Menuju Bisnis Waralaba Global

Oleh: R. Abdul Maqin

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

 

 

Dalam sepuluh tahun terakhir jaringan bisnis waralaba global berkembang pesat di tanah air. Perkembangan tersebut bukan tanpa alasan. Jumlah penduduk Indonesia yang besar, ditambah pendapatan per kapita yang terus meningkat, maka jelas bahwa pasar dalam negeri Indonesia adalah pasar yang potensial dengan jaminan terus berkembang (emerging market). Perkembangan bisnis waralaba yang pesat saat ini terjadi, baik pada bisnis waralaba yang dikembangkan dari komoditas barang dan jasa lokal maupun internasional. Meskipun harus diakui, perkembangan waralaba produk dalam negeri masih bersifat lokal, belum go international.

Faktor lain yang juga terlihat memotivasi perkembangan bisnis waralaba global adalah dorongan keterbatasan dana investasi global dan faktor-faktor lain terkait strategi investasi, distribusi risiko, faktor inovasi dan efisiensi. Untuk itu ke depan, perkembangan bisnis waralaba dalam konstelasi perekonomian global diperkirakan akan semakin pesat. Apalagi ditambah semakin terbukanya kawasan-kawasan perekonomian berbagai negara (liberalisasi) bagi lalu-lintas komoditas global. Artinya, ketika pada satu sisi ada kondisi dimana perkembangan ekonomi global semakin terdorong ke arah globalisasi dan disisi lain ada kebutuhan dan peluang mengembangkan skala usaha dalam lingkup/jaringan yang luas begitu menggiurkan, maka bisnis waralaba dapat menjadi pilihan banyak pelaku usaha saat ini.

Bagi lingkungan bisnis di Indonesia, perkembangan bisnis waralaba juga menyimpan banyak cerita sukses, seperti untuk waralaba komoditas makanan, toko modern, dan sebagainya. Tetapi cerita sukses tersebut lebih banyak dinikmati oleh jaringan waralaba global. Bagi jaringan waralaba nasional, perkembangannya masih sangat terbatas secara lokal, tidak banyak yang mampu berkembang sebagai jaringan nasional, apalagi berkembang sebagai jaringan internasional. Melihat itu, upaya kita mendorong jaringan bisnis lokal menjadi jaringan bisnis global masih menyimpan banyak tantangan.

Tantangan pengembangan jaringan bisnis waralaba lokal ketingkat nasional dan internasional membutuhkan adanya kultur baru di lingkungan pelaku bisnis di tanah air. Kultur bisnis tersebut seharusnya dikembangkan dari adanya kebutuhan untuk  mengembangkan skala usaha. Untuk mengembangkan skala usaha, dibutuhkan nilai investasi yang tidak sedikit, disisi lain dengan tingginya bunga kredit saat ini dan terbatasnya alokasi dana investasi usaha, maka perkembangan waralaba lokal menjadi tidak sepesat waralaba internasional.

Pada satu sisi, mungkin saja sudah ada keinginan untuk mengembangkan usaha lokal menjadi skala yang lebih luas. Tetapi di sisi lain, ada banyak keterbatasan untuk melakukan itu. Di samping itu, faktor untuk melindungi produk dengan karakteristik yang spesifik masih menjadi kendala menuju bisnis waralaba global. Bagi sebagian besar pelaku usaha kita, masalah identifikasi spesifik produk belum diperhatikan serius ditambah dengan terbatasnya pemahaman regulasi bisnis tersebut. Sehingga, banyak pengusaha yang akhirnya urung mewaralabakan bisnisnya.

Kondisi tersebut tentu saja akan berpengaruh pada perkembangan waralaba lokal. Sebab, langkah utama mengembangkan bisnis dengan pola waralaba salah satu faktor penentunya adalah dengan produk yang spesifik atau keunikan. Untuk komoditas dengan kandungan inovasi tinggi, akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan jaminan hak kekayaan intelektual (HAKI). Perlindungan hukum yang spesifik atas komoditas yang dihasilkan merupakan jaminan utama berkembangnya bisnis lokal, jika ingin menjadi bisnis waralaba nasional maupun internasional.

Kemudian faktor lain yang menentukan keberhasilan mengembangkan bisnis dengan pola waralaba adalah pemahaman terhadap kemitraan bisnis. Bagi sebagian besar pengusaha kita, kemitraan bisnis masih dianggap baru bisa dilakukan dalam bentuk skala usaha yang sudah besar. Padahal untuk skala menengah bahkan skala usaha mikro dan kecil hal tersebut bisa dilakukan.

Kemitraan dalam pengembangan bisnis waralaba adalah hal yang paling pokok. Kemitraan bisa dibangun atas dasar keterbatasan dana investasi usaha, pengembangan produk untuk jangkauan pasar yang lebih luas, dan permintaan terhadap suatu produk yang terus berkembang. Kemitraan yang dijalankan dalam bisnis waralaba harus didasarkan kepada beberapa aspek diantaranya adalah kesamaan kepentingan, saling mempercayai dan menghormati, tujuan bisnis yang jelas dan terukur serta kesediaan untuk berkorban guna merekatkan kemitraan waralaba dalam jangka panjang.

Untuk masuk menjadi jaringan waralaba global, komoditas yang dihasilkan pengusaha lokal otomatis harus memiliki standar global. Untuk memiliki standar global prosesnya tidak mudah. Ada uji kualitas produk yang harus dilalui dan aturan regulasi di masing-masing negara. Ini menjadi kendala utama dalam mengembangkan jaringan bisnis lokal/nasional menjadi jaringan waralaba global. Untuk masuk ke pasar global, komoditas yang kita hasilkan tidak cukup hanya atas dasar asumsi bahwa komoditas kita akan diterima oleh konsumen global. Untuk masuk pasar global diperlukan produk dan pelayanan yang unik sesuai dengan budaya dan selera masyarakat global dengan berorientasi kepada potensi sumberdaya yang dimiliki.

Potensi-potensi spesifik perkembangan bisnis nasional menjadi jaringan waralaba global bisa terjadi pada berbagai macam komoditas. Potensi dan kultur wilayah perekonomian Indonesia menyimpan banyak faktor spesifik yang membedakan komoditas yang kita hasilkan dengan komoditas yang negara lain hasilkan. Dari sisi kuliner (makanan) misalnya, makanan produk dalam negeri sangat mungkin diterima oleh masyarakat konsumen negara-negara tetangga yang memiliki kemiripan jenis makanan yang tidak jauh berbeda. Contohnya, kita saat ini bisa menikmati restoran Padang ada di Kualalumpur, ke depan bisa saja ini dikembangkan dengan berbagai komoditas lain.

Wilayah kita juga menyimpan banyak tanamann yang menyimpan banyak khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan. Seandainya jamu/obat-obatan tersebut distandarnisasi secara global, sangat mungkin kita mengembangkan produk tersebut menjadi jaringan bisnis waralaba global. Yang lagi trend saat ini seperti Kopi Luwak. Sepertinya ironi, sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, pasar minuman tersebut untuk kelas konsumen premium di dalam negeri justru dikuasai oleh waralaba asing.

Kita juga salah satu produsen kakao terbesar di dunia, tetapi kita kalah pamor dengan produk olahan kakao dari negara-negara Eropa. Begitu juga kerajinan di Indionesia yang diminati banyak konsumen luar negeri. Prinsipnya banyak komoditas lokal/nasional yang bisa dikembangkan dengan pola waralaba menjadi jaringan bisnis global. Prinsip lain, untuk mengembangkan jaringan bisnis nasional menjadi waralaba global tidak harus berangkat dari komoditas aktual yang saat ini diterima pasar dan sudah memiliki jaringan konsumen global.

Pada sisi tertentu, dibutuhkan juga peran pemerintah dalam perencanaan pengembangan komoditas nasional agar ke depan menjadi komoditas global dengan dukungan jaringan waralaba. Agar keuntungan yang kita peroleh tidak hanya dari menjual komoditas tersebut kepada trader internasional, alternatif mengembangkan jaringan bisnis komoditas nasional melalui waralaba adalah pilihan yang bisa ditempuh. Selain perencanaan kebijakan, sosialisasi kepada pelaku usaha kita juga harus terus dilakukan. Sosialisasi terutama menyangkut pentingnya kualitas produk yang tetap terjaga dan memenuhi standar kualitas internasional.

Dari sisi iklim bisnis global, pemanfaatan peluang pemasaran dan kemitraan melalui waralaba saat ini banyak dimanfaatkan negara-negara maju. Faktor utama yang memudahkan negara-negara maju lebih ekspansif dalam pengembangan waralaba dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor tersebut seperti dukungan teknologi atas pemasaran produk yang dihasilkan serta perlindungan dan identifikasi spesifik yang sudah sangat komprehensif atas produk-produk yang mereka hasilkan. Negara-negara maju memang sudah cukup mapan dalam melindungi komoditasnya dengan aturan-aturan menyangkut paten, merek dan rahasia dagang.

Faktor lain juga didukung oleh dukungan pembiayaan. Kepemilikan dana investasi yang besar menyebabkan pelaku usaha di negara maju tidak memiliki banyak kendala dalam mengembangkan ekspansi usahanya hingga menjadi jaringan usaha global. Atas dasar hal-hal tersebut, daya tawar (bergainning position) pelaku usaha asing lebih kuat dalam mengembangkan pasar dan kemitraan dibandingkan pelaku usaha lokal.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 27 September 2011, in Ekonomi, Wacana Utama. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: