MEMPERKUAT KE-INDONESIA-AN KITA

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Kacung Marijan

Guru Besar FISIP Universitas Airlangga

Sejak awal, para pendiri negara-bangsa Indonesia menyadari bahwa ‘bangsa Indonesia’ sejatinya belum ada. Yang ada, ketika itu, adalah hamparan wilayah yang diduduki oleh Belanda. Hamparan wilayah itu terdiri dari beragam ‘bangsa’. Tetapi, mereka memiliki pengalaman yang sama, dijajah oleh Belanda. Dalam taraf tertentu, di antara mereka juga pernah punya pengalaman berada di dalam sejumlah kerajaan besar, seperti Sri Wijaya, Majapahit, Mataram, dan sejumlah kerajaan yang lain.

            Sejumlah pengalaman yang sama itu merupakan satu dari sekian faktor pokok yang membuat beragam ‘bangsa’ itu untuk membentuk ‘negara dan bangsa’ baru yang namanya Indonesia. Para pendiri negara-bangsa menyadari betul faktor kesejarahan ini. Karena itu, mereka kemudian membuat kesepakatan-kesepakatan bersama tentang apa yang hendak dicapai. Lebih dari itu adalah tentang nilai-nilai yang mempertautkan ‘bangsa baru’ Indonesia itu.

                                                                                         

Bhinneka Tunggal Ika

            Mengingat  ‘bangsa baru’ itu merupakan kumpulan dari beragam ‘bangsa’, para pendiri negara-bangsa itu sepakat untuk membentuk negara-bangsa Indonesia dari perspektif pluralism, bahkan dalam taraf tertentu multikulturalisme. Hal ini terlihat dari semboyan yang disepakati bersama,  ‘bhinneka tunggal ika’. Indonesia terdiri dari beragam suku, etnis, agama, dan perbedaan-perbedaan lain, tetapi tersatukan.

            Disepakatinya ideologi Pancasila, terutama sekali sila yang pertama, merupakan cerminan dari perspektif semacam itu. Para pendiri negara-bangsa menyadari, di samping Islam telah dianut oleh mayoritas ‘bangsa-bangsa’ yang menyatu itu, juga terdapat agama-agama lain. Karena itu, mereka sepakat, Indonesia didasari oleh paham ke-Tuhan-an, meskipun tidak merujuk pada nama Tuhan agama tertentu.

 

Problematika

            Meskipun demikian, upaya untuk membangun ‘negara-bangsa’ baru itu tidak mudah dilakukan. Pada tahun 1950an, terdapat sejumlah pemberontakan di daerah. Bahkan, di Aceh dan Papua (sebelumnya dikenal Irian Jaya), pemberontakan itu berkepanjangan sampai berakhirnya pemerintahan Orde Baru.

            Kalau kita cermati, pangkal tolak dari permasalahan semacam itu adalah adanya realitas dan perasaan ketidakadilan, khususnya antara Jakarta dengan daerah-daerah itu. Memang, awalnya, perasaan itu dirasakan oleh sejumlah elite tertentu. Tetapi, perasaan itu kemudian meluas yang berujung pada adanya mobilisasi melakukan perlawanan.

            Sebuah institusi, suatu negara memang berbeda dengan pasar. Tujuan utama yang hendak diraih oleh negara adalah untuk mencapai keadilan di antara kelompok-kelompok yang ada di dalamnya, antara pemimpin dengan yang dipimpin, dan di antara sesame warga negara. Dalam kontks Indonesia, keadilan itu juga mencakup relasi antar beragam ‘bangsa’ yang ada di dalamnya. Sementara itu, tujuan utama dari pasar adalah untuk mencapai kemakmuran di antara pelaku-palaku pasar itu.

            Tetapi, dalam prakteknya, antara negara dan pasar itu memiliki titik singgung. Permasalahan yang muncul di pada 1950an itu, dan setelahnya, tidak hanya bermuara pada adanya ketidakadilan di dalam bernegara, melainkan juga ketidakadilan di dalam ekonomi. Jawa, khususnya Jakarta, dipandang memiliki keuntungan dari wilayah-wilayah di luarnya.

 

Otonomi Daerah 

            Berangkat dari pengalaman masa lalu seperti itu, setelah Orde baru runtuhnya, terdapat upaya serius untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan makmur. Agar daerah-daerah tidak dianakirikan, misalnya, dibuatlah kebijakan otonomi daerah. Melalui kebijakan demikian, daerah-daerah memiliki keleluasaan untuk mengelola dirinya sendiri tanpa terlalu banyak intervensi dari pusat.

            Para teoritisi pendukung kebijakan otonomi daerah memiliki sejumlah argumentasi mengapa kebijakan semacam itu perlu dibuat dan diimplementasikan. Pertama, kebijakan demikian akan memperdekat jarak para pembuat keputusan dengan rakyat yang hendan dilayani. Kedekatan itu tidak akan memungkinkan  para pembuat keputusan untuk membuat keputusan-keputusan yang sesuai dengan keinginan, selera dan kebutuhan rakyat.

            Kedua, kebijakan otonomi daerah akan memungkinkan rakyat untuk memiliki dua suara atau kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan di dalam memberikan penyuaraan (votes) dan kekuatan untuk pindah ke daerah  lain. Manakala terdapat pejabat publik yang tidak benar, rakyat bisa mendepaknya melalui pemilu(kada) atau melakukan penyuaraan lain. Sedangkan ketika layanan pemerintah daerah tidak baik, yakyat bisa pindah ke layanan swasta atau pindah ke daerah lain.

            Ketiga, adanya otonomi daerah akan menimbulkan persaingan antar daerah. Konsekuensinya, masing-masing pejabat publik di daerah akan berusaha untuk membangun daerahnya sebaik mungkin.

            Hanya saja, implementasi kebijakan otonomi daerah selama ini masih belum mewujudkan argumentasi-argumentasi semacam itu. Sejumlah daerah memang telah memanfaatkan kebijakan itu sebaik mungkin. Tidak mengherankan kalau ditemukan daerah yang mengalami pertumbuhan ekonomi lebih baik.

            Meskipun demikian, efek samping (by products) dari kebijakan itu juga tidak bisa dielakkan. Kebijakan otonomi daerah, misalnya, telah melahirkan transfer praktek korupsi ke daerah-daerah. Implikasinya, sumber-sumber daerah yang seharusnya dipakai untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, hanya dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang tidak bertanggungjawab. Selain itu, kebijakan daerah juga telah melahirkan ‘kebangsaan’ yang sempit. Sabagian, hanya memikirkan dirinya sendiri, bukan ‘bangsa baru’ Indonesia.

 

Kebebasan dan Anti-Kebebasan

            Pasca pemerintahan Orde Baru diiringi oleh proses demokratisasi yang semakin kuat. Kebebasan berpenda[at, berekspresi, dan berorganisasi, yang merupakan karakteristik dari demokrasi, telah tumbuh kuat.

            Meskipun demikian, suasana semacam itu juga dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang ‘anti kebebasan’ dan ‘anti ke-Indonesia-an’. Hal ini terlihat dari munculnya kelompok-kelompok garis keras yang tidak sejalan dengan semangat para pendiri negara-bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara-bangsa ‘bhinneka tunggal ika’. Mereka berusaha memperjuangkan agendanya sendiri. Padahal, mereka ‘anti kebangsaan’ dan ‘anti demokrasi’.

            Situasi semacam itu memang wajar muncul di negara-negara demokratis. Atas nama demokrasi, di negara-negara demokratis biasa muncul kelompok-kelompok yang justru anti-demokrasi. Karena itu, di dalam negara demokrasi dibutuhkan seperangkat nilai-nilai tertentu yang menjadi pijakan bersama. Karena itu, terdapat argumentasi bahwa ketika terdapat kelompok-kelompok yang anti terhadap nilai-nilai bersama itu, kelompok-kelompok demikian harus dieliminasi. Hal ini diperlukan untuk menjamin keberlangsungan terhadap demokrasi.

 

Komitmen Bersama

            Untuk menjamin keberlangsungan negara-bangsa Indonesia, dibutuhkan komitmen dari semua pihak, termasuk ‘bangsa-bangsa’ yang ada di dalamnya, untuk memperkuat Indonesia. Tetapi, komitmen semacam itu membutuhkan tauladan dari para elite yang diberi amanah untuk mengelolanya. Tauladan itu berupa contoh-contoh perilaku sehari-hari dan berupa kebijakan-kebijakan yang berorientasi bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran.

            Adanya keadilan dan kemakmuran akan membuat individu dan ‘bangsa-bangsa’ yang tergabung di dalam negara-bangsa Indonesia tidak hanya merasa nyaman, melainkan juga kebanggaan. Di nagara manapun, salah satu elemen penting dari ‘kebangsaan’ itu adalah adanya kebanggaan dari anggota-anggotanya. Kebanggaan itu akan memungkinkan para anggotanya memiliki kesukarelaan untuk tetap menjadi anggota suatu bangsa.

            Melahirkan kebanggaan merupakan salah satu tantangan besar Indonesia saat ini. Hal ini, misalnya, bisa diwujudkan melalui prestasi di berbagai bidang, mulai dari kebudayaan sampai barang-barang produksi. Tanpa adanya kebanggaan, sulit membangun ‘negara-bangsa’ Indonesia yang kompetitif dan mampu bekerjasama dengan bangsa-bangsa yang lain. Selamat merayakan hari kemerdekaan bangsaku. Semoga hari esok lebih baik.

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 10 Agustus 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: