Buang Cerita Sedih UKM dan Koperasi

Di masa-masa krisis ekonomi, usaha kecil dan menengah (UKM) sering dipandang sebagai ‘dewa penyelamat’ dalam mengatrol pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja. Hal ini tidak lepas dari karakteristik UKM sebagai sektor usaha yang bersifat padat karya yang sekaligus merupakan sektor yang memberikan solusi terhadap permasalahan realitas sosial ekonomi. UKM juga merupakan sektor usaha yang memiliki nuasa kesederhanaan dan dapat dikerjakan oleh masyarakat yang tidak memiliki keterampilan dan kekurangan modal untuk mengelola lapangan usaha yang bersifat formal dan padat modal.

Namun karakteristik itu pula yang justru menyebabkan UKM tidak selalu dapat berhasil mengakses sumber-sumber yang mendukung kemajuan usaha, seperti permodalan, teknologi, dan jaringan pemasaran. Akibatnya, daya saing UKM seringkali terancam oleh industri besar. Persaingan di era globalisasi ekonomi juga cukup memberi ancaman yang besar bagi kelangsungan hidup UKM.

Situasi yang kurang lebih sama juga terlihat dalam unit usaha lain yang bernama koperasi. Meskipun dalam berbagai pernyataan dan literatur koperasi sering dikatakan sebagai sokoguru perkonomian nasional, namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Koperasi sering lebih dipahami sebagai entitas charity (pemberi sumbangan) ketimbang entitas bisnis. Bahkan, koperasi pernah juga dijadikan sebagai instrumen kelompok tertentu untuk membangun kekuatan politiknya. Itu mungkin sebabnya koperasi sulit untuk berkembang sebagaimana julukan sokoguru perekonomian yang dialamatkan padanya.

Jika mau melihat secara lebih filosofis, keberadaan UKM dan koperasi adalah sebuah keniscayaan, karena tidak semua hal di dunia ini bisa dilakukan dengan skala yang besar. Hanya saja yang jadi persoalan—sebagaimana terjadi di bidang kehidupan yang lain—adalah seringkali dominasi dari kelompok usaha yang besar ini terlalu kuat sehingga mengancam dan melemahkan kelompok usaha kecil dalam menjalankan usahanya. Dalam konteks inilah, pemerintah memiliki peran yang sangat penting untuk membuat regulasi dan memberi akses yang seimbang bagi semua skala usaha agar masing-masing dapat berkembang optimal.

Sampai saat ini masih berkembang di tengah masyarakat, bahkan justru lebih banyak dari kalangan berpendidikan bahwa UKM dan koperasi bukanlah sebuah jalur usaha yang menjanjikan secara ekonomi dan finansial. Kata-kata “kecil” dan “menengah” sepertinya telah menciptakan kesan bahwa UKM dan koperasi selalu berkonotasi asset kecil, dan itu kemudian dimaknai sebagai hanya menghasilkan keuntungan yang kecil juga. Padahal saat ini, di tengah perkembangan informasi dan teknologi, justru banyak sekali usaha kecil yang malah memberi keuntungan yang besar.

Lihat saja, usaha-usaha kuliner, kerajinan, jasa perdagangan, dan jasa-jasa lainnya yang ternyata menghasilkan jutawan bahkan milyuner baru. Banyak juga kisah dimana seorang karyawan perusahaan besar yang memutuskan untuk keluar dari perusahaannya kemudian serius memulai usaha kecil. Hasilnya, mereka yang berhasil justru mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dari yang mereka dapatkan ketika mereka masih menjadi karyawan perusahaan besar.

Memperhatikan perkembangan yang ada, sepertinya perlu semacam paradigma baru dalam memfasilitasi perkembangan UKM dan koperasi. Masyarakat harus dipahamkan bahwa UKM dan koperasi tidak selalu identik dengan cerita sedih dalam berusaha. Dalam konteks ini, pembangunan karakter “entrepreneurship” (kewirausahaan) menjadi hal yang penting untuk mulai ditanamkan dalam diri masyarakat, terutama generasi muda. Dengan semangat “entrepreneurship” ini pula diharapkan harapan membangun cita-cita UKM dan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia tidak hanya indah di tingkat slogan saja. Sudah saatnya cerita sedih tentang UKM dan koperasi kita buang jauh-jauh.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 13 April 2011, in Ekonomi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: