“Sawit Kita Sungguh Menjanjikan”

Jika melihat sawit, apa yang terjadi di tingkat nasional, jelas sawit merupakan sumber penghasilan dan lapangan kerja. Kurang lebih 40 juta KK (Kepala Keluarga) terserap di perkebunan sawit. Yang kedua, dilihat dari devisa, sawit merupakan salah satu penghasil devisa terbesar bagi Indonesia yang menghasilkan  13.5 milyar US$ di tahun 2009. Kemudian sawit juga merupakan bahan penunjang pangan terkait minyak goreng. Sawit juga sumber energi kaitannya dengan biodiesel.

 

Di dunia global sawit merupakan bahan bakar nabati selain jagung, kedelai, dan bunga matahari. Sawit itu lebih efisien. Kalau dilihat dari segi produktifitas kita dan Malaysia mengusai 86 % produksi sawit. Tentunya sawit merupakan komoditi yang dapat bersaing di dunia global sehingga banyak isu yang dilemparkan terhadap sawit, seperti dulu betakarotin yang dapat menimbulkan kolesterol. Ternyata setelah diteliti tidak ada. Sekarang yang ada adalah isu lingkungan. Demikian paparan Direktur Tanaman Tahunan Kementerian RI, Rismansyah pada acara Bincang Malam Mata Mahasiswa episode 4 Juli 2011.

 

Ikut hadir dalam program acara Mata Mahasiswa di TVRI selama 1,5 jam tiap Senin malam pukul 22.00 WIB itu, Firman Subagyo, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dr. Slamet Budiyanto dari Masyarakat Sawit Indonesia) dan dari wakil mahasiswa datang dari IPB, Wawat Rohdiawati, Amar Ma’ruf dari Universitas Mulawarman Samarinda, Kaltim, dan Yogi Yoga Sara dari Universitas Lampung.

 

Dari kacamata Firman Subagyo, sawit ini merupakan industri strategis, yang perkembangannya sangat pesat selama 20 tahun ini. Yang luar biasa dari sawit ini adalah 50 % dikuasai oleh swasta, 40% merupakan kebun masyarakat, yang 40% yang menyangkut harkat hidup orang banyak, sedangkan negara sendiri hanya 8%. Di persaingan global Amerika dan Eropa Timur tidak lelah-lelahnya memberikan black campaign terhadap industri sawit Indonesia.
“Nah pemerintah harus berupaya melindungi sawit kita, jangan sampai ada black campaign hanya karena persaingan perdagangan. Kalau dilihat dari devisa sawit menghasilkan 13.6 milyar US$, jadi kalau dibandingkan dengan bantuan Norwegia yang hanya 1 juta US$  tidak ada apa-apanya,” tukasnya lagi.

 

Bagi Slamet Budiyanto, kampanye negatif itu tentunya harus disikapi dengan baik. Yang pertama, aspek hulu dan yang kedua, aspek hilir, mulai dari masalah kesehatan. Asam lemak jenuhnya bisa meningkatkan kolesterol. Akhirnya terbukti bahwa asam minyak trans yang dihasilkan dari proses hidrogenisasi dari minyak kedelai itu lebih berbahaya dari sawit. Oleh karena itu FDA (Food and Drug Administration) USA mencoba mengkamuflase labelling minyak trans itu pada minyak jenuh. Lalu ini sedang digencarkan oleh ILCI (International Loss Control Institute) Eropa untuk menyerang sawit kita. Sehingga kita membutuhkan penelitian dasar, ketika kita diserang kita sudah punya senjata. Para pengusaha sawit selain mereka berkompetisi antara pengusaha sawit, musuh mereka juga datang dari Eropa dan Amerika.

 

Bagi para mahasiswa, Yogi Yoga Sara, mengatakan produktifitas dari tanaman sawit ini sangat menjanjikan, dari data yang ada, Indonesia memproduksi CPO terbesar di dunia, namun untuk industri hilirnya masih kalah jauh dengan Malaysia. Kenapa Indonesia tidak memikirkan jauh untuk hal-hal ini. Industri oilkimia itu menghasilkan keuntungan 40% lebih besar dari CPO. Indonesia punya peluang emas untuk mengembangkan sabun, deterjen, dan pembersih lainnya.

 

Wawat Rodiahwati memaparkan, sayang Indonesia hanya menghasilkan CPO yang 60% diekspor ke luar negeri dan 40% untuk dalam negeri yang umumnya untuk minyak goreng.  Dari kebijakan pemerintah tentang fortifikasi atau penambahan vitamin A dan zat-zat gizi ke dalam bahan makanan supaya tidak terjadi kekurangan zat-zat gizi di dalam bahan makanan itu. Pemerintah akan mem-fortifikasi minyak goreng dengan vitamin A, karena 70% penduduk Indonesia mengkomsumsi minyak goreng dan diketahui bahwa 10 juta bayi di Indonesia. Padahal CPO sendiri sudah mengandung vitamin. Dalam 1 kg CPO mengandung 600-1000 mg  vitamin A.

 

Dan Amar Ma’ruf dari Samarinda mengatakan  masalah sawit, itu sangat berpotensi sekali di Indonesia. Di Kalimantan Timur kurang lebih ada 670.000 hektar lahan sawit.  Menyoroti apa yang selalu dikatakan oleh LSM,  kalau sawit itu tanaman yang banyak menyerap air, kemudian banyak tanaman dan hewan yang rusak. Padahal pada land clearing atau pembukaan lahan sawit setelah sawit ditanam itu ada cover crop yaitu menanami bagian-bagian yang kosong dengan tanaman lain sehingga erosi berkurang. Dari segi ekonomi banyak menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran.

 

Kemudian dengan adanya persaingan usaha industri sawit apalagi dengan adanya black campaign dari asing itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo berpendapat, jiwa nasionalisnya harus ada, dan jangan selalu mendengar kritik tajam dari NGO asing. Yang selalu dikritik oleh NGO itu adalah soal ekologi. Padahal ada 3000 desa di sekitar hutan dan mereka hidup turun temurun saja. Mengapa Amerika dan Eropa gerah,  karena 70% dari 22 juta ton CPO kita itu untuk konsumsi dunia, tentunya itu akan menjadi pesaing Amerika dan Eropa, kedelai hanya 22%.

 

“Pokoknya pemerintah jangan selalu mendengarkan kritik NGO asing itu. Kalau rakyat kelaparan, Amerika tidak akan membantu kita, paling cuma basa-basi saja,” pungkasnya.

 

Sementara bagi Yogi, soal ekologi, kalau sawit ini dianggap sebagai penyumbang emisi gas CO2, kita harus balikkan apakah mereka juga mengurangi emisi karbonnya. Wawat, mengutarakan   data 100 tahun terakhir apakah sawit itu menyebabkan kerusakan lingkungan. Dari data yang ada, ternyata tidak. Sawit itu bisa menyerap CO2 dan menghasilkan oksigen. Dan Amar Ma’ruf berpendapat, setiap tanaman yang bermetabolisme itu menghasilkan karbon. Mungkin kelapa sawit sedikit menekan dari emisi gas rumah kaca.  ***

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 September 2011, in Mata Mahasiswa, Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: