Koperasi di Persimpangan Zaman

Oleh: Renato Fenady

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Univ. Katholik Parahyangan

Pada awal dibentuknya koperasi oleh Robert Owen pada masa revolusi industri dilatarbelakangi oleh adanya ketidakadilan, dimana saat itu buruh diupah sangat rendah oleh kaum pemilik modal. Melihat fenomena ketidakadilan ini, Robert Owen membuat sebuah solusi koperasi, dimana sistem yang dibangun adalah menjual barang di bawah harga pasar dan kepemilikannya dimiliki oleh anggota. Kritik dia kepada kaum pemilik modal pada saat itu adalah jika buruh diupah sangat rendah lalu siapa yang akan membeli produk mereka.

Poin penting dari perjuangan Robert Owen adalah koperasi yang ia bangun tidak melulu sekedar lembaga usaha, namun utamanya adalah spirit keadilan yang tentunya harus dikelola dengan profesional. Spirit inilah yang coba ditanamkan dalam sistem bernama koperasi. Dilihat dari kepemilikan semua anggota memiliki porsi kepemilikan yang sama berdasarkan sama besarnya modal yang anggota tanamkan di koperasi, kemudian pemilik modal mendapat dividen yang bernama sisa hasil usaha pada akhir tahun.

Jika kita beranjak ke negara lain, di Jerman koperasi didirikan oleh F. W. Raiffeisen dan Hermann Schulze-Delitzsch. Dia mendirikan koperasi untuk mengatasi permasalahan petani yang berpenghasilan rendah. Seperti koperasi versi Robert Owen, poin utama koperasi Jerman adalah spirit untuk meningkatkan kesejahteraan petani miskin melalui pertukaran yang berkeadilan. Kondisi yang dihadapi para petani dan pengusaha kecil adalah kesulitan modal karena terjadinya perubahan struktur perekonomian menjadi free trade. Kesulitan petani pada saat itu bertambah karena gagal panen yang terjadi, sehingga hasil dari pertanian menjadi sedikit.

Bagi para pengusaha kecil masalah utama yang dihadapi oleh mereka adalah kesulitan akses ke lembaga keuangan formal (bank) karena pada saat itu perubahan sistem perekonomian membawa konsekuensi perubahan sistem pada sektor keuangan. Akibat kesulitan mendapat pinjaman dari bank, para pengusaha kecil beralih ke private lender yang mengenakan bunga tinggi. Berdasarkan masalah-masalah tersebut, koperasi di Jerman mencoba menjadi lembaga simpan pinjam yang modalnya dihimpun dari anggota dan yang dapat meminjam hanya anggota koperasi. Sistem ini terbukti sangat membantu petani dan pengusaha di Jerman sehingga koperasi saat itu berkembang dengan pesat.

Swedia merupakan negara lain di Eropa yang sampai saat ini berhasil mengelola koperasi sehingga koperasi dapat menjadi salah satu pilar perekonomian di Swedia. Dimulai pada abad ke-19, koperasi bermetamorfosis sampai pada 1911 berhasil memenangkan persaingan dengan perusahaan swasta. Pada awalnya koperasi dibentuk untuk memerangi sistem monopoli yang saat itu merupakan struktur pasar di Swedia. Akibat monopoli tersebut pembagian benefit yang didapatkan dari perdagangan menjadi tidak berimbang, dimana konsumen yang notabene kaum yang tidak kaya harus mengonsumsi barang dengan harga yang tinggi.

Koperasi yang juga merupakan spirit perjuangan ini menyediakan barang dengan kualitas baik dan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar. Modal yang dikumpulkan juga berasal dari para anggotanya, sama seperti koperasi di negara lain. Pejuang koperasi yang terkenal di Swedia adalah Anders Orne yang dengan gigih berjuang dan membuktikan bahwa koperasi bukan merupakan organisasi yang mengandalkan dari pemerintah.

Sekarang kita kaji koperasi di Indonesia. Koperasi di Indonesia dimulai oleh R. Aria Wiriatmadja pada akhir abad ke-19. Pada saat itu dia membangun koperasi untuk membantu rakyat miskin yang terjerat hutang dengan bunga yang tinggi. Namun menurut beberapa versi, titik awal berdirinya koperasi bersamaan dengan organisasi Boedi Oetomo (BO) pada tahun 1908. Melalui keputusan kongres BO ditetapkanlah salah satu tujuannya yaitu memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan melalui koperasi. Koperasi pertama yang dibentuk adalah koperasi konsumsi yang diberi nama Toko Adil. Sejak saat itu nilai-nilai koperasi dari luar negeri mulai masuk ke Indonesia. Pemerintah Belanda melihat gejala koperasi Indonesia dijadikan alat perjuangan maka Belanda menerapkan beberapa UU pada saat itu yang tujuannya mempersulit atau bahkan mematikan koperasi di Indonesia. Seiring dengan masa penjajahan maka koperasi pun mengalami pasang surut di Indonesia.

Kondisi koperasi di Indonesia terus berkembang, sampai saat ini koperasi masih tumbuh walaupun mungkin koperasi saat ini kurang begitu diminati. Hal ini bisa jadi disebabkan karena jika kita mendengar kata koperasi maka asosiasi yang terbentuk adalah sebuah lembaga usaha kecil, baik ruang lingkup usaha, pangsa pasarnya dan bahkan anggotanya. Asosiasi kecil ini identik dengan orang miskin. Padahal seperti yang sudah saya jabarkan sebelumnya bahwa koperasi tidak melulu organisasi kecil, bahkan seperti contoh di Swedia, koperasi di sana telah menguasai 20% pangsa pasar perekonomian.

Selain asosiasi tadi, ada sebuah ironi besar koperasi di Indonesia. Koperasi di Indonesia dikonotasikan pertama kali sebagai sebuah badan usaha, bukan pada spirit keadilan. Spirit ini yang sering luntur dan bahkan hilang di koperasi Indonesia, koperasi di Indonesia seakan-akan dikempesi oleh kepentingan elit, melalui bantuan sosial yang menurut saya sangat mengkerdilkan koperasi. Koperasi seharusnya organisasi yang memacu enterpreneur anggotanya, namun dengan bantuan sosial ini justru membuat koperasi menjadi manja.

Hal ini sangat bertentangan dengan spirit koperasi seperti di Swedia versi Anders Orne yang gigih menunjukkan bahwa koperasi tidak mengandalkan bantuan. Selain itu jika kita mempelajari koperasi di luar negeri, kita mendapati bahwa koperasi jika dikelola secara profesional dapat menjadi pilar penting perekonomian negara. Tentunya dengan syarat utama bahwa koperasi harus bebas dari kepentingan selain keadilan dan kesejahteraan.

Koperasi Indonesia yang saat ini menghadapi ancaman pengkerdilan harus jeli. Anggota dan pengurus koperasi harus menyadari hal ini, bukan justru terlena dengan “kenikmatan” sesaat yang dirasakan melalui bantuan-bantuan sosial. Melalui koperasi justru seharusnya spirit keadilan bagi semua orang dikembangkan. Spirit ini harus tumbuh secara mandiri dan independen.

 Dengan kata lain, koperasi harus menjadi sebuah organisasi yang membangun mental kemandirian, dimana kesejahteraan harus diusahakan sendiri, bukan menunggu atau mengandalkan bantuan orang lain. Jika koperasi di Indonesia tidak menyadari hal ini makan bukan tidak mungkin koperasi akan berubah menjadi lembaga penerima bantuan yang tidak mendidik bagi anggota-anggotanya dan akan menghilangkan spirit koperasi, yaitu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan bagi anggotanya.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 8 Agustus 2011, in Ekonomi, Kata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: