Mengapa Produk Pertanian Kita Sulit Diekspor?

Prof. Ir. Triwibowo Yuwono, PhD

Dekan Fakultas Pertanian UGM

Saat ini nampaknya lebih mudah menemukan apel merah dari Washington, jeruk dan pear dari
Cina, atau durian Bangkok di pasar tradisional atau supermarket dibanding sawo
atau duku, produk buah eksotis dari Indonesia. Contoh-contoh komoditas
pertanian impor lainnya masih cukup banyak, termasuk bahan pangan utama seperti
beras. Sesuatu yang keliru nampaknya telah terjadi di negara kita terkait
dengan cara kita memperlakukan pertanian.

Semestinya pertanian dapat menjadi tulang punggung perekonomian bangsa mengingat banyak
produk pertanian yang potensial untuk diekspor. Selama ini pembangunan
pertanian di Indonesia masih bertumpu kuat penyediaan pangan utama, khususnya
beras, sementara produk-produk lain, misalnya buah tropis yang khas Indonesia
masih menjadi prioritas kedua setelah beras. Kebijakan ini memang tidak
sepenuhnya keliru, namun potensi produk lokal yang seharusnya dapat menjadi
komoditas perdagangan internasional menjadi terabaikan.

Beberapa faktor penting yang menentukan keberhasilan pembangunan pertanian, dalam
konteks yang luas, termasuk meningkatkan potensi ekspor, antara lain adalah:
(1) ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya pertanian, (2) ketersediaan
benih dan sarana produksi dalam jumlah yang optimal, (3) kesiapan teknis
budidaya termasuk penanganan pasca panen, (4) dukungan pembiayaan usaha tani,
(5) faktor lingkungan, (6) kebijakan perdagangan komoditas pertanian, (7)
kebijakan umum pembangunan pertanian, (8) penyiapan sumber daya manusia yang
dapat diandalkan, dan (8) edukasi masyarakat terhadap produk pertanian.

Pembangunan pertanian tidak hanya berhenti sampai proses produksi, pemasaran produk
pertanian menjadi pekerjaan dan tugas berikutnya yang tidak mudah. Produk
pangan utama, misalnya beras, mungkin relatif mudah untuk menemukan pasar
karena pasti akan diperlukan, setidak-tidaknya di dalam negeri. Persoalan
muncul ketika kita berhadapan dengan pemasaran produk-produk bukan pangan
utama, khususnya hortikultura, terlebih lagi di pasaran internasional. Tekanan
persaingan dengan negara-negara produsen lain, termasuk di dalamnya tekanan
akibat regulasi perdagangan dunia yang diterapkan di zona-zona ekonomi
tertentu, menambah kesulitan di dalam menemukan pasar bagi produk pertanian
Indonesia.

Untuk dapat menembus pasar dunia maka komoditas pertanian Indonesia harus memenuhi
persyaratan-persyaratan khusus, yang bersifat non-tarif, yang seringkali
diterapkan oleh negara pengimpor. Sebagai contoh, di Amerika Serikat ada
standar khusus untuk produk-produk pertanian yang ditetapkan oleh USDA (United States Department of Agriculture).
Dalam konteks perdagangan dunia yang sudah sangat terbuka, persaingan antara
negara produsen menjadi sangat ketat karena setiap negara akan berusaha
melindungi produknya masing-masing.

Beberapa hal yang dapat menghambat perdagangan produk pertanian Indonesia ke pasar
internasional antara lain adalah: (1) hambatan non-tarif, misalnya Sanitary and Phytosanitary Measures, (2)
ketidaksiapan petani di dalam menjamin kualitas produk pertanian, (3) kurangnya
pemahaman mengenai pentingnya aspek pasca panen,  (4) kebijakan harga yang kurang mendukung,
dan (5) lobi-lobi perdagangan yang kurang gencar. Dari sisi hambatan non-tarif,
misalnya Sanitary and Phytosanitary
Measures
, petani atau eksportir kita harus memahami benar peraturan yang
diterapkan di negara pengimpor.

Kualitas produk pertanian menjadi salah satu parameter keberhasilan produk pertanian
dalam menembus pasar internasional. Oleh karena itu untuk memenuhi
persyaratan-persyaratan seperti dicontohkan di atas, harus ada perhatian ekstra
dari petani atau eksportir untuk menjaga agar komoditas yang diekspor dapat
memenuhi kriteria yang ditetatpkan. Penjaminan kualitas produk harus dimulai
sejak masa tanam. Bahkan, untuk produk organik, persyaratan dapat lebih ketat karena
tidak setiap lahan dapat digunakan untuk budidaya produk tertentu.

Kualitas produk pertanian juga ditentukan oleh perlakuan panen dan pasca panen. Sebagai
contoh, kerusakan fisik seperti yang didefinisikan sebagai bruising, skin breaks, sangat mungkin terjadi pada saat dilakukan
pemanenan, external discoloration
dapat terjadi pada saat pengangkutan dari lahan produksi ke gudang, dan
sebagainya. Perhatian terhadap hal-hal teknis semacam ini menjadi suatu
keharusan agar produk pertanian Indonesia dapat diterima oleh pasar
internasional.

Persoalan lain yang juga dapat menjadi penghambat ekspor produk pertanian adalah
kebijakan harga. Hal ini sangat terkait dengan kebijakan pemerintah dalam
perdagangan dan pembangunan pertanian secara keseluruhan, misalnya apakah ada
kebijakan subsidi, insentif pajak, dan lain-lain sehingga harga komoditas
pertanian dapat lebih kompetitif di pasar internasional. Sudah menjadi rahasia
umum bahwa beberapa negara pengekspor komoditas pertanian melakukan kebijakan
subsidi kepada petani sehingga harga komoditas pertanian negara tersebut dapat
dijual lebih murah di pasar internasional.

Perdagangan komoditas pertanian juga sangat dipengaruhi oleh proses lobi perdagangan. Lobi
perdagangan seringkali tidak terbatas antar pelaku bisnis langsung, namun
seringkali harus melibatkan birokrat pemerintah, misalnya atase pertanian. Oleh
karena itu memperkuat proses lobi perdagangan juga menjadi suatu faktor
menentukan di dalam menembus pasar internasional.

 

Apa yang harus dilakukan ?

Mengingat semakin ketat persaingan perdagangan internasional, maka harus dilakukan upaya
yang lebih nyata dan terkoordinasi di dalam mendorong produk pertanian untuk
mampu menembus pasar internasional. Beberapa hal mendasar yang harus dilakukan
antara lain adalah: (1) edukasi terhadap petani tentang persyaratan kualitas
produk pertanian yang lebih tinggi, (2) pelatihan teknis penjaminan mutu
budidaya, pemanenan, dan pasca panen dengan orientasi ekspor baik bagi petani
maupun eksportir, (3) membuat kebijakan pembangunan pertanian yang lebih
kondusif bagi petani untuk dapat bersaing di pasar internasional, misalnya
dengan memberikan insentif pajak atau subsidi harga, (4) meningkatkan dan
mengefektifkan lobi perdagangan internasional, (5) memperluas pasar internasional
dengan produk-produk pertanian yang khas Indonesia sehingga mempunyai
keuntungan komparatif.

Lobi perdagangan dapat dilakukan dengan lebih mengefektifkan peranan atase (attache) perdagangan dan atase pertanian
di luar negeri, atau dengan mendirikan kantor khusus yang menangani perdagangan
produk pertanian di negara yang potensial sebagai pengimpor produk Indonesia. Selain itu, juga perlu dipikirkan kebijakan membuka pintu impor produk pertanian ke Indonesia  secara tak
terkendali yang justru merugikan posisi petani di dalam negeri. Membanjirnya
produk pertanian impor, yang bersaing secara langsung dengan produk dalam
negeri dan dengan harga yang murah dapat menumbuhkan perasaan frustrasi petani
untuk melakukan usaha tani.

Perluasan pasar internasional dengan komoditas pertanian yang khas Indonesia nampaknya
juga perlu dipikirkan sehingga komoditas pertanian Indonesia tidak harus
bersaing head to head dengan produk
sejenis di luar negeri. Upaya ini tentunya akan terkait dengan kebijakan
pertanian yang lebih komprehensif, misalnya dengan mempertahankan sumber plasma
nutfah komoditas-komoditas yang khas Indonesia, meningkatkan usaha-usaha
pemuliaan tanaman untuk memperoleh varietas yang lebih kompetitif dari sisi
kualitas maupun penyediaan (supply)
komoditas pertanian untuk pasar ekspor.

 

Iklan

About Inspirasi

Tabloid Inspirasi adalah tabloid dwimingguan yang berisi artikel dan opini dari para inteletual Indonesia yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mendukung good governance. Selain itu, Inspirasi juga menerbitkan biografi para tokoh yang memiliki karya besar dalam bidangnya.

Posted on 28 Oktober 2011, in Pertanian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: