Menata Bisnis Waralaba Berbasis UKM Berdaya Saing

 

 

 

 

 

Oleh: Dr.Nazaruddin Malik, M.Si

Waralaba (Franchising atau Franchise) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Versi pemerintah Indonesia, dimaknai sebagai bentuk perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Sedangkan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), mengartikannya sebagai suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan (franchisee) untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur, dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Di Indonesia pesatnya pertumbuhan usaha waralaba yang mulai diperkenalkan Isaac Singer (1850-an) sang pembuat mesin jahit Singer, dapat dilihat dari tumbuhnya kegiatan usaha melalui sistem ini sebesar tiga persen per tahunnya. Sejak dimulai sekitar tahun 1950-an dan mengalami perkembangan awal di tahun 1970-an, hingga Juni 2009 tercatat sejumlah 1.010 usaha waralaba terdiri dari 260 waralaba asing dan 750 waralaba lokal. Jumlah gerai waralaba di Indonesia berjumlah 42.900 gerai dan menyerap 819.200 tenaga kerja. Diperkirakan  total omzet bisnis waralaba di Indonesia tahun ini kemungkinan mencapai 135  triliun. Usaha waralaba makanan dan minuman (mamin) menjadi primadona pilihan dengan nilai omzet 42,6 triliun tahun 2010 naik menjadi 49 triliun tahun 2011 atau 36 persen dari total omzet berbagai bidang usaha waralaba yang mencapai sebesar 135,4 triliun.

Pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia pesat bersamaan dengan pertumbuhan pasar dan pusat-pusat ritel modern yang mewabah di kota-kota besar dan menengah di Indonesia. Pertumbuhan mall (mega dan super market-maupun mini-mini market) yang tersebar dalam area-area tata ruang perkotaan memberi kesempatan tumbuhnya bisnis-bisnis ikutan yang memanfaatkan ruang-ruang sewa yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan modern tersebut.

Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bahkan memprediksikan jumlah usaha waralaba nasional bisa  mencapi 1.700-an pada tahun 2011, naik 10 persen jika dibandingkan tahun lalu sejumlah 1.500 usaha atau sekitar  36 ribu gerai. Hal ini menjadikan waralaba sebagai alternatif bisnis yang cukup menjanjikan. Karenanya cukup tepat untuk merancang kebijakan strategis menata dan mengembangkan usaha waralaba yang berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan daya saing UKM sebagai basis perekonomian nasional.

Peluang Bisnis Dan Dukungan Pemerintah

Upaya-upaya penataan usaha waralaba di Indonesia hendaknya lebih berorientasi pada upaya-upaya yang memberi dukungan penuh pada waralaba yang berbasis pada usaha kecil menengah (UKM).  Umumnya usaha waralaba yang berskala UKM tumbuh lebih karena aspek kesempatan bisnis. Kemunculan usaha waralaba lebih dipicu dan didominasi faktor peluang bisnis (business opportunity). Dari 1.500 perusahaan hanya 100  yang menjalankan usaha waralaba dan sisanya termasuk kategori memanfaatkan peluang usaha. Hal ini dapat dipahami, karena salah satu kendala dari usaha jenis ini adalah inovasi produk dan proses penguatan merek yang membutuhkan waktu cukup lama.

Usaha-usaha baru termasuk franchise baru tidak dengan serta merta dapat berperan dan ikut andil dalam pasar persaingan. Karena itu mengembangkan usaha franchise dengan merek yang telah mengakar apalagi mendunia tentu lebih menguntungkan, Cuma persyaratan permodalan, standarisasi proses dan kualitas produk yang dibutuhkan lebih besar dan kompleks.

Dukungan pemerintah dari aspek legal, finansial maupun upaya pengembangan sistem dan pengembangan sumberdaya manusia sangat strategis bagi pengembagan usaha waralaba sebagai basis perekonomian masyarakat yang didominasi oleh konsumsi untuk sektor ritel. Selama ini usaha-usaha waralaba baru dilihat sebatas potensi dan prospeknya bagi upaya peningkatan dan pengembangan daya saing UKM. Padahal sebagian besar usaha waralaba yang muncul karena memanfaatkan peluang bisnis adalah pelaku dari sektor UKM ini. Kelemahan manajerial, pengetahuan dan penguasaan atas bidang bisnis yang ditekuni, standarisasi pengelolaan keuangan dan pemasaran, daya inovasi dan diferensiasi produk, pemasaran serta kemampuan pengendalian bisnis dan monitoring, kerap diidentikkan dengan sektor UKM, sesuatu yang justru menjadi syarat mutlak sebuah usaha waralaba yang sukses.

Konsekuensinya UKM-UKM umumnya sulit merubah sudut pandang dan cara berfikir dari semula berorientasi menjual produk menjadi orientasi untuk menjual bisnis. Karena itu dorongan pembinaan dari pemerintah dari aspek good will maupun  political will mestinya berupa insentif mendorong produksi dan membesarkan bisnis dengan menjual bisnis sebagai usaha waralaba untuk mendukung pertumbuhannya.

 

Waralaba UKM Berdaya Saing

Memajukan dan menumbuhkan bisnis melalui sistem waralaba membutuhkan kredibilitas dan kemampuan diferensiasi produk dan jasa yang tinggi. Hal ini mutlak didukung pula oleh standar sistem operasional yang lebih dari sekedar memadai yang pada gilirannya akan dapat mendongkrak daya saing termasuk peluang untuk meng internasionalkan usaha waralaba. Dengan kata lain menjadikan UKM sebagai usaha waralaba sukses memerlukan strategi dan kiat-kiat jitu.

Sebelum sebuah UKM diwaralabakan maka dibutuhkan pengetahuan yang menyeluruh tentang mekanisme kerja bisnis ini. Studi kelayakan bisnis waralaba perlu dilakukan sebagai langkah awal apakah bidang bisnis yang ditekuni terutama produk-produknya layak diwaralabakan. Penguasaan potensi dan peluang pasar sangat perlu dimiliki pengusaha UKM yang akan mewaralabakan bisnisnya. Kesiapan SDM, dari aspek kepemimpinan, kemampuan komunikasi dan orientasi pelayanan yang kuat.

Demikian pula terkait pengorganisasian dan pemantapan prosedur standar operasi sangat dibutuhkan serta tentu saja kemampuan monitoring dan melakukan pengendalian terhadap jaringan bisnis. Disini pemerintah dapat berperan melalui penyediaan skema pembiayaan dan konsultasi ahli untuk pematenan produk, menyusun SOP sampai bentuk kerjasama dan proyeksi keuangan bagi UKM-UKM yang berminat terjun ke waralaba. Prioritas bantuan dapat diberikan pada usaha-usaha waralaba skala UKM yang berbasis industri kreatif dengan potensi pasar yang kuat.

Usaha waralaba berbasis UKM memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan ekonomi nasional. Kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja, peluang kesempatan usaha dan percepatan alih teknologi melalui sistem kerjasama yang saling menguntungkan tidak perlu diragukan lagi. Hal ini akan mendorong UKM-UKM dengan keunggulan tradisional untuk mengembangkan kemampuan spesialisasi dan modernisasi usaha. UKM berbasis industri kreatif memiliki peluang besar untuk memanfaatkan daya inovasi produk sebagai basis daya saing mereka untuk meningkatkan efisiensi usaha dan memperluas jangkauan distribusinya.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, wacana depan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: