“Persiapan Indonesia memang sangat kurang..”

 

Wawancara Ekslusif

Melihat perkembangan ekonomi dewasa ini, terlebih sejak penerapan ACFTA, tampak terlihat jelas bahwa perlu ada penataan ulang terhadap orientasi kebijakan di bidang pertanian. Membanjirnya sejumlah komoditas pertanian impor di sejumlah pasar modern dan tradisional telah secara signifikan menggeser daya saing komoditas pertanian dalam negeri. Fenomena tersebut merupakan sinyal yang harus diwaspadai terkait masa depan sektor pertanian nasional. Untuk mendalami masalah tersebut, Redaksi Tabloid INSPIRASI melakukan wawancara dengan Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS, Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan juga merupakan dosen tetap pada Fakultas Ekonomi dan Manajeman IPB. Berikut petikannya:

Bagaimana pandangan Bapak dengan penerapan ACFTA, terutama pengaruhnya di sektor pertanian (pangan)?

 

Indonesia dan RRC adalah dua negara besar di Asia yang masing-masing memiliki produksi dan pasar yang besar. Sejarah panjang (bersahabat sejak merdeka, persamaan latar belakang sejarah penjajahan,  serta saling membutuhkan). Masing-masing negara memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif karena perbedaan letak geografis. RRC sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia mempunyai daerah subtropis, sementara Indonesia yang berpenduduk nomer empat di dunia mempunyai wilayah tropis. Dengan diperlakukannya ACFTA maka China maupun Indonesia mempunyai keunggulan dan kelemahan di sektor pertanian dan pangan yang berbeda namun saling mengisi. Dengan diberlakukannya bebas tarif hingga 0 % maka hanya barang-barang yang terbaik dari sisi kualitas dan termurah dan disukai pasar masing-masing negara yang bisa masuk.

Imbasnya seperti apa bagi sektor pertanian kita?

Di sektor pertanian tropis Indonesia menghasilkan komoditas pertanian dan pangan tropis yang unggul dan bisa masuk ke China dengan mudah, misalnya: CPO, karet, coklat, kopi, rempah-rempah dan bio farmaka, udang, rumput laut, dan lain-lain.  Sementara China  unggul dengan produk hortikultura subtropis seperti apel, anggur, jeruk, pear, serta sayur-sayuran termasuk cabe merah. Produk-produk itu dengan diperlakukannya ACFTA akan semakin mudah keluar dan masuk di kedua negara.

Soal kebijakan pemerintah kita tentang hasil produk  pertanian dengan kebijakan ACFTA itu, pandangan Bapak sebaiknya seperti apa?

 

Pemerintah perlu lebih meningkatkan daya saing produk pertanian tropis dan mendorong supaya produk tersebut lebih banyak masuk ke RRC, melalui kebijakan promosi. Sementara pemerintah juga perlu memberlakukan kebijakan proteksi terhadap produk-produk yang masuk ke Indonesia secara ilegal dan tidak fair, misalnya produk dumping, produk-produk selundupan, produk-produk yang cacat dan tidak layak, kadaluarsa, serta produk-produk yang membahayakan (terkontaminasi hama-penyakit, pestisida, herbisida, dan bahan berbahaya lainnya) jika masuk ke Indonesia.

Kemudian daya saing kita untuk produk hasil pertanian saat ini, bagaimana pandangan Bapak?

Daya saing produk pertanian perkebunan tropis sampai saat ini masih bisa diandalkan, terbukti bahwa Indonesia menjadi eksportir terbesar untuk CPO, karet, coklat, kopi dan bahan baku obat obatan herbal. Indonesia juga sebaiknya tidak hanya mengekspor bahan semi jadi seperti CPO, crumb rubber, biji kopi dan coklat tetapi mengekspor minyak goreng dan turunannya yang bernilai tambah lebih tinggi. Mengekspor ban dan produk lain sepertri sarung tangan karet dan lain-lain. Daya saing itu harus terus dijaga dan ditingkatkan terutama untuk meningkatkan mengekspor bahan pertanian olahan yang bernilai tambah.

Mengapa produk pertanian kita “kedodoran” menghadapi ACFTA ini?

 

Selama ini yang kedodoran adalah produk pertanian subtropis. Kita tidak bisa menghambat atau tidak bisa bersaing untuk produk-produk seperti tanaman-tanaman hortikultura, buah, sayuran, yang segar maupun olahan. Indonesia kalah. Mengapa kedodoran karena pertanian subtropis, hortikultutra memang tidak siap untuk bersaing. Kekalahan juga bukan di sektor pertanian tetapi di ektor lain pendukung pertanian. Kekalahan pada suku bunga kredit/pinjaman termahal di dunia, infrastruktur buruk, transportasi mahal, teknologi ketinggalan. Tetapi untuk produk-produk seperti kelapa sawit, karet dan coklat serta kopi meskipun kurang ditunjang sektor lain (suku bunga, infrastruktur dan transportasi), Indonesia tetap unggul. Terbukti  tidak ada produk kelapa sawit dan karet, kopi dan coklat dari Cina masuk ke Indonesia.

Apa yang salah dengan pemerintah kita dengan adanya ACFTA, sementara produk dari negara China dan Asean sendiri membanjiri pasar domestik kita? 

 

Meskipun ACFTA sudah dipersiapkan dari awal tahun 2000, tetapi persiapan Indonesia memang sangat kurang. Indonesia saat ini dibanjiri semua produk Cina mulai dari mainan anak-anak, tekstil dan produksnya, garmen, barang-barang elektronik, barang-barang kimia, hingga produk otomotif. Namun untuk pertanian tropis, kita masih bisa bertahan. Pemerintah Indonesia kurang persiapan dalam menghadap ACFTA.

Pendapat bapak, bagaimana untuk memperkuat daya saing komoditas pertanian nasional kita?

Pertama, harus ada kebijakan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir dalam penangan pertanian. Kemudian yang kedua, peningkatan kualitas SDM pertanian. Ketiga, mengembangkan jaringan infrastruktur di pedesaan ke pelabuhan sampai pengembangan transportasi yang efisien. Keempat, memberikan modal yang efisien kepada petani. Kelima, mengembangkan hasil-hasil penelitian yang langsung bisa dimanfaatkan oleh petani.

Bagaimana problematika petani dalam permodalan?

Petani selalu kesulitan mendapatkan akses modal. Selain itu, suku bunga yang dikenakan pada petani sangat mahal. Petani Indonesia mendapatkan suku bunga termahal di dunia dibandingkan petani-petani negara lain, terkadang lebih dari 20% pertahun.

Apa pandangan Bapak soal karakterisitik permodalan dalam usaha pertanian?

Karakteristik permodalan sulit diperoleh, suku bunganya tinggi, dan sering kali diterima petani tidak tepat waktu dan jumlah.

Bagaimana skema permodalan yang baik untuk petani, agar petani pun tidak terlalu terbebani?

 

Pertama, mudah diakses, kedua, suku bunganya rendah, kemudian waktu perolehan bisa disesuaikan dengan jadwal petani, kemudian ada asuransi gagal panen untuk mengembalikan modal jika terjadi hal-hal di luar kemampuan petani untuk menangani misalnya banjir, kekeringan, gempa bumi.

Pendapat Bapak, apakah pihak perbankan Indonesia masih berpihak kepada petani langsung atau perusahaan pertanian?

Pihak perbankan Indonesia yang terikat kepada undang-undang perbankan lebih mudah membantu perusahaan pertanian dibandingkan pada petani.

Dengan begitu,  dana untuk petani, apakah bisa dinikmati langsung oleh petani?

Tidak

Bagaimana peran lembaga keuangan mikro lainnya dalam permodalan pertanian?

Peran lembaga keuangan mikro sangat penting dalam permodalan pertanian karena usaha tani di Indonesia umumnya skalanya skala mikro dan lembaga keuangan mikro lebih fleksibel di dalam menyalurkan modal.

Bagaimana peran kementerian pertanian terhadap permodalan untuk petani? 

Peran kementerian sangat penting dan strategis terhadap permodalan kepada petani. Kementerian berkewajiban membuat strategi dan kebijakan permodalan untuk petani. Kementerian juga bertangung jawab terhadap penyaluran modal dengan kredit yang murah sesuai yang didapat petani-petani negara lain, mudah didapat, dan tepat waktu pada saat petani membutuhkan. Kementerian juga bertangung jawab untuk mengupayakan adanya asuransi yang menjamim petani yang mengalami musibah tetap dapat mengembalikan kreditnya melalui program asuransi petani.

Sementara bagi petani yang memiliki lahan dari turun temurun nenek moyangnya, tentu tidak memiliki legalitas yang diinginkan pihak perbankan, Nah, ini bagaiamana cara jalan keluarnya?

Setiap lahan harus memiliki sertifikat kepemilikan sehingga setiap petani yang memiliki lahan memiliki legalitas atas lahannya. Supaya petani bisa memperoleh sertifikat maka pemerintah, khususnya BPN wajib membuat program nasional sertifikasi lahan, khususnya bagi para pemilik lahan yang dianggap tidak mampu. Program nasional sertifikasi menjadi tangung jawab pemerintah  melalui badan pertahanan nasional untuk menjamin hak-hak warga negaranya khusunya warga negara yang memiliki tanah tapi tidak mampu untuk mengurus legalitas kepemilikannya.

Bagaimana pendapat Bapak, bagi petani memiliki solusi untuk mendapatkan akses permodalannya?

 

Pertama, petani harus memiliki tanda bukti bahwa dia petani (surat keterangan bahwa dia petani). Kedua, petani tersebut memang petani yang membutuhkan modal. Kemudian petani yang membutuhkan modal tersebut dibantu oleh para penyuluh dan dinas pertanian setempat agar tercatat sebagai pihak yang siap menerima modal. Dengan daftar petani tersebut penyuluh dan dinas menghubungi perbankan atau lembaga keuangan untuk mendapatkan akses untuk memenuhi persarat mendapatkan modal. Penyuluh bersama dinas memberi bantuan kepada petani sampai petani tersebut mendapatkan modal yang dibutuhkannya.

Nama : Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS
Tempat/Tgl Lahir : Yogyakarta, 23 Desember 1959
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Menikah
Anak : 3 (Tiga) Orang
     
Alamat Rumah : 1. Jl. Pondok Hijau VI/28 Pondok Indah Jakarta – 123102. Bogor Baru Blok D VIII No. 11 Bogor
     
Jabatan Struktural :
  • Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Agribisnis (2000-2001).
  • Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hubungan Antar Lembaga (2001-2004).
  • Anggota Dewan Pengawas  PERUM  BULOG  (2003-2007)
  • Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB (2008-skrg)
Jabatan Organisasi :
  • Wakil Ketua Umum Himpunan KErukunan Tani Indonesia 2010-2015
  • Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) Periode 2005 s/d 2010
  • Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Periode 2004-2010
  • Ketua Bidang Kebijakan Dewan Pupuk Indonesia (DPI) 2008-skrg
  • Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Periode 2010-2015
Jabatan Fungsional :
  • Dosen Tetap pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor
  • Asisten Prof.  Kasuiro Takanashi dan dosen tidak tetap Faculty of Economic Keio University Tokyo Japan (2002-2005)
     

Riwayat Pendidikan

 
1999 : Lulus S3 Program Studi Penyuluhan Pembangunan, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Disertasi : “Perilaku Komunikasi, Perilaku Wirausaha Peternak, dan Penyuluhan dalam Sistem Agribisnis Peternakan Ayam”
1988 : Lulus S2 Program Studi  Komunikasi Pembangunan, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
1983 : Lulus S1 (Insinyur)  Fakultas Peternakan,  Institut Pertanian Bogor
1979 : Lulus Dengan Penghargaan Peringkat 1 dari SMAN 29 Jakarta
1975 : Lulus dengan Penghargaan Peringkat ke 3 dari SMP PSKD Jakarta
1972 : Lulus Dengan Penghargaan dari SD Triguna Jakarta 

Riwayat Pekerjaan dan Jabatan

2007-Skrg : Anggota Dewan Redaksi Majalah Tani Merdeka
2003-Skrg2003-2005. :: Anggota Dewan Redaksi Tabloid AGRINAAnggota Dewan Pengawas PERUM BULOG
2002-2005 : Staf Pengajar Mata Ajaran Indonesian Agricultural Economy pada Faculty Of Economics Keio University Japan Bimbingan Profesor Kasuiro Takanashi
2001-Skrg : Tim Ahli, Tabloid Agribisnis Sinar Tani
2001-2004 : Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hubungan Antar Lembaga (catatan: setelah menjabat Staf Ahli Menteri, menghentikan semua ativitas di dunia bisnis)
2001-2002 : Staf Pengajar (pengganti) Agribisnis LEMHANAS pada Kursus singkat dan Kursus Reguler Lembaga Ketahanan nasional (LEMHANAS)
2000-2005 : Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU)
1995-2000 : Direktur Pusat study Pembangunan IPB
1990-1995 : Asisten Direktur pada Pusat Study Pembangunan IPB
1989-2003 : Staf Pengajar Program Diploma, Sarjana, Program Pascasarjana, Ekonomi Pembangunan Mata Ajaran Kebijakan Pembangunan Pertanian dan Magister Management Agribisnis (MMA) di Institut Pertanian Bogor
1988-Skrg : Pendiri Unit for Socio and Economic Study and Evaluation (USESE) Foundation
1980-Skrg : Pendiri dan Komisaris beberapa Perusahaan dan Koperasi yang bergerak di bidang Agribisnis 

Keanggotaan dalam Organisasi

2010- : Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Periode 2010-2015
2008-Skrg : Ketua Bidang Kebijakan Dewan Pupuk Indonesia (DPI)
2005-20102004-2009 :: Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU)Sekretaris Jendral Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)
2002-Skrg : Pembina, Forum Komunikasi Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat, Bandjar Anyar, Paciran, Lamongan
2002-Skrg : Anggota Kehormatan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)
2002 : Pengurus, Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia (MAKSI)
2001-Skrg : Tim Ahli, Tabloid Agribisnis Sinar Tani
2001 : Anggota Dewan Pembina, Perhimpunan Penyuluhan Pertanian (PERHIPTANI)
2001 : Ketua, Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia (PAPPI)
1998-2000 : Penasehat, Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama (LP2NU)
1995-2000 : Penasehat, Asosiasi Pengusaha Industri Daging Indonesia (ASPIDI)
1990 : Anggota,  Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI)
1988-1990 : Anggota, Indonesia Amateur Radio Organization (ORARI-YCOIPB)
     
Penghargaan
2008 : Sertifikat Dosen Profesional 437/PT02.H14.1/R4/2008
2003 : Tanda Kehormatan Lencana Emas Kelompok KTNA Nasional
2002 : Pegawai Teladan Tingkat Nasional Departemen Pertanian
2001 : Penghargaan Satyalencana Karya Sapta 10 tahun, tanda kehormatan   Presiden Republik Indonesia.
1994 : Penulis Terbaik Lomba Karya tulis Ilmiah Koperasi dengan judul karya tulis “Strategi Pengembangan Pengusaha Kecil dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahun II” .
1993 : Penulis Terbaik lomba karya tulis Ilmiah Dies Natalis ke-30 IPB dengan judul karya tulis “Strategi Mengelola Hutan Indonesia (Upaya mengantisipasi Boikot Kayu Tropis dan Kerusakan Hutan)”
1993 : Penulis terbaik lomba karya tulis ilmiah populer IPB dengan judul karya tulis “Srategi Mengelola Hutan Indonesia”  (Harian Suara Pembaruan Edisi 15 Agustus 1993, Jakarta)
1992 : Penulis Terbaik dalam Lomba karya tulis HUT LAPAN dengan judul karya tulis “Penggunaan Satelit   Untuk Memantau Kekeringan”
1992 : Finalis dalam Pemilihan Peneliti Muda Indonesia LIPI-TVRI dengan judul penelitian  “Memantau Kadar Air Tanah pada Lahan Pertanian Melalui Satelit  (Suatu Penelitian Lapang Pada Perkebunan Tebu di Lampung)”

Pendaftaran/Perolehan Hak Patent

2009 : Seni Logo GB (Gudang Buku). Daftar Ciptaan Nomor : 043225
2001 : Penetas Telur Puyuh, Hak Paten No. ID 0010072, yang dipatenkan diberikan selama 20 tahun sejak 11 Juli 2001
2001 : Kandang Puyuh Fase Produksi, Nomor Permintaan Paten  P00200100541, dalam proses, diajukan sejak 11 Juli 2001
2001 : Kurungan Pengangkat Puyuh, Nomor Permintaan Paten P00200100543, dalam proses, diajukan sejak 11 Juli 2001
2001 : Kandang Puyuh Umur 16 hari – dewasa, Nomor Permintaan Paten P00200100544, dalam proses, diajukan sejak 11 Juli 2001
2001 : Kandang Puyuh Umur 1 – 16 hari, Nomor Permintaan Paten P00200100545, dalam proses, diajukan sejak 11 Juli 2001
1997 : Pengolahan POD Cacao Sebagai Sumber Hijauan dalam Pembuatan Makanan Ternak Hijauan dalam Pembuatan Makanan Ternak Lengkap

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 11 Juli 2011, in Wawancara. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: