Belajar Dari Negara Lain; Kualitas Ekspor Pertanian Kita

Dr. Ir. Saputera, M.Si.

Lektor / Dosen Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

I.      Pendahuluan

Sebagaimana kita ketahui bahwa pertanian merupakan hal yang sangat esensial dalam sebuah negara. Kehidupan pertanian yang kuat di negara-negara maju bukan merupakan hasil usaha dalam setahun dua tahun seperti membalik telapak tangan. Perkembangan dan proses tersebut berlangsung lama sejalan dengan waktu dalam sejarah pembangunan di negara-negara tersebut.

Ada slogan yang mengatakan negara akan kuat apabila pertaniannya kuat. Mengingat, pertanian akan sangat erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan pangan yang jika tidak terpenuhi maka akan mengancam stabilitas ekonomi, sosial dan politik suatu negara. Bahkan di Amerika Serikat sendiri semasa Presiden Abraham Lincoln mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjadi negara besar dan kuat apabila warg negara menjadi pemilik negara itu. Ini sebagai salah satu gambaran perhatian pemerintah terhadap petani agar mempunyai lahan yang cukup untuk bertani dan dapat menghidupkan keluarganya.

Memang kita maklumi petani dan pertanian merupakan saudara kembar yang tidak terpisahkan. Dimana petani merupakan subjek, sedangkan pertanian merupakan aktivitas dimana subjek itu memainkan perannya. Dengan demikian pertanian di negara-negara maju basisnya adalah petani, bukan perusahaan besar. Akan tetapi, saat ini posisi pertanian dalam negeri dihadapkan pada posisi yang sangat dilematis. Hal ini
mengingat terus berfluktuasinya harga-harga riil produk pertanian di satu pihak, dan kuatnya pertanian negara maju di pihak lain. Dengan tanah yang subur dan luas seharusnya negara kita swasembada pangan, bahkan sebagai pengekspor hasil pertanian terdepan.

Di sisi lain kualitas ekspor pertanian kita tidak terlepas antara lain dari petaninya sendiri sebagai produsen, eksportir dan dukungan pemerintah. Walaupun kualitas ekspor pertanian yang berhubungan dengan daya saing produk itu sendiri tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan resultante dari kebijakan di dalam negeri dan kebijakan dari negara-negara lain.

Selain itu, permintaan konsumen terhadap produk pertanian tidak sama dengan produk industri non pertanian lainnya. Katakan saja bila ada permintaan akan buah semangka seperti buah pisang dengan rasa yang kecut, rasanya tidak mungkin hal ini bisa dipenuhi dalam waktu yang ditentukan. Lain halnya bila permintaan terhadap pakaian dengan motif dan bahan yang sesuai permintaan
konsumen dalam hal ini negara tujuan, maka akan segera dapat dipenuhi oleh industri yang bergerak di bidang tersebut.

Disamping itu dapat kita maklumi bahwa produk hasil pertanian sebagian besar tidak tahan lama, artinya bila tidak dipasarkan dalam waktu dekat, maka produk pertanian tersebut berangsur-angsur akan rusak atau busuk. Dengan demikian bila boleh kita katakan untuk menjadi seorang eksportir hasil pertanian, biasanya berpikir dua kali bila dibandingkan menjadi eksportir non produk pertanian. Karena
resikonya lebih tinggi, katakanlah bila perhitungan dari segi waktu meleset maka kerugianlah yang menanti. Sehingga tidak heran bila kita mendengar atau membaca lewat mass media bahwa eksportir hasil pertanian X tutup dan guling tikar karena faktor Y. Kepada siapa mereka harus menyerahkan kerugian ini? Sederhananya kita katakan, ini sudah menjadi resiko sebagai seorang eksportir.

Sebetulnya bukan itu yang menjadi jawaban yang jitu. Paling tidak, ini menjadi hikmah sebagai bahan kajian dan introspeksi bagi semua pemangku kepentingan yang terkait. Mengingat bukan saja kerugian hanya dialami oleh eksportir, tetapi dampak kerugian ini
juga berimbas kepada petani. Dapat kita maklumi untuk sampai menghasilkan produk pertanian harus melewati proses yang panjang yang harus dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan cost yang tidak sedikit sesuai dengan komoditi yang dikembangkan. Padahal sebagian besar pelaksana, pengelola, dan pemanfaat pertanian itu sendiri adalah jutaan petani kecil yang memiliki modal, kualitas SDM, dan luas lahan yang sangat terbatas.

Dari kegiatan agribisnis terpadu misalnya, para petani diharapkan dapat memperoleh nilai tambah atau keuntungan sebanyak mungkin dari setiap tahap kegiatan agribisnis, termasuk kegiatan pasca panen. Di sisi lain, petani dituntut   selalu meningkatkan dan mempertahankan kuantitas dan kualitas produk yang  mereka hasilkan dan dipasarkan agar memiliki daya saing tinggi. Petani juga  harus dapat menjamin kualitas pasokan produk ke pasar sesuai dengan permintaan konsumen.

Di samping diperlukan kuantitas dan kontinuitas, tanpa jaminan kualitas produk, petani  Indonesia tidak akan mampu menembus pasar global. Fakta menunjukkan bahwa sampai saat ini devisa negara yang diperoleh dari ekspor produk pertanian masih terbatas. Lagi-lagi penyebabnya produk-produk pertanian kita belum mampu bersaing dengan produk-produk pertanian dari negara-negara lain, terutama dari negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Justru yang terjadi sebaliknya, pasar domestik kita mulai dikuasai oleh produk-produk
pertanian luar negeri yang memiliki  kualitas lebih baik dan harga yang bersaing.

Bila kita lihat data nilai ekspor pertanian selama dua bulan pertama tahun 2008 misalnya hanya mencapai nilai 682,2 juta dolar AS atau sekitar 3,16% dari nilai total ekspor Indonesia yang mencapai 21.617,5 juta dolar. Walaupun dari segi nilai, kontribusi sektor pertanian memang masih di bawah sektor lain, tetapi dari segi angka pertumbuhan ekspor pertanian telah melebihi pertumbuhan ekspor sektor
lainnya.

Dengan demikian menurut Yuril Tetanel (2008) setidaknya ada tiga pilar yang perlu dibangun guna mendukung sektor pertanian sebagaimana yang diungkapkan oleh Prowse dan Chimhowu (2007) dalam studinya yang bertajuk “Making Agriculture Work for The Poor” yakni : pertama, pentingnya pembangunan infrastruktur yang mendukung perekonomian masyarakat. Infrastruktur merupakan faktor kunci
dalam mendukung program pengentasan kemiskinan yang dalam hal ini petani di pedesaan.

Di Vietnam, pesatnya penurunan angka kemiskinan tak lepas dari tingginya investasi untuk pembangunan irigasi dan jalan yang mencapai 60 persen dari total anggaran sektor pertanian mereka pada akhir dekade 1990-an. Hal yang sama juga dilakukan di India yang membangun infrastruktur pedesaan. Bahkan di Ethiopia yang pernah mengalami krisis pangan dan kelaparan pada pertengahan dekade 1980-an,
perbaikan jalan di pedesaan dan peningkatan akses pasar bagi para petaninya mampu mengangkat tingkat kesejahteraan para petaninya.

Kedua, perluasan akses pendidikan. Pendidikan memainkan peranan yang penting dalam mengentaskan kemiskinan di pedesaan melalui tiga saluran yakni dimana tingkat pendidikan berkaitan erat dengan peningkatan produktivitas di sektor pertanian itu sendiri. Kemudian, pendidikan juga berhubungan dengan semakin luasnya pilihan bagi petani untuk bisa bergerak di bidang usaha di samping sektor pertanian itu sendiri yang pada gilirannya juga akan dapat meningkatkan investasi di sektor pertanian. Terakhir, pendidikan juga berkontribusi terhadap migrasi pedesaan-perkotaan. Namun demikian di India, Uganda, dan Ethiopia migrasi terjadi antar desa. Buruh tani yang berpendidikan di
Bolivia dan Uganda lebih memiliki posisi tawar yang tinggi dalam hal upah yang lebih baik (Mosley, 2004).

Ketiga, penyediaan informasi baik melalui kearifan lokal setempat maupun fasilitasi dari pemerintah. Pilar yang ketiga inilah yang sangat penting dalam hubungannya dengan kualitas produk ekspor hasil pertanian kita. Pada umumnya petani kita memiliki kualitas modal sosial
yang rendah yang berakibat terhadap minimnya akses terhadap informasi seperti informasi kualitas hasil pertanian yang dibutuhkan. Ditambah lagi dengan kurangnya informasi yang diberikan oleh pengusaha/eksportir terhadap komoditi yang mereka tanam, sehingga berdampak pula pada produk hasil pertanian yang dihasilkan.

II. Kualitas Produk Ekspor Kita

Produk-produk pertanian yang beredar di pasar global dan internasional sangat hati-hati dalam menetapkan kriteria produk ekspor hasil pertanian seperti Organisasi Perdagangan Internasional (WTO) telah menerima persyaratan SPS (Sanitary and Phytosanitary) sebagai salah satu bentuk hambatan non tarip dalam perdagangan internasional. Banyak peryaratan teknis yang harus dipenuhi oleh negara kita apabila ingin memasarkan produk pertanian kita di pasar internasional, termasuk persyaratan bebas hama dan sisa-sisa kerusakan hama.

Di samping persyaratan SPS, produk pertanian ekspor juga harus memenuhi persyaratan teknis WHO mengenai kandungan bahan berbahaya di pangan, terutama residu pestisida. Kandungan residu bahan-bahan berbahaya, seperti pestisida dan alfatoksin harus tidak melebihi batas maksimum residu yang ditetapkan oleh WHO atau negara tujuan ekspor. Banyak persyaratan
teknis produk ekspor pertanian yang  berhubungan dengan kualitas ekspor pertanian kita yang perlu dicermati.

Hasil produk pertanian kita terutama yang dihasilkan petani jarang untuk mampu memenuhi persyaratan internasional tersebut. Hal ini dapat kita maklumi karena banyak produk ekspor pertanian kita berkualitas jelek dan sulit menembus pasar global. Padahal apabila kita mengekspor produk dengan kualitas yang jelek, kita akan menghadapi risiko mendapatkan hukuman dan penolakan dari negara tujuan ekspor. Penolakan  tersebut antara lain dalam bentuk embargo atau larangan impor, automatic detention penahanan sementara, mandatory treatment
atau perlakuan khusus, dan pengenaan  denda dalam bentuk pengurangan harga. Menurut Ketua Asosiasi Eksportir Buah dan Sayuran Indonesia, Hasan Djhonny Widjaja mengatakan persoalan yang membelit ekspor hortikultura tidak hanya terletak pada infrastruktur transportasi. Tetapi, persoalan juga timbul dari standar kualitas hortikultura yang belum memenuhi pasar global, sehingga banyak buah-buahan dalam negeri yang ditolak sejumlah importir.

Selain itu berbagai kasus penolakan pasar terhadap produk Indonesia sering terjadi. Sebagai contoh adalah produk kakao rakyat yang perna ditolak oleh suatu negara industri karena mengandung residu pestisida yang melebihi batas maksimum residu, yang berlaku di negara tersebut.
Pada bulan Oktober 2001, pemerintah Taiwan telah menyampaikan notifikasi pada pemerintah Indonesia mengenai larangan pemasukan produk-produk hortikultura Indonesia karena dianggap mengandung jenis hama tertentu yang mereka anggap berbahaya. Ini merupakan cerminan bahwa sebagian besar produk pertanian kita kurang memenuhi standar yang telah ditetapkan.

 

III. Belajar dari Negara Lain

Dari sekian banyak produk primer hasil pertanian yang kita hasilkan, ternyata baru sedikit
saja yang kita olah. Dari data yang ada, kita dapat menyaksikan bahwa sebagian
besar produk hasil pertanian kita masih diekspor dalam bentuk produk primer,
seperti misalnya ubi kayu dalam bentuk gaplek, udang dan ikan segar, kopi biji,
kakao biji, karet remah (crumb rubber), minyak sawit kasar (crude
palm oil
), mete glondong dan sebagainya. Padahal kita tahu bahwa kita dapat
memperoleh nilai tambah dari produk tersebut bila kita olah menjadi produk
hilir.

Di samping itu, sebagaimana telah diungkapkan, harga riil produk olahan relatif lebih stabil
dan bahkan cenderung meningkat. Oleh karena itu, product development
adalah hal yang sangat penting guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat
pertanian. Upaya pengembangan pasar ekspor untuk produk
pertanian dan olahannya dengan adanya globalisasi yang membawa persaingan yang
semakin ketat karena akan semakin banyak new
players
 (pemain baru) yang muncul sebagai akibat dari meningkatnya peluang
pasar dan akses pasar.

Dengan demikian pada era globalisasi ini suatu bangsa yang maju dan berkembang tampaknya
merupakan suatu bangsa yang memiliki daya adaptasi yang kuat terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi melalui suatu proses pembelajaran (learning),
yaitu proses perubahan perilaku yang permanen, yang dilandasi oleh adopsi atau
asimilasi pengetahuan baru yang terus berkembang dalam masyarakat dari waktu ke
waktu. Menurut Boulding bahwa kemajuan peradaban umat manusia sebagaimana kita
saksikan hari ini adalah hasil dari revolusi noogenelik, yaitu replikasi
informasi dan pengetahuan yang sangat cepat sebagai landasan proses
pembelajaran individu atau kelompok dalam masyarakat.

Apabila replikasi informasi dan proses learning itu sebagai landasan kemajuan suatu
bangsa, yang tentunya juga menimpakan landasan kemajuan pertanian, maka yang
menjadi pertanyaan utama adalah institusi pertanian seperti apa yang akan
menciptakan iklim yang kondusif untuk berlangsungnya proses kreativitas dan
inovasi serta proses pembelajaran yang kuat di bidang pertanian, sehingga
kualitas produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan negara lainnya.

Menurut Elfian Hilmi sedikitnya ada tiga langkah besar untuk meningkatkan nilai tambah dan
kualiatas daya saing produk ekspor pertanian Indonesia. Pertama, meningkatkan
kapasitas sumberdaya manusia dan kelembagaan petani. Hal ini mutlak dilakukan
karena petani sangat rentan terkena dampak dari perdagangan bebas saat ini.
Keterbukaan akses informasi, pengembangan inovasi dan IPTEK serta perluasan
jaringan pemasaran untuk petani pun masih sangat diperlukan. 

Kedua, memperbaiki kerangka hukum dan kerangka kebijakan. Sinkronisasi kebijakan ini dilakukan agar kementerian yang
ada tidak berjalan sendiri-sendiri. Perlu ada sinkronisasi kebijakan
pengembangan komoditas unggulan di bidang pertanian. Selain itu, juga perlu belajar
dan menimbang kebijaksanaan dari negara lain. Ketiga, perbaikan
infrastruktur dan perbaikan rantai pasok (supply chain management).
Sebab, hingga kini belum ada rantai pasok yang stabil dan bisa menjamin
kepastian ketersediaan barang. Dengan demikian produk-produk pertanian
Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain.

Dengan demikian kita harus belajar dari negara lain agar kualitas ekspor kita bisa bersaing di pasar
internasional. Apa lagi negara kita memiliki produk-produk hortikultura dan
perkebunan dalam negeri tenyata memiliki potensi yang sangat besar, dan butuh
penanganan yang serius dari segi kualitas mutu sehingga mampu bersaing di pasar
dunia. Sudah banyak produk komoditi olahan pertanian yang beredar dari luar.

Kita tidak perlu berkecil hati, dengan memanfaatkan produk hasil pertanian kita yang berlimpah
menjadikannya sebagai product development, baik untuk konsumsi lokal
maupun untuk pasar internasional. Bukan hal yang aneh dan baru jika saat ini
kita belajar dari negara lain membuat apel, salak, pepaya atau nenas yang bisa
diolah menjadi keripik. Bukan sesuatu yang mustahil jika kita belajar dari
negara lain menjadikan mangga gedong, manggis mampu diekspor ke China. Dan
bukan hal yang luar biasa, jika kopi Indonesia Gayo Arabica sangat fenomenal di
pasar kopi dunia, bila semuanya dikemas dalam kemasan yang baik dan sesuai. Di sinilah
peran semua pemangku kepentingan untuk menciptakan produk pertanian yang berkualitas
ekspor dan daya saing tinggi.

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 28 Oktober 2011, in Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: