INDONESIA YANG DICITAKAN:REFLEKSI SETELAH 65 TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN

  

  

  

  

  

  

  

Bahtiar Effendy 

Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Enam puluh lima tahun sudah Indonesia merdeka. Ibarat usia manusia, negeri ini dapat dikatakan cukup berumur. Tidak tua benar memang, tapi juga tidak muda lagi. Kalau diletakkan dalam konteks harapan hidup (life expectancy) manusia Indonesia, usia enam puluh lima tahun itu sudah mendekati batas akhir (borderline)–yang sekarang ini mencapai 71 tahun.

 Sebagai negara merdeka, sudah banyak yang dicapai dalam kurun enam dasawarsa lebih itu. Meski belum optimal, setidaknya dua tujuan utama dari keberadaan suatu negara relatif telah dapat diwujudkan. Kedua hal itu adalah (1) stabilitas-keamanan dan (2) kesejahteraan sosial-ekonomi.

Orang boleh berbeda pendapat mengenai hal ini. Kita, misalnya, bisa mempersoalkan kualitas, besaran, atau kedalaman dari dua hal di atas. Apakah stabilitas-keamanan dan kesejahteraan sosial-ekonomi yang ada bersifat genuine atau semu? Apakah kemakmuran yang kita nikmati itu telah merata terdistribusikan ke sebagian besar rakyat, atau masih merupakan kemewahan yang dinikmati kalangan terbatas?

 Apapun jawabannya, satu hal yang jelas adalah bahwa pada umumnya indikator mengenai kondisi stabilitas-keamanan dan kemakmuran sosial-ekonomi berkecenderungan progresif—membaik dari waktu ke waktu. Meski demikian, harus juga diakui bahwa hal itu bukan tanpa persoalan, dan yang seringkali malah membuat dahi kita berkerut. Untuk menyegarkan kembali ingatan kita mengenai perjalanan selama 65 tahun ini, ada baiknya kita melihat beberapa snapshot sejarah secara ringkas.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, apa yang sekarang ini kita saksikan, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik, sebagian besar belum ada. Lima tahun pertama setelah proklamasi kemerdekaan, negeri ini masih diliputi suasana revolusi. Dari pertangahan 1945 sampai akhir 1949, Indonesia disibukkan oleh berbagai peristiwa yang lahir dari sesuatu yang sebenarnya bertolak-belakang: keinginan Belanda untuk kembali menjajah di satu pihak, dan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan di pihak lain.

 Dalam situasi seperti itu, tidak ada yang lebih penting bagi Indonesia kecuali berjuang untuk mempertahankan eksistensinya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Hal-hal yang berkaitan dengan tugas atau fungsi dasar negara, termasuk menciptakan stabilitas-keamanan dan menyejahterakan rakyat, terpaksa dinomor-duakan. Seluruh perhatian dan enersi dimobilisasi untuk mengusir penjajahan. Dan hanya dengan tekad “merdeka atau mati,” sebagaimana tertulis di banyak tembok pada waktu itu, pengakuan kemerdekaan dan pemindahan kekuasaan dapat diperoleh.

 Suasana cukup melegakan setelah Belanda pergi. Namun, hal itu tidak lantas membuat segala sesuatu lebih mudah. Usaha bina-negara (state-crafting) yang dilakukan oleh para pendiri republik ternyata bukan perkara gampang. Ideologi negara dan undang-undang dasar memang sudah dirumuskan sejak pertengahan 1945—beberapa bulan sebelum Indonesia merdeka. Meski demikian, untuk membuat keduanya diterima sebagai pijakan bersama, sebagai konsensus ideologis dan politis nasional, kesepakatan antar elite yang lebih luas diperlukan.

Melalui pemilu pertama yang diselenggarakan pada 1955, lembaga untuk membicarakan ideologi negara dan undang-undang dasar dibentuk, yang diberi nama Dewan Konstituante. Kurang lebih tiga tahun Konstituante bekerja keras. Sayang, tugas utama untuk merumuskan dasar negara dan konstitusi tak dapat diselesaikan. Pembilahan ideologis yang tak terjembatani antara mereka yang menginginkan Islam atau Pancasila sebagai dasar negara menyebabkan sidang Konstituante mengalami kebuntuan (deadlock). Kenyataan ini dijadikan alasan oleh Soekarno, dengan dukungan tentara, untuk mengeluarkan dekrit pada Juni 1959. Peristiwa itu mengembalikan kedudukan Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi dan konstitusi kita.

Berakhirnya perdebatan ideologis ini mestinya menjadi momentum di mana negara bisa menjalankan fungsi dasarnya secara lebih fokus. Seperti diisyaratkan di atas, selama satu dasawarsa setelah proklamasi kemerdekaan diakui dan pemindahan kekuasaan terjadi (1949-1959), perhatian elite politik kita, terutama yang ada di eksekutif maupun legislatif, lebih diarahkan untuk merumuskan hal-hal yang bersifat state-crafting. Ini dimaksudkan agar aturan-aturan dasar bernegara tertata terlebih dahulu. Akibatnya, agenda pembangunan yang lebih sistematis, yang lebih mencerminkan kehendak rakyat, masih banyak yang terbengkalai. 

 Apa mau dikata, periode pasca berakhirnya pergolakan ideologis ini belum juga ditandai oleh kegiatan-kegiatan pembangunan yang lebih bersifat tangible dan “non-politis.” Alih-alih, negara masih menjadi ajang rivalitas politik kekuasaan (power politics), yang untuk periode ini melibatkan Presiden Soekarno, tentara, dan partai politik –khususnya PKI.

 Sementara itu, apa yang dilakukan Soekarno tidak banyak membantu. Sebagai kepala negara, dan terutama tokoh yang paling berpengaruh, Soekarno lebih memposisikan diri sebagai solidarity-maker. Melalui pidato-pidato yang menggelegar tentang banyak hal –nasakom, manipol-usdek, nekolim, new emerging forces, gotong royong, marhaenisme dan sebagainya, ia ingin meyakinkan publik bahwa perjuangan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia masih panjang.

 Meskipun Indonesia telah merdeka, kemerdekaan itu hanyalah “jembatan emas.” Sementara itu, kekuatan neo-kolonialisme tetap mengancam.

 Karena itu, menurut Soekarno, cita-cita Indonesia harus diperjuangkan secara revolusioner. Rakyat Indonesia harus bersatu, harus berani hidup dengan menyerempet-nyerempet bahaya–vivere peri coloso.

 Sebagai tokoh dengan pengalaman panjang dalam memerangi penindasan dan ke-tidak-adilan, sebagai orator yang sangat percaya akan kekuatan kata, tema-tema di atas membuat Soekarno terpana. Namun, pada waktu yang sama, ia abai—atau setidaknya kurang tertarik—terhadap tanggung-jawabnya sebagai administratur pemerintahan yang juga harus mengurusi soal-soal yang bersifat teknis dan “non-politis.” Di tambah dengan kecenderungan politik yang autarkik, semua itu menyebabkan proyek stabilitas politik dan pembangunan ekonomi tertatih-tatih.

 Oleh karena itu, tidak mengherankan jika akhir pemerintahan Soekarno ditandai dengan pendapatan per kapita yang hanya US $ 80 dolar, dan inflasi yang mencapai 650 persen. Buruknya kondisi ekonomi ini dilukiskan oleh Anwar Nasution dengan kalimat: “production and trade were stagnant, economic infrastructure in disrepair, public administration had deteriorated, and foreign debts were mounting.”

 Ini semua menunjukkan bahwa, sampai pemerintahan Soekarno jatuh pada 1966, negara belum berfungsi sebagai agen pembangunan yang sistematis dan terencana. Kecuali kenyataan sejarah bahwa Indonesia telah menjadi bangsa merdeka, tak banyak yang secara material dapat dinikmati oleh rakyat. Pemerintahan Orde Baru yang lahir pada 1966 dimaksudkan sebagai panasea terhadap situasi sosial-ekonomi dan politik masa-masa sebelumnya. Dalam pandangan Presiden Soeharto, pemerintah perlu menciptakan stabilitas-keamanan. Dengan itu, diharapkan situasi menjadi lebih kondusif untuk membangun. Dalam konteks ini, dua kebijakan penting segera diambil: restrukturisasi kehidupan politik dan mendatangkan ivestasi –termasuk utang.

 

Dalam banyak hal, keinginan pemerintah untuk mewujudkan dua cita-cita dasar, yaitu stabilitas-keamanan dan kemakmuran ekonomi boleh dikatakan cukup berhasil. Inilah periode di mana Indonesia mulai membangun dengan sungguh-sungguh. Jalan, jembatan, dam, dan infrastruktur ekonomi lain seperti pelabuhan, lapangan terbang, mulai dibangun. Dengan kebijakan ekonomi yang sesuai serta didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya minyak, batubara, kayu dan lain sebagainya, antara pertengahan 1970an sampai awal 1990an Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata 7 persen. Karenanya wajar jika pada 1996 pendapatan per kapita mencapai US $ 1,120, dengan PDB hampir Rp. 400 triliun. Angka-angka ini membuat Bank Dunia menganggap Indonesia sebagai anak emas dan calon negara industri baru—sebanding dengan Malaysia dan Thailand.

 

Meski demikian, capaian-capaian itu harus dibayar mahal dengan hilangnya kebebasan publik. Tiga piramida kekuasaan yang terdiri dari Soeharto, tentara, dan Golkar telah membuat politik dan ekonomi menjadi kemewahan yang hanya dinikmati oleh kalangan terbatas. Partisipasi hanya dimungkinkan sepanjang mengikuti apa yang didektekan oleh tiga pilar kekuasaan di atas.

Inilah antara lain yang menyokong krisis 1997, yang memuncak dan menimbulkan implikasi luas pada 1998, yang menyebabkan mundurnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan yang pernah digenggamnya selama 32 tahun. Inilah masa di mana kita semua kembali pada titik awal—meskipun bukan tanpa modal yang cukup—untuk menata kehidupan sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain sebagainya. Mirip dengan suasana tahun-tahun pertama paska kemerdekaan, kita harus merumuskan kembali cita-cita dan dengan cara apa hal itu dapat dicapai dengan baik.

Mundurnya pemerintahan Orde Baru membawa implikasi luar biasa. Ibarat kontak Pandora yang sudah terbuka, kebebasan menjadi sesuatu yang sangat menonjol. Lebih dari apapun, fenomena ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap situasi masa lampau. Walaupun, terdapat pula maksud baik, yaitu untuk mengoreksi otoritarianisme rezim Orde Baru, untuk melakukan reformasi terhadap praktik pemerintahan yang tidak baik. Demikian kuatnya keinginan untuk “berbeda” dari apa yang telah terjadi di waktu terdahulu, sampai-sampai kebebasan yang bergulir antara lain ikut melahirkan banyak partai—jumlah keseluruhan pernah mencapai angka 300-an sebagaimana terdaftar di Kementrian Hukum dan Perundangan-Undangan di awal tahun 2000-an.

Dalam situasi demikian, tak ada yang tidak ingin diubah. Pada tahun-tahun pertama reformasi, pernah ada keinginan untuk menghindupkan gagasan mengenai Piagam Jakarta. Jika upaya ini berhasil, maka sila pertama Pancasila akan berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.” Aspirasi ini gagal diwujudkan sebab hanya didukung suara yang tidak seberapa.  UUD 1945 yang selama periode pemerintahan Soekarno dan Soeharto dinilai sakral, sejak 1999 mengalami empatkali perubaran (amandemen)—karena dinilai executive heavy dan kurang mengakomodir prinsip-prinsip hak azasi manusia.

Jika hal-hal penting dalam kehidupan bernegara saja berubah, apalagi turunanya. UU pemilu dan kepartaian diubah sedemikian rupa, terutama UU pemilihan presiden, sehingga menjadi demokratis. Dalam kerangka apa yang telah disebutkan di atas, cukuplah dikatakan bahwa sejak 1998 Indonesia menjadi negara demokratis terbesar setelah India dan Amerika Serikat. Akan tetapi, hal itu masih lebih bersifat prosedural daripada substansial. Di banyak segi, hal-hal yang bersifat substantif justru tidak mengalami perubahan yang berarti. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa dalam beberapa hal kehidupan sosial-ekonomi dan politik semakin mengkhawatirkan.

Demokrasi mestinya menjadi instrumen terbaik untuk menghantarkan sebuah negara kepada cita-cita dasarnya. Jika cita-cita dasar itu adalah terciptanya negara yang dalam perspektif Jawa “gemah ripah loh jinawi toto tenterem kerto raharjo, maka demokrasi hendaknya menjadi sistem terbaik untuk membawa masyarakat Indonesia kepada situasi aman dan makmur. Akan tetapi, rasa-rasanya secara substansial, di luar hal-hal yang bersifat prosedural, tidak banyak yang berubah berkaitan dengan kinerja kenegaraan dan pemerintahan kita.

Berbagai perkembangan menunjukkan bahwa kehidupan politik, baik dalam konteks nasional maupun regional, masih sangat bersifat power politics. Politik dianggap lebih sebagai lapangan kerja, tempat di mana para pelakunya mencari penghidupan—alih-alih memperlakukannya sebagai sebuah panggilan mulia (beruf). Karenanya yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan suatu kebijakan, dalam merumuskan undang-undang, bahkan dalam memilih seseorang untuk menduduki jabatan publik, adalah apa yang menguntungkan diri dan kelompoknya (micro incentive), bukan kepentingan publik (macro incentive).

Sementara itu, rakyat yang memilih wakil mereka hanya dianggap penting pada waktu pemilihan. Itupun banyak diantara mereka yang bersedia menghargai dukungan yang diberikan kepada para wakil rakyat dengan uang. Akibatnya, ketika para calon itu menjadi anggota parlemen, mereka merasa tidak perlu lagi memperjuangkan kehendak masyarakat pemilih.  Inilah anggapan yang akhir-akhir ini makin mengental terhadap para wakil rakyat. Dengan keinginan-keinginan yang mereka ajukan, dari soal dana aspirasi hingga rumah aspirasi, semuanya dipersepsi hanya untuk kepentingan para anggota parlemen. Penilaian ini semakin diteguhkan dengan kinerja legislasi yang sangat lemah, ketidak-hadiran yang semakin sering, dan permainan politik kepentingan yang semakin mencolok—seperti dalam kasus Bank Century dan lain sebagainya. 

Bidang penegakan hukum juga tidak kalah mengkhawatirkan kondisinya. Sudah sering orang menilai tentang tidak berjalannya penegakan hukum yang adil, terutama bagi kelompok lemah dan miskin. Terlalu sering kasus penegakan hukum yang dipersoalkan, akan tetapi kasus-kasus itu tak kunjung berhenti, dan selalu berulang lagi. Kasus pajak yang melibatkan sejumlah orang di Direktorat Pajak tak kunjung bisa menentapkan siapa yang memberi sogokan. 

 Begitupala kinerja pemerintah yang akhir-akhir ini dinilai sangat lemah. Kasus kompor gas yang meledak hingga kini tak mendapatkan penanganan yang memadai, sehingga masyarakat terpaksa mencari jalan keluar sendiri. Demikian juga adanya tindak kekerasan yang hanya menimbulkan kesan seperti dibiarkan. Semua itu hanya melanggengkan kesan bahwa setelah 65 tahun merdeka pun Indonesia masih menjadi negara yang dulu pernah disebut Gunnar Myrdal sebagai “negara lembek” (the soft state).

 Sebenarnya, selama 12 tahun terakhir ini banyak yang sudah diwujudkan. Kehidupan menjadi lebih bebas dan aturan-aturan dasar yang ada dinilai lebih demokratis. Tapi, itu semua hanya sarana—bukan tujuan itu sendiri. Dengan kehidupan ekonomi-politik yang kita alami dewasa ini, rasanya jalan masih sangat panjang untuk bisa sampai pada cita-cita sederhana kita, sebagaimana termaktub dalam preambule UUD 1945. Itu semua hanya bisa direalisasikan dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Kebebasan yang tidak terstruktur, politik kekuasaan yang dijalankan hanya demi kekuasaan itu sendiri hanya akan menjauhkan kita dari apa yang hampir tujuh dasawarsa lalu digagas dan dirumuskan oleh para pendiri bangsa kita.

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 10 Agustus 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: