Membangun Dunia Usaha di Kalangan Muda

Pembangunan karakter entrepreneurship di kalangan muda sebaiknya dimulai sedini mungkin agar pada saat persaingan global ke depan bangsa kita sudah siap menghadapinya. Dengan pengalaman tiga kali krisis dan dua kali turbulesi ekonomi global yang terkesan negara kita jatuh.

 

Nah, untuk pembahasan hal itu lebih jauh, diskusi “Mata Mahasiswa” yang ditayangkan TVRI pada 2 Mei lalu, mengangkat tema “Pembangunan Karakter Entrepreneurship di Kalangan Mahasiswa Generasi Muda Menghadapi Persaingan Global”.

 

Hadir dalam acara itu,  Edy P. Irawadi (Deputi Menko Bidang Indsustri dan Perdagangan), Ade Sudrajat (Ketua API), Achsanul Qosasi (Wakil Ketua Komisi XI DPR RI). Dan dari kalangan mahasiswa,  M. Ali Afandi (FE Unair), Siska Novianti (FE untar), dan Diah Asri A (FE Unas).

 

Menyikapi pembangunan karakter entrepreneurship itu, Edy P. Irwandi memaparkan, bangsa kita masih tergantung pada perdagangan dengan negera lain. Kita perlu saudagar yang tangguh dan global. Presiden Indonesia pun sudah mencanangkan gerakan kewirausahaan nasional pada tanggal 2 Februari 2011.

 

“Kita fokus pada tiga staging. Staging pertama kita memberikan bibit yang bagus. Dari mulai SD dan mulai empat tahun kita berikan kata ‘Jual..jual…jual” bukan “Beli…beli…beli”. Kedua, Kalau bibitnya sudah bagus kita tempa mau jadi industriawan mau jadi pengusaha, mau jadi profesiaonal. Itu pembinaan. Ketiga, kita berikan akses modal, pembiayaan sama penambahan kapasitas. Kita tidak mau tergantung pada angka. Kita mau ada wirausahawan global yang daya saing bagus, punya daya dobrak,” tambah Edy.

 

“Kita ingin ke depannya  pemuda, mahasiswa bisa menggantikan George Soros atau yang lainnya yang bisa bersaing di dunia global. Karena kalau kita menjadi pengusaha, bukan hanya mengatasi pengangguran tapi juga mengatasi kemiskinan,” tambah Edy.

 

Sedangkan, Achsanul Qosasi mengatakan, dalam hal entrepreneur ini harus ada inovasi apakah akan memprofit sesuatu atau menjadi agen sesuatu itu menjadi pilihan masing-masing.  Setiap orang mempunyai kemampuan entreperner, kemudian bagaimana   mendidik diri  sendiri hingga kemampuan entreperner itu keluar. Semua program pemerintah yang 23 itu mempunyai kandungan entreperner.

 

“Nah, sekarang tinggal anak muda dan mahasiswa yang  mengisi kekosongan 2,5 sampai 3,5 persen itu. Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangat kaya, tinggal kita memanfaatkannya,” katanya.

 

Ade Sudrajat juga menyikapi, entrepreneur  itu memang memiliki nilai-nilai yang sangat mulia bagi yang menjalaninya.

 

“Orang tua saya selalu mengatakan entrepreneur itu pintu rejekinya sebanyak 20, dan pintu rejeki pegawai cuman satu. Kunci sukses entreprerneur itu, satu focus artinya tabah untuk menjalani satu bidang, setelah sukses satu bidang Insya Allah bidang-bidang yang lainnya mengikuti,  mudah. Tapi harus menjalani yang satu ini sehingga sukses. Sukses yang satu ini artinya menjaga martabat sebagai manusia. Jadi tidak melakukan hal-hal yang curang, mengurangi timbangan dan sebagainya. Karena nilai seorang entrepreneur adalah kepercayaan, jadi bukan uang,” tambah Ade.

 

Sementara para mahasiswa, Ali Afandi dari FE Unair, Surabaya, mengatakan entrepreneur itu diartikan seseorang yang membeli value added dari globalisasi ini. Bisa memberikan opportunity bagi Indonesia.  Menurut Ali,  saat ini Indonesia  jadi ketua ASEAN dan tentunya  pemerintah banyak menandatangi MoU, itu hanya skala makro ekonomi saja.

 

“Kita selalu diperlihatkan bahwa GDP naik sekian persen. Padahal realitanya yang kaya makin kaya, yang tengah bisa naik bisa turun. Yang miskin makin miskin. jadi kita mahasiswa itu harus ditanamkan nilai-nilai entrepreneur bukan hanya di wilayah dengan keramaian ibu kota, tapi juga di seluruh Indonesia,” Jelasnya.

 

Siska Novianti dari Untar, Jakarta, negara maju itu ditandai dengan banyaknya entrepreneur. Poin seorang entrepreneur adalah tentang berani mengambil peluang.

 

“Banyak dari kita juga yang tidak bisa melihat peluang. Orang awam melihatnya sebagai biasa saja.  Kemudian kita juga tidak bersaing dalam masalah harga. Orang kita kan sukanya yang murah dan kualitasnya ya biasa-biasa saja lah. Kita cenderung bermain di harga pass-pasan dan kualitasnya pun pas-pasan, jadi nanggung.  Diah Asri menyikapi,  kalau wirausaha itu jiwa. Jiwa wirausaha itu  bisa ciptakan sendiri.

 

Diah Asri, Unas, Jakarta menambahkan, entrepreneur itu simple. Bagaimana membuat rongsokan menjadi bernilai bisnis.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 11 Juli 2011, in Ekonomi, Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: