Hutan dan Perkebunan Merupakan Cadangan Sumber Daya Energi dan Bahan Bakar Terbarukan Indonesia Masa Depan

 

 

 

 

 

 

 

Oleh : Dr.Rudianto Amirta

Dosen Fakultas Kehutanan

Universitas Mulawarman-Kalimantan

Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia merupakan satu dari sekian negara di dunia yang dikenal memiliki kawasan hutan yang masih tergolong tinggi, selain Brasil dan Zaire. Letak geografis Indonesia yang tepat berada di garis Khatulistiwa, menjadikan negara ini sebagai salah satu pemilik dari hutan tropis basah yang masih dimiliki oleh dunia saat ini. Kawasan hutan tropis basah Indonesia diketahui menyimpan beragam kekayaan hayati (biodiversity). WWF Indonesia bahkan melaporkan bahwa kawasan hutan di Indonesia, khususnya yang berada di Kalimantan Timur (Kayan Mentarang, Malinau) memiliki sekitar 15.000 jenis tanaman pada setiap kilimoter persegi dari kawasannya, dan nilai keberagaman ini merupakan yang paling tinggi, jika dibandingkan dengan kawasan manapun di muka bumi ini (Pio, 2008).

Tidak hanya itu, hutan di Kalimantan juga diketahui menyimpan kekayaan beragam jenis tanaman endemik. Tercatat 6.000 jenis tanaman yang tergolong kedalam klasifikasi ini, termasuk diantaranya 155 jenis dipterokarpa yang secara ekonomis dan ekologis memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di kawasan ini. Namun sayangnya, potensi keragaman yang tinggi tersebut belum sepenuhnya dapat dirasakan manfaatnya, mengingat sebagian besar dari kekayaan hayati tersebut belum dikenal dan diketahui fungsi dan kegunaannya, baik secara ekonomis maupun ekologis guna mendukung kehidupan umat manusia yang mendiaminya secara berkelanjutan.

Lignoselulosa yang tersusun dari selulosa, hemiselulosa dan juga ligninKetidaktahuan akan sifat dasar dan fungsi menjadi faktor utama dan penyebab dari ketidakbermanfaatannya potensi hutan dan sumber biomassa yang kaya akan kandungan lignoselulosa ini. Saat ini, hutan tidak hanya dibangun untuk menghasilkan kayu-kayu pertukangan guna memenuhi keperluan konstruksi bangunan, meubeler serta bahan baku pulp dan kertas semata. Sejak beberapa tahun terakhir, berkembang pula pemikiran dan teknologi pemanfaatan potensi biomassa hutan yang besar dan kaya akan kandungan lignoselulosa ini (lignocellulosic biomass) sebagai bahan baku untuk memproduksi bahan bakar, energi dan bahan kimia yang terbarukan (Watanabe, 2007).

Lignosellulosa adalah sebuah terminologi yang umumnya digunakan untuk menggambarkan komponen utama penyusun dari suatu tumbuhan, baik yang berupa kayu (wood), maupun bukan pohon (non-woody) seperti rumput, jerami dan lain sebagainya.  Komponen ini umumnya dapat dijumpai mulai dari bagian akar, batang dan juga daun tumbuhan.  Sebagaimana yang terlihat pada Gambar 2., secara kimia biomassa berlignosellulosa ini akan tersusun atas 3 komponen utama, yaitu sellulosa (38-50%), lignin (15-30%), dan hemisellulosa (23-32%) (Sierra et al., 2007).

Dewasa ini, penggunaan biomassa hutan yang kaya akan kandungan lignoselulosa sebagai penghara (feedstock) dalam memproduksi bahan bakar yang ramah lingkungan (bioetanol) menjadi sangat penting dan menarik untuk dilakukan terutama didasarkan pada tiga kelebihan utama yang dimilikinya. Pertama, biomassa berlignoselulosa merupakan sumber bahan baku yang bersifat terbarukan (renewable resources), sehingga dapat dikembangkan secara berkelanjutan dimasa datang. Kedua, jenis bahan bakar yang bersumber pada biomassa hampir tidak menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2), karenanya berdampak sangat positif pada lingkungan.

Siklus karbon tertutup pada penggunaan bahan bakar yang bersumber dari biomassa yang berlignoselulosaKetiga, bahan bakar biomassa memiliki potensi ekonomi yang sangat menguntungkan dan signifikan, terutama jika dikaitkan dengan fenomena menurunnya produksi dan terus meningkatnya harga bahan bakar fosil dimasa datang (Cadenas dan Cabezudo, 1998; Demirbas, 2007). Lebih dari itu, biomassa hutan, limbah industri perkayuan dan pertanian yang kaya akan kandungan lignoselulosa ini bukan merupakan bahan pangan, sehingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar dan energi tidak akan mengganggu ketersediaan cadangan bahan makanan yang kita miliki (non edible biomass).

Khusus mengenai bioetanol, pemerintah Indonesia telah menyusun sebuah peta jalan atau roadmap pengembangan produksi dari bahan bakar yang terbarukan. Dalam peta jalan tersebut, pemerintah berencana untuk memproduksi bioetanol dengan menggunakan bahan-bahan biomassa berlignosellulosa yang bersumber dari hutan, limbah industri perkayuan dan pertanian untuk menggantikan penggunaan bahan pangan, sebagaimana yang ada saat ini (direncanakan pada tahun 2016-2025).

Menyikapi rencana tersebut dan sebagai langkah awal guna mewujudkan dan mengisi roadmap pembangunan industri bioetanol Indonesia yang mandiri, maka sejak dua tahun yang lalu kami telah melakukan serangkaian penelitian yang kami fokuskan pada upaya mengidentifikasi dan melakukan seleksi terhadap kesesuaian penggunaan dari beberapa jenis tumbuhan, khususnya kayu-kayu tropis yang berpotensi untuk dikonversi menjadi bioetanol. Identifikasi dan tahapan seleksi telah kami lakukan dengan menganalisa kandungan kimia kayu dan potensi gula tereduksi yang dimiliki (setelah proses hidrolis secara enzimatis) oleh biomassa berlignoselulosa hutan tropis tersebut. Adapun penelitian ini kami lakukan sebagai bagian dari adaptasi terhadap kemajuan teknologi yang berkembang pesat, khususnya dalam proses pembuatan bioethanol.

Roadmap pengembangan industry bioethanol Indonesia 2006~2025 (ESDM – Anonim, 2010)Hasil penelitian yang telah kami lakukan menunjukkan bahwa beberapa jenis kayu hutan tropis yang selama ini dikenal sebagai jenis pionir hutan sekunder, cepat tumbuh dan dapat beradaptasi dengan lingkungan tanah yang miskin akan unsur hara serta sejauh ini tidak digunakan dan bernilai ekonomi sangat rendah seperti terap, sukun, bungur dan sengon ternyata memiliki tingkat kesesuaian yang sangat tinggi, dan berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol dimasa datang (lignocellulosic biomass). Penilaian positif akan kesesuaian penggunaan kayu-kayu tersebut sebagai bahan baku bioetanol ditandai dengan potensi kandungan gula tereduksinya yang tergolong sangat tinggi, dimana kayu terap (Artocarpus elasticus) mencapai 73,59%, sengon (Paraserianthes falcataria) 70,25%, bungur (Lagerstromia speciosa) 69,06% dan sukun (Artocarpus altilis) 67,84% (w/w). Sejauh yang kami ketahui, hasil penelitian ini merupakan temuan pertama yang memperlihatkan potensi gula Variasi teknologi pada pembuatan bioetanolterreduksi yang sangat tinggi dari kayu-kayu pionir daerah tropis, khususnya dari jenis-jenis pionir yang tumbuh dan banyak di jumpai di kawasan Asia Tenggara.

Tidak hanya itu, kawasan hutan dan areal perkebunan di Indonesia juga merupakan cadangan bahan baku energi yang luar biasa bagi Indonesia. Biodiesel dan pellet energy juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi biomassa yang besar ini. Saat ini, hampir setiap daerah kabupaten maupun kota, terutama yang berada di Sumatera dan Kalimantan merupakan pusat atau basis pengembangan perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit yang ada di negara ini.

Secara nasional, kelapa sawit adalah salah satu komoditas andalan Indonesia dalam meraih devisa.  Selama 20 tahun (1985-2005) tercatat pertambahan luasan kebun kelapa sawit sebanyak 837%, hal ini dibuktikan dengan kontribusi minyak sawit terhadap ekspor nasional sebanyak 6%, komoditas ini juga nomor satu dari produk Indonesia di luar sektor  gas dan minyak bumi. Namun, dampak positif dari perkembangan industri kelapa sawit juga menghasilkan dampak buruk bagi lingkungan apabila limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik.

Mass balance dalam industri pengolahan minyak kelapa sawit (Kismanto, 2006-dimodifikasi; Amirta et al., 2008)Jika kita mencermati proses pengolahan tandan buah segar (FFB) menjadi minyak sawit (CPO), maka lebih kurang 45% dari input buah segar yang diolah tersebut pada akhirnya akan berubah menjadi limbah padat berupa cangkang/tempurung (shell), serabut (fiber) dan tandan kosong sawit (EFB) (Gbr. 6).  Setengah dari jumlah limbah padat tersebut merupakan tandan kosong sawit.  Jumlah yang sangat besar, bila mengingat jumlah buah sawit segar yang diolah terus meningkat dari waktu ke waktu, demikian pula kapasitas dari industri pengolahan minyak sawitnya.

Sebagai contoh Propinsi Kalimantan Timur, saat ini telah beroperasi beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan realisasi luas areal penanaman yang telah mencapai 714.000 ha dan dengan tingkat produksi tahunan crude palm oil (CPO) sebesar 2,5 juta ton (produksi buah segar tahunan ± 12,5 juta ton).  Jumlah produksi yang besar tersebut ditopang dengan keberadaan 18 pabrik minyak kelapa sawit yang tersebar disebagian besar wilayah propinsi ini (Anonim, 2010). Jika diasumsikan bahwa 20% limbah tandan kosong akan dihasilkan dari pengolahan setiap ton buah sawit segar, maka setidaknya saat ini terdapat potensi limbah sekitar 2,5 juta, yang siap untuk dimanfaatkan menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi tinggi, satu diantaranya adalah bio-pellet (pellet energy).

Sejauh ini pemanfaatan limbah padat kelapa sawit untuk menghasilkan energi baru terbatas sebagai bahan bakar padat pada ketel (boiler), terutama untuk limbah padat yang berupa cangkang/tempurung dan serabut. Khusus untuk limbah tandan kosong sawit, pemanfaatan sebagai bahan bakar padat boiler mempunyai konstrain/penghambat yaitu pada tingginya kandungan air (moisture) 60% dan polusi yang yang dihasilkan.

                       (a)                                                  (b)                                              (c)

Gbr. 7. (a) Limbah tandan kosong sawit yang melimpah di sekitar lokasi pabrik minyak sawit; (b) limbah yang dikembalikan ke areal kebun; (c) limbah yang dibakar di sekitar kebun sawit (Amirta, 2010)

Namun demikian, dengan pengembangan teknologi proses yang telah dilakukan, kami mampu secara signifikan meningkatkan mutu dan nilai kalor dari produk bio-pellet/pellet energi yang dihasilkan.  Sejauh ini, hasil penelitian kami mampu mengubah limbah padatn tandan kosong kelapa sawit menjadi produk energi alternatif dengan nilai kalor atau rataan panas sebesar ± 5.000 kCal/kg. Tidak hanya itu, hasil penelitian ini juga merupakan temuan pertama yang melaporkan bahwa limbah tandan kosong kelapa sawit dapat diproses menjadi sebuah sumber energi yang mampu memiliki nilai kalor/panas yang relatif tinggi, hingga mencapai nilai 5.354 kCal/kg atau setara dengan 22,4 MJ/kg.

Tabel 1.                 Karakterisasi dari produk bio-pellet limbah tandan kosong sawit dengan gliserol sebagai inisiator peningkatan panas/nilai kalor

Komposisi Campuran (%)

Kadar air (%)

Kerapatan
(g/cm3)

Abu
(%)

Karbon terikat (%)

Volatile matter (%)

Kalori
(kCal/kg)

Tks

Cs

Gli

Tap

80

10

5

5

4,36

0,91

3,52

3,06

89,06

5.230

70

20

5

5

4,35

0,91

3,05

2,54

90,06

5.350

60

30

5

5

4,56

0,91

3,00

2,00

90,64

5.354

50

40

5

5

4,35

0,91

3,00

3,00

90,65

5.354

Keterangan: Tks, tandan kosong sawit; Cs, cangkang  sawit; Bks, bungkil kernel sawit dan Tap, tapioka

Produk pellet energy ini berpeluang luas untuk dikembangkan. Peluang pengembangan industri dan produksi bio-pellet sangat bergantung pada tingkat permintaan akan produk ini dipasar energi, baik itu yang berasal dari dalam negeri (domestik), maupun dari luar negeri. Dengan nilai kalor yang dimiliki oleh bio-pellet berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit saat ini, yaitu > 5.000 kCal/kg, pada faktanya adalah jauh di atas persyaratan dari Low Rank Coal (LRC) atau batu bara berkalori rendah yang diinginkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangit listrik (power plant) nasional, guna mendukung program penyediaan listrik nasional (nilai panas/kalor 3.900~4.700 kCal/kg).

Kebutuhan PLN akan LRC tersebut dimuat dan disampaikan dalam berbagai kesempatan dan pemberitaan di beberapa media nasional.  Mengutip pemberitaan dari Media Indonesia di penghujung tahun 2009 yang lalu, `PT PLN (Persero) menenderkan pengadaan batu bara kalori rendah (low rank coal – LRC) untuk memenuhi kebutuhan pembangkit sebesar 3,26 juta ton per tahun`.  Itu berarti, bio-pellet limbah tandan kosong sawit sangat berpeluang besar untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan energi nasional yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Oleh karena itu, Kalimantan Timur dan beberapa propinsi lainnya yang menjadi sentra perkebunan dan pengolahan kelapa sawit berpeluang menjadi pusat pengembangan industri bio-pellet/pellet energy berbahan baku limbah padat kelapa sawit, mengingat luas perkebunan dan tingkat produksi minyak sawit yang telah dimiliki saat ini. Tidak hanya itu, program pengembangan perkebunan kelapa sawit 1 juta hektar yang digagas pemerintah daerah juga akan dapat disinergikan dengan pengembangan industri bio-pellet guna mewujudkan kemampuan dan kemandirian daerah dalam memproduksi energi dari sumber-sumber terbarukan yang dimilikinya saat ini.

Selain memiliki pasar di dalam negeri, produk energi terbarukan seperti bio-pellet limbah dari padat kelapa sawit juga berpeluang besar untuk diekspor ke luar negeri. Saat ini trend kebutuhan dunia akan produk pellet energi sangat baik dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dilaporkan oleh Swaan dan Melin (2008) dan Ekstrom (2009), setiap tahunnya negara-negara Eropa dan Amerika memerlukan sekitar 14~15 juta ton produk pellet energy, baik yang terbuat dari kayu, limbah pertanian dan lain sebagainya. Umumnya pellet energy digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan pemanas ruangan di musim dingin. Namun demikian saat ini kebutuhan akan pellet energy cenderung meningkat, seiring dengan berkembangnya penggunaannya sebagai bahan bakar substitusi pengganti batu bara bagi keperluan industri-industri yang ada di negara-negara tersebut.

Berbekal dari berbagai penjelasan yang telah diberikan tersebut, kami sangat berharap kita bisa menindaklanjuti penjelasan dan hasil-hasil penelitian ini menjadi sebuah peluang berinventasi guna memaksimalkan penggunaan sumber daya alam yang kita miliki, menyediakan energi dan bahan bakar yang cukup bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal diwilayah pedesaan, sekitar hutan dan perkebunan yang sejauh ini relatif belum tersentuh oleh kecukupan pasokan energi dan bahan bakar sebagaimana kita yang tinggal diwilayah perkotaan. Lebih dari itu, melalui upaya ini kita dapat secara nyata berperan aktif di dalam menjaga lingkungan hidup,  menyelamatkannya dari pemanasan global yang tengah terjadi melalui upaya nyata berupa penggunaan energi ramah lingkungan, terbarukan dan berasal dari biomassa terbarukan yang banyak kita miliki ini.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 11 Juli 2011, in Energi, Wacana Utama. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Siapa yang akan memulainya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: