“Koperasi Kita Semakin Buram”

Sejarah koperasi Indonesia sudah ditorehkan sejak lama. Tidak itu saja, roh koperasi juga selaras dengan spirit dan nilai-nilai budaya bangsa kita yang menjunjung tinggi semangat kesatuan dan kegotong-royongan. Namun, dalam perkembangannya saat ini, koperasi justru tidak cukup berkembang sebagaimana sebutan yang disematkan padanya, sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Oleh karena itu bertepatan Hari Koperasi tahun ini, Tim Redaksi INSPIRASI mewawancarai Prof. Dr. H. Rully Indrawan, M.Si. yang kini menjabat Rektor IKOPIN, Bandung, untuk menggali apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan koperasi di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana Bapak melihat wajah koperasi kita yang usianya cukup panjang ini?

Jujur saja, semakin buram dan tidak jelas.

 

Seperti apa Pak? 

Masyarakat semakin kurang yakin dengan keberadaan koperasi dan design pengembangan ke depan masih belum menemukan format yang dapat meyakinakan semua pihak terhadap peran koperasi. Tarik-menarik tentang pemahaman dasar koperasi sering menyebabkan kekisruhan pelaku koperasi di lapangan, apakah yang mereka lakukakan masih dalam koridor koperasi atau bukan.

 

Bagaimana pertumbuhannya?

Secara kuantitatif, konon kabarnya mengalami pertumbuhan positif. Secara kualitatif selain koperasi fungsional, umumnya mengalami kemandegan luar biasa.

 

Sektor apa yang masih kuat digeluti koperasi di Indonesia?

Umumnya simpan pinjam, dan sedikit saja pada sektor lain, misalnya perdagangan.

 

Apa yang kurang, yang telah membuat wajah koperasi kita saat ini sebegitu memprihatinkan? 

Banyak faktor, secara internal koperasi kita membutuhkan format baru dalam perangkat instrumentasi strategi. Tidak bisa menggunakan lagi menggunakan mindset lama, sebab lingkungan strategis kita sudah berubah. Kecuali pada beberapa daerah yang memiliki karakteristik tertentu, misalnya di Indonesia Timur khususnya kepulauan, dimana atmosfir persaingan belum begitu kuat, format lama masih bisa digunakan.

 

Kemudian, apa Pak?

Kemudian dari sisi eksternal, keberpihakan pemerintah seyogyanya tidak dipahami dalam kerangka “belas kasihan” atau kebijakan “asesoris” tapi yang mampu menyentuh kebutuhan nyata koperasi. Faktanya koperasi saat ini masih cukup sulit mengakses permodalan akibat masalah struktural. Semestinya, Pemerintah bisa melakukan peran mediasi secara elegan, misal dengan mengaktifkan lembaga penjaminan simpanan maupun pinjaman.

 

Kira-kira format baru koperasi kita seperti apa Pak?

Format baru koperasi, secara ideologis harus dipertahankan sebagai gerakan ekonomi yang bertugas mendukung usaha anggota. Dalam perspektif instrumen, koperasi harus memiliki fleksibilitas dalam menyikapi perubahan yang ada di lingkungan strategisnya. Saat ini fleksibilitas manajemen kerap berhadapan dengan tekanan rapat anggota yang kadang-kadang tidak memahami masalah praktis yang dihadapi dalam bisnis koperasi.

 

Di era yang serba kompetitif seperti sekarang, masihkah koperasi memiliki prospek dan sanggup bersaing?

Faktanya koperasi tumbuh di negara-negara kapitalis. Koperasi besar 22% ada di Amerika, koperasi terbaik dunia ada di Jepang. Koperasi retail Perancis bisa bersaing dengan Carrefour di sana. Singapura, Belanda, Italia, Kanada dan negara-negara lain koperasinya tumbuh dengan baik dan bisa bersaing. Kalau di kita beum seperti itu, koperasinya yang salah, atau penyikapan kita kepada koperasi selama ini yang salah..

 

Dimana salahnya?

Ketidakberjalanan public relation koperasi. Padahal itu penting dalam format masyarakat seperti saat ini. ICA telah mengeluarkan 300 koperasi terbaik dunia, atau 300 koperasi terbaik di negara berkembang. Sudah disajikan dengan tepatkah success story  ini ke tengah masyarakat?

 

Bilamana koperasi kita masih sanggup dan prospektif, pemerintah harus ambil tindakan seperti apa?

Tadi sudah saya jelaskan, peran pemerintah harus seperti apa. Namun tidak akan banyak membantu bila semua diserahkan kepada pemerintah. Sejauh ini pemerintah juga sudah mulai banyak kewalahan memikirkan hal lain. Peran pemerintah dalam pembangunan koperasi setidak-tidaknya ada tiga, pertama sebagai regulator yang bijak, kedua sebagai penyedia infrastruktur usaha yang mendukung tumbuhnya sektor ril yang memadai, dan ketiga, sebagai fasilitasi dan mediasi pembiayaan.

 

Boleh dibilang sejarah koperasi kita sudah dikenal sejak tahun 1896, seharusnya sudah bisa membantu masyarakat. Namun mengapa saat ini koperasi kita nyaris tak terdengar?

Jujur saja sebenarnya koperasi sudah berperan. Bagaimana saat krisis ekonomi koperasi dijadikan penyangga ekonomi, kita yang signifikan. Kalau kurang terdengar, mestinya media massa ikut membantu. Briptu Norman atau Sita dan Jojo dibesarkan media massa. Masak untuk koperasi beritanya hanya seragam, misalnya penyimpangan pengurus, kebangkrutan, atau gedung koperasi yang mau roboh. Apakah sama sekali tidak ada yang bisa diangkat sedikit saja untuk ikon koperasi?

 

Bagaimana peran pemerintah kita dari dekade ke dekade tentang Koperasi?

Setelah Orde Baru tumbang, terasa sekali ada degradasi kehormatan koperasi. Ini seiring juga dengan program-program Orde Baru lainnya seperti KB, Transmigrasi, PKK, Pertanian dan lain sebagainya. Tapi sekarang alhamdulillah mulai dilirik kembali setelah melihat faktanya, program-program itu baik. Tapi recovery kepercayaan masyarakat terhadap koperasi membutuhkan waktu yang lama tampaknya.

 

Bisakah disamakan peran Koperasi dengan UMKM (Usaha Mikro dan Kecil Menengah)?

Itu kekeliruan yang lain, koperasi adalah lembaga ekonomi. UMKM  adalah skala ekonomi. Penyatuan seperti itu membuat koperasi dipersepsikan sebagai kecil yang tidak prospektif.

 

Apa yang sudah dilakukan  Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendongkrak image atau citra koperasi di indonesia?

Sudah ada upaya, namun belum cukup. Karena membangun citra koperasi membutuhkan perubahan mindset secara mendasar. Kelompok muda belum sepenuhnya disentuh, potensi Kopsis atau Kopma sebagai bagian dari upaya kaderisasi belum berjalan dengan baik.

 

Apa kendalanya?

Tidak tahu persis, mungkin dana, mungkin juga karena problematika otonomi daerah.

 

Perlukah kita menghidupkan koperasi sebagai gerakan ekonomi  alternatif dalam rangka memberdayakan ekonomi kerakyatan kita?

Jelas, pada era persaingan dengan pasar bebas seperti ini, tidak mungkin usaha rakyat bertanding secara perorangan. Sulit bersaing. Koperasilah sebenarnya bisa digunakan dalam mensiasatinya.

 

Seperti apa caranya Pak?

Membangun sistem clustering

 

Bisa dijelaskan apa itu sistem clustering Pak?

Koperasi ke depan seyogyanya diarahkan pada mono purpose agar fokus.

 

Siapa yang menjadi motor atau inisiator koperasi sebagai gerakan ekonomi alternatif itu?

Asosiasi, Dekopin, dan dukungan pemerintah.

 

Bagaimana pandangan Bapak terhadap  generasi muda/penerus konsen dengan dinamika koperasi di Indonesia?

Cukup pesimis, di sekolah mereka sudah tidak lagi belajar perkoperasian secara khusus, termasuk di SMK. Di perguruan tinggi lebih parah lagi karena keterbatasan liearatur dan penelitian perkoperasian membuat pembelajaran koperasi, bila pun ada, masih memegang cara berfikir lama yang terbukti tidak efektif.

 

Bagaimana cara mengenalkan dan mengembangkan koperasi di kalangan generasi muda?

Koperasi harus memiliki citra baru, bagaimana batik yang lama bisa menjadi trendi di kalangan anak muda. Ini membutuhkan strategi baru dalam memasyarakatkan koperasi di kalangan anak muda.

 

Bagaimana penilaian Bapak melihat geliat koperasi di setiap daerah?

Setiap daerah apalagi dalam kerangka otonomi daerah, memiliki  karakteristik dan potensi yang berbeda. Setiap daerah harus memiliki keunggulan yang teridentifikasi.

Harapan di Harkopnas adalah Koperasi diharapkan harus kembali merebut posisi strategis. Bagaimana pendapat Bapak?

Harapannya tentu begitu, setiap tahun kita diingatkan tentang koperasi dan mudah-mudahan ke depan lebih baik apalagi tahun depan adalah Tahun Koperasi Internasional.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 13 Agustus 2011, in Ekonomi, Wawancara and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: