Menggagas Koperasi Modern Berbasis Ideologi Pancasila dan Prinsip-prinsip Akuntansi

Darwis Said

Dosen Fakultas Ekonomi

Universitas Hasanuddin, Makassar

Pengantar

Cita-cita kemerdekaan Indonesia tidak hanya untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa secara politik, tetapi juga kedaulatan dan kemandirian secara ekonomi.  Cita-cita kemerdekaan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur (mandiri secara ekonomi) hanya dapat diwujudkan jika seluruh potensi dan sumber daya bangsa dikelola secara bersinergi melalui pengembangan dan pengintegrasian seluruh instrumen dan kebijakan politik-ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Pada dasarnya, lembaga bisnis (korporasi) dibangun dengan maksud untuk menciptakan kesejahteraan (welfare) masyarakat melalui penciptaan dan distribusi barang dan jasa. Ia kemudian berkembang menjadi institusi yang mengakomodasi kepentingan masyarakat, dan sekaligus mengarahkan tindakan orang-orang yang ada di dalamnya bahkan orang-orang yang ada di luarnya.  Korporasi diakui sebagai salah satu hasil peradaban manusia modern yang paling menakjubkan. Dapat dibayangkan lebih dari 90% kebutuhan masyarakat modern dihasilkan atau disuplai oleh perusahaan. Dan tidak hanya disuplai tetapi juga diarahkan dan ditentukan oleh institusi tersebut.

Namun dalam perkembangannya, terutama ketika korporasi dijalankan berdasarkan mekanisme pasar dan persaingan berbasis pada kekuatan modal, maka lambat laun peran korporasi sebagai pencipta welfare mengalami pergeseran. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena korporasi yang dikelola berdasarkan kekuatan modal dan mekanisme pasar semata cenderung hanya menciptakan barang dan jasa yang diinginkan dan demi kepentingan produsen, bukan oleh konsumen, diproduksi dengan sistem padat modal bukan padat karya.

Karakter korporasi seperti di atas dipandang tidak sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi dan karakter bangsa Indonesia, baik secara kultural maupun dari aspek regulasi, dan telah bergeser dari cita-cita demokrasi bangsa, terutama masalah pemerataan dan kedaulatan ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan konsep dan tata kelola perekonomian yang lebih sesuai dengan karakter keindonesiaan, yang berorientasi pada penciptaan keadilan ekonomi dan sosial. Koperasi dianggap sebagai bentuk lembaga perekonomian yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Secara geo-kultural, koperasi dianggap sesuai karena mengandung nilai dan prinsip gotong-royong; sifat altruistik; solidaritas; mengajarkan tanggung jawab; menjunjung persamaan, keadilan, dan kesetiakawanan sosial, serta nilai-nilai etis lainnya.

Secara geografis, dimana negara kesatuan yang berkarakter archipelago mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia sangat pluralis secara sosial-ekonomi. Bentuk koperasi juga memungkinkan untuk membangun persamaan-persamaan kepentingan dan solidaritas anggota yang tentunya akan bermuara pada persamaan dan solidaritas bangsa, yang pada akhirnya akan menghilangkan jarak yang terbentuk oleh lautan dan gugusan nusantara. Dengan demikian, aktivitas dan sistem perekonomian, selain mampu mencapai kesejahteraan dan kemandirian ekonomi bangsa juga dapat berperan dalam menciptakan tatanan politik dan masyarakat yang lebih baik.

Oleh karena itu, gagasan utama tulisan ini adalah bagaimana membangun koperasi yang berkarakter ideologi Pancasila, pelibatan institusi negara seperti BUMN/D, BULOG dan lainnya, penerapan prinsip-prinsip bisnis dan akuntansi modern, serta penciptaan komoditas berbasis kebutuhan dasar (basic needs) yang mampu merambah pasar Internasional.

 

 

Relevansi Ideologi Pancasila dalam Membangun Koperasi yang Unggul

Prinsip kedua dari Pancasila mencerminkan kesadaran bangsa Indonesia sebagai bagian dari [kesadaran] kemanusiaan universal (Yudi Latif, 2011: 237). Kesadaran kemanusiaan merupakan modal ideologis dan kultural yang memungkinkan seseorang dan masyarakat dalam membangun suatu tatanan kebangsaan dan tatanan ekonomi yang berorientasi pada upaya untuk menciptakan kesejahteraan (welfare) bersama, bukan kesejahteraan atau kepentingan individu. Dalam konteks ekonomi, kesadaran seperti ini akan memungkinkan suatu bangsa untuk membangun sistem ekonomi yang lebih mengutamakan sistem kerja sama dan pencapaian tujuan (kesejahteraan) bersama pula.

Komitmen kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial akan memberikan maknanya yang agung jika hal itu diimplementasikan dalam seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, baik dalam bidang hukum, politik, dan juga dalam bidang ekonomi. Sebaliknya dimensi dan aktivitas ekonomi sejatinya harus mampu menumbuhkan kesadaran sebagai suatu bangsa yang mandiri, berkarakter, dan berwibawa. Aktivitas dan sistem ekonomi hendaknya dibangun dalam konteks sebagai kepentingan suatu bangsa, meretas kebersamaan dan persatuan sehingga mampu mewujudkan bangsa yang tidak hanya maju di bidang teknologi dan ekonomi saja, tetapi juga bangsa dan masyarakat yang berkarakter serta memiliki tatanan sosial yang tangguh dan unggul.

Kita memerlukan pengerahan potensi, kemauan dan upaya yang luar biasa untuk menyatukan keragaman dan luasnya teritorial serta kebhinekaan sosio-kultural bangsa Indonesia. Salah satu yang paling ‘seksi’ dan memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi adalah bidang ekonomi. Sistem dan aktivitas ekonomi memerlukan desain yang memungkinkan terbentuknya komitmen kebangsaan, persatuan, kepedulian, serta pembangunan karakter. Koperasi yang merefleksikan ideologi Pancasila adalah salah satu bentuk tepat dan ideal bagi sistem perekonomian bangsa Indonesia.  Ia merupakan sistem ekonomi yang sesuai dengan cita-cita dan karakter bangsa Indonesia.

Sistem koperasi yang berbasis pada ideologi Pancasila memberi ruang bagi semua strata ekonomi masyarakat untuk terlibat dan dilibatkan dalam kegiatan ekonomi. Koperasi juga memberi ruang dalam pembelajaran demokrasi, implementasi prinsip-prinsip gotong-royong, keterbukaan, tanggung jawab dan kebersamaan yang juga dapat menjadi modal dasar bagi pembangunan ekonomi yang mandiri.  Dengan demikian, akan memberi ruang dan kesempatan pula bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh kesejahteraan ekonomi, ruang dan kesempatan untuk menata persatuan dan solidaritas bangsa.

 

Memfungsikan Institusi Negara dalam Memperkuat Sendi-sendi Ekonomi Koperasi

Untuk membangun koperasi sebagai lembaga bisnis yang kompetitif, maka diperlukan komitmen bersama dalam konteks kebangsaan, diperlukan nilai-nilai dasar sebagai spirit bersama dalam mencapai tujuan bersama suatu bangsa, bukan hanya sekedar mencapai tujuan individu. Nilai-nilai Pancasila sebagai wujud karakter ke-Indonesiaan perlu digali dan dioptimalkan dalam mewarnai karakter pengelolaan perekonomian/perkoperasian di Indonesia. Kita membutuhkan values sebagai pegangan dan penegasan bersama bahwa orientasi ekonomi kita bukan utilitarianisme, melainkan untuk kesejahteraan bersama dan bagi kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini sejalan dengan gagasan yang dikemukakan oleh Soekarno: “Prinsip No. 4  sekarang saya usulkan…yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip: tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka” (Soekarno, 1 Juni 1945) dalam Yudi Latif (2011: 491).

Untuk membangun koperasi sebagai lembaga bisnis yang unggul dan kompetitif, maka perlu dibangun di atas landasan ideologis yang kokoh dan berbasis pada manajemen modern. Landasan ideologi dibutuhkan agar sistem perekonomian tidak menggeser paradigma dan komitmen bernegara, solidaritas berbangsa, serta tetap mempertahankan perekonomian dan tata kelola yang menjunjung karakter dan nilai-nilai etis.

Penerapan manajemen modern menjadi suatu keniscayaan bagi semua lembaga bisnis termasuk koperasi. Kata kunci keberhasilan suatu usaha adalah efisiensi dan efektivitas. Perusahaan harus mampu menganalisis aspek-aspek kekuatan, kelemahan serta peluang dan tantangan. Selanjutnya harus mampu pula memanfaatkan kekuatan menjadi keuntungan dan mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Perusahaan harus mampu memanfaatkan peluang menjadi pendapatan dan mengubah tantangan menjadi peluang-peluang bisnis.

Kekuatan yang telah dimiliki atau melekat pada koperasi antara lain karena sifatnya yang terbuka, demokratis, berbasis masyarakat (sumber daya dan ketersediaan pasokan), gotong-royong, sejalan dengan karakter dasar bangsa Indonesia, serta didukung oleh aturan perundang-undangan (UUD 1945 Pasal 33). Karena koperasi berbasis pada keanggotaan, maka peluang pasar menjadi salah satu jaminan pasti bagi ke ketersediaan pasokan untuk keberlanjutan usahanya.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi juga juga tidak ringan. Ia dihadapkan pada derasnya arus globalisasi yang diikuti oleh arus modal, barang dan jasa. Kemajuan teknologi, ketersediaan infrastruktur dan transportasi menyebabkan kuatnya penetrasi pasar dalam bentuk produk maupun perusahaan-perusahaan sebagai kompetitor yang tangguh. Keadaan ini pada gilirannya dapat mendorong dan menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan dan perilaku masyarakat. Masyarakat cenderung lebih percaya dan tertarik kepada produk-produk impor dan perusahaan-perusahaan asing.

Tekanan globalisasi dengan berbagai turunannya tersebut, sekali lagi dapat diatasi jika koperasi dan masyarakat dibangun di atas pondasi ideologis yang kuat. Kita memerlukan spirit dan komitmen kebangsaan, masyarakat yang memiliki sifat gotong-royong, solidaritas yang tinggi, sifat altruistik, dan bertanggung jawab. Tanpa pondasi seperti ini, maka kita akan mudah terseret pada godaan gelombang globalisasi yang diikuti oleh semakin maraknya prilaku utilitarian,  pola hidup individualistik, serta hilanganya kebanggaan terhadap karakter dan jati diri bangsa yang berdasarkan ideologi Pancasila.

Koperasi yang unggul dan kompetitif dapat dibangun atau dicapai dengan pola triangulasi pendekatan: pertama, pentingya penanaman karakter ideologi kebangsaan, baik terhadap aspek kelembagaan maupun terhadap aspek sosiologis (masyarakat pelaku). Kedua, pentingya optimalisasi peran institusi ekonomi negara dalam sistem dan struktur ekonomi. Ketiga, pentingya implementasi prinsip-prinsip akuntansi dan bisnis modern dalam manajemen koperasi. Akhirnya,  diperlukan upaya penciptaan komoditas yang berbasis pada kebutuhan dasar (basic needs), penciptaan nilai tambah, perwilayahan komoditas unggulan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat dan karakter geografis.   Dan juga harus memperhatikan produk yang mampu merambah pasar domestik dan kawasan.

Sebagai wujud komitmen dan kesadaran tersebut, diperlukan fungsi dan optimalisasi institusi ekonomi negara seperti BUMN/D, BULOG, dan institusi relevan lainnya sebagai bagian integral (bukan hanya membantu) dari sistem perkoperasian Indonesia. Institusi tersebut dapat mengambil peranan dalam hal permodalan, manajemen, dan distribusi. Jika koperasi yang beranggotakan seluruh rakyat Indonesia menjadi satu rangkaian dari rantai kegiatan ekonomi yang dikelola oleh BUMN/D, maka tentu hsl ini menjadi suatu bentuk optimalisasi potensi dan resources bangsa, dan akan mendorong peningkatan profitabilitas.

Beberapa persoalan yang dihadapi koperasi selama ini antara lain adalah lemahnya manajemen tata kelola, permodalan serta distribusi dan pemasaran barang dan jasa yang dihasilkan. Persolan tersebut akan teratasi dengan sendirinya jika ada perbaikan struktur ekonomi nasional, yakni dengan pelibatan semua instrumen ekonomi negara menjadi bagian dari sistem perkoperasian kita. Kemudian optimalisasi peran ekonomi masyarakat (petani dan nelayan serta industri rumah tangga) sebagai pilar utama sistem koperasi Indonesia.

Dengan demikian, akan terbentuk koperasi modern yang berbasis ideologi, berbasis pada komunitas dan kekuatan sosial kemasyarakatan yang mampu menciptakan kesejahteraan bersama atas usaha bersama (common wealth community).  Kita juga dapat membayangkan terbentuknya model desa mandiri (yakni desa yang dikelola seperti perusahaan), dimana semua warga adalah karyawan dan pemiliknya.

 

Implementasi Prinsip-prinsip Akuntansi dalam Manajemen Koperasi

Koperasi merupakan suatu lembaga bisnis yang unik.  Keunikan ini tergambar dari posisi koperasi sebagai institusi ekonomi yang dianggap paling tepat menerjemahkan konsep perekonomian Indonesia sebagaimana disebutkan dalam UUD 1945 (Pasal 33, Ayat 1). Ini juga merupakan bentuk identifikasi koperasi sebagai wujud sistem ekonomi kerakyatan yang memiliki spirit kebangsaan untuk menciptakan kesejahteraan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini juga merupakan penegasan bahwa sistem perekonomian yang ingin dikembangkan dan diyakini dapat menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia bukanlah sistem ekonomi liberal-kapitalis yang cenderung imperialis. Namun demikian, sebagai suatu lembaga bisnis yang harus bersaing dalam suatu mekanisme pasar, tetap harus menerapkan manajemen dan tata kelola yang memungkinkan untuk mampu beroperasi secara efisien dan efektif, serta mampu membaca peluang dan perubahan pasar. Tiga hal ini mutlak dimiliki suatu entitas bisnis sebagai syarat untuk tetap eksis dan sustainable.

Koperasi sebagai suatu unit bisnis perlu menerapkan prinsip-prinsip akuntansi, terutama dalam hal manajemen keuangan, akuntabilitas, dan sistem perencanaan dan pengendalian. Manajemen keuangan dan akuntabilitas dapat membantu dalam memberikan informasi keungan yang memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih akurat.   Dan yang tidak kalah pentingnya adalah akan membantu dalam meningkatkan tingkat kepercayaan anggota koperasi yang akan diikuti oleh kualitas dukungan dan loyalitas. Ingat anggota koperasi juga sekaligus sebagai pemasok dan konsumen.

Organisasi modern adalah organisasi yang berbasis pada perencanaan (planning). Perencanaan menjadi dasar (guidance) dalam menjalankan, mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi. Tanpa perencanaan, maka tidak ada pengendalian. Dan tanpa keduanya, maka tidak ada tujuan.  Dalam akuntansi, perencanaan dan pengendalian terutama diarahkan pada perencanaan laba (untuk koperasi tentunya SHU) yang meliputi aspek pendapatan (revenues), harga pokok (cost) dan beban (expenses).

Optimalisasi pendapatan (revenues) dan pengendalian biaya (cost) maupun beban (expenses) yang merupakan implementasi konsep efisiensi-efektivitas menjadi syarat mutlak dalam upaya untuk menciptakan unit bisnis yang unggul dan memiliki daya saing.  Jika hal ini dikembangkan lebih jauh, maka kita akan sampai pada konsep value chain activity, dimana suatu unit bisnis mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh aktivitas yang terkait dalam proses penciptaan produk (baca: nilai). Seluruh proses diarahkan untuk mampu menciptakan nilai tambah.  Mulai dari riset dan desain produk, hubungan dengan pemasok, proses produksi, distribusi dan pemasaran, serta layanan pelanggan (customer service).

 

Penutup

Adalah sebuah ironi jika koperasi Indonesia berada di persimpangan jalan. Betapa tidak, lembaga ekonomi yang selalu didengung-dengungkan sebagai “soko guru perekonomian nasional” dan “diproklamirkan” sebagai yang paling sesuai dengan semangat UUD 1945 Pasal 33, justru tidak berdaya menghadapi bentuk perekonomian lain. Dan bahkan mungkin memang tidak diberdayakan oleh masyarakat dan pemerintah.

Permberdayaan kembali sistem perekonomian koperasi bukanlah suatu pilihan, melainkan sebagai suatu keniscayaan. Jika selama ini ada kelemahan, maka yang perlu dipikirkan adalah pembenahan manajemen dan pola baru pengelolaannya sehingga lebih mampu bersaing dan sesuai dengan perubahan kebutuhan dan lingkungan masyarakat. Pola yang penulis tawarkan untuk dikaji lebih dalam adalah koperasi yang berbasis pada ideologi Pancasila, pola integritas atau activity chain dengan institusi ekonomi negara seperti BUMN/D, BULOG dan isntitusi relevan lainnya, penerapan prinsip-prinsip akuntansi dan bisnis modern, serta pengembangan usaha yang berbasis pada penciptaan nilai tambah (value added), disparitas produk, dan perwilayahan komoditas unggulan.

Perekonomian dengan sistem koperasi sangatlah sesuai dengan spirit ideologi Pancasila, cocok pula dengan karakter sosial-ekonomi masyarakat Indonesia yang sangat pluralis-variatif. Oleh karena itu, jika sistem tersebut dapat dijalankan dengan baik, diyakini tidak hanya membangkitkan dan menumbuhkan perekonomian masyarakat secara keseluruhan, melainkan juga akan menumbuhkan kembali solidaritas bangsa dan akan menjadi perekat kebhinnekaan budaya dan ekonomi bangsa.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 29 Juli 2011, in Ekonomi, Paradigma. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: