“Selain Kualitas, Harus Ada Mapping”

Setelah adanya keran perdagangan antar negara-negara ASEAN bahkan China untuk sektor pangan, sepertinya negera kita terlihat hanya jago kandang saja. “Menurut pandangan kami di Komisi IV DPR, kita masih jauh ketinggalan dibanding dengan negara-negara lain di ASEAN. Kita yang mempunyai lahan yang begitu besar, tapi sampai 2010 kita masih termasuk 37 negara yang krisis pangan, di luar Haiti, Mesir, dan sekelas itu lah.. Itulah Indonesia saat ini,” ungkap H. Saefullah Tamliha, dari Komisi IV DPR RI dalam acara Bincang Malam Mata Mahasiswa tanggal 13 Juni 2011.

Dalam acara yang mengangkat tema “Prospek Pertanian Indonesia di Ranah Regional” itu juga menghadirkan narasumber lainnya, seperti: Ir. Agustine Zulkarnaen, M.Si., dari Kementerian Pertanian, dan dari kalangan mahasiswa hadir: Ringkel Riko, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Nasional, Leo Wibisono Arifin, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Arvita Oktaviana, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung.

Agustine Zulkarnaen memaparkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Menurut data yang dimiliki Kementerian Pertanian, pemasaran hasil pertanian Indonesia cukup baik. Dari tahun 2000-2010 Indonesia menempati urutan kedua setelah Thailand di ASEAN. Thailand 30 %, sedang Indonesia 25%. Yang paling banyak adalah perkebunan, seperti: minyak sawit, kakao atau coklat, kopi, dan teh.

Namun bagi Ringkel Riko, mahasiswa yang notabene juga mewakili masyarakat Indonesia pada umumnya, mengatakan di regional saja Indonesia sudah kalah dengan Thailand. Karena dari segi kualitas produk pangan Indonesia rendah mungkin ini karena kurangnya tenaga ahli di kita. Ini bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian, tapi tanggung jawab kita semua, termasuk juga petani.

Leo Wibisono Arifin dari IPB mengutarakan, di tahun 2050 diprediksi ada 9 milyar orang yang kelaparan dan sekarang masalah krisis pangan menjadi nyata. Konsep feed the world (memberi makan negara lain) adalah konsep yang sangat menguntungkan. Dari segi pemasaran produk pertanian ada dua masalah di Indonesia . Pertama ketidakadaannya sinkronisasi petani terhadap modal. Di sini tidak ada koneksi petani kepada modal dan pasar dimana petani bukanlah yang mengendalikan pasar. Kedua, bisnis kita masih kecil, sehingga sulit didapatkan suatu produk dengan kualitas yang sama. Seperti ibu-ibu kalau membeli buah masih pilih-pilih. Sementara produk ekspor atau impor memiliki kualitas sama. Karena di sini belum ada estate atau perkebunan besar yang memproduksi produk dengan kualitas sama

Sementara, Arvita Oktaviana dari Unpad menganggap masalah pemasaran pertanian Indonesia ini karena tidak adanya kelembagaan petani yang menjembatani antara petani dan pasar. Lembaga itu bertugas untuk mensurvei produk apa yang dibutuhkan oleh pasar internasional, kemudian dikembangkan produk-produk itu di berbagai daerah. Tentu tiap daerah punya komoditi unggulan.

Jadi, bagaimana dengan Kementerian Pertanian melihat kekuatan dan kelemahan pertanian Indonesia untuk bisa menembus pasar internasional? Agustine Zulkarnaen mengatakan, sebenarnya kita tidak kalah bersaing di pasar ASEAN. Data 2010, Thailand 30%, Indonesia 23%, Malaysia 22%, Singapura 15%, Vietnam 9%, Philipina 3 %. Nah, dilihat dari perkembangan nilai ekspor di regional ASEAN dari tahun 2000 ada perkembangan 22% rata-rata pertahun.

Kemudian soal komoditi unggulan di tiap daerah atau dibuatnya mapping komoditas unggulan, Agustien Zulkarnaen mengatakan sekarang sudah menerapkan sistem kluster. Kegiatan atau program yang ada di pertanian harus pertama, terpadu/terintegrasi, lalu harus lebih banyak menyentuh kepentingan petani. Harus mempertimbangkan juga apakah kegiatan itu memberikan multiplier effect atau tidak dan harus direplikasi. Karena data yang diberikan oleh Pak Tamliha ini hanya sebagai trigger atau pemacu jadi harus direplikasi oleh petani.  Karakteristiknya itu harus fokus komoditas.

Pernyataan Agustine langsung diamini Syaefullah Tamliha dari Komisi IV DPR RI. Ia mengungkapkan harus ada mapping tertentu. Kalimantan fokuskan untuk karet dan sawit, Sulawesi fokuskan untuk kakao dan kopi, Jawa untuk teh, Sumatera fokus untuk gula atau tebu. Dengan demikian jelas sasarannya.

“Namun, ada kendala kalau di Kalimantan ingin fokus ke sawit dan karet itu ada masalah dengan alih fungsi hutan yang kewenangannya di Kementerian Kehutanan. Hutan itu kan ada hutan lindung, hutan konservasi, hutan produksi, dan hutan produksi terbatas yang bisa dialih fungsi,” jelas Syaefullah Tamliha.

Bagi Ringkel Riko, pemerintah harus mengembangkan kebijakan pemasaran agar pasar bisa diakses oleh petani dan harus memperbaiki kualitas produk, terutama di pascapanen.  Menurut Leo Wibisono Arifin, pertama harus ada pro-balance ekonomi petani, yaitu harus ada bank khusus pertanian. Yang kedua, riset dan teknologi, risetnya harus terarah. Riset di universitas juga harus dipacu supaya commercial base. Yang terpenting lagi ada kolaborasi.

Sementara Arvita Oktaviana dari Unpad memaparkan, yang pertama adalah masalah diversifikasi pangan. Misalnya di Cimahi,  masyarakatnya sudah mengkonsumsi singkong seperti beras. Kenapa itu tidak dijadikan contoh untuk daerah-daerah lain? Yang kedua, untuk ekspor supaya tidak mengekspor barang mentah, tapi barang jadi. Yang ketiga, pertanian itu harus dibuat sistem agribisnis.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: