Arah Pertanian di Era ACFTA

Persaingan global merupakan tantangan yang luar biasa berat bagi sektor pertanian, terutama sektor pertanian skala kecil. Globalisasi dan liberalisasi memang memberikan ruang yang lebih besar untuk memperluas volume usaha pertanian, namun di sisi lain, globalisasi juga membuka serbuan komoditas impor. Tentu saja, bagaimana posisi pertanian Indonesia di era global itu sangat ditentukan oleh sejauhmana peran pemerintah dalam memberikan kebijakan yang tepat agar sektor pertanian mampu bersaing. Peran pemerintah sangat penting karena pertanian berkaitan erat dengan ketahanan pangan, penyediaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan yang semuanya merupakan tanggung jawab pemerintah.

 

Pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana kita menghadapi globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Selama lebih dari setahun penerapan ACFTA, perkembangan yang terlihat sekarang justru memperkuat kekhawatiran kita selama ini bahwa kita “keteteran” dan tidak siap menghadapi persaingan ketat dalam perdagangan bebas.Komoditas pertanian Indonesia belum mampu berbuat banyak dalam menghadapi globalisasi. Makin banyaknya komoditas impor yang masuk ke pasar-pasar (termasuk pasar tradisional), menunjukkan bahwa daya saing komoditas pertanian kita cukup mengkhawatirkan.

 

Di sisi lain, peran komunikasi dan pemasaran global juga mengurangi popularitas dan citra komoditas pertanian lokal dibanding komoditas impor yang sejenis. Tengok saja acara-acara kuliner di televisi yang lebih banyak menampilkan resep-resep berbahan komoditas pertanian impor. Atau, lihat bagaimana iklan-iklan atau sinetron-sinetron yang lebih banyak mempergunakan produk pertanian impor sebagai tampilan atau set dalam pengambilan scene-nya. Situasi ini semakin menjadikan produk pertanian domestik kita terpuruk di negeri sendiri. Padahal, jika mau digali, kita memiliki banyak produk pertanian yang unik dan bisa dibanggakan.

 

Fenomena tersebut merupakan sinyal yang harus diwaspadai terkait masa depan sektor pertanian nasional. Namun di balik semua itu, penerapan ACFTA sejak setahun lalu mulai memberi banyak pembelajaran tentang apa-apa yang harus dibenahi. Berbagai komoditas pertanian harus diarahkan memiliki daya saing yang lebih baik dalam perjanjian perdagangan bebas tersebut. Daya saing ini merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan apakah produk pertanian kita nantinya akan menjadi produk yang mendunia atau malah hilang pelan-pelan karena dianggap tidak berharga.

 

Melihat dari sisi daya saing ini, kita memang akan kesulitan menghadapi serbuan produk buah impor dari daerah sub-tropis. Apalagi buah-buah sub-tropis yang berasal dari China memiliki harga yang lebih murah dengan kemasan, rasa, dan kualitas yang lebih baik. Ambil contoh, buah jeruk, apel, dan anggur. Jeruk Medan atau jeruk Pontianak tentu cukup sulit untu bisa menandingi Jeruk Ponkam (atau jeruk mandarin) dari China. Demikan pula dengan apel Malang yang sulit bersaing dengan apel Fuji dari China.

 

Sesuai iklimnya, Indonesia memiliki keunggulan dalam produk-produk pertanian tropis, seperti: karet, kelapa sawit, kakao, kopra, dan lain-lain. Sebagai negara kelautan, Indonesia pun mestinya memiliki potensi hasil kelautan yang luar biasa untuk bisa bersaing. Hanya saja, negara-negara ASEAN yang lain juga memiliki iklim dan produk unggulan yang sama. Bahkan, negara seperti Thailand dan Malaysia, malah telah berhasil memfokuskan pengembangan pertanian mereka sehingga lebih efisien dan berdaya saing tinggi. Meskipun potensi lahan kedua negara tersebut lebih kecil ketimbang yang dimiliki Indonesia, namun volume hasil produk perkebunan mereka, seperti karet dan kelapa sawit, tidak kalah dan bahkan mengungguli produk perkebunan negara kita.

 

Persoalan efisiensi dan peningkatan produksi hasil pertanian memang tergantung pada ketersediaan infrastruktur yang memadai serta bagaimana kebijakan pemerintah yang disusun untuk mendukung hal tersebut. Dalam hal ini, kita memang kalah jauh dengan Malaysia dan Thailand, bahkan Vietnam. Kita bukannya tidak menyadari kelemahan tersebut. Hanya saja, seringkali tarikan-tarikan politik yang masih kuat di pemerintahan kita menjadikan tidak ada program pembangunan pertanian yang terkoordinasi dengan baik dan sinergis.

 

Oleh karena itu, perlu ada penataan ulang terhadap orientasi kebijakan di bidang pertanian. Bahkan, melihat skala dan lingkup dampaknya, kebijakan di bidang pertanian tidak lagi bisa diserahkan kepada Kementerian Pertanian saja tetapi harus melibatkan secara sinergis kementerian-kementerian terkait, seperti: Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan beberapa badan negara yang lain.  Jika perlu, di masa-masa yang akan datang, kementerian-kementerian tersebut ‘dibersihkan’ dari tarikan kepentingan-kepentingan politis agar tidak terjadi seperti sekarang.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 4 Juli 2011, in Ekonomi, Tajuk. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: