Daya Saing Agribisnis dan Penataan Kelembagaan Petani

 

Oleh: Wan Abbas Zakaria

 

 

Pendahuluan

Pengembangan agribisnis di Indonesia harus dilanjutkan sebagai wujud kesinambungan, penganekaan, dan pendalaman pembangunan pertanian yang selama ini telah dilaksanakan. Pengembangan agribisnis sangat layak menjadi menjadi salah satu andalan atau strategi utama pembangunan nasional karena pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan juga diikuti dengan pemerataan pendapatan di samping itu, negara kita memiliki kenggulan dan kekhasan lokal yang perlu dikembangkan untuk meraih keunggulan komparatif dan kompetitif dalam perekonomian dunia yang semakin bebas dan penuh persaingan.  Pengembangan agribisnis juga sangat relevan dengan ekonomi kerakyatan dan mampu mewujudkan kedaulatan rakyat  (Saragih, 2010 dan Sjarkowi, 2010).

Kini dayasaing agribisnis Indonesia mengalami tantangan (dan peluang) yang semakin nyata pada Millenium ke-3, terutama setelah fenomena globalisasi nyaris menjadi keniscayaan dan batas-batas negara telah semakin kabur.  Globalisasi ditandai oleh poses mobilitas sumberdaya (sumberdaya manusia,  komoditas, dan jasa) yang semakin tinggi, persaingan antarpelaku di dalam negara, antarnegara di dalam kawasan, dan antarkawasan di tingkat global juga semakin tinggi. Ekonomi suatu negara menjadi semakin terbuka menyusul berlakunya kerjasama ekonomi regional dan global, misalnya Asean Free Trade Area (AFTA) untuk Asia Tenggara, Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) untuk Asia Pasifik, Mercosur di Amerika Latin, Nort America Free Trade Area (NAFTA) di Amerika Utara dan Meksiko, dan sebagainya.

Dalam situasi global tersebut kemajuan pembangunan ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh daya adaptasi dan inovasi individu-individu pelaku pembangunan.  Hanya pemerintah, perusahaan atau pelaku bisnis yang efisienlah yang mampu memenangkan persaingan global dan dapat eksis secara berkelanjutan (sustainable).  Jika hal tersebut tidak diantisipasi secara tepat dan benar dalam program pembangunan nasional dan daerah di masa mendatang bukan tidak mungkin pelaku bisnis di dalam negeri hanya menjadi penonton dinegerinya sendiri, sementara itu pasar domestik yang luas lagi potensial akan dikuasai oleh produk dari luar negeri (Zakaria, 2002).

Pendekatan sistem agribisnis sebagai salah satu cara baru dalam melihat dan memandang pembangunan pertanian di Indonesia kini telah mengalami tantangan yang semakin kompleks.  Apabila pada awal ditemukannya, pendekatan sistem agribisnis itu masih lebih banyak terfokus pada bagaimana menyampaikan dan menerapkan suatu sistem yang komprehensif yang terdiri dari sekian macam subsistem utama dan subsistem pendukung, kini sistem agribisnis itu sendiri menghadapi lingkungan eksternal yang berubah demikian cepat.

Arus globalisasi dan kerjasama ekonomi negara-negara di dunia nyaris tidak akan dapat terbendung, sehingga siapa pun yang ingin memajukan sistem agribisnis di suatu negara, pasti perlu memahami, mengetahui secara detail, dan melakukan penyesuaian strategi jika diperlukan, untuk menggapai dan meningkatkan dayasaing agribisnis pada arena yang lebih luas, dinamis dan penuh tantangan.

Dalam konteks peningkatan dayasaing agribisnis Indonesia, penataan kelembagaan yang mengarah pada mobilisasi dan interaksi berbagai kepentingan yang memiliki basis dan landasan yang sama pasti akan menghasilkan energi positif dan strategi yang amat kuat.  Peningkatan dayasaing agribisnis bukan semata tugas pelaku agribisnis, apalagi para petani kecil dengan skala usaha dan kemampuan manajemen terbatas, karena tentu sangat tidak adil membenturkan petani kecil dengan petani besar, baik di dalam, maupun di luar negeri, walau dalam konteks globalisasi sekali pun.

Peningkatan dayasaing juga bukan hanya tugas masyarakat madani pada kelompok produsen, kelompok pedagang, kelompok konsumen dan lain-lain.  Slogan “Cinta Produk Indonesia” mungkin masih dapat digunakan sebagai landasan bersama bagi masyarakat madani ini dalam berkontribusi pada peningkatan dayasaing agribisnis Indonesia.  Akan tetapi, masyarakat sipil ini pun tidak lain terdiri dari sekian macam aktor rasional yang berfikir dan bertindak sesuai dengan perhitungan dan ekspektasinya sendiri.

Demikian pula, peningkatan dayasaing bukan melulu tugas administrasi pemerintah atau masyarakat politik yang cenderung memiliki falsafah hidupnya sendiri, mulai dari penegakan aturan sampai pada logika kepentingan individu yang mungkin sangat dominan.  Berhubung perbedaan sistem nilai, norma dan kepentingan tertentu yang melingkupi ketiga kelompok aktor utama pembangunan agribisnis di Indonesia, maka diperlukan suatu strategi yang cukup jitu dan efektif, kompromistis tapi tegas, fleksibel tapi teguh pada pencapaian tujuan, dan transparan, akuntabel serta bertanggung jawab. Prinsip-prinsip seperti inilah yang perlu menjadi landasan dalam penataan kelembagaan bagi peningkatan dayasaing agribisnis Indonesia.

 

Konsep Agribisnis, Agroindustri dan Kelembagaan Petani

Agribisnis merupakan istilah yang baru dikenal sejak awal dekade 1970-an di Indonesia.  Agribisnis adalah kegiatan ekonomi yang berhulu pada dunia pertanian yang mencakup semua kegiatan mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai pada kegiatan tataniaga produk pertanian yang dihasilkan oleh usahatani (Downey dan Erickson, 1987 dalam Zakaria, 2002).

Agribisnis memiliki dua konsep pokok yakni pertama, agribisnis sebagai suatu sistem yang koordinatif atau integratif dan terdiri dari beberapa subsistem dan kedua, agribisnis sebagai suatu bisnis.  Sebagai suatu sistem, agribisnis terdiri dari: (a) subsistem pengadaan sarana produksi pertanian, (b) subsistem usahatani (on farm), (c) subsistem pengolahan hasil pertanian (off farm atau agroindustry), (d) subsistem pemasaran, dan (e) subsistem sarana dan prasarana penunjang, kelembagaan, politik dan lingkungan. Sebagai suatu bisnis, agribisnis berarti setiap usaha komersial terkait dengan kegiatan produksi pertanian, bisa berupa kegiatan pengusahaan sarana produksi (input) pertanian atau pengusahaan pertanian itu sendiri atau juga pengusahaan pengolahan hasil (output) pertanian (Sudaryanto dan Pasandaran, 1993;  Zakaria, 2002; Sjarkowi, 2010).

Selanjutnya Austin (1981 dalam Zakaria, 2002) menyatakan bahwa agroindustri adalah suatu unit usaha yang memproses produk pertanian sebagai bahan baku mulai dari pengumpulan bahan baku, pembersihan, grading, pengolahan, dan pengemasan produk akhir hingga siap untuk dipasarkan. Agroindustri ini merupakan mesin pertumbuhan bagi agribisnis.  Keterkaitan antarsubsistem dalam sistem agribisnis ditunjukkan pada Gambar 3 sebagai berikut.

 

Gambar 1.  Keterkaitan Antarsubsistem dalam Sistem Agribisnis (Zakaria 2002)

Subsistem pengadaan sarana produksi merupakan subsistem hulu yang akan menentukan keberhasilan proses produksi pada subsistem usahatani.  Hal yang paling penting dalam subsistem pengadaan sarana produksi adalah ketersediaan sarana produksi pada waktu, jumlah, mutu dan harga yang tepat karena proses produksi usahatani pada umumnya sangat tergantung kepada musim dan proses biologis tanaman.

Biasanya para petani menghadapi permasalahan yang komplek dalam pengadaan sarana produksi seperti, ketersediaan sarana produksi sangat terbatas, tidak tepat waktu dan harga yang tidak terjangkau karena adanya inflatoar gap.  Seharusnya permasalahan tersebut dapat diatasi bila kelompok tani dan koperasi yang ada berfungsi dengan baik.

Subsistem ini biasanya tidak netral terhadap skala usaha, semakin banyak petani yang membutuhkan sarana produksi maka akan semakin murah harganya.  Oleh karena itu peran kelompok tani dan koperasi dalam menangkap adanya manfaat ekonomi dari skala usaha menjadi sangat penting.  Melalui kelompok tani dan koperasi, pengadaan sarana produksi dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

Subsistem usahatani merupakan subsistem yang juga penting karena pada subsistem ini akan diperoleh produksi pertanian yang dapat dikonsumsi untuk pemenuhan kebutuhan pangan penduduk atau dijadikan sebagai bahan baku bagi industri pengolahan hasil pertanian atau sebagai sumber energi alternatif (bioenergi).  Umumnya usahatani keluarga bersifat netral terhadap skala usaha yang ditunjukkan oleh fakta bahwa usahatani dapat dilakukan pada luasan yang sempit (0,25 hektar) hingga yang besar (di atas 5 hektar).   Oleh karena itu keberadaan kelompok tani akan bermanfaat dalam upaya pengendalian hama terpadu dan pengaturan pola tanam dan tata guna air (Zakaria, 2008).

Masalah yang sangat berat dalam berusahatani adalah tingginya resiko dan ketidakpastian yang ditimbulkan dari proses produksi dan faktor alam. Kegagalan produksi karena lemahnya manajemen usahatani dan/atau gejolak alam amatlah sering dihadapi para petani. Oleh karena itu  introduksi teknologi irigasi pompa atau irigasi teknis merupakan salah satu upaya untuk menekan resiko dan ketidakpastian usaha.  Disinilah sangat dituntut daya adaptasi dan inovasi petani guna meningkatkan hasil produksi usahatani.

Subsistem agroindustri merupakan mesin pertumbuhan bagi sistem agribisnis.  Pada subsistem inilah nilai tambah produk pertanian dihasilkan.   Subsistem ini biasanya tidak netral terhadap skala, semakin besar skala usaha semakin rendah biaya rata-rata dan semakin tinggi dayasaing produk. Meski demikian agroindustri skala kecil bisa menghasilkan keuntungan yang cukup besar jika efisiensi produksi berhasil diwujudkan oleh para pengusaha. Permasalahan yang dihadapi para pengusaha agroindustri umumnya bersumber kepada bahan baku. Jaminan ketersediaan bahan baku dengan harga yang terjangkau akan menentukan kontinyuitas operasi pabrik.

Umumnya bahan baku agroindustri memiliki beberapa karakteristik: musiman (seasonality) karena bahan baku dihasilkan melalui proses biologis yang tergantung kepada iklim, bersifat segar (perishability) karena umumnya dibutuhkan dalam bentuk segar,  variability karena kuantitas dan kualitas bahan baku sangat ditentukan oleh keragaman genetik tanaman, dan bermassa besar (bulky) sehingga membutuhkan alat angkut dan fasilitas gudang berkapasitas besar. Adanya karakteristik musiman membuka peluang pabrik beroperasi di bawah kapasitas operasinya (excess capacity problem).  Menurut Koutsoyiannis (1982 dalam Zakaria, 2002), excess capacity merupakan masalah yang tidak diingini oleh para pengusaha agroindutri.  Excess capacity sangat berhubungan dengan konsep biaya jangka pendek.

Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan, lingkungan alam, sosial dan budaya, sarana dan prasarana pendukung, struktur pasar dan kebijakan pemerintah.  Meski faktor tersebut amatlah sukar dikelola oleh para petani namun pemahaman tentang faktor-faktor tersebut akan menolong para petani dalam menjalankan bisnisnya secara efektif dan efisien. Pengembangan agribisnis keluarga petani sangat memerlukan dukungan prasarana perhubungan dan sarana transportasi, lembaga keuangan, pasar yang kompetitif dan dukungan kebijakan pemerintah yang menjamin adanya perlindungan bagi usaha kecil dari praktek monopoli dan monopsoni.  Disinilah pentingnya kebijakan publik disusun bersama dengan melibatkan kelompok tani.

Subsistem yang terakhir adalah subsistem pemasaran mulai dari pemasaran input, bahan baku agroindustri hingga pemasaran produk hasil olahan agroindustri. Umumnya pemasaran dalam sistem agribisnis diserahkan kepada para pedagang yang biasanya relatif lebih baik posisi tawarnya dibandingkan dengan petani. Subsistem pemasaran sebaiknya diusahakan secara efisien agar sistem agribisnis secara keseluruhan mampu memberikan keuntungan kepada semua partisipan. Efisiensi produksi pada masing-masing subsistem merupakan syarat keharusan dalam pengembangan agribisnis namun demikian belumlah cukup jika tidak ada lembaga yang mengkoordinasikan para pelaku atau partisipan antara masing-masing subsistem dalam sistem agribisnis dengan biaya transaksi yang minimal.

Terdapat beberapa alternatif lembaga transaksi dalam sistem agribisnis yakni melalui pasar spot, integrasi vertikal atau antara keduanya (hibrid transaction) seperti kemitraan.  Jika pasar tidak mampu mengkoordinasikan partisipan antarmasing-masing subsistem dalam sistem agribisnis maka organisasi bisnis petani (kelompok tani, gabungan kelompok tani dan koperasi petani) menjadi sangat penting sebagai wadah koordinasi atau integrasi antarpartisipan dalam sistem agribisnis. Disinilah hakekat pentingnya koperasi sebagai organisasi bisnis petani dalam mengendalikan fonomena biaya transaksi tinggi hingga ke tingkat minimum dibandingkan dengan alternatif transaksi yang ada.  

 

Penutup:  Langkah ke Depan

Penataan kelembagaan untuk meningkatkan dayasaing agribisnis ditentukan oleh kerjasama sinergis (dan pembagian kerja) antarpengampu kepentingan, yaitu pemerintah atau masyarakat politik secara umum (political society), dunia usaha atau masyarakat bisnis (business society), dan masyarakat madani (civil society).

Peran pemerintah sangat strategis terutama dalam menyediakan infrastruktur dan perangkat regulasi agar pelaksanaan pengembangan agribisnis benar-benar  berjalan secara baik dan efisien. Kondisi ini sangat diperlukan, apalagi dalam menghadapi krisis multi dimensi yang terjadi saat ini.  Kita sangat membutuhkan sistem pemerintahan yang solid agar masalah yang kita hadapi cepat terselesaikan dan kita juga membutuhkan kinerja legislatif yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Dunia usaha merupakan komponen penting mengingat jumlah pelakunya cukup banyak dan memegang posisi kunci dalam perekonomian. Dari merekalah proses nilai tambah produk pertanian dihasilkan dan dari mereka pula harga produk pertanian ditentukan.  Meski demikian harus diakui bahwa apabila dunia usaha akan ikut berusahatani menghasilkan produk pertanian seperti petani umumnya, mereka — dapat dipastikan —  akan mengalami kerugian, karena usahatani yang dilakukan petani umumnya berskala kecil dan kurang efisien. Dengan demikian bagi dunia usaha yang bergerak dalam bisnis produk pertanian masih tetap tergantung dengan produk yang dihasilkan petani-petani gurem tersebut.

Masyarakat petani merupakan komponen yang sangat penting mengingat jumlahnya sangat banyak dan umumnya bergerak dibidang usahatani (on farm). Tanpa adanya petani, maka agribisnis tidak mungkin berkembang dan tentu saja produk-produk pertanian juga tidak cukup tersedia bagi kita. Untuk meningkatkan taraf hidup petani, mereka harus berperan aktif dan tidak hanya semata-mata menanti uluran tangan pihak lain.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 4 Juli 2011, in Ekonomi, Paradigma, Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: