ACFTA, Perekonomian, dan Kemiskinan

oleh: Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan.Ms

Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB

 

 

Setahun setelah diimplementasikannya ACFTA, kekhawatiran rontoknya beberapa industri tertentu kian menjadi kenyataan. Hal ini disebabkan oleh tidak mampunya industri kita bersaing dengan produk-produk China. Demikian juga produk-produk pertanian yang mungkin akan menghadapi persoalan yang sama.

China dikenal sebagai produsen yang efisien, penghasil barang murah, yang tentu saja cocok untuk pasar konsumen dengan daya beli rendah seperti Indonesia.  Di satu sisi, membanjirnya produk China akan semakin memanjakan masyarakat konsumen Indonesia, namun di sisi lain dapat menjadi bumerang karena ancaman PHK bagi tenaga kerja Indonesia.

China sebagai salah satu negara industri terkemuka dengan nilai ekspor sangat besar tentu telah banyak belajar untuk memperbaiki citranya sebagai produsen barang kelas 2.  Adanya ACFTA tidak akan disia-siakan, dan negara kita dapat menjadi konsumen paling potensial dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.

Kekuatan perdagangan domestik kita menghadapi ujian berat tahun  ini.  Jangan-jangan ACFTA  akan menambah kisruh upaya-upaya Indonesia untuk memerangi kemiskinan. Bukankah ancaman PHK di dunia industri akan menyebabkan tingginya pengangguran yang kemudian akan menambah jumlah orang miskin?

Pengangguran di Indonesai tidak hanya dihadapi oleh kaum terdidik tingkat menengah yakni lulusan SMA ke bawah, namun juga lulusan sarjana.  Banyak sarjana-sarjana baru yang harus menunggu lebih dari satu tahun sebelum mendapatkan pekerjaan. Mereka yang telah mendapat pekerjaan tidak secara otomatis bebas dari kemiskinan.  Ada yang bekerja dengan curahan waktu yang kurang sehingga penghasilannya juga minimal, dan ada pula yang bekerja dengan upah tidak layak meski curahan waktunya sudah maksimal. Data pengangguran di Indonesia ada dua macam. Menurut BPS jumlah penganggur adalah 10,55 juta (2007) dan menurut Bank Dunia jumlahnya lebih dari 40 juta orang.

Inti dari pemecahan masalah kemiskinan adalah tersedianya lapangan kerja, dan hal ini dapat diwujudkan apabila sektor industri berjalan lancar. Pada tahun 2009 tingkat kemiskinan nasional 14,5 persen. Ditargetkan dalam lima tahun ke depan angka kemiskinan bisa ditekan hingga 8-10 persen. Program-program bantuan untuk orang miskin selama ini sudah berjalan relatif baik, misalnya: raskin, BLT, Jamkesmas, serta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, dan Kredit Usaha Rakyat.

Ketersediaan lapangan kerja menjadi tanggung jawab berbagai sektor. Sektor perindustrian dan perdagangan akan menjadi pilar penting untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan memberikan kontribusi pendapatan pada setiap keluarga-keluarga di Indonesia.

Disadari bahwa sektor pertanian dianggap kurang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan. Populasi petani kita lebih banyak didominasi oleh petani gurem dengan pemilikan lahan sangat sempit. Data persentase penduduk miskin usia 15 tahun ke atas (BPS, 2004) menunjukkan persentase terbesar penduduk miskin hampir di seluruh kabupaten/ provinsi adalah  mereka yang bekerja di sektor pertanian.

Besarnya angka kemiskinan di sektor pertanian, mungkin juga berkaitan dengan kemampuan pertanian sebagai buffer pengangguran. Di masyarakat, mata pencaharian sebagai petani kadang digunakan sebagai perlindungan dari status pengangguran. Daripada disebut penganggur, lebih baik bekerja di pertanian. Hal tersebut  turut menjelaskan  laporan dalam World Development Report 2003, yakni bahwa penduduk desa yang tinggal di area fragile (dan umumnya bermata pencaharian petani), meningkat  dua kali lipat dalam 50 tahun ini.

Pada tahun 1970-an kesejahteraan petani dan tenaga kerja industri tidak begitu jauh berbeda.  Namun kini, keadaan tidak lagi berpihak pada petani. Setiap tenaga kerja pertanian hanya dapat menikmati sepertiga kue pendapatan, sedangkan satu tenaga kerja industri dapat memperoleh tiga bagian pendapatan. Industri melaju jauh lebih cepat dibandingkan sektor pertanian.  Serapan tenaga kerja pertanian memang bertambah, namun kalau pertanian kita hanya dijejali dengan petani gurem maka sektor pertanian akan menjadi penyumbang kemiskinan yang signifikan.

Kesejahteraan petani hingga kini masih merupakan mimpi. Pada tahun 2002 dari total penduduk miskin di  Indonesia, lebih dari separonya adalah petani yang tinggal di pedesaan.  Jumlah rumahtangga pertanian pada tahun 2003 adalah 24,3 juta, sekitar 82,7% di antaranya termasuk kategori miskin.

Ada pameo yang mengatakan kalau ingin hidup tentram jadilah petani, kalau ingin dihormati jadilah pegawai negeri, dan kalau ingin kaya jadilah pedagang.  Kenyataannya kini petani tidak bisa hidup tentram karena kemelaratan, pegawai negeri tak dihomati karena korupsi, dan pedagangpun banyak yang bangkrut karena produknya tak mampu bersaing dengan produk impor.

Kita yang selalu bangga mengklaim diri sebagai bangsa agraris atau negara maritim, ternyata tidak pernah meraih kemakmuran dari kedua bidang tersebut.  Impor beras dan produk-produk pertanian lainnya masih saja terjadi. Potensi laut kita tidak termanfaatkan secara maksimal karena ketidakmampuan teknologi penangkapan ikan.  Akhirnya produk kelautan banyak dicuri nelayan-nelayan luar.

Salah satu teori tentang kelaparan menyebutkan bahwa hunger adalah bencana kemanusiaan yang dapat terjadi bilamana kebijakan pertanian dirumuskan secara tidak tepat.  Kebijakan pertanian yang tepat adalah kebijakan yang berpihak petani. Oleh karena itu kebijakan di bidang ini terlebih dahulu harus digodok dengan matang, dan diperhatikan dampak positip-negatipnya baik bagi petani maupun masyarakat.

Kebijakan pertanian akan menyangkut nasib jutaan petani.  Oleh sebab itu kebijakan yang keliru akan menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan yang tidak mustahil akan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.  Kebijakan pengentasan kemiskinan akan menghablur tanpa hasil, karena dampak positipnya tertutup oleh dampak negatip kebijakan lain yang tidak tepat.  Kerja keras pemerintah akan tampak nihil karena orang miskin tidak berkurang tapi justru bertambah.

Fokus pembangunan pertanian adalah keberdayaan petani, daya saing produk, dan kelestarian lingkungan.  Inilah paradigma baru pertanian di abad 21.  Employment shifting diperlukan untuk memberdayakan petani.  Beban sektor pertanian dengan jutaan petani gurem harus dikurangi.  Ini berarti industri nasional harus bergerak dengan laju yang lebih cepat, dan investasi harus segera masuk untuk kemudian menyerap tenaga-tenaga kerja.  Tanpa employment shifting, yang terjadi adalah bertambahnya kegureman petani yang akan semakin memperlihatkan betapa terpuruknya petani-petani kita.

Daya saing produk pertanian harus selalu diperbaiki. Lembaga-lembaga riset pertanian di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak dan setiap tahun menyerap anggaran cukup besar jangan hanya jadi macan kertas.  Lembaga-lembaga riset depertemen harusnya lebih banyak menghasilkan karya terapan yang bisa langsung diimplementasikan di lapangan oleh petani-petani kita. Hasil riset yang hanya ditumpuk-tumpuk menjadi laporan atau makalah seminar, tidak akan pernah mensejahterakan petani Indonesia.

Menyangkut kelestarian lingkungan, maka sudah saatnya pemerintah memberi apresiasi kepada petani-petani yang mempraktekkan pola pertanian ramah lingkungan.  Pemanfaatan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pestisida akan lebih baik bagi lingkungan hidup kita.  Kita hidup bukan hanya untuk diri kita saat ini, tetapi juga untuk anak cucu kita di tahun-tahun mendatang.  Rusaknya lingkungan berarti hancurnya kehidupan di masa datang, dan generasi saat ini akan terus dikutuk apabila kita tidak berusaha menerapkan cara hidup yang lebih bersahabat terhadap lingkungan.

Sangat penting bagi kita semua, termasuk para birokrat pembuat kebijakan, untuk mengubah mind set bahwa pertanian identik dengan kemiskinan.  Negara-negara lain banyak yang hidup makmur karena memiliki sistem pertanian yang kuat. Negara-negara tetangga kita seperti Thailand, Cina, dan Malaysia dapat berjaya dengan produk pertaniannya. Demikian pula Amerika Serikat, hingga kini tetap menjadi eksportir pangan-pangan utama ke berbagai negara.

Dengan memperhatikan persoalan-persoalan besar yang akan muncul bila pemerintah salah membuat kebijakan yang menyangkut nasib petani, maka bangsa ini  harus mempunyai grand design tentang pembangunan pertanian yang menguntungkan petani dan tidak menyengsarakan rakyat.   Sektor pertanian adalah andalan bangsa kita, oleh sebab itu ciptakan kemakmuran bangsa melalui pembangunan pertanian yang tepat.  Diharapkan kebijakan pertanian di masa datang bisa lebih fokus pada usaha-usaha memperbaiki kesejahteraan para pelaku pertanian karena sudah sangat lama para petani memimpikan hidup yang lebih sejahtera

ACFTA semakin membuka peluang membanjirnya produk-produk China seperti mainan anak-anak, garmen, dan mungkin produk hortikultura. Selama ini konsumen Indonesia sudah menikmati beragam buah-buahan impor yang dari segi penampilan lebih menarik, dan dari segi harga lebih murah.

Ketidakmampuan petani-petani Indonesia menghasilkan produk pertanian bermutu menyebabkan rendahnya daya saing menghadapi produk pertanian China. Telah banyak dilakukan penelitian dan kajian faktor-faktor yang mempengaruhi keterpurukan petani. Salah satu di antaranya adalah kesulitan pembiayaan usahatani dan kebutuhan dana cash untuk keperluan hidup selama masa menunggu penjualan hasil panen. Banyak petani terjebak sistem ijon dan atau hutang kepada para tengkulak yang mematok harga pertanian dengan harga rendah. Para petani kini semakin tidak memiliki bargaining position lagi.  Demikian halnya dengan rendahnya produktivitas petani kecil sebagai konsekuensi beragam masalah seperti keterbatasan sumber daya manusia petani, penyusutan luas lahan produksi, tidak memadainya sarana produksi dan prasarana yang dibutuhkan usaha tani yang efisien, dan berbagai masalah lainnya.

Deklarasi Copenhagen yang dirumuskan dalam  UN’s World Summit on Social Development menjelaskan fenomena kemiskinan sebagai deprivasi kebutuhan dasar manusia yang tidak hanya menyangkut sandang, pangan, dan papan, tetapi juga akses terhadap pendidikan, fasilitas kesehatan, air bersih dan informasi.

Kemiskinan di Indonesia mungkin merupakan kombinasi beragam kemiskinan yakni kemiskinan subsistens yang dicirikan oleh rendahnya daya beli, waktu kerja panjang, lingkungan tempat tinggal yang buruk, dan sulit mendapatkan air bersih.  Selain itu, masyarakat juga mengalami kemiskinan kultural yaitu keengganan untuk mengentaskan diri dari kemiskinan.  Mereka yang mengalami kemiskinan kultural mungkin sudah pasrah dan menerima keadaan apa adanya.  Kemiskinan kultural menimbulkan mental suka meminta.

Membahas soal kemiskinan tidak bisa terlepas dari standar kebutuhan hidup minimum/ layak  yang merupakan garis pembatas untuk membedakan orang miskin dan tidak miskin.  Mencermati garis kemiskinan yang ditetapkan BPS (2006), maka angkanya lebih kecil dari $1 per kapita per hari untuk hampir seluruh kota dan kabupaten di Indonesia.  Garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia $1 atau $2 per kapita perhari memungkinkan  bagi setiap negara untuk membandingkan posisinya dengan negara-negara lain.

Sebuah penelitian tentang garis kemiskinan telah dilakukan di Kabupaten Subang (Nani Sufiani dkk., 2008),  hasil temuannya cukup menarik. Garis kemiskinan versi penelitian ini adalah Rp 457.558 per kapita per bulan ($1,6 per kapita per hari).  Angka ini lebih besar dibandingkan garis kemiskinan BPS untuk Kabupaten Subang ($0,66) dan berada di antara garis kemiskinan Bank Dunia $1 dan $2.

Harapan agar ACFTA ditinjau kembali telah disuarakan oleh para pihak. Sangat penting kini pemerintah, sektor industri, dan sektor pertanian bahu membahu mengantisipasi gelombang serbuan produk China.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 24 Mei 2011, in Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: