mengurangi arus urbanisasi? 

  

Pembangunan pedesaan harus lebih diperhatikan pemerintah. Minimalisasi kesenjangan antara desa dan kota. Alokasikan dana pembangunan pedesaan yang lebih besar.  Selama masih terjadi kesenjangan ekonomi yang besar antara desa dan kota maka proses migrasi desa ke kota akan terus berlangsung bahkan meningkat. Perhatikan saja bagaimana Jakarta diserbu oleh orang-orang  desa sejak dulu hingga sekarang, demikian pula yang terjadi pada kota-kota di Papua. Bangun fasilitas pendidikan yang layak bagi kebanyakan anak desa bangsa ini.  Bangun layanan kesehatan yang layak bagi masyarakat pedesaan. Kembangkan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Perbaiki infrastruktur dasar pedesaan. Bangun usaha-usaha ekonomi kecil dan menengah berbasis potensi sumberdaya alam masing-masing desa. Gali dan kembangkan berbagai program pendidikan dan ketrampilan berbasis pemanfaatan sumberdaya lokal. Berikan rakyat desa inovasi-inovasi sesuai dengan potensi yang ada di desanya. Jadikan desa sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi sumber daya alamnya.  Kembangkan sumber-sumber informasi dan inovasi bagi masyarakat desa. Minimalisasi hambatan berlangsungnya difusi inovasi budi daya pertanian, perikanan, perdagangan, dan industri kecil-menengah dalam kehidupan masyarakat. Berikan modal bagi orang kampung yang memiliki potensi mengembangkan berbagai usaha ekonomi. Sebarkan para penyuluh lapangan dalam berbagai bidang usaha agar masyarakat desa memiliki tambahan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengembangkan usaha keluarga. Sebarkan benin-benih unggul kepada masyarakat. Hanya dengan itu pemerintah dapat menahan atau mengurangi penduduk desa tidak bermigrasi ke kota.  

  

12.  Nilai strategis apa yang dapat didayagunakan pemerintah daerah dalam meningkatkan pembangunan di pedesaan, terkait dengan penerapan otonomi daerah?  

  

Otonomi daerah memberikan kekuasaan dan peluang kepada daerah untuk menentukan tujuan dan sasaran pembangunan di daerahnya. Pembangunan perlu dimulai dari desa ke kota, karena selama ini sudah dari kota ke desa. Di Papua, beberapa kabupaten sudah mencanangkan pembangunan dari kampung. Pemerintah Provinsi Papua  misalnya kini mencanangkan pembangunan RESPEK, dimana setiap kampung diberikan 100 juta setiap tahun, belum dana-dana lainnya, ada kampung penduduknya hanya 25 kepala keluarga. Pembangunan harusnya dimulai dari kampung karena disanalah ¾ penduduk Indonesia berada dan hidup dalam keadaan miskin. Bila tidak maka orang desa akan selamanya hanya menjadi penonton, serta jangan heran kalau proses migrasi desa ke kota di Indonesia akan terus berlangsung bahkan meningkat. Gali dan manfaatkan potensi pedesaan sebagai dasar pembangunan masyarakat pedesaan.   

  

13.  Khusus untuk pembangunan pedesaan di Papua, apa catatan dan masukan dari Bapak? 

  

Pembangunan pedesaan di Papua harusnya sedikit berbeda dengan desa (disebut kampung di Papua) Indonesia lainnya. Taraf budaya masyarakat kampung masih banyak berada pada periode “jaman batu”. Diperlukan pendekatan pembangunan yang lebih mengutamakan program pembangunan yang bertujuan memberikan pengenalan diri dalam konteks pembangunan nasional. Keterisolasian, keterpencilan, dan ketertinggalan budaya masyarakat kampung yang hampir semuanya orang asli Papua dari dunia (budaya) luar merupakan hambatan pembangunan yang tidak mudah ditangani. Dalam kondisi demikian program pembangunan perlu lebih memperhatikan atau ditujukan pada generasi muda dan anak-anaknya, terutama program pendidikan dan kesehatan. Era otsus sesungguhnya telah mencanangkan 4 (empat) program prioritas pembangunan yaitu pendidikian, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan infrastuktur dasar. Kalau saja program-progran utama ini dilaksanakan secara baik maka akan terjadi perbaikan kehidupan masyarakat kampung yang lebih cepat. Persoalannya dalam pelaksanaanya tidak sesuai dengan amanah pasal-pasal dalam UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, misalnya Otsus mengamahkan dana pendidikan 20 % dari dana Otsus tetapi pelaksanannya tidak demikian, dan lainnya. Pelaksanaan Otsus selama lebih dari 8 tahun dengan dana tiga puluh triliun lebih (Provinsi Papua dan Papua Barat) setiap tahun untuk penduduk hanya ± 2,7 juta jiwa (2010) belum menunjukkan perubahan/perbaikan kehidupan masyarakat kampung secara signifikan. Dewan Adat Papua secara politik sudah mengembalikan Otsus ke pemerintah pusat karena dinilai telah gagal. Pemerintah daerah kini sedang melaksanakan program RESPEK dengan memberikan dana 100 juta setiap desa (kampung), belum termasuk dana-dana lainnya. Walaupun hasilnya mulai nampak tetapi  kadang mengalami hambatan dari sisi kinerja lembaga pemerintah daerah, sangat lemahnya aparatur kampung, sikap, dan perilaku korupsi, lemahnya pengawasan, dan aspek pertanggungjawaban. Pemerintah pusat perlu mendorong pemerintah daerah ini supaya melaksanakan program pembangunan di Papua sebagaimana diamanahkan undang-undang Otsus. 

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 Juli 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: