“Perbankan Masih Setengah Hati”

Perhatian perbankan terkesan setengah hati terhadap sektor pertanian, apalagi bagi petani kecil, ini terbukti dari sistem yang dibagun perbankan. Ujung-ujungnya bagi petani itu tidak bisa berkutik kalau dihadapkan permodalan.

 

Untuk melihat cerminan itu, dialog “Mata Mahasiswa” episode 25 April lalu di stasiun TVRI mengangkat tema yang cukup menarik, yakni “Komitmen Perbankan di Sektor Ekonomi Pertanian” dengan narasumber    Ir. E. Herman Khaeron, M.Si, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Rafjon Yahya, Excutive Vice Presiden Corporate Banking Agro Based, H. Winarno Tohir, Ketua Umum KTNA, dan peserta dari mahasiswa hadir Nurfajriansyah (HMI), Ton Abdilah (IMM), dan  M. Asrul (Mahasiswa Peduli Pertanian, Ambon).

 

Acara yang berdurasi 1,5 jam ini juga dihadiri beberapa mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi sebagai audience. Rafjon Yahya memaparkan bahwa sektor pertanian ini merupakan satu target bisnis dari perbankan, seperti halnya sektor-sektor ekonomi yang lain. Bank tentu akan masuk bila bank yakin bahwa calon nasabah yang dibiayai ini mampu mengembalikan kredit, visible dan bankable. Artinya kalau diberikan kepada petani, usaha petani akan tumbuh. Tumbuh berkembang. Dia mampu membayar kewajiban kepada bank. Dia menjadi lebih sehat. Untuk mendapatkan bantuan permodalan dari bank, dia harus memenuhi ketentuan dari bank, bankable tentunya. “Perlu kita ketahui, tidak semua petani itu visible, tidak semua bankable. Kalau saya melihatnya ada 3 kelompok. Ada yang visible bankable, ada yang visible tidak bankable, ada yang tidak visible dan tidak bankable,” jelasnya.

 

Jika tidak visible dan tidak bankable, tidak mampu membayar kredit, tidak mampu memenuhi ketentuan bank, sumber biayanya bisa dicarikan dari sumber lain, CSR atau PNMN misalnya. Kemudian ada lagi, itu visible tapi tidak bankable, dia layak mampu mengembalikan kredit. Tapi dia tidak mampu memenuhi ketentuan bank, misalnya perijinan tidak lengkap, jaminan dia kurang. Ada program untuk itu, misalnya Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bank juga masuk di sana. Kemudian kelompok ketiga dia visible dan dia juga bankable itu baru komersial namanya, layak mendapatkan kredit dari bank. Sesunguhhnya bank tidak mau mempertentangkan ketiganya, karena ketiganya berhak memperoleh kredit permodalan.

 

Namun bagi Herman Khaeron tetap mengatakan perhatian perbankan masih setengah hati, terutama kepada petani kecil. “Bisa kita lihat dari sistem yang dibangun perbankan. Kami sedang merancang UU perlindungan dan pemberdayaan, ini adalah jawaban untuk itu. Pertama adalah rata-rata penyaluran kredit untuk pertanian itu mencapai 5-6 % per tahun, itu data kita punya rilis dari tahun 2003-2009. Dan tentunya kalau ini dibiarkan tanpa adanya kebijakan yang berorientasi kepada rakyat kecil, kepada petani kecil tentunya ini akan terus berlangsung. Dan kita lihat bahwa kita harus membangun segmen. Dan persoalan pertanian ini sangat penting,” tambahnya.

 

Herman menambahkan kalau perbankan menyatakan bahwa sudah berorientasi ke pertanian, tentunya ini juga harus dilihat komoditas apa yang menjadi perhatian tersebut. Padahal kita tahu persis yang sangat penting di sektor pertanian adalah pangan. Kemudian kita perhatikan bank bahwa ada mekanisme visibility ataupun bankable. Tentunya dengan kepemilikan lahan petani yang kecil, kurang dari satu hektar. Ini pasti tidak visible. Justru itu harus ada perhatian sepenuh hati dari bank. Bahwa ini ada petani kita, ada masyarakat kita. Yang harus disentuh dengan program yang tentunya pemerintah siap bekerja sama dengan bank untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya, untuk memberdayakan petani dan nelayan kecil.

 

Sementara H. Winarno Tohir, Ketua Umum Kerukunan Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) menjelaskan, kucuran dana ke komoditi beras ini sangat kecil sekali. Kalau untuk tebu diakui KKPN-nya bisa sampai 300%, karet, sawit memang lebih mudah untuk mendapatkannya. Tapi, untuk petani padi, untuk petambak ikan, bahkan nelayan lebih susah lagi. Kalau ternak cukup lumayan, ada KUPS. Itu juga belum diserap lebih banyak. Jadi, pada intinya Winarno berharap  petani memerlukan pemodalan apalagi untuk menghadapi teknologi. Untuk menghadapi anomali iklim ini, mau tidak mau memerlukan teknologi. Menghadapi perubahan iklim ini petani mengeluarkan biaya lebih banyak.

 

Nurfajriansyah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengatakan  pada umumnya  ekplorasi terhadap pertanian ini hanya sebatas lips service. Dari APBN saja persentasenya sangat kecil. Saat ini adalah saatnya eksekutif maupun legislatif mencanangkan agar negara agraris hidup kembali. Dia tetap masih melihat ada satu bentuk solusi bagus, harus ada sinergitas. Alangkah lebih baiknya yang swastanisasi ini melakukan pemberdayaan. Karena tidak bisa melibatkan Bank BUMN saja, harus ada Bank swasta yang dilibatkan lebih jauh, suapaya ketahanan pangan kita lebih stabil. Harus ada sinergitas. Harus ada kebijakan pemerintah yang pro agrobisnis.

 

Bagi Ton Abdillah, kini saatnya membuka mata untuk serius menggarap sektor pertanian termasuk perbankan. Karena bukan lagi soal nasib petani, tapi nasib bangsa ini. Bank harus ikut bertanggung jawab terhadap ketahanan pangan. Di petani kita yang punya lahan sempit sistem ijon sangat efektif dan petani bisa mengembalikan modal. Kalau pemerintah dan perbankan serius, harus ada blue print mau dibawa kemana pertanian bangsa ini.

 

Sementara M. Asrul Pattimahu mengatakan dari perspektif kebijakan, regulasi yang menyangkut pertanian itu harus didukung. Sehingga tidak hanya bicara kekurangan pangan tapi  bicara kualitas dan produktifitas masyarakat tani yang kemudian berakibat pada konsumsi masyarakat terhadap produksi-produksi itu. Artinya, sektor industri itu harus mendukung terhadap kualitas dan produksi pertanian, itu yang penting.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 11 Juli 2011, in Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: