“Waralaba itu bisa memajukan usaha kecil..”

Bisnis waralaba sudah tidak asing lagi di Indonesia. Bisnis ini boleh dibilang booming saat  restoran cepat saji yang ada di kawasan jalan Thamrin, Jakarta pada tahun 1990 itu menjadi ikon bagi masyarakat kota metropolitan. Resto yang menjadikan tempat “tongkrongan”  atau gaya hidup anak muda kota besar itu kian kemari semakin maju pesat bahkan gerainya terus bertambah sampai ke kota-kota lain di Indonesia.  Untuk mengetahui lebih gamblang dan detail soal bisnis menggunakan sistem franchise, Redaksi INSPIRASI menjumpai Ketua Dewan Pengarah WALI (Waralaba dan Lisensi Indonesia), Amir Karamoy belum lama ini. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana pandangan Bapak tentang bisnis sistem franchise yang dikaitkan dengan usaha menengah dan kecil?

UU pertama yang menyebut waralaba itu adalah UU usaha kecil Nomor 9 Tahun 1995, sekarang sudah dicabut dan diganti dengan UU Nomor 20 Tahun 2008, namanya usaha mikro kecil dan menengah. Kalau kita lihat kedua UU itu, waralaba itu memang untuk usaha kecil. Memang ada kesalahpahaman di masyarakat bahwa waralaba itu sesuatu yang modern dan membunuh usaha kecil. Itu tidak waralaba.. dan itu bukan produk tapi sebuah metode yang bisa dipakai oleh usaha keci, mikro, atau pun menengah. Cuma, kalau usaha itu berkembang, disororti seperti Indomart dan Alfamart yang dapat mematikan. Waralaba itu metode yang dapat digunakan untuk siapa saja terlepas itu modern atau kecil.

Jadi, apa rohnya sistem waralaba sebenarnya?

Mitra. Jadi, di UU Nomor 20 Tahun 2008, waralaba itu diartikan sebagai kemitraan antara perusahaan besar ke  menengah, menengah, dan kecil.

Seperti apa contoh konkritnya?

Bantuan yang disebut bantuan manajemen. Waralaba itu ada dua. Yang pertama: merek atau HAKI, yang kedua: sistem atau manajemen. Definisi PP No 42 Tahun 2007 tentang waralaba. Waralaba itu adalah sistem usaha yang telah terbukti berhasil. Jadi, kalau saya punya perusahaan yang sudah besar dan mereknya dikenal, saya punya hak untuk waralaba.

Keuntungan dari waralaba apa, Pak?

Waralaba itu pada hakikatnya adalah perusahaan punya pengalaman dan menjual pengalamannya kepeda orang lain. Supaya orang ini belajar dari dia, bagaimana menjadi sukses, kemudian dia ikut sukses. Apa itu ukuran sukses menguntungkan, ada profit, sistem manajemen sudah tidak amburadul, sistem keuangannya sudah baik, punya SOP, punya panduan kalau ada masalah dipecahkannya seperti apa. Jadi, sesuatu yang sudah distandarisasi. Maka dari itu, waralaba adalah peminjaman merek dan sistem bisnis kepada orang lain dan itu adalah kemitraan. Contohnya banyaklah kemitraan. Kemitraan Pertamina dengan depot-depot penyedia oli, itu kemitraan. Kalau dalam undang-undang waralaba itu adalah kemitraan, kemitraan dalam UU itu ada: waralaba, inti-plasma, keagenan.. Itu semua adalah kemitraan.

Apa kontribusi bisnis franchise terhadap ekonomi menengah?

Waralaba itu dalam prakteknya ada dua sisi koin. Sisi pertama memberi kesempatan kepada orang lain untuk berusaha, itu yang disebut business opportunity. Saya bisa memberikan kesempatan siapa pun, tapi saya harus buktikan dulu kalau itu sukses. Sisi kedua, employment, penciptaan lapangan kerja. Sekarang saja data terakhir waralaba di Indonesia itu 1,1 juta orang bekerja di sektor itu. Jadi, itu adalah bukti kalau franchise itu punya kontribusi. Dan di Indonesia itu waralaba tidak ada perusahaan yang besar yang sahamnya dijual di bursa saham, saya rasa tidak ada.

Jadi kekuatan manajemen waralaba ada dimana? 

Sebenarnya kekuatan waralaba itu adalah kecanggihan dalam manajemen. Karena saya adalah konsultan, tadi ada orang mau buka bengkel motor. Saya tanya, sudah berapa lama? Sudah 20 tahun. Berarti sudah berpengalaman. Menguntungkan, tidak? Ya, itu tapi 2-3 tahun terakhir cukup bagus. OK. Tinggal membenahi di dalamnya. Bagaimana manajemennya kalau orang mau buka juga? Bagaimana bisa ditraining di bengkelnya? Yang punya waralaba itu tugasnya melakukan pembinaan kepada orang yang pantas seperti itu.

Ada beberapa pendapat, dengan adanya franchise bisa mematikan usaha kecil, bagaimana pendapat Bapak? 

Saya tidak sependapat, justru waralaba itu bisa memajukan usaha kecil. Pembinaan usaha kecil yang dilakukan selama ini hanya pembonsaian, 20-30 tahun kemudian tetap saja usaha kecil. Harusnya usaha kecil itu dikembangkan dengan menggunakan sistem waralaba dan menjadi franchisor/pewaralaba. Ketika perusahaan ini menjadi pewaralaba ia memberi KUR kepada perusahaan kecil lainnya menjadi menengah dan besar. Itu yang terjadi di Amerika.

Tidak benar, ya Pak?

Tidak benar kalau waralaba itu mematikan usaha kecil. Masalahnya orang mengasosiasikan waralaba itu dengan Mc Donald yang sudah besar datang ke Indonesia, padahal dulunya usaha kecil di pojok jalan. Waralaba itu sistem, bukan produk. Saya sampai akhir pemerintahan Pak Harto menyarankan agar warteg itu menjadi waralaba. Kalau sudah jadi waralaba kan kebersihaan dan gizinya dijamin. Kalau itu diintervensi, perkembangannya akan luar biasa sekali. Jadi, memang anggapan masyarakat bahwa waralaba itu adalah perusahaan besar, karena memang di Indonesia itu waralaba ditangkap oleh perusahaan-perusahaan besar.

Antara buka cabang dengan franchise lebih menguntungkan yang mana?

 

Kalau saya punya perusahaan yang sudah kuat, daripada saya buka cabang sendiri di suatu tempat, bikin cabang sendiri saya harus punya modal. Tenaga kerja harus saya rekrut, dong.. Tapi, kalau saya franchise-kan, saya tidak keluar modal, saya malah dapat modal. Terus kalau saya bikin cabang sendiri, kegiatannya dari hari ke hari harus saya jalankan, saya harus bayar pegawai. Kalau saya franchise, saya tidak bayar pegawai, yang bayar dia kok. Jadi, sudah ada efisiensi dan pembagian resiko. Jadi resikonya sudah dibagi ke orang lain.

Ada contoh rumah makan khas Indonesia, kalau mau jadi franchise-nya harus merogoh uang Rp. 500 juta dulu dengan hitungan bisnisnya omset per hari Rp. 20 juta. Pendapat Bapak tentang hal itu bagaimana?

Tapi saya tidak setuju kalau itu dikatakan omsetnya bisa Rp20 juta per hari, karena si pembeli franchise harus membonafitisasi pemilik franchise. Dia kan harus sewa tempat, bayar pegawai, itu juga harus diperhitungkan. Di Amerika itu yang membeli franchise dilindungi oleh negara. Di sana selalu dianjurkan untuk telitilah sebelum berinvestasi. Ya, tadi dia punya satu di Tebet, sekarang sudah banyak, menurut saya itu sudah menyalahi hukum. Dia baru punya satu. Harusnya kalau perusahaan itu punya dua tiga dulu, cabang miliknya sendiri yang seolah-olah cabang franchise. Jadi dia punya contoh, kalau ini sukses.

Perusahaan di Indonesia yang sudah di-franchisekan, apa sih yang sudah dibilang sukses?

 

Makanan, rata-rata. Contohnya, ayam tulang lunak. Itu bisa Rp. 15-20 juta per hari kotor.  Jika Anda bilang Rp. 20 juta per hari itu harus dipelajari harga pokok dari makanan. Jad,i kepada siapapun yang mau membeli waralaba itu harus disadari bahwa saya membeli sesuatu yang penuh resiko. Untuk mengeliminir resiko itu harus dipelajari.

 

Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap bisnis franchise itu?

Ada PP Nomor 42 Tahun 2007, terus ada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2008. Kalau peraturan ini dilaksanakan dengan konsekuen, itu bagus. Pemerintah ini kan jago bikin UU, tapi masalahnya pengawasannya tidak ada. Misalnya di situ disebutkan kalau bisnis waralaba melanggar aturan didenda Rp. 100 juta, mana ada dari tahun 2007 yang didenda. Kita ini jago bikin UU tapi pada pelaksanaannya tidak ada.

Saat ini di Kementerian Koperasi dan UMKM ada usaha kecil menengah, di Kementerian Perindustrian ada industri kecil menengah, apa itu tidak membingungkan?

Itu karena PP-nya yang diamanahkan UU tidak pernah keluar. Di UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang usaha kecil menengah itu harus ada yang namanya badan koordinasi. Sampai sekarang badan koordinasi itu tidak ada.

Jadi nasibnya franchise ke depan bagaimana Pak, apakah berbenturan dengan Permen-permen itu?

Oh.. tidak, tidak berbenturan. Mereka mati atau kolaps itu karena seleksi alam saja. Misalnya di PP Nomor 42 Tahun 2007 diatur bahwa suatu usaha itu bisa diwaralabakan kalau sudah lima tahun. Nyatanya yang baru 1-3 tahun sudah banyak yang diwaralabakan, tapi mereka tidak memakai nama waralaba, kemitraan, license atau lainnya. Yang salah itu yang baru satu gerai langsung buka waralaba. Nah ini karena penegakkan hukumnya tidak ada. Harusnya peran Badan Koordinasi Waralaba ini yang membina, tapi kemana Badan Koordinasinya?

Di Indonesia ada pemain minimarket yang selalu bersaing ketat padahal di tengahnya ada warung-warung kecil. Bagaimana pandangan Bapak tetang hal itu?

 

Itulah masalahnya di waralaba. Saya pernah meneliti di Surabaya apakah bentuk warung kecil itu terdesak oleh dua minimarket yang bersaing itu, ternyata tidak juga. Tapi yang saya sesalkan adalah persaingan dua minimarket itu yang selalu berdekatan. Mereka itu yang menghancurkan bisnis waralaba. Saya lihat di Surabaya, tiga meter dari minimarket itu ada warung tapi adem ayem. Nah, dengan masuknya dua minimarket itu bersamaan,  itulah yang menghancurkan warung-warung kecil.

Apa peran pemerintah untuk mengatasi dua minimarket waralaba ini?

Nah itulah, waktu Gubernur DKI Fauzi Bowo  akan menertibkan minimarket-minimarket,  saya bilang ke beliau ini yang memberi ijin siapa? Ini oknum Anda kan?  Dia diam. Jadi, selama ijin itu bisa dibeli atau diproyekkan, persoalan ini  tidak akan pernah selesai.

Jadi untuk mentertibkan dua minimarket itu seperti apa, Pak?

Menurut saya, mereka itu harus dipanggil oleh pemerintah, baik itu oleh Kementerian Perdagangan atau Pemda DKI. Dibuat peraturan supaya mereka tidak terlalu berdekatan. Menurut saya mereka adalah pelopor perusak image waralaba di Indonesia.

Bisnis waralaba di negara asalnya kan warung-warung pinggir jalan. Tapi di sini menjadi satu hal yang sangat wah,  menurut Bapak bagaimana?

Satu hal yang perlu diketahui, bisnis waralaba dari luar itu yang dijual bukan hanya produk tapi sebuah gaya hidup yang terkesan modern dan kelas menengah. Yang saya risaukan adalah kenapa kita tidak meniru seperti mereka? Kenapa kita tidak jual restoran padang Sederhana, Gudeg, Warteg ke luar negeri? Bangsa Indonesia itu bersifat pasif,  kita diserbu oleh waralaba asing kita marah. Ini tuntutan globalisasi! Satu-satunya cara untuk melawan luar, yaa… kita serbu ke luar. Lalu siapa yang memfasilitasi? Ya pemerintah, dong..

Bisnis waralaba di Indonesia ini apa kira-kira yang bisa go international?

Oh, banyak.. Pertamina-lah yang paling berpeluang. Di Indonesia sudah ada Petronas, Shell, Total dan mereka bisa berkibar. Kenapa Pertamina tidak bisa ada di luar negeri? Petronas itu belajar dari kita. Kemudian apakah Petronas itu untung? Oh tidak, mereka itu hanya mengambil image building untuk negaranya. Saya ingin Indonesia itu go internasional. Jangan jago kandang saja!

 

Biodata

NAMA   : AMIR KARAMOY

USIA      : 62 THN

 

PENDIDIKAN

–          Sarjana Sosiologi (Drs.) dari Fakultas Ilmu Sosial & Politik Universitas Indonesia (1974)

–          Master of Science (M.Sc.) dari Human Settlements Studies, Fakultas Sains dan Aristektur, Universitas Leuven, Belgia (1982)

 

PROFESI

–          Pengajar Tetap Sosiologi Perkotaan dan Sosiologi Ekonomi, Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial (sekarang FISIP) Universitas Indonesia (1974 – 1985)

–          Wakil Direktur LP3ES – Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (1972 – 1986)

–          Peneliti sosial-ekonomi dan konsultan pada UNICEF, UNDP/UNEP, IDRC, Bank Dunia untuk pengembangan masyarakat miskin di kota-kota besar Asia, Afrika dan Amerika Latin

–          Pendiri AFI – Asosiasi Franchise Indonesia (1990)

–          Ketua I AFI (1990 – 1993)

–          Sebagai top management pada beberapa perusahaan publik (Tbk)

–          Konsultan Senior Waralaba & Lisensi (sejak tahun 1995 hingga saat ini)

–          Mendirikan ARWI – Asosiasi Restoran Waralaba Indonesia (1993)

–          Sekretaris Jenderal ARWI (1993 – 1996)

–          Pendiri Perhimpunan WALI – Waralaba & Lisensi Indonesia (2003)

–          Ketua Dewan Pengurus WALI (2003 – 2007)

–          Ketua Dewan Pengarah WALI (2007 – hingga saat ini)

–          Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi KADIN-INDONESIA (2009 – 2014)

–          Bersama Pemerintah, merumuskan PP no. 16/1997 dan PP no. 42/2007 tentang WARALABA

–          Ikut merumuskan RUU Perdagangan (2011), terkait dengan WARALABA

–          Konsultan Senior, Waralaba dan Lisensi (www.akaramoy.blogspot.com)

–          Pengajar Utama, ”Perdagangan Internasional Melalui Waralaba” pada Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI), Kementerian Perdagangan RI

 

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Wawancara. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: