“Ke Depan Koperasi Harus Menjadi Kekuatan Daya Saing”

Bulan Juli ini merupakan bulan koperasi karena tanggal 12 Juli 2011 lalu adalah hari lahirnya Koperasi Indonesia ke-64. Berkaitan dengan itu, Menteri Koperasi dan UKM, Dr. Syarif Hasan hadir dalam acara Bincang Malam Mata Mahasiswa yang ditayangkan TVRI pada 11 Juli 2011.

 

Ia mengatakan, Koperasi dan UKM yang ada di kementeriannya merupakan soko guru perkenomian Indonesia. Hampir boleh dibilang Koperasi dan UKM ini berada di sektor grass root ekonomi.  Bisnis-bisnis yang dijalankan oleh rakyat Indoensia itu kebanyakan dari unsur koperasi dan UKM. Kalau dilihat, koperasi di Indonesia selama 2 tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Sekarang ini sudah mencapai 186.964 unit,  kalau dibandingkan tahun 2009 itu ada 154.900 unit, itu ada peningkatan kurang lebih 31,9%.

 

“Artinya terjadi pergerakan ekonomi di sektor koperasi. Dari pergerakan ekonomi tersebut kurang lebih menghasilkan sekitar Rp 95 triliyun volume usaha. Belum lagi di sektor UKM. Koperasi ini  berbasis anggota, sekitar 30,5 juta anggota terdaftar di koperasi. Semua lini usaha ada di koperasi dari pertanian, perikanan, perkebunan, simpan pinjam juga ada,” ungkapnya lagi.

 

Dalam acara yang ditayangkan tiap Senin malam pukul 22.00 WIB, juga hadiri sebagai nara sumber lain adalah Atep Sugandi (Komisi VI DPR RI), Prof. Dr. Ruli Indrawan (Rektor Institut Koperasi Indonesia-IKOPIN), dari kalangan mahasiswa hadir Gilar Rosandini (Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang), Risnanda (Fakultas Ekonomi Universitas Prof. Mustopo, Jakarta), dan Matingan Sirait (Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia, Jakarta).

 

Menyikapi hal itu, Atep Sugandi memaparkan koperasi itu berdasarkan UUD 45 pasal 33 bahwa ekonomi itu dibangun bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Ekonomi itu dibangun atas tiga pilar, yakni: badan usaha milik negara, badan usaha milik swasta, dan badan usaha milik koperasi. Badan usaha milik koperasi ada menterinya. BUMN ada menterinya. Badan usaha milik swasta gak ada menterinya, tapi mereka bisa lebih massif. UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian oleh DPR telah dibahas dengan pemerintah untuk diperbaharui, karena koperasi itu dinamis. Bayangkan negara Amerika yang liberal koperasinya lebih maju dari kita. Dari data kemiskinan itu menurun dan ini karena peran koperasi.

 

Sementara, Ruli Indrawan mengatakan saat krisis tahun 1997, banyak pengamat asing yang bilang akan banyak bayi mati, banyak pengangguran, akan terjadi krisis yang sangat hebat. Faktanya tidak, karena koperasi sangat berperan penting saat itu. Ke depan, koperasi harus dipandang dalam perspektif yang baru juga. Ke depan yang perlu disikapi secara kolektif oleh bangsa ini adalah pasar bebas. Bahwa tidak mungkin untuk bersaing head to head, tidak mungkin usaha kecil bersaing dengan barang impor. Koperasi menjadi pembangun kekuatan daya saing. Koperasi juga mempunyai peran dalam upaya memberdayakan. Karena bagaimana pun juga dalam membangun masyarakat madani ini membutuhkan sebuah kekuatan real dari masyarakat. Tidak mungkin semuanya diatur oleh negara.

 

Pendapat para mahasiswa, Risnanda balik bertanya kepada Menteri Koperasi dan UKM, kenapa koperasi cenderung berada di menengah ke bawah? Apa program kementerian Koperasi dan UKM untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam ekonomi kerakyatan melalui koperasi?

 

Sedangkan Matingan Sirait menjelaskan,  dalam UUD 45 Pasal 33 pada intinya ingin menjadikan rakyat itu adil dan makmur. Tapi pada kenyataannya itu tidak. Koperasi ini belum optimal karena, pertama, kurangnya SDM,  kedua, dalam permodalan masih sulit, ketiga, kejujuran dalam koperasi masih kurang. Dan tambahnya lagi, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah. Yang pertama, mendorong usaha mikro untuk berkoperasi. Kedua, mengembangkan koperasi untuk menjadi wadah usaha berbasis SDA, seperti pertanian, perikanan, dan yang lainnya.  Ketiga, menjamin pasar dan harga produk-produk  koperasi melaui kemitraan. Keempat, memberikan akses modal koperasi. Dan yang kelima memperingan pajak koperasi.

 

Gilar Rosandini malah menyoroti dari segi UUD 45 Pasal 33 ayat 1 itu jelas koperasi adalah soko guru ekonomi Indonesia. Tapi kenyataannya tidak. Dalam koperasi itu ada dualisme, pertama, sebagai badan usaha yanga harus menghasilkan laba. Di sisi lain, juga harus mensejahterakan anggotanya. Pemerintah melalui kementerian koperasi harus meluruskan pemahaman koperasi kepada masyarakat.

 

Menanggapi kritikan dari mahasiswa itu, Dr. Syarif Hasan mengatakan sosialisasi itu penting. Semenjak tahun lalu Kementerian Koperasi dan UKM mengadakan gerakan masyarakat sadar koperasi, ini berhasil dengan peningkatan angka 31%. Di lingkungan mahasiswa ada sekitar 125 unit koperasi. Ini adalah sebuah upaya agar masyarakat aware terhadap koperasi. Menjawab pertanyaan mengapa koperasi selalu menengah ke bawah, beliau menyatakan bahwa kementeriannya mencanangkan dari 186.000 koperasi tadi di setiap provinsi ada tiga ikon koperasi berskala besar. Sebagai contoh di Jawa Tengah, Pekalongan, ada koperasi yang namanya Kospin Jasa, itu asetnya Rp 1,8 triliun.

 

Kemudian untuk menghadapi pasar bebas, peran koperasi ke depan, menurut Dr. Syarif Hasan, koperasi ini harus disadari koperasi ini adalah pilar ekonomi bangsa. Ke depan koperasi ini harus difasilitasi dalam hal kebijakan yang bepihak. Keberpihakan kepada koperasi ini yang harus konsisten dilaksanakan. Lalu dalam hal menjalankan kebijakan strategi tersebut yaitu pemerintah harus mendampingi dari mulai akses kredit sampai pemasaran. Kalau memang mereka bisa bersaing kita harus dampingi terus. Kemudian pemerintah menciptakan koperasi dengan jiwa enterprenership yang tinggi.  Koperasi itu jangan selalu hanya minta diberi oleh pemerintah. ***

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 September 2011, in Ekonomi, Mata Mahasiswa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: