Mengurai Belenggu pada Koperasi

As’ad Nugroho

Peneliti pada Regulation and Bureaucracy Reform Center (RUBRIC),

Fellow pada Paramadina Graduate School of Business

as'ad

Kehidupan dan perjalanan bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan peran koperasi. Sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya pada 1896 sudah terdapat sebuah usaha simpan-pinjam yang berprinsip sebagai usaha koperasi. Usaha ini mampu menggalang partisipasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat, utamanya petani, untuk mengembangkan usahanya. Koperasi inilah yang menjadi cikal-bakal Bank Rakyat Indonesia saat ini.

Sejak saat itu hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia perkoperasian terus bergerak mendinamisasi perekonomian bangsa dengan segala pasang-surutnya. Muara dari dinamika awal perkoperasian di Indonesia tersebut adalah terjadi pada tanggal 12 Juli 1947 ketika dilaksanakan Kongres Koperasi pertama, yang kemudian dikenal sebagai Hari Koperasi di Indonesia.

Kehandalan koperasi sebagai sistem ekonomi, bersama pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) kembali teruji ketika terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998. Saat itu koperasi dan UMKM yang menjadi pelaku ekonomi non korporasi berhasil menjadi buffer ekonomi yang saat itu sedang kacau. Sifat informalitas dan kegotong-royongan koperasi dan UMKM menjadi salah satu kunci keberhasilannya meniti gelombang krisis ekonomi.

 

Potensi dan Hambatan

Berbagai keunggulan koperasi sehingga mampu menjadi salah satu sistem ekonomi alternatif di tengah derasnya perkembangan kapitalisme sebagai mainstream, diantaranya adalah sebagai berikut ini. Pertama, uniknya sifat keanggotaan dan kepemilikan pada koperasi. Keanggotaan yang dinamis dan demokratis ini tercermin dalam prinsip-prinsip koperasi sebagaimana yang dirumuskan oleh International Cooperative Organization. Prinsip-prinsip tersebut adalah: keanggotaan bersifat terbuka dan sukarela; pengelolaan secara demokratis; partisipasi anggota dalam ekonomi; kebebasan dan otonomi; serta mengembangkan pendidikan, pelatihan, dan informasi.

Kedua, pinsip pelayanan dari dan untuk anggota. Prinsip ini diterapkan sebagai perwujudan kedaulatan anggota dan untuk menunjukkan bahwa orientasi bisnis dalam koperasi adalah pelayanan dan kesejahteraan bersama, bukan semata mengejar keuntungan individu. Hal ini menjadi keunggulan koperasi dibandingkan dengan sistem bisnis biasa (kapitalisme). Stand point yang unik inilah yang sebenarnya bisa ditawarkan koperasi untuk menjadi sistem alternatif ekonomi berbasis keanggotaan/kerakyatan.

 

Namun demikian, koperasi pada saat ini juga tidak lepas dari berbagai persoalan yang pada gilirannya akan menghambat perkembangan dan signifikansi peran koperasi di Indonesia. Berbagai permasalahan perkoperasian di Indonesia saat ini diantaranya adalah, pertama, intervensi politik. Intervensi politik yang lazim ditemui adalah pemaksaan berbagai agenda politik tertentu baik dari pemerintah maupun kekuatan politik lain pada gerakan koperasi. Intervensi lainnya adalah koperasi digunakan sebagai kendaraan bagi individu atau kelompok tertentu demi meraih keuntungan politik.

Besarnya intervensi politik ini akan sangat berpotensi membuyarkan konsentrasi pencapaian visi-misi koperasi. Alih-alih akan bekerja untuk kepentingan dan kesejahteraan anggota, jika intervensi ini terlalu besar maka institusi koperasi akan lebih mengabdi untuk kepentingan politik tersebut. Hal ini dapat terjadi karena setiap kekuatan politik yang masuk biasanya akan membawa sejumlah amunisi yang besar dan bisa menyilaukan pegiat koperasi di dalamnya.

Kedua, inkonsistensi dalam penerapan prinsip koperasi. Hal ini tercermin, misalnya, dalam inkonsistensi penerapan prinsip pelayanan usaha koperasi dari anggota untuk anggota. Semestinya prinsip ini, yang menjadi salah satu unique value proposition koperasi terhadap sistem bisnis lain, dipegang dengan erat. Namun saat ini banyak dijumpai koperasi yang memberikan layanan pada non anggota. Bahkan diduga ada beberapa koperasi yang operasinya sudah cukup besar namun keanggotannya hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.

Ketiga, rendahnya militansi anggota dalam menjalankan perannya di koperasi. Hal ini terjadi diantaranya karena rendahnya pengetahuan dan komitmen dalam berkoperasi. Implikasi yang ditimbulkan bisa tidak sepele, mulai dari tidak berjalannya program sebagaimana mestinya, hingga pada penggadaian dirinya untuk kepentingan politik sesaat.

 

Agenda Revitalisasi

Dari berbagai uraian di atas terlihat bahwa koperasi sebenarnya masih memiliki posisi strategis dan memiliki uniqueness sebagai sebuah penggerak roda ekonomi alternatif. Secara agak heroik gerakan ini bisa dikaitkan dan diberi label “kerakyatan”. Namun secara agak pragmatis juga bisa digunakan sebagai alat pemenuhan kesejahteraan bersama, yang saat ini sudah langka karena mainstreamnya sistem kapitalisme. Namun problem yang dihadapi juga begitu serius, yang terkadang terlihat sebagai sebuah tembok kuat yang tidak mudah diruntuhkan.

Oleh karena itu perlu ada upaya konkrit dan komprehensif untuk merevitalisasi peran koperasi sebagai penopang perekonomian bangsa. Beberapa poin yang bisa dijadikan catatan untuk revitalisasi tersebut adalah sebagai berikut ini. Pertama, membersihkan institusi koperasi dari kepentingan politik praktis. Masuknya berbagai kepentingan politik ini biasanya didasari atas lemahnya kekuatan sumberdaya internal koperasi, sementara berbagai kekuatan politik yang masuk biasanya membawa amunisi besar yang bisa menjadi shortcut untuk menjawab persoalan minimnya sumberdaya. Untuk menjawab tantangan ini maka perlu dibangun kekuatan internal anggota, sehingga koperasi bisa mandiri dan memiliki harga diri yang kuat.

Kedua, tumbuhkan militansi dan kebanggaan anggota pada koperasi. Meskipun koperasi biasanya digunakan sebagai alat pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan anggota, tapi perlu ditumbuhkan pula kesadaran bahwa untuk memenuhi kebutuhan tersebut bisa diraih dengan tetap memegang prinsip dan menjunjung nilai berkoperasi. Jika hal ini dapat dilakukan maka praktek berkoperasi secara benar dapat dilakukan, dan mencegah terjadinya praktek gadai-menggadai suara untuk kepentingan politik sesaat.

Ketiga, melakukan pendidikan perkoperasian secara benar dan terarah. Pendidikan berkoperasi ini perlu dilakukan ke dalam anggota agar nilai-nilai berkoperasi semakin terinternalisasi dalam diri anggota, juga kepada masyarakat umum sebagai ajang rekrutmen anggota. Agar proses pendidikan ini sempurna, maka yang mesti melakukan adalah para pengurus koperasi pada skala masing-masing. Proses ini tidak bisa disandarkan pada pihak luar, termasuk pemerintah.

Keempat, pembenahan manajemen usaha. Kesan bahwa koperasi lambat dan tidak profesional yang kadang menempel pada setiap usaha dan institusi koperasi, harus dihilangkan. Pengelolaan koperasi harus bisa mengadopsi teknik-teknik berorganisasi dan menjalankan bisnis secepat dan seprofesional organisasi bisnis modern lainnya. Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan berbagai perangkat keras, perangkat lunak atau bahkan tenaga profesional yang memadai.

Berbagai catatan untuk revitalisasi koperasi seperti tercantum di atas memang ada yang mudah dilakukan tapi ada juga yang terasa akan sulit diaplikasikan. Banyak kisah sukses, baik di dalam maupun di luar negeri, koperasi yang berhasil menjadi besar bahkan menjadi kekuatan ekonomi yang dapat menyejahterakan ratusan ribu anggotanya tanpa dukungan pihak lain. Semoga koperasi di Indonesia dapat memenuhi harapan mulia para pelopor koperasi terdahulu, yaitu koperasi sebagai soko guru perekonomian bangsa.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 29 Juli 2011, in Ekonomi, wacana depan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: