Franchise Lokal Kelas Internasional dalam Menunjukkan Eksistensi dan Potensi Bangsa

Ibnu Abdul Aziz, Universitas Indonesia

Berbisnis, bagi sebagian orang menyebutnya sebagai pilihan hidup, keluar dari zona nyaman (comfort zone) dan masuk kedalam dunia tanpa kepastian. ‘High risk high return’, prinsip investasi yang ditemukan juga bagi seorang entrepreneur. Berbisnis tidak luput dari resiko dan pada intinya memang seperti itu. Tidak terlepas dari sebuah entrepreneurial mindset bahwa kenapa seseorang memutuskan untuk berbisnis, pada dasarnya orang tersebut sudah memahami bahwa ketika berbisnis seseorang mungkin harus melepas perangkat-perangkat comfort zone-nya, seperti salary yang diterima tiap bulannya. Bagi sebagian orang hal ini menjadi pertimbangan besar, terlepas dari mindset pegawai ala penjajah yang tertanam di pola pikir masyarakat kita, resiko takut rugi menjadi faktor utama seseorang tidak berani berbeda, not be a follower, menjadi seorang entrepreneur yang berani mengambil resiko.

Resiko tidak dapat dihindari tetapi dapat diminimalisir. Terutama bagi pebisnis pemula, franchise dapat menjadi sebuah pilihan. Menurut John Naishbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, mengatakan bahwa franchise atau waralaba adalah konsep marketing paling sukses dalam sejarah umat manusia. Franchise memang sebuah marketing strategy dalam sebuah bisnis dimana seorang franchisor (perusahaan pewaralaba) menawarkan kepada franchisee (terwaralaba) untuk menjadi investor bagi bisnis yang tidak sekedar business opportunity tetapi bisnis yang settle dalam memberikan keuntungan.

Bagi pebisnis pemula ini sangat membantu, resiko kegagalan usaha dengan membeli waralaba lebih kecil daripada membuka bisnis sendiri. Hal ini dikarenakan jika seseorang memulai bisnis sendiri dengan ‘Trial and Error Method’, kemungkinan gagalnya sangat besar. Apalagi tidak adanya pengalaman dan mentor yang membimbing dalam mengembangkan usaha. Sedangkan melalui franchise, resiko kegagalan diperkecil, karena franchisor sudah menyediakan segala sesuatunya untuk mendukung franchisee dalam hal survei, metode marketing dan promosi, perizinan, bahan baku, manajemen, standar operasional prosedur (SOP), desain interior, dan lain sebagainya. Ekspektasi seorang franchisee juga dapat diperhitungkan dalam franchise bagaimana bisnis yang dimiliki dapat mencapai target penjualan hingga masa Break Even Point (BEP) dan Return on Investment (ROI) alias “balik modal” dapat terlampaui, dan akhirnya bisnis itu ibarat pohon uang, tinggal memetik dari investasi awal.

Franchise selalu menguntungkan? Ternyata tidak. Tingkat kesuksesan waralaba/ franchise di Indonesia hanya 60% akan berbeda jika dibandingkan dengan Amerika yang 90%. Waralaba lokal banyak yang berguguran. Hal ini menyangkut juga sistem franchise di Indonesia, banyak franchisor yang belum terbukti memiliki bisnis yang menguntungkan, atau istilahnya masih dalam tahap business opportunity tetapi sudah di-franchise-kan. Beberapa franchise juga gagal dalam skill sharing, knowledge sharing, dan technical sharing dari franchisor ke franchisee.

Jika kondisi ini dibenturkan dengan tantangan globalisasi yang menurut David M. Smick dalam bukunya yang berjudul Kiamat Ekonomi Global sebagai ideologi di segala bidang termasuk ekonomi, maka akan sangat berbahaya. Franchising telah ada dimana-mana dan bermetamorfosis menjadi fenomena internasional. Semua itu tidak lain dan tidak bukan, berkat makin banyaknya informasi franchise yang dapat dengan mudah diakses, baik melalui internet, buku, pameran, dan seminar di hampir setiap kota di seluruh dunia.

Dalam Asia’s Outlook, dibandingkan dengan US dan Eropa, franchising di Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami kemajuan pesat, baik di Jepang, Korea, China, Singapura, Indonesia, Malaysia, dan lainnya. Franchise memang banyak menjadi sorotan, hal ini dibuktikan secara sederhana dengan betapa ‘laris manisnya’ buku yang mengupas masalah franchise dan tingginya minat pengunjung di acara pameran franchise. Akan lebih terkejut lagi karena permintaan di lokal atas waralaba tinggi sekali, terutama untuk waralaba asing.

Tentu saja hal ini selaras dengan pertimbangan/riset investor dalam memilih franchise yaitu merek franchise yang terkenal dan image positif yang dimiliki waralaba asing di pasar yang membawa franchise tersebut diterima konsumen lokal. Kehadiran franchise asing juga tidak lepas dari lunaknya regulasi Indonesia yaitu dengan dikeluarkannya pilpres dalam mendukung iklim investasi dan ekonomi Indonesia. Tentu saja Indonesia yang ingin tetap menjadi “Tuan Rumah di Negeri Sendiri” terutama saat ini dimana franchise menunjukan titik kulminasi “booming” mencoba tidak hanya menggenjot franchise-franchise lokal tumbuh, tetapi juga berkembang untuk go international.

Istilahnya menurut Joewono dalam bukunya yang berjudul “Creative Business Idea” maka go internasionalnya franchise mengikuti The 5 Arrows of New Business Development, yaitu 1) Day Dreaming, 2) Creative Thingking, 3) Push the Pedal, 4) Speeding Up, dan 5) Celebrating, dan tahap itu adalah Speeding Up. Bersaing di kancah internasional menjadi sebuah tantangan, terutama bagi franchise yang secara bisnis telah bekerja dengan baik di negaranya dalam meningkatkan speed-nya menciptakan strategi yang efektif dalam persaingan global.

Eksistensi adalah jawaban atas pertanyaan kenapa sejak 2007 pemerintah mencanangkan program untuk mendorong waralaba go international. Melalui waralaba lokal yang dapat go international, pemerintah berharap dapat menimbulkan ‘eksistensi’ yaitu masyrakat internasional semakin tahu dan mengakui bahwa ada karya-karya anak bangsa juga memiliki keunggulan-keunggulan, seperti yang diungkapkan oleh Ir. Subagyo, MM selaku Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan RI. Komitmen dari sasaran ini adalah pemerintah sesuai Permendag No. 31/M-DAG/PER/8/2008 dan PP No. 47/2007 harus melakukan pembinaan terhadap franchise-franshise lokal untuk mengembangkan inovasi yang mengarah pada peningkatan efisiensi usaha dan nilai tambah aktifitas produksi nasional.

Pembinaan kepada waralaba dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tentang waralaba, fasilitas pemasaran melalui pameran, fasilitas sarana klinik bisnis, fasilitas pemberian kemudahan untuk memperoleh bantuan permodalan, dan pemberian penghargaan kepada waralaba yang memberikan manfaat bagi perekonomian nasional perlu dilakukan pemerintah dalam mengembangkan waralaba lokal. Bagi usaha yang terbukti mapan dalam memberikan keuntungan dan reputasi, tentu bukan franchise yang sembarangan, seperti Kebab Turki Baba Rafi, Es Teler 77, Rice Bowl, dan franchise mapan lainnya treatment-nya tentu berbeda dengan memberikan fasilitas untuk pameran di luar negeri dalam memperkenalkan produk-produk waralaba Indonesia, melakukan kordinasi dengan atase perdagangan dan para Indonesia Trade Promotion Centre dengan memberikan gambaran pasar berupa market intelligence dan kemudahan penyesuaian dalam hal peraturan tentu dengan advokasi-advokasi yang diperlukan.

Eksistensi keberadaan franchise go international karya anak bangsa tidak hanya menunjukan jati diri tetapi sekaligus pengangkat kepercayaan diri, terutama mental berkompetisi. Penghargaan terhadap bangsa yang selama ini dianggap pasar semata bagi produk asing dapat diubah. Franchise dan sendi-sendi ekonomi riil mikro lainnya, baik itu UMKM dan KUBE menjadi pijakan bagi pembangunan nasional harus dikembangkan. Aku cinta produk Indonesia, Jaya Indonesia.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 September 2011, in Ekonomi, Kata Mahasiswa. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. I like the valuable info you supply on your articles.
    I’ll bookmark your blog and check once more here frequently. I’m somewhat certain I’ll be told lots of new stuff proper right here! Best of luck for the following!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: