Kuatkah Peluang Ekonomi Kita di ASEAN?

Selama lebih dari setahun penerapan ACFTA, perkembangan yang terlihat sekarang justru memperkuat kekhawatiran kita selama ini bahwa kita “keteteran” dan tidak siap menghadapi persaingan ketat dalam perdagangan bebas. Tak pelak lagi, situasi ini menimbulkan pertanyaan seputar peluang dan daya saing ekonomi kita di tingkat ASEAN. Topik inilah yang menjadi bahasan dalam acara dialog Mata Mahasiswa yang ditayangkan di TVRI pada tanggal 27 Juni 2011 lalu yang mengambil tema: “Kuatkah Peluang Ekonomi Kita di ASEAN?”

Acara dialog kali ini menghadirkan narasumber mahasiswa: Chintya Permatasari (FE Universitas Jayabaya), Okto Reza (FE Universitas Pancasila), dan Renato Fenady (FE Universitas Parahayangan). Sementara, narasumber pendamping yang hadir adalah: Ferrari Roemawi (Komisi VI DPR RI), Edi Putra Irawadi (Deputi Bid. Industri dan Perdagangan Menko Perekonomian), Tobang Hari (Ketua JCI)

Menjawab pertanyaan seberapa kuat peluang ekonomi Indonesia di ASEAN, Edi Putra Irawadi dari Kemenko Perekonomian menjelaskan bahwa Indonesia punya modal untuk memimpin ekonomi ASEAN, karena kita punya keunggulan dalam SDM dan sumberdaya alam yang beragam. Hanya ada beberapa hal yang perlu dibenahi, bukan hanya dari segi pemasaran, dari produksi dan pariwaisata juga. “Kalau kita lihat dari wisata tiap tahun, kunjungan di negara-negara ASEAN menghasilkan 30,1 trilyun. Kalau kita bisa ambil setengahnya saja, berarti kita bisa mengambil 15 trilyun tiap tahunnya. Rival kita terdekat adalah Malaysia, Thailand dan Vietnam,” katanya.

Sedangkan, Anggota DPR RI, Ferrari Roemawi mengatakan bahwa dengan keunggulan SDM dan SDA yang besar seharusnya kita yang memimpin ekonomi di kawasan ASEAN. “Sebagai negara terbesar di ASEAN, kita tidak serta merta memimpin ASEAN. Dari data yang ada, kita dengan Thailand itu selalu defisit, dengan Vietnam kita surplus tapi dari tahun ke tahun surplusnya berkurang, dengan Filipina dan Kamboja kita surplus. Yang perlu diwaspadai bukan hanya Thailand tapi juga Vietnam,” tambahnya.

Tobang Hari mengungkapkan fakta lain selain yang sudah diungkapkan pembicara sebelumnya. Dia mengatakan bahwa rata-rata penduduk kita adalah berusia 29 tahun, China itu di atas 50-an tahun. “Jadi, kita ini berada di usia produktif. Selain itu kita juga pengguna facebook terbesar setelah Amerika Serikat, dan pengguna Twitter terbesar ketiga di dunia. Jika dilihat angka pertumbuhannya, kita paling besar. Kalau melihat fakta ini saya optimis kita bisa menjadi bangsa yang besar, bisa memimpin ekonomi ASEAN,” ungkapnya.

Chintya dari Univesitas Jayabaya mengomentari bahwa memang Indonesia sudah punya rencana menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Tapi faktanya, kita kalah dalam ACFTA. Kendalanya ada di infrastruktur. Coba saja lihat jeruk China bisa lebih murah dibanding jeruk Pontianak karena transportasinya yang mahal. “Kita harus berbenah. Dalam birokrasi, misalnya, birokrasi kita berbelit, memakan waktu, biaya dan tenaga. Masyarakat kita adalah masyarakat yang konsumtif sehingga lebih memikirkan harga daripada kualitas,” katanya.

Sementara, Okto Reza dari Universitas Pancasila merasa bahwa Indonesia harus lebih menggali potensi dalam negeri. “Kita harus lebih banyak ekspor daripada impor. Jangan sampai ada pepaya Bangkok, duruan Monthong, jeruk Mandarin yang banyak di Indonesia. Kita juga bisa mengembangkan ekspor buah ke luar negeri,” ungkapnya.

Renato dari Universitas Parahyangan Bandung berpendapat bahwa ketika berbicara perdagangan tentu harus bicara benefit. Ketika kita berdagang dengan satu pihak tentunya ada keuntungan dari pihak itu. “Tapi Indonesia tidak semenguntungkan itu. Kita sering dianggap sebagai pasar, bukan produsen, seperti China. Yang kedua adalah ketika kita ditantang sebagai ketua ASEAN, kita lihat tahu Sumedang kedelainya masih harus impor. Bagaimana kita bisa menjadi leader kalau kita tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Perlu ada kebijakan menyeluruh dari pemerintah?” gugatnya.

Menanggapi komentar dari mahasiswa, Ferrari mengungkapkan bahwa hal pertama yang perlu kita benahi untuk meningkatkan daya saing adalah infrastruktur. Yang kedua adalah bagaimana kita menjual produk dengan nilai tambah. Artinya, barang tambang atau pun pertanian diolah dulu. Yang ketiga, dalam meningkatkan infrastruktur itu koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah harus baik.

Sedangkan Tobang Hari meminta agar jangan melihat Indonesia saat ini, tapi bagaimana Indonesia  lima, sepuluh, atau lima belas tahun lagi. Apakah akan tetap seperti atau tidak. Ini tergantung kesungguhan kita. Pemerintah punya koridor, pengusaha punya koridor, generasi muda juga punya koridor. Permasalahan kita adalah ekonomi biaya tinggi sehingga harga tidak bisa bersaing dengan barang luar.

Ditanya tentang keyakinan pemerintah dalam menghadapi persaingan di ASEAN, Edi menyatakan keyakinannya. Edi melihat bahwa modal bangsa Indonesia sekarang ada pada generasi muda.  Dia melihat mahasiswa sekarang berbeda. Keterlibatan mereka dalam berbagai masalah, terutama ekonomi, cukup tinggi.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 8 Agustus 2011, in Ekonomi, Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: