Waralaba, (bukan) Pembunuh Ekonomi Kerakyatan

 

 

 

 

 

 

Oleh: Noviandri Nurlaili K.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Munculnya trend baru dalam kegiatan ekonomi yaitu maraknya waralaba di pasar menjadi satu pembahasan yang hangat di masyarakat. Pertanyaannya satu, apakah kehadiran waralaba tersebut mampu menuai keuntungan positif bag masyarakat ataukah justru ini yang bisa dikategorikan sebagai paham globalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai moral Indonesia?

 

Mengenal Lebih Jauh Tentang Kegiatan Waralaba

Sebelum menjawab pertanyaan sebelumnya, adalah hal yang bijak bagi kita untuk terlebih dahulu memahami lebih mendalam tentang prinsip kegiatan waralaba. Kegiatan waralaba atau yang dikenal dengan istilah franchising adalah sistem pemasaran dan distribusi barang dan jasa, dimana satu perusahaan induk, yang disebut sebagai franchisor, memiliki lisensi terhadap suatu produk barang atau jasa dan kemudian memperoleh keuntungan dari penggunaan lisensi tersebut oleh perusahaan cabang (franchisee).

Bentuk kegiatan waralaba ini memang banyak disebut orang sebagai suatu metode yang unggul dalam pemasaran barang atau jasa. Sebab, setiap franchisee harus menaati standar dan prosedur yang ditetapkan oleh pemilik lisensi dalam menjalankan usaha atas nama franchisor. Apabila perusahaan cabang tidak mengikuti prosedur dan standar yang ditetapkan, maka bisa jadi perusahaan induk mencabut hak menjalankan usaha perusahaan cabang. Dengan demikian, standar kualitas mutu dalam sistem waralaba ini tentulah terjamin baik.

Kegiatan waralaba ini pun banyak bentuknya. Ketika kata waralaba ini disebutkan, banyak orang yang membatasi kegiatan waralaba ini hanya pada pertumbuhan supermarket dan juga hipermarket yang kini menjamur dan membayangi pasar tradisional. Padahal, lahan kegiatannya tidak hanya terbatas oada convenience store semata. Namun juga pada industri tekstil, makanan, dan juga jasa.

Kalau kita mengingat beberapa produk roti eksklusif yang selalu berdampingan dengan produk donat yang juga eksklusif, itu merupakan suatu bukti bahwa konsep waralaba berhasil mendorong pengusaha Indonesia untuk lebih maju dan bahkan mengepakkan sayapnya di kancah internasional. Tidak hanya kedua produk makanan tersebut yang biasa kita jumpai di pusat perbelanjaan, beberapa warung roti bakar dan juga ayam bakar menggunakan konsep waralaba ini untuk mendirikan cabangnya di beberapa kota di Indonesia. Maka, sebelum kita jelas-jelas menuduh bahwa konsep waralaba ini mematikan, haruslah kita perhatikan bersama konteks pembicaraan yang akan kita bahas.

Memang, dalam konsep waralaba ini terdapat konsep franchisor, franchisee, dan juga lisensi yang mungkin bertentangan dengan ideologi ekonomi Indonesia. Dengan konsep ini, terdapat pembatasan hak milik terhadap sesuatu yang mendatangkan kesejahteraan hanya bagi mereka yang memiliki akses terhadap hak milik tersebut. Jelas, yang akan paling diuntungkan adalah para franchisor dari setiap penjualan lisensi mereka. Manfaat yang bisa didatangkan terbatas bagi pemain pasar, tidak berbagi kepada seluruh orang dalam kegiatan ekonomi.

Belum lagi, orang yang akan mampu bergabung dalam kegiatan waralaba ini tentulah hanya mereka yang memiliki kekuatan secara finansial. Sebab, tentu tidaklah murah apabila seseorang ingin membeli lisensi dan kemudian menjalankan usaha cabang tersebut. Lagi-lagi, konsep ini hanya menguntungkan bagi mereka yang memiliki modal tinggi atau akses terhadap modal yang baik. Lantas bagaimana nasib para pengusaha kecil yang tidak memiliki modal tinggi? Apabila mereka tidak mampu kompetitif, mereka akan tergerus dari pasar.

 

Ideologi Ekonomi Indonesia

Ekonomi yang merupakan ilmu normatif seharusnya tidak hanya berfokus pada mencari keuntungan materi belaka, tetapi juga harus dapat memberikan manfaat sosial bagi orang banyak, yaitu masyarakat. Paham liberalisme yang berdasarkan kepentingan individu sangat bertentangan dengan dasar ideologi ekonomi Pancasila yang berlandaskan kebersamaan dan kekeluargaan. Oleh karena itu dalam era globalisasi ini sebisa mungkin kita tidak terjerat oleh arus liberalisme yang eksploitatoris, non-participatory dan predatori, dimana yang kuat semakin kuat dan yang lemah akan mati tersingkir. Untuk mewaspadai globalisasi ini maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai sistem ekonomi Pancasila sampai ke akar-akarnya.

Negara Indonesia memiliki sistem dan mekanisme yang biasa disebut “demokrasi ekonomi”. Sistem ini berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945 khususnya pada pasal 33 UUD’45 yaitu pasal yang mencirikan demokrasi ekonomi. Sistem ini mengandung makna partisipasi ekonomi dan emansipasi ekonomi. Sistem yang berasaskan pada “asas kekeluargaan” dan berakar pada “kedaulatan rakyat”.

Yang maju dan bergerak dalam perekonomian tidak hanya orang per orang, terutama orang yang memiliki modal atau kekuasaan besar, tetapi semua lapisan masyarakat. Mereka semua ikut berpartisipasi dan ikut beremansipasi di dalam ekonomi. Dengan kata lain, masyarakat dapat maju dan makmur secara merata. Inilah konsep dasar ekonomi Indonesia, dimana ekonomi adalah berlandaskan pada asas kekeluargaan dan mampu menancapkan kedaulatan rakyat, bukan hanya soal orang per orang. Lantas, apakah dengan demikian konsep waralaba mati secara ideologis dalam ekonomi Indonesia?

 

Memahami Waralaba dengan Corak Ekonomi Indonesia

Pada akhirnya, ada hal-hal yang baik yang bisa kita ambil dan hal yang buruk yang harus kita singkirkan dari konsep waralaba dalam ekonomi Indonesia. Tentu saja, ekonomi yang akan menancapkan kedaulatan rakyat haruslah dijalankan secara unggul, bukan?

Maka hal paling penting dalam konsep waralaba di Indonesia ini adalah memberikan kesempatan terhadap para pengusaha kecil yang selama ini belum terjangkau oleh modal. Yang ideal dilakukan adalah pemberdayaan koperasi yang selama ini menjalankan kegiatan ekonominya berlandaskan asas kekeluargaan. Hal ini dapat dilakukan dengan penguatan modal dan perluasan akses terhadap pasar.

Ketika koperasi-koperasi di Indonesia mampu mengakses modal dan pasar sama kuatnya dengan perusahaan besar lainnya, bukan hal yang tidak mungkin koperasi ini akan kompetitif dan mendirikan waralaba-waralabanya tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Selain akses terhadap modal dan juga pasar, adalah hal penting bagi para koperasi tersebut untuk memiliki satu merek yang bisa menandai brand produk mereka sehingga konsep dasar pemasaran yang unggul bisa dilakukan.

Konsep waralaba ini harusnya tidak hanya konsep pemasaran dan distribusi unggul yang hanya mampu dijalankan bagi para pemiliki modal dan keuntungannya bermuara pada orang-orang tertentu saja, namun menjadi satu metode unggul yang mampu memberikan keuntungan lebih bagi koperasi dan unit usaha kecil lainnya di masyarakat yang akhirnya mendatangkan kemakmuran bagi lebih banyak orang, yaitu para anggota koperasi itu sendiri.

Pada akhirnya, tidak ada gading yang tak retak. Ekonomi sebagai ilmu sosial yang merupakan buah pemikiran manusia pun hanyalah satu konsep yang pasti tidak sempurna. Hal terbaik yang dapat kita lakukan sebagai manusia adalah mengintisarikan apa-apa yang baik untuk diamalkan dan membuang keburukannya. Konsep ekonomi waralaba pun demikian, tidak selamanya menjadi predator yang membunuh ekonomi masyarakat kecil, selama mampu dijalankan dengan asas dan ideologi ekonomi Indonesia. Tidakkah aplikasi dari konsep kekeluargaan dan kebersamaan yang dijalankan dengan pemasaran dan distribusi yang unggul justru bisa mendatangkan manfaat yang lebih baik?

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Kata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: