“Kalau Orientasinya Ekspor Harus Terapkan Manajemen Industri”

Konflik di Timur Tengah tidak berpengaruh pada ekspor produk pertanian Indonesia selama pemerintah tetap mengontrol atau tidak menaikkan harga bahan bakar minyak dalam negeri. Sementara itu, konflik di Pantai Ganding sangat diharapkan dapat mempengaruhi ekspor produk pertanian Indonesia, khususnya cokelat. Penggalan berita di atas menandakan peluang ekspor produk pertanian Indonesia cukup menjanjikan. Dari sumber BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2010, data ekspor beberapa komoditi besar dan rangking di dunia, produk pertanian khususnya perkebunan Indonesia memegang peranan di pasar international, seperti kelapa sawit ekportir nomor wahid di dunia, karet menempati posisi nomor dua, kemudian kopi dan kakao berada di rangking ketiga di dunia.

Untuk lebih jauh bagaimana peran pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam menyikapi peluang dan persiapan komoditi lainnya masuk pasar international, belum lama ini Redaksi Tabloid INSPIRASI mewawancarai Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Ir. Zaenal Bachruddin, M.Sc., Ph.D.,  di ruang kerjanya. Berikut petikan wawancaranya:

 

Bagaimana pendapat Bapak tentang peluang ekspor produk pertanian kita?

Sebelum kita berbicara ekspor, kita harus merubah paradigma petani yang memang mata pencahariannya adalah pertanian. Visi Kementan bukan tanpa makna: “Kami ingin menciptakan Industri Pertanian”. Industri yang berkesinambungan, nilai tambah, daya saing, beroreintasi pasar, dan juga memperhatikan kesejahteraan petani. Untuk merubah paradigma petani menjadi berorientasi pasar itu tidak mudah, tentu perlu ada sebuah lembaga. Bila melihat pasar itu ada tiga yang harus ditembus, yang pertama, pasar yang memang kebutuhan dasar nasional, yang kedua, subtitusi barang impor, dan yang ketiga adalah ekspor.

 

Tapi mengapa kesannya produk pertanian kita sulit ekspor?

 

Produk pertanian Indonesia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ekspor. Bahkan untuk komoditi perkebunan seperti kopi, kelapa sawit/CPO, karet alam, biji kakao dan kelapa Indonesia merupakan the big five di dunia. Namun untuk ekspor buah, sayuran dan jagung memang jumlahnya kurang signifikan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain:  terbatasnya supply produk yang berkualitas dikarenakan proses budidaya yang masih belum terdisain untuk ekspor sehingga sangat terbatas untuk mendapatkan komoditi yang memenuhi standar ekspor, terutama karena lahan pertanian di Jawa (sebagai sentra komoditi buah dan sayuran) semakin sempit, termarginalisasi oleh kebutuhan lahan untuk industri.

 

Kendala lainnya apa, Pak?

 

Komoditi yang dihasilkan umumnya tidak seragam. Skala usaha umumnya kecil. Akibatnya kontinuitas supply terbatas dan harga jual kurang bersaing. Penggunaan cool chain management system di tingkat petani sangat terbatas akibatnya kualitas produk tidak terjamin, infrastruktur jalan dan pelabuhan di sentra produksi kurang memadai. Selain itu,  masih adanya regulasi yang belum kondusif berpihak untuk pengembangan hotikultura yang berdaya saing, dukungan perbankan dalam hal pengembangan/investasi hortikultura masih sangat terbatas, dan kemudian perlu juga dicatat bahwa konsumsi dalam negeri yang tinggi terhadap komoditi tersebut sangat tinggi mengingat jumlah penduduk yang besar. Khususnya untuk produk pangan seperti beras, gula, kedelai dan daging.

 

Untuk menuju paradigma kebijakan pertanian yang berorientasi ekspor, bagaimana bentuknya?

 

Beberapa kebijakan nasional yang mendukung ekspor seperti, kebijakan nasional terkait enam koridor ekonomi, program Merauke Integrated Food Estate (MIFE) di Merauke Papua, kerjasama pembangunan Multi Industry Complex (MIC) Project untuk pengembangan kawasan komoditi pertanian dari hulu hingga hilir termasuk infrastrukturnya untuk tujuan ekspor ke Korea Selatan. Saat ini masih dalam pembahasan dengan pemerintah Korea Selatan, kerjasama Agribusiness Working Group IndonesiaSingapore untuk mencapai kembali pangsa pasar buah dan sayuran Indonesia di Singapura yang sempat mencapai 30% pada tahun 80-an. Program ini melibatkan Kementerian Pertanian, AVA Singapura, swasta (Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia), petani dan stakeholder lainnya, dan pembukaan akses pasar produk pertanian Indonesia melalui kerjasama perdagangan internasional AFTA, ASEAN-China FTA, ASEAN Korea FTA, IJ-EPA, ASEAN—Australia New Zealand, dan lain-lain.

 

Bagaimana kebijakan Kementerian Pertanian bidang holtikultura agar produknya bisa diekspor dengan baik?

 

Di internal,  kami sedang mengembangkan usaha perbenihan hortikultura yang berorientasi ekspor di dalam negeri, percepatan sertifikasi GAP (Good Agriculture Practices) terhadap kelompok tani hortikultura yang berorientasi ekspor, dan pembentukan kawasan hortikultura yang berorientasi ekspor di sentra-sentra hortikultura. Untuk eksternalnya, kami berupaya adanya perbaikan infrastruktur, seperti jalan usaha tani dan jalan umum di  sentra-sentra hortikultura.

 

Untuk pelayanan pengiriman di pelabuhan atau bandara bagaimana?

 

Kami sedang mengupayakan pembangunan “perishable warehouse” di Bandara Soekarno Hatta sebagai tempat penampungan sementara kargo sayuran dan buah untuk ekspor, pembangunan atau perbaikan sarana pelabuhan untuk bongkar muat sehingga proses bongkar muat lebih efektif dan efisien. Perlunya regulasi yang memprioritaskan kargo hortikultura di pelabuhan laut dan udara untuk ekspor, perlunya regulasi pemberian harga khusus/diskon oleh perusahaan penerbangan nasional terhadap kargo udara komoditi hortikultura untuk ekspor, dan adanya insentif khusus bagi pelaku usaha hortikultura yang berorientasi ekspor.

 

Strategi apa untuk memperkuat peluang ekspor produk pertanian kita?

 

Langkah-langkah yang telah, sedang, dan perlu diambil pemerintah adalah seperti kebijakan dan program di atas.

 

Bagaimana dengan peran teknologi dalam peningkatan daya saing produk pertanian? 

 

Jelas teknologi dalam meningkatkan daya saing produk pertanian sangat penting. Teknologi yang diterapkan adalah yang efisien dan applicable di tingkat petani/GAPOKTAN. Diakui bahwa salah satu yang membuat Indonesia sulit mengembangkan ekspor untuk produk-produk tertentu seperti buah dan sayuran adalah antara lain kurangnya teknologi yang mendukung, antara lain: teknologi benih untuk produk yang sesuai permintaan pasar tapi sesuai dengan karakteristik dan persyaratan tumbuh yang baik di Indonesia. Teknologi budidaya dan farm management yang belum optimal, teknologi pasca panen, penyimpanan, transportasi dan cool storage produk pertanian yang belum optimal, dan teknologi grading, packing sorting dan packaging yang belum optimal.

 

Saat ini posisi kita berada dimana untuk pasar produk pertanian?

 

Untuk pasar pertama kita lebih cenderung untuk persediaan domestik, kita mengamankan kebutuhan pangan nasional, seperti: padi, jagung, kedelai. Substitusi impor itu ada daging, susu, itu ada programnya sekian tahun harus swasembada. Kita mengurangi ketergantungan impor. Untuk ekspor beberapa komoditas kita sudah ada yang menjadi lead terutama untuk perkebenunan. Secara volume kita beberapa komoditi memimpin, tapi secara nilai uangnya kita ke sekian. Seperti karet, secara volume kita nomer dua, tapi secara nilai kita nomor enam,  itu karena masalah di hilir. Pertanian dikoreksi positif karena prestasi perkebunan, penyumbang devisa juga. Secara nilai juga positif. Kemudian yang tak kalah penting lagi adalah emerging komoditi yaitu tropical fruit, bunga, dan minyak atsiri. Tapi yang paling berpeluang adalah buah-buahan.

 

Kenapa produk buah-buahan yang berpotensi seperti jeruk Bali itu tidak diberdayakan lagi?

 

Saya serius sekali, dulu pernah diberdayakan. Namun, persiapan kita yang kurang. Ada dua hal yang harus diperhatikan yang pertama internal kita itu pertanian jelas. Yang kedua adalah kewenangan di luar Kementan. Kalau kita bicara perdagangan itu melibatkan berbagai kementerian. Kalau bicara masalah hortikultura itu akan terkait dengan kepemilikan lahan yang terkait dengan efisiensi. Saya berharap Gapoktan mengatur lahan yang dan mengelola komoditi yang berpotensi pasar, dan kerjasama dengan asosiasi ekspor.

 

Apakah sudah ada  ekspor buah-buahan kita, dan kemana saja?

 

Sudah ada, yang sudah masuk ke China ada buah salak. Mangga, potensi juga, bahkan kemarin ke Timur Tengah, Amerika Serikat diekspor mangga juga. Pisang ekspor ke Jepang. Sekali lagi, dalam budidaya kalau orientasinya ekspor itu harus dilakukan dengan manajemen industri.

 

Bagaimana nasib apel Malang, apakah bisa diekspor juga?

 

Itu orientasi kesekian. Apel itu kan bukan buah tropis. Di Eropa apel lebih hebat. Tapi saya setuju untuk dikembangkan dari keunikan taste-nya. Kita harus ingat kalau pertanian ini harus dikelola dari hulu sampai hilir.

 

Kenapa kita tidak bisa membuat image seperti Bangkok. Kendalanya dimana?

 

Ke depan kita berfokus pada peningkatan nilai tambah. Yang berpengaruh dalam daya saing ini adalah infrastruktur, transportasi misalnya. Kebijakan yang kondusif dari kita harus mendukung terhadap peningkatan daya saing. Soal image itu kan strategi pemasaran yang ditunjang dengan daya saing produknya.

 

Apakah  sudah ada studi banding dengan negara lain soal ekspor produk pertanian?

 

Itu sudah kita lakukan, tahun lalu kita punya tim untuk market intelligence, kita kerjasama dengan IPB untuk mengkaji hal itu. Yang kedua kita menempatkan komisi untuk mengkaji keadaan di luar. Dan komisi market intelligence ini sedang dikaji oleh Pak Menteri. Tadinya diajak kerjasama oleh Malaysia, tapi kita ingin melakukan sendiri dulu, agar kita punya pengalaman.

 

Hal apa saja yang telah kita pelajari dari keberhasilan negara lain?

 

Untuk meningkatkan kualitas, standar, kuantitas dan kontinuitas produk pertanian berorientasi ekspor, Kementerian Pertanian terus belajar terutama dari pengalaman negara-negara yang sukses melakukan itu, baik melalui program training, magang maupun market intelligence. Selain di bidang teknologi on farm, Indonesia perlu belajar dari aspek koordinasi di semua lini.

 

Dengan negara mana saja kita bisa belajar?

 

Belajar dari sesama Negara ASEAN seperti Thailand, misalnya, untuk meningkatkan ekspor. Di negara itu tidak hanya instansi pertanian yang bekerja keras, tetapi juga dukungan perbankan, transportasi udara dan laut, asuransi serta unsur pendukung lainnya. Dari Malaysia, kita dapat belajar bagaimana di setiap komoditian dalam ekspornya dibangun suatu “board” yang secara professional mendukung penuh upaya-upaya peningkatan ekspor.  Nah, kita sudah mulai merintis hal tersebut dengan didirikannya beberapa dewan komoditi, walaupun saat ini masih terbatas untuk komoditas perkebunan.

 

Jadi, bagaimana peluang ekspor produk pertanian kita ke depan?

 

Kalau pasar internasional itu peluangnya sangat besar, cuma dari internal kita yang harus diperbaiki. Kita belum bisa menghasilkan produk yang seragam, continue, dan baik yang diminta oleh pasar.

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 September 2011, in Ekonomi, Pertanian, Wawancara. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: