POTRET EKONOMI DAN PEMBANGUNAN INDONESIA

Oleh: Sujianto

Dosen FISIP Universitas Riau

A.     Pengantar.

Sebelas tahun sudah perubahan administrasi pemerintahan dan kebijakan desen-tralisasi sudah dijalankan, otonomi daerah pun dilakukan, sebagai bukti kita melakukan reformasi untuk kesejahteraan negeri ini. Tetapi, keadaan ekonomi negeri ini tidak bergeser dari angka 5-6 %, bahkan mengalami penurunan, karena para pimpinan sibuk dengan diskusi politik yang tidak berarti. Bahkan menghabiskan energi. Hal ini karena diskusi hanya untuk popularitas pribadi. Lihat saja diskusi tentang Century, diskusi tentang kenaikkan harga dasar listrik, dan sejenisnya. Semuanya hanya tinggal dalam bentuk dokumen. Pemerintah tidak perduli terhadap seruan dan hasil diskusi anggota dewan yang duduk di gedung DPR yang tinggi. Investor yang diharapkan tidak pernah kunjung datang. Padahal mereka diharapkan menanamkan modalnya di tanah air yang selalu dipuji dan disanjung sebagai negara manik batu manikan terhampar di garis khayal yang namanya katulistiwa.

Sementara Presiden sudah datang di negara-negara lain, untuk merayu agar mereka mau bekerjasama dan menanamkan modalnya di negeri ini. Mereka pun menjawab bagaimana mau menanamkan modal kalau setiap hari elit, buruh, anggota masyarakat bercakap dan bertengkar setiap hari untuk mengeruk harta negara ini, demi keperluan pribadi bukan untuk rakyat yang disayangi.

Sejak reformasi pada tahun 1999 hingga tahun 2010 yang kini sudah memasuki bulan ke tujuh dan akan memasuki bulan ke delapan, tetapi ekonomi rakyat terus terjungkal di tepi jalan kehancuran dan ketidakberdayaan untuk membeli kebutuhan barang pangan. Barang-barang kebutuhan dasar masyarakat naik, sementara pendapatan rakyat tidak naik. Lapangan kerja semakin hari semakin berkurang, tempat usaha kecil diserang oleh polisi yang tidak punyai peraturan yang jelas dan terang. Pengusaha dari negeri luar tidak kunjung datang, pengusaha dalam negeri pun hendak gulung tikar. Kenaikkan harga dasar listrik setiap tahun mengalami peningkatan. Kata Dahlan Iskan (Dirut PT. PLN), kenaikan itu untuk kepentingan rakyat yang ia sayangi, agar subsidi yang dibuat pemerintah tepat mengenai orang yang sewajarnya harus diberi. Bukan keadaan seperti sekarang ini, orang kaya mendapat subsidi, orang kecil mendapat maki. Karena menuntut setiap hari melalui demontrasi yang dibiayai.

 Akibat kenaikan harga dasar listrik semua harga barang naik, karena pengusaha tidak mau rugi, pemerintah pun tidak mampu untuk memberi subsidi. Apatah lagi untuk memberi kaum miskin, yang jumlahnya setiap hari bertambah menjadi-jadi di negeri ini. Sementara itu wakil rakyat di gedung DPR tidak perduli. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran anggota DPR dalam berdiskusi, untuk kepentingan rakyat dan negeri ini, selalu bolos seperti tidak tahu diri, bahwa di pundaknya ada kewajiban yang harus ditaati.

Berdasarkan ungkapan kata dan kenyataan ada, kondisi ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana potret atau keadaan ekonomi dan pembangunan negeri ini di masa yang akan datang? Menjawab pertanyaan ini tidak perlu berteori. Berdasarkan pengalaman selama sepuluh tahun ini, pemerintah hanya dapat berjanji akan melakukan perbaikan di sana-sini. Tetapi kenyataannya tidak pernah terealisasi apa yang menjadi visi dan misi kabinet sekarang ini.

  Setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga dasar listrik untuk kelompok pengguna tenaga listrik di atas 900 W. Reaksi pasar, baik yang berskala kecil, menengah dan besar, cenderung negatif. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan harga-harga keperluan dasar rata-rata naik antara 10 -35 % per satuan. Sementara penghasilan kelompok masyarakat menengah ke bahwa  tidak mengalami kenaikan. Dalan jangka beberapa bulan akan ada tuntutan kelompok pekerja, agar penghasilan mereka dinaikkan supaya dapat menyesuaikan dengan harga pasar. Secara kumulatif akan terjadi inflasi antara 5 – 10 % persen di awal bulan Agustus dan September 2010. Perhitungan ini didasarkan oleh kenaikan harga dan kenaikan permintaan menjelang bulan Ramadhan dan menyambut Lebaran.

Kenaikan harga dasar tarif listrik (HDTL) yang dilakukan oleh pemerintah pada hari ini tidak  memberikan kontribusi kenaikan ekonomi dan pengurangan beban pemerintah untuk mengatasi atau membantu persoalan masyarakat yang berskala kecil. Kenaikan HDTL itu memicu kelumpuhan pengusaha kecil dan menengah, karena menambah beban biaya pokok produksi yang mereka lakukan. Sebagaimana difahamkan bahwa sebagian besar pelaku ekonomi kita hari ini bertumpang pada pelaku ekonomi kecil dan menengah. Kelompok pelaku ekonomi ini selain jumlahnya banyak, mereka juga menggunakan modal padat karya. Jika jumlah ekonomi kecil menengah sekarang ini hampir dua pertiga dari jumlah pelaku ekonomi yang ada sekarang. Ini berarti jumlah penduduk yang bergantung dengan ekonomi kecil dan menengah juga berjumlah dua pertiga dari jumlah penduduk. Tentu kenaikan HDTL yang tadinya bertujuan untuk membantu masyarakat kecil, tidak memberikan manfaat apa-apa. Contoh, apabila subsidi listrik yang diperoleh oleh kelompok masyarakat kecil hanya 5 % dari keperluan hidup mereka, sementara kenaikan harga barang pokok lain mencapai 10 hingga 15 %. Artinya mereka harus menambah biaya hidup dalam satu bulan 5 – 10 %.

Dengan demikian target kenaikan pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah  antara 6 – 7 %, tidak memberikan dampak yang berarti terhadap tingkat keperluan hidup masyarakat, karena beban hidup masyarakat  mengalami kenaikan antara 10 – 15 %. Begitu juga dengan target penurunan pengangguran yang ditetapkan oleh pemerintah 5 – 6 %, tidak akan pernah tercapai. Karena pengusaha kecil dan menengah  dengan kenaikan HDTL yang mencapai 18 % akan menjadi beban harga pokok produksi, dan ini akan mengurangi daya saing pengusaha kecil dan menengah, secara tidak langsung mereka akan mengurangi tenaga kerja atau tutup (gulung tikar) karena tidak mampu untuk biaya produksi. Muara dari semua peristiwa tersebut adalah akan memberikan kontrsibusi kenaikkan prosentasi masyarakat miskin.

 Agar pembangunan ekonomi ke depan tidak mengalami masa suram, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut; Pertama, menggalakan pasar dalam negeri dan mengoptimalkan pengolahan bahan yang bersumber dari bahan dalam negeri. Kedua, perlu melakukan reinventarisasi sumber-sumber kekayaan alam dan pengelolaannya dilakukan oleh negara. Ketiga, perlu melakukan penataan ulang pengeluaran yang tidak memberikan konstribusi pendapatan negara, seperti  BUMN-BUMN yang menjadi beban negara ditutup saja. Keempat, penggalian potensi ekonomi dalam negeri, dengan mengoptimalkan pelaksanaan kegiatan di daerah-daerah, dan memberikan kewenangan kepada daerah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kelima, mengurangi perjalanan dinas bagi pejabat daerah dan pusat baik dalam maupun luar negeri. Karena selama ini studi banding yang dilakukan oleh pejabat tidak memberikan konstribusi apapun kepada kemajuan ekonomi baik skala nasional maupun regional. Kepala-kepala daerah yang bandel dan selalu melakukan perjalanan dan meninggalkan tempat tugas perlu ditindak tegas. Karena perjalanan yang mereka lakukan menggunakan dana atau uang rakyat yang diakomodir dalam APBN/APBD.

Keenam, perlu mengevaluasi RAPBN/RAPBD yang akan datang, agar tidak memasukkan biaya perjalanan dinas atau studi banding. Pemerintah perlu melakukan inventarisasi semua lahan dan mengklaisifikasikan sesuai dengan peruntukan seperti; lahan milik negara, lahan milik daerah, lahan milik rakyat, lahan milik perusahaan swasta. Jangan mengeluarkan izin pengolahan kayu yang merupakan sumber pengahsilan rakyat. Pembukaan lahan perkebunan di daerah-daerah secara besar-besarkan akan mengakibatkan jurang kemiskinan yang semakin jelas. Karena rakyat kecil yang ada di sekitar kawasan perkebunan hanya menjadi buruh dan penonton. Sementara dana hampir 75 % menguap ke pusat dan pemilik modal.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 30 Agustus 2010, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. trimakasih atas infonya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: