KITA SEBENARNYA JAUH DARI MERDEKA…

 

 

 

 

 

 

 

Wawancara

H. Nurul Iman Mustofa, MA

Memasuki bulan Agustus, bangsa Indonesia kembali diramaikan dengan beragam aktifitas untuk memperingati Proklamasi Kemerdekaan RI. Meskipun lebih banyak kelompok masyarakat yang menggunakan momen peringatan ini dengan aktifitas tahunan yang seringkali bernuansa hura-hura, namun masih banyak juga pihak yang mencoba untuk menilai dan mengukur kembali makna serta pencapaian kemerdekaan. Terkait hal tersebut, Redaksi Tabloid INSPIRASI melakukan wawancara dengan Bapak H. Nurul Iman Musthofa—politisi muda yang menjadi Anggota DPPR RI. Berikut petikannya:

 

Apa makna kemerdekaan menurut Bapak ?

Merdeka itu bebas. Kebebasan bukan berarti Negara yang tidak terjajah, tetapi kemerdekaan yang saat ini ada di hadapan kita, yaitu bagaimana seseorang itu tidak terbelenggu hak-haknya. Misalkan, hak untuk memperoleh pendidikan, hak untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, dan lainnya. Mudahnya, semua itu diperoleh sejajar dengan warga di negara lainnya. Merdeka bukan melihat pejabat atau bukan pejabat, orang miskin atau orang kaya. Merdeka saat ini adalah orang bisa mengenyam kekayaan negeri sendiri. Tak sekedar pesta pora, karena kita banyak sumber daya alamnya yang bisa dikelola. Dengan demikian kalau mau dinilai dengan pemahaman seperti itu, kita sebenarnya jauh dari merdeka.

Refleksi kemerdekaan sendiri, bagaimana Pak ?

Arti kemerdekaan adalah bebas. Saya beri contoh, bebas dari korupsi. Seperti kasus Gayus (Gayus Tambunan, tersangka mafia pajak di Ditjen Pajak Departemen Keuangan) konon mencapai lebih dari 600 trilyun, belum lagi ”Gayus-gayus” yang lainnya, yang konon katanya bisa mencapai 1.000 trilyunan. Sementara APBN kita saja kurang lebih sekitar 1.900 trilyun. Andaikan kita merdeka dari korupsi, saya yakin honor buruh yang misalnya hanya Rp. 250.000, bisa meningkat, bantuan operasional sekolah juga akan naik, begitu juga dengan gaji PNS. Dengan situasi seperti sekarang saja kita dapat merasakan, apalagi jika kita merdeka dari korupsi sepenuhnya. Saya yakin kita dapat sejajar dengan negara-negara tertangga lainnya, seperti Malaysia. Jadi saya mengartikan kemerdekaan adalah bagaimana kita merasakan arti hidup ini dengan merdeka sepenuhnya dalam berbagai sektor, seperti: pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan lain sebagainya.

Berarti kita belum merasakan makna merdeka yang seutuhnya. Setiap tanggal 17 Agustus masyarakat terlihat hanya seperti ritual saja.

Jadi kalau menurut saya pengertian tanggal 17 Agustus adalah puncak dari perjuangan kita, deklarasi kemerdekaan yang menandakan kita bebas dari penjajahan fisik. Penjajahan itu kebodohan. Coba kita lihat Singapura atau Malaysia, Negara bekas Kolonial Inggris, mereka kemajuannya lebih bagus. Misalnya dari segi bahasa, bukan berarti kita minta dijajah siapapun, tapi kita dijajah Belanda, hasilnya sudah miskin, bodoh pula. Kita miskin, yang kaya para penjajah saja. Padahal hasil kekayaan itu dari bumi tanah air kita. Cuma bedanya mereka orang bule, kita Melayu. Sekarang tanggal 17 memang tidak dipungkiri hanya ritual saja, walau benar adanya pada tanggal itulah terjadi peristiwa luar biasa. Arti penjajah zaman dulu dan sekarang kan berbeda.

Pada awal perjuangan kemerdekaan, masyarakat bersatu. Namun semakin bertambah usia kemerdekaan Indonesia, masyarakat mudah terlibat pertikaian. Sepertinya kita kehilangan kerekatan sosial. Bagaimana menurut Bapak ?

Ada sebuah kalimat: yang sedikit dan terorganisir dapat mengalahkan yang besar tapi tidak terorganisir. Dulu kita menginginkan merdeka, sekarang yang sulit adalah mempertahankan kemerdekaan. Contoh saat kita di zaman Soeharto, maaf, hak kemerdekaan tidak dirasakan semua orang. Setelah lengsernya Soeharto, kita menginginkan kemerdekaan seutuhnya. Daerah-daerah mengalami pemekaran, yang dulu hanya 27 provinsi, sekarang 33 bahkan masih ada yang mau minta pemekaran lagi. Tentu kita berbeda dengan negara yang penduduknya sedikit, seperti Singapura, hanya belasan juta, kita ratusan juta. Berbeda juga dengan China atau Amerika yang penduduknya milyaran karena kualitas SDM mereka berbeda. Artinya kita harus bijak menyikapinya. Menurut saya saat ini ada degradasi kultur kita, yang dulu katakanlah ada bunyi kentongan lalu masyarakat langsung berkumpul, hal semacam itu sudah hampir punah. Hal seperti itulah yang memacu kekompakan. Sekarang, misalkan, ada partai ayam, partai kelinci, beda sedikit dianggap perbedaan yang besar. Saya pikir itu karena SDM kita masih belum bisa mengendalikan. Kita masih dalam masa transisi, dulu kemerdekaan terpimpin, sekarang tidak. Silakan mau berekspresi banyak hal, sudah lebih mudah. Harapan kita tentu saja agar tidak terjadi pengikisan kultur, yang dulu orang semangat mengalahkan penjajah, sekarang antar kita justru berebut. Yang masih kita harapkan dapat menyatukan kita adalah Pancasila. Itulah yang dapat menjadi payung kita dalam mengalahkan kepentingan pribadi atau kelompok menjadi kepentingan nasional.

Apakah kita tidak bisa sesolid dulu?

Saya mempunyai keyakinan masih bisa. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan pertama adalah berangkat dari undang-undang. Misalnya, banyak sekali konflik memperkarakan hasil  Pilkada yang hampir 70% kasusnya dibawa ke MA. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih belum siap menerima kekalahan. Harusnya dikembalikan ke undang-undang, saya yakin kita masih dapat bersatu di bawah payung yang sama, yaitu undang-undang. Yang kedua adalah membangun kesadaran kultural kita untuk dapat bersatu. Pada dasarnya, kita memiliki kultur masyarakat yang saling menghargai sesama. Selain hal itu, ada unsur agama. Agama manapun tidak mengajarkan permusuhan. Tapi kenyataannya kita masih terkotak-kotak dalam golongan-golongan agama.

Mengenai prasangka sosial tadi, Pak. Untuk meredam konflik, masyarakat butuh figur pemimpin yang dijadikan teladan. Dewasa ini, para figur sepertinya kehilangan wibawa.

Kesempatan paling banyak adalah para pemimpin daerah dan tokoh masyarakat, tokoh agama, atau tokoh adat. Mereka lebih memiliki konsentrasi dalam menangani masalah sosial yang timbul. Jika ada konflik, mereka yang lebih didengarkan. Indonesia memiliki daerah terpencil yang mempunyai adat turun-temurun berikut kepala adatnya. Hanya dengan kentongan dari tokoh adatnya saja, mereka langsung berkumpul. Ini menandakan kekompakan yang solid. Demikian halnya dengan kepala daerah (formal). Cuma kendalanya, pemimpin daerah adalah, misalnya, mereka saat dipilih menang 60%, berarti ada 40% yang tidak memilih mereka. Artinya, ada kemungkinan konflik yang terjadi lebih besar. Tapi kalau pemuka adat, mereka sudah menghilangkan kelompok dan golongan. Namun bukan berarti tidak ada kekhawatiran, dengan semakin majunya teknologi, peluang terjadinya degradasi dari segala lini semakin terbuka lebar. Peran pertama dalam masyarakat adalah keluarga, kemudian pemuka adat atau agama, barulah pemimpin daerah masing-masing.

Belakangan ini kegiatan keagamaan cukup marak, namun perilaku tercela juga ikut marak terjadi. Bagaimana menurut pandangan Bapak ?

Benar, jadi seperti sholat jalan, maksiat jalan. Contohnya begini, sekarang orang yang mendaftar untuk pergi haji ada puluhan juta orang, waiting list terbesar di dunia. Namun dalam masyarakat, kemaksiatan kita makin bertambah. Ada sebuah ayat Qur’an yang terjemahan sederhananya, “Jika suatu kaum beriman dan taqwa kepada Allah, taat pada aturanNya, janji Allah adalah pasti meliputi langit dan bumi beserta isinya, tapi mereka mengingkarinya, dan Allah memberikan adzab”. Masyarakat harusnya patuh dan taat pada aturan yang positif, seperti firman Allah “Taatlah pada Allah, Rasul dan pemimpin di antara kamu”. Janji Allah pasti akan membukakan pintu rahmat dan keberkahan untuk kita. Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tapi salah urus. Jika diurus dengan manajemen yang tidak merugikan rakyat, maka keberkahan akan kembali kepada masyarakat sendiri. Seperti ayat tadi katakan, mereka mengingkari, maka turunlah adzab Allah. Ini konsep yang jelas. Taat pada aturan. Kalau sudah begini, ingat lagi firman Allah, jauhkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Kita lihat Malaysia, merdekanya duluan kita. Mahatir Muhammad pernah mengatakan “ Pak Soeharto, saya menitipkan anak didik saya untuk menimba ilmu di Indonesia”. Tapi sekarang sebaliknya, kita justru bangga belajar di Malaysia. Padahal dulu mereka yang belajar dari kita. Yang harus dibenahi pertama tentu manajemen pemerintahan karena masyarakat sami’na wa ato’na (kami mendengar dan kami taat).

Kembali ke masalah politik, menurut Bapak, sebenarnya kita cocok atau tidak menganut sistem demokrasi ?

Kalau menurut saya, memang kiblat demokrasi kita ke Amerika. Sistem kita, baik demokrasi maupun apa saja, prinsipnya asal kesejahteraan dan keadilan berpaling ke masyarakat. Yang dikejar dalam demokrasi kan kedua hal itu. Saya pikir untuk saat ini demokrasi cocok dengan kita. Kita pernah berada di bawah rezim Orde Baru selama 32 tahun, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sekarang masa transisi. Ibarat menggoreng telur, 3 menit bawahnya matang, saat dibalik, butuh waktu yang sama untuk matang. Demokrasi kita masih berumur satu menit tapi rakyat sudah banyak berteriak mana demokrasi? Kalau masa transisi ini sudah terbayar, barulah dapat kita nilai kecocokannya. Inikan baru dua periode, tergantung pada supremasi hukum. Dalam sistem ini semua dapat diawasi, jauh lebih mudah dikritisi daripada sebelumnya. Masyarakat cukup mempunyai kekuatan untuk menuntut keadilan secara langsung. Partai kita saja sangat banyak. Ada yang menjadi koalisi maupun oposisi yang bertindak sebagai pengawas atau pengkritik jalannya pemerintahan. Ini adalah hal yang sehat asalkan manajemen pelaksanaannya terorganisir dengan baik. Coba jika kita dengan kerajaan, ingat saat zaman dulu kita sempat mencicipi sistem kerajaan, pada akhirnya tidak dapat bertahan hingga kini karena memang sistemnya kurang cocok dengan masyarakat kita yang majemuk.

Jadi Bapak setuju kalau saya katakan, kita perlu waktu 32 tahun untuk mengatakan sistem demokrasi ini berhasil atau gagal?

Sebetulnya Ini bahasa prolog saja, masyarakat kita sekarang berbeda kualitasnya dengan masa sebelumnya. Sumber daya manusia kini memungkinkan agar kita tidak perlu waktu selama 32 tahun untuk mengatakan keberhasilan demokrasi.

Mengenai hukum di Indonesia. Saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa wibawa hukum di mata masyarakat jauh berkurang. Apa yang seharusnya diupayakan para penegak hukum agar citra mereka kembali dipercaya masyarakat?

Yang sedang ramai dibicarakan saat ini memang mengenai hukum ini, bahkan ada yang mengatakan kalau hakim kita tidak dapat dipercaya lagi, pinjamlah hakim Negara tetangga. Dalam hidup kita, yang menjadi rem dan pengendali adalah hukum. Memperbaiki hukum, menurut saya, yang pertama dari sistem dulu. Jangan sampai ada yang rangkap jabatan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah teladan dari pemimpin. Kalau pemimpinnya taat hukum dan tegas, yang dipimpinnya juga akan mengikuti. Tidak tebang pilih dalam menegakkan hukum. Contohlah kepemimpinan Umar bin Khattab yang sangat mengutamakan amanah dari rakyatnya. Lalu bagaimana masyarakat juga yang ikut andil menegakkan kebenaran. Memang ada polisi, sebagai bagian dari penegak hukum. Masalahnya, kepolisian ini menangani banyak masalah hukum, mulai dari pencurian kecil-kecilan sampai yang trilyunan. Mulai dari pertikaian sepele hingga konflik antar kelompok. Sebaiknya ada pendistribusian penanganan kasus agar semuanya tidak numpuk jadi satu di meja yang sama. Pemetaan masalah dan pembagian tugas agar masalah hukum yang ditangani cepat terselesaikan. Yang lebih penting lagi peran pemimpin untuk memberikan garansi semangat penegakan hukum.

Yang terakhir, catatan Bapak untuk masyarakat memberikan makna lebih terhadap kemerdekaan.

Rasa syukur, inilah yang harus terus diingat bangsa kita. Dalam mengisi kemerdekaan, berangkat dari diri kita dulu. Hal yang positif, pendidikan yang memadai. Kita harus bangga, jagonya kimia, fisika, banyak dari Indonesia. Walaupun jagonya korupsi juga dari Indonesia. Artinya, isi kemerdekaan ini dengan pendidikan. Kemudian, merdeka kesehatan. Semakin hari, kita mengalami krisis lahan hijau. Bagaimana mau merdeka kalau turun dari kendaraan saja kita menghirup udara yang tidak sehat, mengotori paru-paru kita. Ancaman kesehatan mengintai. Karena yang dapat mengangkat derajat kemerdekaan kita adalah pendidikan dan kesehatan.

Selain itu juga pembenahan supremasi hukum, agar masyarakat kita merasakan payung keadilan, unsur kesejahteraan merata, membangun kawasan hijau, membangunkan lahan tidur dan sebagainya. Hidup di Indonesia patut disyukuri, luar biasa kekayaan kita, tinggal bagaimana manajemennya kita benahi.

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 10 Agustus 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: