Waralaba dan Usaha Kecil Menengah

 

 

 

 

 

 

Oleh: Abraham Firdaus G.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarief Hidayatullah Jakarta

Dalam era globalisasi dan era perdagangan bebas, perekonomian dan kesejahteraan Indonesia sangat ditentukan arah regulasi dan kebijakan pemerintah. Pengusaha kecil didorong untuk selalu kreatif dalam menggali potensi pasar. Mereka juga harus menciptakan pasar tersendiri untuk melawan gerusan competitor, baik terhadap korporasi ataupun dampak perjanjian perdagangan bebas yang dilakukan pemerintah. Pertumbuhan ekonomi 2010 yang mengalami peningkatan 6,1 % terhadap tahun 2009 pun masih harus dikaji kembali. Karena pertumbuhan ekonomi 1% hanya menyerap tenaga kerja 200.000 orang.

Cerita sukses Uni Eropa yang diikuti kelatahan Indonesia bergabung dengan ASEAN-China Free Trade Area ternyata tidak menelurkan solusi. Yang muncul malah serbuan barang China  yang menguasai pasar dengan jurus “murah”-nya. Skala usaha kecil menengah domesik pun tergagap-gagap.

Ketimpangan-ketimpangan ini perlu solusi yang menimbulkan lompatan penyejahteraan rakyat. Perlu adanya strategi yang taktis yang dapat mengatasi ketimpangan ini. UMKM telah menyerap lebih dari 79,0 juta tenaga kerja atau 99,5 persen dari jumlah tenaga kerja. Pada tahun 2004 jumlah UMKM diperkirakan telah melampaui 44 juta unit. Ini adalah model lompatan strategi yang harus kita pikirkan bersama.

 

Franchise di Indonesia

Hasil riset Majalah Info Franchise (2010) menyebutkan bahwa besaran penjualan usaha franchise di Indonesia yang berbentuk franchise dan bisnis opportunity sebesar Rp. 114,64 trilliun. Jumlah itu tumbuh 20% dari tahun sebelumnya. Adapun jumlah pekerja yang terlibat pada akhir 2010 diperkirakan mencapai 719 ribu orang, melonjak 18% dari tahun sebelumnya. Potensi ini masih sangat mungkin dicapai lebih tinggi.

Fenomena ini, sayangnya, tidak dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang memfasilitasi perkembangan perekonomian yang propoor. Seharusnya peluang ini ditangkap pemerintah untuk mengintervensi pertumbuhan pasar yang potensial melalui protection policy yang disesuaikan dengan kepentingan pengembangan usaha kecil dan menengah. Ini yang membuat bisnis waralaba terdistorsi dari potensinya membangun sektor usaha kecil dan menengah, menjadi ruang gerak tanpa batas ekspansi waralaba besar.

Kebijakan yang berbasis lokalitas harus tetap dijalankan sebagai konsekuensi logis amanat reformasi, yaitu desentralisasi. Pemerintah sebagai regulator seyogyanya dapat membuat kebijakan yang dapat menjadi jalan tengah diantara kepentingan-kepentingan. Harus ada batasan-batasan yang melindungi usaha kecil dan pewaralaba dengan modal yang lebih terbatas. Juga, penguatan terhadap perlindungan penerima waralaba yang konsisten dan kuat untuk mendapatkan perkembangan bisnis yang tidak hanya meledak tetapi sehat secara fundamental.

Jika kita dapat telaah lebih dalam, akan dapat kita temukan potensi yang dapat mengatasi permasalahan pengembangan usaha kecil dan menengah. Kesempatan untuk mengurangi angka kemiskinan pun dapat ditembus dengan jalan yang koheren, sejalan dengan peningkatan kualitas SDM nasional yang relatif perlu investasi waktu yang tidak pendek sebagai bagian dari proses. Potensi usaha waralaba untuk mendorong kemajuan secara kualitas dalam iklim usaha yang menguntungkan sektor usaha kecil dan menengah terbuka lebar.

 

Strategi Pemberdayaan Melalui Waralaba

Waralaba menurut Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2007 adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap system bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba. Konsepsi waralaba menuntut si pemberi waralaba untuk sebelumnya dapat membuktikan usahanya dapat dimanfaatkan dan atau digunakan oleh pihak lain. Tentunya menuntut standarisasi kualitas mutu dan manajemen tertentu untuk dapat digunakan kemanfaatannya oleh pihak lain, selain usahanya terbukti menguntungkan.

Pada pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 menyebutkan setidaknya waralaba harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a. memiliki ciri khas usaha, b. terbukti sudah memberikan keuntungan, c. memiliki standar atas pelayanan dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, d. mudah diajarkan dan diaplikasikan, e. adanya dukungan yang berkesinambungan dan f. hak kekayaan intelektual yang telah terdaftar.

Jika kita melihat pengaturan untuk skema bisnis menggunakan franchise, tentu bisa kita dapatkan skenario untuk bagaimana hambatan dan tantangan usaha kecil dan menengah dapat diurai dan sedikit demi sedikit dibenahi. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita garis bawahi: pertama, waralaba mempunyai “keharusan” untuk memiliki standar pelayanan dan /atau jasa yang ditawarkan yang dibuat dengan mekanisme tertulis, sehingga standar penjaminan mutu usaha kecil dan menengah jika menerapkan bisnis waralaba mempunyai standar penjaminan mutu yang kompeten. Implikasinya menuntut pembagian tugas antara bidang operasi dan administrasii secara normatif.

Yang kedua, kebuntuan permasalahan akses permodalan usaha kecil dan menengah dapat diatasi karena sistem franchise dapat melakukan ekspansi secara sistematis dengan skema permodalan yang terpenuhi oleh pihak ketiga baik melalui mekanisme lembaga kredit formal maupun dengan penjualan kepada calon franchisee. Sistem waralaba seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2007 tentang waralaba maupun Permendag Nomor 12/M-DAG/PER/3/ 2006 tentang ketentuan dan tata cara penerbitan surat tanda pendaftaran usaha waralaba, mengatur sedemikian rupa legalitas usaha.

Dengan demikian permasalahan formalitas usaha kecil dan menengah yang kebanyakan bergerak di sektor informal sedikit demi sedikit dapat teratasi, baik nantinya menjadi pemberi waralaba atau penerima waralaba. Pemerintah tentunya dapat lebih akurat dalam membuat kebijakan dan regulasi karena data akurat usaha kecil dan menengah yang bertransformasi dari informal menjadi formal. Selain itu dengan sistem waralaba, usaha kecil dan menengah dituntut tertib administrasi keuangan dan manajemen yang akuntabel oleh para stakeholdernya.

 

Aplikasi Sistem Waralaba untuk Pola Kemitraan Bisnis bagi Usaha Kecil dan Menengah

Pola kemitraan di Indoneisa umumnya dikategorikan menjadi dua, yaitu pola keterkaitan langsung dan pola keterkaitan tidak langsung. Pola keterkaitan langsung biasanya mengkuti pola Perkebunan Inti Rakyat, dimana usaha besar (BUMN/usaha besar) sebagai inti sedang petani kecil sebagai plasma. Ada juga mengikuti  pola dagang, dimana bapak angkat bertindak sebagai pemasar produk yang dihasilkan oleh mitra usahanya. Pola yang lain adalah pola vendor, dimana produk yang dihasilkan oleh anak angkat tidak memiliki hubungan kaitan ke depan maupun ke belakang dengan produk yang dihasilkan oleh bapak angkatnya.

Dalam hal pola pembinaan usaha kecil dan menengah , sistem waralaba memungkinkan pola-pola pembinaan yang dilaksanakan lebih terukur dan akuntabel. Dan pola pembinaan yang diambil pun aplikatif bagi semua opsi pola pembinaan karena sistematika operasi bisnis usaha waralaba yang standar dengan format tertentu. Skema ini pun memungkinkan pemerintah daerah untuk menjadi promotor keunggulan komparatif daerahnya untuk bersaing di tingkat nasional.

Sistem waralaba juga mempunyai keamanan yang cukup bagus dalam hal legalitas karena menuntut terdaftarnya Hak Kekayaan Intelektual dengan jenis turunannya yang disesuaikan dengan jenis usaha waralaba tersebut. Sistem ini pada waktunya akan menjadi perisai bagi konflik-konflik dagang pencaplokan oleh pemilik modal besar atau pemegang kekuasaan terhadap kreatifitas pelaku usaha kecil menengah.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 1 Juli 2011, in Ekonomi, Kata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: