Dapatkah Teknologi Berkembang di Sektor Pertanian Indonesia?

Sam Herodian

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB

Sebelum kita bicarakan lebih lanjut tentang peluang pengembangan teknologi untuk pengembangan pertanian kita, saya ingin membatasi pertanian di sini terutama pada tanaman pangan khususnya padi, walaupun akan disinggung sedikit untuk komoditas lain.  Sedangkan teknologi akan saya batasi pada penggunaan alat mesin pertanian, sedangkan teknologi lain seperti perbenihan, budidaya dan lain-lainnya tidak saya perdalam.

Pada usianya yang telah mencapai 66 tahun ternyata pertanian kita masih belum beranjak dari praktek-prakter pertanian gurem yang sudah kita lakukan sejak sebelum jaman kemerdekaan. Marilah kita potret sedikit wajah pertanian kita dari segi proses produksi beras yang dimulai dari pengolahan lahan.

 

Praktek di lahan

Pengolahan lahan kita sebagian memang sudah menggunakan traktor tangan, namun kalau kita lihat populasi traktor tangan dibandingkan dengan jumlah petani satu tarktor tangan harus melayani lebih dari 400 petani atau lebih dari 100 ha lahan sawah permusim tanam.  Artinya, masih banyak lahan yang digarap dengan menggunakan tenaga hewan atau bahkan manusia. Bandingkan dengan negara-negara tetangga kita bahkan Vietnam yang baru bergeliat, angkanya jauh lebih baik dari kita.

Untuk penanaman malah lebih menyedihkan lagi angkanya, hampir 100% sawah kita penanamannya dilakukan secara manual. Apakah tidak ada teknologi untuk penanaman? Jawabannya tentu saja ada. Di Jepang mesin ini sudah lama digunakan, demikian juga di Korea, China bahkan Thailand. Beberapa tahun lalu bahkan kita sudah pula memperkenalkan teknologi ini kepada masyarakat, mulai yang bermesin sampai yang semi mekanis.  Akan tetapi sayang hasilnya dapat dikatakan gagal total.

Sampai saat ini para petani masih menggunakan tangannya untuk menanam bibit padi ke sawahnya. Untuk pemeliharaan tanaman, agak sedikit berkembang dengan digunakannya sprayer untuk pemberantasan hama penyakit. Namun demikian sebagian lainnya seperti penebaran pupuk masih dilakukan secara manual.

Penanaman pun menghadapi problematika yang sama. Masalahnya bukan kepada ketiadaan teknologi untuk keperluan ini.  Namun ketidakmampuan kita mengadopsinyalah penyebabnya.  Penyiangan juga setali tiga uang, sebagian besar masih menggunakan tenaga manusia, baik secara manual dengan mencabut gulma satu persatu ataupun dengan alat penyiang sederhana yang juga harus digerakkan oleh tenaga petani sendiri.

Pemanenan juga masih sangat memprihatinkan, kita masih mengandalkan sabit.  Sayangnya pemerintahpun secara sadar tidak mendorong ke arah kemajuan dengan lebih cepat. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih memberikan bantuan berupa sabit bergerigi untuk pemanenan, bukan mesin panen.

Apakah tidak ada sama sekali petani yang sudah menggunakan mesin panen? Jawabannya, ada. Di Sulawesi Selatan sudah banyak berkembang mesin panen yang biasa disebut sebagai stripper.  Mesin ini dikembangkan oleh IRRI dan disosialisasikan sekitar 20 tahun yang lalu dan seorang pengusaha bengkel di sana, mengembangkannya dan diterima oleh masyarakat dengan baik.

Tahap berikutnya adalah perontokan gabah dari malainya. Pada tahap ini agak berkembang dengan banyaknya thresher atau perontok padi yang beredar di masyarakat petani. Namun demikian jumlahnya masih kurang dibandingkan dengan kebutuhannya.  Sebagian besar masih menggunakan tenaga manusia dengan membantingnya pada landasah perontok. Pemerintah pun, lagi-lagi, sayangnya belum berhasil mengubah dengan baik kebiasaan ini.  Alih-alih mendrong menggunakan teknologi malah membagikan terpal untuk mempertahankan teknologi yang ada agar digunakan terus.

Kalau membaca hal-hal yang disebutkan di atas tentu sangat mengherankan bukan? Kebutuhan ada, teknologi tersedia, namun kenyataan di lapangan masih sangat memprihatinkan.

 

Pascapanen

Selanjutnya di pengeringan gabah. Pada musim panen kita selalu disuguhi pemandangan petani menjemur gabahnya di pinggir jalan dan di manapun tempat lapang yang tersedia.  Di beberapa tempat memang sudah ada lamporan yang dibuat khusus untuk menjemur gabah, namun jumlahnya masih kurang memadai. Sering kita dengar keluhan petani gabahnya rusak ketika mereka memanen gabahnya, terutama pada saat musim hujan.  Lalu bagaimana dengan mesin pengering apakah tidak ada? Jawabannya tentu saja sudah ada, namun belum diadopsi dengan baik.

Hal yang sama juga kita dapati untuk penggilingan padi.  Memang pada saat ini kita sudah tidak menjumpai lagi petani yang mengupas gabahnya dengan alu, semuanya sudah menggunakan penggilingan padi yang sering disebut sebagai Rice Milling Unit (RMU).  Tahap inilah, tahap yang paling tinggi level adopsi teknologinya dibandingkan tahap lainnya.  Namun demikian sebagian besar mesin yang digunakan sudah ketinggalan zaman dan tentu saja kualitas beras yang dihasilkan tidak sebagus yang diharapkan.

 

Status teknologi di negara lain

Sebagai ilustrasi saya ceritakan sedikit tentang penggunaan teknologi yang sudah dilakukan oleh teman-teman kita di Jepang dan Korea. Untuk pengerjaan di lahan semuanya sudah menggunakan mesin, mulai pengolahan lahan, pemupukan, penyiangan, sampai penyemprotan hama. Bahkan traktor yang digunakan tidak lagi traktor tangan yang operatornya harus jalan, akan tetapi sudah menggunakan traktor empat roda.

Untuk pemanenan dan perontokan dilakukan sekaligus dengan menggunakan Combine Rice Harvester yang juga tipe yang dikendarai (riding type). Untuk pengeringan langsung masuk kedalam mesin pengering, dan biasanya hasilnya dimasukkan silo untuk disimpan dalam waktu yang cukup lama.  Gabah digiling dengan menggunakan penggilingan yang sangat canggih yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Apakah di dua negara tersebut saja yang sudah maju? Tentu saja tidak. Negara-negara penghasil beras lainnya seperti Thailand dan bahkan Vietnam pun sudah menggunakan teknologi ini.  Belum lagi China dan Amerika yang tentu saja jauh lebih maju lagi.

Lho, jika di negara-negara tersebut sudah ada sejak lama dan juga berkembang di tempat-tempat lain, lalu mengapa di Indonesia belum bisa berkembang? Lalu dapatkah semua itu dikembangkan di Indonesia? Terus terang secara ekstrim saya sering mengatakan, jika tidak ada perubahan yang mendasar maka sampai kiamatpun pertanian kita akan tetap seperti sekarang ini.  Tentu saja kita masih ada peluang untuk mengubahnya, namun apakah kita cukup berani untuk menuju kesana?

Marilah kita lihat permasalahannya dari empat faktor yang harus diperhatikan dalam mengadopsi teknologi khususnya di bidang pertanian. Faktor-faktor tersebut adalah; faktor teknis, faktor ekonomis, faktor sosial-budaya dan faktor kebijakan pemerintah.

 

Faktor Teknis

Seperti sudah saya singgung di atas bahwa secara teknologi hampir seluruh proses produksi beras teknologinya sudah tersedia. Namun demikian dalam adopsi suatu teknologi diperlukan pengaturan untuk menyesuaikan dengan prasyarat agar teknologi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.

Untuk aplikasi teknologi pada budidaya padi misalnya, agar traktor dapat bekerja dengan optimal diperlukan prasyarat seperti bentuk lahan yang teratur dengan minimal luasan tertentu, di Jepang misalnya, untuk pengolahan dengan traktor tangan ukuran lahannya adalah 100 x 30 m, lapisan kedapnya (hard pan) sudah terbentuk dengan baik dan pada kedalaman yang optimal. Ditambah syarat-syarat yang lain seperti tersedianya air irigasi yang memadai, saluran draenase, dan jalan lahan untuk setiap petak sawah.

Sayangnya di kita, dari semua faktor tersebut hanya irigasi yang tersedia, itupun masih sangat sederhana dan terkadang masih harus melalui petakan sawah yang lain.  Lapisan kedap memang sudah tersedia secara alamiah, namun karena kedalamannya tidak merata, beberapa alat mekanis mengalami kesulitan untuk bekerja di atasnya.

Aplikasi mesin yang lain juga mengalami kesulitan yang kurang lebih sama.  Beberapa tahun yang lalu saya berkesempatan mengantar industri mesin pemanen padi (combine rice harvester) terkemuka dari Jerman untuk melihat peluang mengembangkan pabriknya di Indonesia. Kami antar mereka ke beberapa sentra produksi beras di Jawa dan Sumatera, mereka sangat terkejut karena melihat petakan yang kecil-kecil dan tidak beraturan, ditambah lagi tidak ada akses jalan untuk menuju petak sawah yang di tengah.  Tidak menunggu waktu lama merekapun langsung pulang dan tidak pernah kembali lagi.  Padahal mesin yang sama sudah operasional di Thailand.

Untuk pascapanen juga masih mengalami hambatan yang hampir sama.  Walaupun kita tahu bahwa jika pemanenan dilakukan pada musim hujan akan mengalami masalah dalam mengeringkan gabah, tapi anehnya mesin pengering masih juga belum berkembang.  Pemerintah bukannya tidak berusaha, pada beberapa waktu yang lalu sudah pernah memberikan bantuan mesin pengering ke beberapa daerah namun nampaknya masih kurang berhasil.

Ada faktor fundamental yang tidak pernah mau disentuh oleh pemerintah, yang mengakibatkan usaha yang dilakukan hampir selalu kurang berhasil. Faktor utama yang sangat berpengaruh dalam hal ini adalah skala usaha yang tidak memadai.  Dampaknya juga terasa pada proses yang lain seperti penggilingan padi dan penyimpanannya.

Beberapa waktu yang lalu beberapa pemerintah daerah membangun Rice Processing Complex yang modern dengan kapasitas besar, sayangnya dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Mereka kebingungan, ternyata walaupun secara hitungan matematis ketersediaan gabah mencukupi, setelah operasional, gabah yang akan diproses ternyata tidak mencukupi.  Akibatnya fasilitas tersebut hanya menjadi besi tua.

 

Faktor Ekonomi

Salah satu hal penting lain yang sampai saat ini tidak disentuh oleh pemerintah adalah skala usaha.  Dengan penguasaan lahan yang hanya 0.3 ha per keluarga petani, maka sudah dapat dipastikan bahwa usaha produksi beras sangatlah tidak menguntungkan.  Untuk itu harus ada perombakan secara cukup radikal agar syarat skala luasan minimal dapat dipenuhi.

Sesungguhnya kebijakan tersebut sudah ada di benak pemerintah yaitu melalui apa yang disebut sebagai rice estate, sayangnya pengertian tersebut hanya untuk lahan baru yang saat itu terfikir di Marauke. Saya sudah sampaikan ke berbagai pihak di Kementerian Pertanian agar konsep tersebut tidak hanya untuk lahan baru yang pengelolaannya seperti lazimnya perkebunan pada umumnya.

Konsep tersebut dengan sedikit modifikasi justru akan lebih murah jika dilakukan di sentra padi yang ada saat ini, baik yang di Jawa, Sumatera maupun Sulawesi. Dengan melakukan hal ini maka ongkos untuk membuat infrastruktur akan jauh lebih ringan dibandingkan membuat yang baru. Menyatukan manajemen pengelolaan dalam satu organisasi akan memecahkan banyak hal termasuk penggunaan mesin, pengelolaan proses sampai pada pemasaran.

Hal lain yang sangat menguntungkan adalah kita dapat menghasilkan produk dari limbahnya, bahkan jauh lebih menguntungkan. Produk-produk seperti listrik dari sekam, rice bran oil, dan lain-lain hanya dapat dihasilkan jika pengelolaan produknya menjadi satu.  Memaksakan asupan teknologi pada skala ekonomi yang jelas-jelas tidak mungkin ekonomis adalah usaha sia-sia yang tidak pernah akan menyelesaikan masalah.

 

Faktor Sosial-Budaya

Adopsi teknologi juga kerap sangat dipengaruhi oleh masalah sosial-budaya.  Mengubah suatu kebiasaan Selalu membutuhkan waktu dan tenaga khusus untuk melakukannya.  Sebagai contoh sampai saat ini pemerintah belum berhasil untuk mengubah budaya panen di pantura Jawa Barat.  Budaya ini sangat kuat mengakar di masyarakat dan sangat terkait dengan sistem ekonomi yang berlaku di masyarakat setempat. Budaya ini sangat berakibat pada lambannya adopsi power thresher di daerah ini.  Jika power thresher saja sulit untuk masuk maka dapat dipastikan bahwa combine rice harvester akan sangat sulit untuk diaplikasikan di daerah ini.

Namun demikian apakah kita harus menyerah? Menurut saya justru hal ini harus kita jadikan tantangan para ahli sosial budaya agar dapat merekayasanya menjadi budaya yang adaptif terhadap teknologi. Untuk mempermudah melaksanakan pemikiran ini sebenarnya  kita dapat memulainya dari beberapa daerah yang lebih memungkinkan, seperti beberapa daerah di Sumatera Selatan bahkan petaninya sudah mengatakan bersedia. Belum lagi di Sulawesi Selatan yang petaninya sangat responsif terhadap perkembangan teknologi dan jumlah petaninya relatif lebih sedikit.  Jika sudah dimulai dan memberikan hasil yang baik, saya berkeyakinan daerah lainpun pasti ingin melakukannya.

 

Faktor Kebijakan Pemerintah

Jika kita amati seluruh faktor di atas, maka sesungguhnya seluruh permasalahan dapat ditangani jika pemerintah dapat membuat kebijakan yang tepat. Memang pada umumnya memerlukan waktu dan usaha yang tidak mudah, namun hasilnya akan sangat luar biasa.  Pembentukan estate baru di tempat baru hanya membuktikan bahwa pemerintah kurang mau menghadapi tantangan, semuanya diserahkan ke pihak swasta sehingga tanpa usaha keras dapat menghasilkan produk secara nasional secara mudah.  Tapi tidak pernah peduli dengan nasib para petani yang seharusnya menjadi target utama pemerintah untuk menaikan taraf hidup mereka.

Secara politis mungkin akan terlihat berhasil, karena dapat meningkatkan produksi nasional.  Namun secara riil di lapangan tidak mengubah nasib petani bahkan mungkin akan lebih menyengsarakan karena harga berasnya menurun?  Oleh karena itu saya menyarankan agar pemerintah mulai benar-benar secara serius memikirkan untuk memecahkan masalah yang mendasar agar kita segera lepas landas menuju pertanian yang modern dan menguntungkan dengan sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan petani kita.

 

Bagaimana dengan komoditas lainnya?

Beberapa komoditas andalan kita ternyata juga masih belum secara optimal dikembangkan. Contoh paling mudah adalah minyak kelapa sawit.  Kita sudah sangat bangga menjadi eksportir terbesar CPO, sementara negara tetangga kita sudah sibuk dengan berbagai produk turunannya.

Sebagai contoh, ada satu program pemerintah yang aneh dan menggemaskan yaitu rencana fortivikasi vitamin A pada minyak goreng. Sepintas memang terlihat sangat baik, namun jika kita telusur lebih jauh, sesungguhnya dalam CPO kita kaya akan pro-vitamin A yang pada prosesnya kita buang begitu saja. Lucunya, setelah kita buang kemudian kita akan menambahkannya lagi dengan vitamin A sintetis yang diimpor. Sungguh kebijakan yang sangat tidak memihak kepada produk bangsa sendiri.

Oleh karena itu program hilirisasi dari Kementerian Perindustrian hendaknya dapat kita dukung dan optimalkan. Program ini tentu saja harus syarat teknologi, karena tanpa teknologi nilai tambah akan sulit didapatkan. Produk yang memilki nasib yang sama juga cukup banyak, seperti kopi, coklat, jambu mete dan lain-lain yang secara sengaja kita biarkan orang lain menikmati nilai tambahnya. Terlalu…. (kata Bang Haji).

Produk lain yang juga perlu perhatian adalah komoditas hortikultura. Berbeda dengan produk yang saya sebutkan di atas. Produk ini punya potensi namun belum digarap secara serius, bahkan yang sudah ada seperti apel Malang kita dengar sedang menghadapi masalah serius dengan keberlangsungannya.  Kita memiliki varietas mangga yang luar biasa, namun mengapa kita sulit untuk dapat mengekspornya? Begitu pula dengan buah-buahan yang lain.

Permasalahannya sangat sederhana, karena kita tidak mampu menyediakan kualitas yang sama dengan kuantitas tertentu dalam waktu yang diinginkan. Contoh sepele kita harus sibuk mencium mangga satu-persatu jika kita akan membelinya, atau menekan jeruk untuk memastikan bahwa produk tersebut manis. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menghasilkan produk yang seragam. Bagaimana tidak, biasanya pedagang pengumpul hanya mengumpulkan dari berbagai pohon yang ada di berbagai tempat kemudian menjualnya.

Apakah kita dapat menghasilkan buah dengan kualitas yang dimaksud? Jawabannya dapat, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang tepat. Teman-teman di beberapa daerah sudah melakukannya.  Namun lagi-lagi belum dilakukan secara sistematis oleh pemerintah.  One Vilage One Product (OVOP) misalnya, masih menjadi wacana, belum terlaksana dengan baik.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 3 Oktober 2011, in Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: