“Kalau Itu Dijalankan, Pemberi Izin yang Disalahkan”

Geliat bisnis waralaba di Indonesia semakin merajalela. Apalagi ada kecenderungan bisnis yang sifatnya franchise ini—oleh pendapat kebanyakan orang—bisa mematikan usaha kecil di sekitarnya. Namun, Ferrari Rumawi, anggota DPR RI dari Komisi VI mengatakan, tidak sependapat, karena franchise bukan minimarket, kursus Bahasa Inggris, bengkel motor, dan lainnya. Franchise itu sistem.

Hal itu dipaparkan dalam acara Mata Mahasiswa di TVRI yang ditayangkan pada 6 Juni 2011 pukul 22.00 WIB dengan tema “Bisnis Waralaba dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan” bersama nara sumber lainnya, seperti: Anang Sukandar dari Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Untung Tribasuki dari Kementerian Koperasi dan UKM, serta dari kalangan mahasiswa diwakili Parlindungan Simarmata dari Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Noviandri Nurlaili dari Universitas Indonesia, dan Muhammad Sukron dari Ikatan Mahasiswa Muhamadyah.

Anang Sukandar memaparkan, kalau dari manajemen, franchise itu adalah sebuah konsep pemasaran yang pada saat bersamaan merupakan strategi perluasan. Yang jadi masalah adalah zoning. Aturan tidak boleh dekat dengan pasar basah itu harus dijalankan dengan konsekuen. Kalau itu tidak dijalankan, yang salah yang memberikan ijin. Karena franchise itu sebuah konsep yang unggul. Banyak yang mulai dari gerobak dorong sekarang mendunia.

Sedangkan Untung Tribasuki mengatakan, konsep ini sangat efektif dan ini tren abad 21, dari sistem keagenan ke franchise. Yang masalah kan dari franchisor dan franchiseenya. Artinya, pengusaha kecil perlu kita angkat melalu kemitraan pada waralaba. Persoalannya adalah kepastian hukum dan keadilan.

Pendapat mahasiswa tentang bisnis waralaba ini cukup beragam. Parlindungan Simarmata mengatakan bahwa yang menjadi masalah di franchise adalah belum adanya payung hukum yang jelas dari pemerintah, yang ada baru aturan dari lembaga terkait. “Yang saya lihat baru 75% dari usaha franchise ini belum memenuhi aturan yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan,” kilahnya.

Kemudian Noviandri Nurlaili memaparkan, di franchise kan ada franchisor dan franchisee, artinya ada lisensi yang dibeli. Siapa yang bisa memiliki dan membeli lisensi? Orang yang punya modal tentunya. Novi juga setuju  kalau franchise adalah konsep yang unggul dari segi pemasaran dan segi distribusi. Tapi kembali lagi, di Indonesia dengan konsep ekonomi kerakyatan, harusnya franchise itu bisa mengelaborasi kalangan ekonomi bawah. Jadi, ketika franchise itu masih menganut sistem pemodalan,  yaa.. jadinya seperti itu.

Sementara Muhammad Sukron mengatakan, pijakan franchise itu ada di pemodalan dan pola pikir masyarakat dan efektif. Masyarakat berfikir tentang belanja modern, efektif, dan lebih murah. Nah, ini yang tidak ada di pasar-pasar tradisional yang tidak punya brand. Akhirnya mereka kalah dengan brand tertentu yang modern. Pola pikir masyarakat ini yang harus kita bangun bahwa franchise itu lebih efektif.

 

Memang dari sisi bisnisnya, franchise menguntungkan. Namun sering disuarakan bahwa pasar tradisional terpukul dengan adanya hypermarket. Ini seperti raksasa melawan yang kecil.  Menurut Ferrari Rumawi, ada dua hal yang berbeda, yakni kalau di pasar tradisional orang beli barang untuk dijual lagi, itu harus bayar. Kalau di hypermarket, simpan barang pun harus bayar. Jadi, tidak mungkin ada persaingan sehat antara pasar tradisional dengan hypermarket. “Satu-satunya jalan adalah gunakan zoning dan itu harus diundangkan. Kita sangat konsen untuk itu,” ketus Ferrari.

Sedangkan bagi Anang, hanya di kota-kota besarlah supermarket itu unggul, tapi di desa-desa tidak mungkin. “Tapi hypermarket di luar negeri itu adanya di luar kota, tidak di dalam kota. Supermarket harus di luar kota. Dan pasar tradisional masih dibutuhkan di Indonesia. Indonesia itu 17.000 pulau tidak mungkin dikuasai pasar modern,” jelasnya lagi.

Parlindungan Simarmata mengatakan, pemerintah juga harus memperhatikan pasar tradisional, karena pasar tradisional tidak bisa dimatikan. Yang dijual di pasar tradisional bisa dijual di pasar modern, tapi harga harus diatur. Pemerintah harus masuk ke pasar tradisional yang didesain dengan modern. Jangan hanya ke franchise, franchise itu tidak bisa menjamin kalau produknya lokal semua, malah banyak dari luar.

Sedangkan Noviandri Nurlaili, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, berpendapat franchise itu harus bisa menjamin secara keseluruhan. Selama franchise itu masih berdiri sendiri dan terpisah dari UKM, baginya kurang baik. Karena yang bisa memiliki franchise hanya yang punya modal. Harusnya UKM-UKM juga didorong dalam sebuah koperasi.

 

 

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: